
Siapa yang tak punya mimpi? Setiap orang tentunya punya mimpi yang berbeda. Bahkan anak bocah pun memiliki cita-cita yang berbeda. Ada yang mau jadi dokter, insinyur, bahkan presiden. Seperti halnya diriku.
Menerawang jauh pada belasan tahun lalu. Saat kakiku terlalu lelah untuk berlari, tapi aku sangat suka berlari. Kuabaikan keringat yang menetes di dahiku, terus aku berlari. Berulang kali aku terjatuh, namun tetap saja aku berlari.
Kutatap wajah suamiku yang tenang dalam tidurnya. Bahkan sampai tiga bulan usia pernikahan kami, tak pernah aku bertanya apa yang dulu menjadi cita-citanya. Aku sangat menyayangi suamiku, satu-satunya lelaki yang mau menerima segala kekurangan dan kebodohanku. Ah rasanya masih terbayang kebahagiaan saat ia mengutarakan niatnya untuk menikah denganku. Pertanyaan bodohku saat itu adalah mengapa harus aku? Aku tak habis pikir kala itu. Masih juga aku menatap matanya, bagiku dia terlalu indah untuk bersanding denganku.
”Jadi bagaimana Dek?” tanya lelaki yang selama ini kuanggap sebagai kakak, walaupun dalam hati aku sangat berharap lebih dari itu.
Kedua orangtuaku menatapku penuh harap. Aku malah meringis. Aku berharap, sangat berharap ini bukanlah mimpi. Selama ini memang Mas Andhi dekat denganku.
Masih terbayang senyum manis yang terkembang dari bibirnya. Subhanallah, jantungku berdegup tak menentu. Rasanya aku telah hilang pijakan dan diriku melayang di udara. Apakah benar aku telah mencintainya? Apakah pernikahan hanya cukup oleh rasa cinta? Apakah dia tak akan membuatku terluka? Apakah aku bisa menaruh kepercayaan padanya? Apakah dia bisa jadi Abi yang terbaik untuk putra-putriku? Ah sebegitu banyak pertanyaan dalam hatiku. Namun bibirku malah terdiam dan aku makin terhanyut untuk membuang waktu.
Mas Andhi masih menatapku. Sikapnya sungguh amat dewasa. Detik terasa begitu lama bagiku sebelum akhirnya aku hanya menganggukkan kepala.
”Insya Allah” jawabku. Semua mata memandangku lepas, bernapas lega. Sementara aku makin gusar dengan jawabanku. Bukan karena aku tak yakin atas jawabanku tapi aku tak yakin ini adalah kenyataan.
Mas Andhi masih tersenyum manis, matanya menatap seluruh keluargaku. Bapak, ibu dan adikku tersenyum simpul. Akhirnya aku siap juga mengarungi kehidupan yang baru, kehidupan berkeluarga. Bapak, ibu dan kedua adik laki-laki dari Mas Andhi menatapku ramah.
”Selamat datang di keluarga kami” ucap lelaki bersuara bass yang menyedot segala anganku bersama Mas Andhi. Ternyata bapak dari Mas Andhi adalah orang yang amat keras.
Ucapan hamdalah terus mengikuti hatiku yang tengah berbunga-bunga. Mas Andhi membuat kehidupanku semakin indah. Mungkin memang telah lama aku mencintainya, tanpa aku sadari.
Suamiku masih terlelap ketika aku menghidupkan laptopku dan mulai mengamati deretan angka dalam microsoft excell. Lembaran rencana anggaran dan biaya overhaul GT 2.2 Muara Tawar mulai menawanku. Aku bahkan tak habis pikir mengapa demikian workaholicnya diriku. Tapi yang jelas, aku berangkat kerja jam tujuh pagi dan sampai rumah sudah sekitar jam sepuluh malam. Seharusnya sabtu minggu aku libur, tapi sebagai perencana dan pengendali kegiatan overhaul mengharuskan aku untuk tetap masuk kerja.
”Adek masih lembur kerjaan ya?” tegur suamiku seraya memegang bahuku. Rupanya ia terbangun.
Aku tersenyum padanya seraya mencium pipinya sekilas, ”Mas Andhi tidur ya, katanya besok pagi berangkat SPPD ke Bogor.”
”Iya, aku tidur tapi Adek juga tidur, masa’ kerja terus”
”Ini cuma membereskan revisi RAB”
Suamiku menyentuh bahuku, ”Jaga kesehatan ya Dek”
Aku menatapnya penuh arti. Mengapa suamiku tak pernah marah sekalipun waktuku banyak terbuang buat pekerjaan.
”Kok Mas nggak pernah marah?” tanyaku polos
”Bukannya Adek nggak suka dimarahi?”
”Tapi kan aku sudah terlalu banyak meluangkan waktuku buat perusahaan.”
”Menurut Adek aku harus bersikap seperti apa?”
Kusandarkan kepalaku di bahunya. Airmataku menetes begitu saja.
”Tuh kan...belum dimarahi saja Adek sudah nangis” ucapnya kalem.
Subhanallah...bagaimana bisa seorang sepertiku mendapatkan suami yang demikian baiknya.
”Aku sayang sama Mas Andhi” ucapku manja
”Bener?”
”Iya”
”Kalau begitu sekarang Adek tidur biar besok pagi terlihat fresh.”
”Mas juga tidur ya...ini kan masih jam dua dini hari”
”Gimana aku bisa tidur Sayang, aku sudah membuat orang yang aku cintai menangis”
Kuhapus airmataku, ”Aku sudah tidak menangis lagi”
”Hmm...bagus deh. Kalau begitu aku tidur dulu”
”Tunggu Mas, aku mau tanya...”
”Tentang apa?”
”Mengapa Mas memilihku sebagai isteri?”
”Baru tanya sekarang? Wah telat sekali...”
”Daripada tidak sama sekali”
”Hmmm...kasih tahu nggak ya????”
”Kasih tahu dong”
”Karena Adek tak sempurna”
Kau begitu sempurna, di mataku kau begitu indah...
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu...
Kau genggam tanganku saat diriku lemah dan terjatuh...
Kau bisikkan kata menghapus semua sesalku...
Lirik lagu ”Sempuna” oleh Gita Gutawa seakan menusukku.
Jika memang aku tak sempurna, mengapa justru ketidaksempurnaanku membuatnya untuk memilihku. Tak heran jika kulihat foto mantannya yang sangat cantik. Tak heran jika kulihat deretan prestasi mantannya yang begitu panjang. Tak heran jika kulihat mantannya mengendarai mobil pribadi.
Tapi seorang Andhi amat sempurna. Dia ganteng, cerdas, baik dan kehidupannya mapan. Sebelum menikah denganku dia sudah memiliki tempat tinggal. Dia juga memiliki pekerjaan yang cukup menjanjikan.
Hari ketiga setelah percakapan dini hari itu sikapku berubah total. Aku memajukan jam pulang kerjaku, sekarang menjadi jam delapan malam.
”Assalamualaikum” sapaku ketika melihat suamiku sibuk melihat layar monitor laptop merahnya, ”Sudah makan Sayang?”
”Wa’alaikumsalam. Masih nunggu Adek.”
Kucium tangan kanannya, ”Mau makan apa nih? Aku tadi sempat beli sayur sup”
”Ya sudah ayo makan...”
Suamiku masih dengan semangatnya membuka bungkusan yang kubawa.
”Mas...”
”Iya Dek?”
”Menurut Mas, apa itu sempurna?”
Suamiku tertawa kecil, ”Akhirnya Adek tanya juga...sudah aku tunggu dari perbincangan dini hari tiga hari lalu.”
”Hehe...malu mau nanyanya...”
”Boleh tanya apa cita-cita Adek?”
Aku menggeleng pelan, ”Aku hanya ingin kehadiranku mambawa kebahagiaan orang-orang sekitarku”
”Adek punya mimpi?”
”Iya...”
”Apa?”
”Jadi wanita shalihah”
”Terus?”
”Isteri shalihah”
”Terus?”
Aku menatap lekat mata suamiku, apakah ia berharap aku memberikan jawaban yang lain. lalu apa mimpiku?
”Gak ada mimpi yang lain Mas”
Senyum manisnya terkembang melihat parasku yang mulai ragu.
”Okelah kalau Adek sudah melupakan mimpi Adek”
”Mimpi apa Mas?”
”Hmmm....kasih tahu nggak ya???”
”Kasih tahu dong”
”Oke, tunggu di sini ya Sayang”
Suamiku beranjak meninggalkanku. Aku mengawasinya sampai masuk ke kamar. Langkah tegapnya masih menghipnotisku dalam kekaguman. Rasanya masih tak percaya aku akan mendampingi sosok sepertinya. Walaupun seringkali aku meninggalkannya demi tuntutan karir.
Lelaki yang paling aku kagumi menatapku dengan berbinar seraya menunjukkan sebuah buku kecil bersampul warna pink.
Menanti sang Mimpi
Kubaca nama pengarang buku itu....Maesa Adhinawati
Kuambil buku itu dari tangan suamiku. Kubuka tiap lembarnya. Ternyata buku itu berisi kumpulan cerpen yang selama ini kutulis.
Aku menatap suamiku penuh haru, ya akhirnya mimpi itu datang juga....
Suamiku membuatku menggapai satu mimpi yang kupendam lama, menjadi pengarang.
”Itu kan salahsatu mimpi Adek”
”Kok Mas tahu?”
Suamiku tersenyum simpul
”Lalu mengapa Mas mengatakan bahwa aku tak sempurna?”
”Karena Adek masih mencintaiku separuh hati”
”Idih sok tahu...”
”Ya memang Adek begitu seh”
”Karena aku terlalu sering pulang malam ya Mas? Maaf ya...”
”Bukan”
”Terus?”
”Kasih tahu nggak ya???”
Kucubit pipinya yang tembam, kulit putihnya merona merah.
”Aduh sakit nih Sayang, tuh kan masa’ hadiahnya cuma cubitan” keluhnya.
”Kasih tahu dong, kok bisa Mas bilang aku nggak cinta?”
”Hmm...gimana ya???”
”Ya sudah deh kalau nggak mau ngasih tahu”
Suamiku menyentuh bahuku, ”Aku ingin punya buah hati”
Aku tertegun sejenak. Bukan sejenak, tapi banyak menit. Subhanallah....
Ya Rabb, berikanlah berkah dan rahmat-Mu pada suamiku tercinta. Mungkin aku tak bisa menemaninya setiap waktu, namun lindungilah setiap langkahnya. Mungkin cintaku padanya tak sempurna, namun sempurnakanlah cinta-Mu padanya.
Ya Rabb, jauhkanlah fitnah darinya. Sisipkanlah tali kasih di hatinya. Izinkanlah kalimat thayyibah selalu terucap dari bibirnya. Berikanlah rezeki yang halal dan barokah.
Amiin....
Teringat kembali peristiwa tiga bulan lalu, ketika akad nikahku dengan Mas Andhi.
”Saya terima nikahnya Maesa Adhinawati binti Saiful Hadi dengan mahar berupa hafalan surat Ar-Rahman dibaca tartil”
Hatiku menangis bahagia. Subhanallah....
Mataku berkaca-kaca. Lantunan ayat-ayat surat Ar Rahman terdengar syahdu. Ini semua seperti mimpi. Mas Andhi adalah mimpi nyata yang hadir dalam hidupku.
Jakarta, 11 Mei 2010
Ditulis oleh : Eka S
Tidak ada komentar:
Posting Komentar