Selasa, 15 Juni 2010

Cinta Putih


Bagaimana caranya untuk agar kau mengeri bahwa aku rindu…
Bagaimana caranya untuk agar kau mengerti bahwa aku cinta...
Masihkah mungkin hatimu berkenan menerima hatiku untukmu...

Masih kupandangi langit biru yang terang. Di sepanjang perjalanan dari jakarta utara menuju bekasi utara. Beberapa teman satu mobil asyik menyenandungkan lagu cinta mati Mulan Jameela dan Ahmad Dhani. Masih juga terbayang paras yang selama ini menaungi di mimpiku. Seorang dengan senyum paling menawan. Seseorang dengan tutur santunnya. Seseorang dengan berjuta kekagumanku padanya. Padahal dulu hanya biasa saja. Aku mengenal namanya dari sahabat karibku yang kebetulan satu kantor dengan lelaki itu. Aku pun bertemu dengannya hanya beberapa kali saja. Lebih ke arah formal, seperti rapat pembahasan overhaul. Itupun aku hanya menatapnya sekilas, tapi mengapa justru beberapa hari ini aku merasa rindu padanya. Aku sering berdoa dalam hati, jika memang dia bukan untukku maka janganlah hati ini terjatuh mencintanya. Lelah sudah bila aku harus melangkah jauh mengejar impianku.

”Waduh Sya...kok melamun terus?” tegur Arman, rekan kerja yang merupakan ahlinya generator, ”Awan nggak masuk sehari saja sudah kepikiran, apalagi entar dia seminggu di Sumatera.”
Aku tersenyum menanggapinya, ”Hu um...”
”Ri, temanmu satu itu benar-benar cinta mati ya sama Awan?”
Riri tertawa kecil. Dia paling tahu kondisiku beberapa hari ini. Aku rindu, sangat rindu, paling rindu dengan seorang Novan.

Cintaku sedalam samudera, setinggi langit di angkasa kepadamu...
Cintaku sebesar dunia seluas jagad raya ini kepadamu...
Bagaimana caranya agar kau mengerti bahwa aku merindukanmu selamanya...
Bagaimana caranya agar kau mengerti bahwa aku mencintaimu selamanya....

Langit biru masih juga cerah mengiringi perjalananku. Terasa kerinduan ini begitu memuncak. Berulang kali kuucapkan istighfar dalam hati. Semoga segala rasa ini tidaklah salah. Aku takut. Aku takut terjatuh dan terluka. Aku hanya ingin merasakan nyaman dan bahagia. Bukanlah sedih atau tangis yang mengiringi. Mengapa harus seorang Novan? Mengapa bukan sosok lain yang mungkin bisa kujumpai tiap hari?

”Sya...waduh parah loe ya” tegur Arman padaku, ”Awan tuh keterlaluan nyuekin loe”
Siapa peduli dengan Awan. Aku saat ini mungkin telah terjatuh, dan bukan seorang Awan melainkan Novan. Ingin rasanya aku curahkan hati ini pada-Nya, namun aku begitu malu. Masa’ dalam sujudku aku masih mengingat paras Novan.
”Biarlah Man, entar juga luluh juga hati Awan” sahut Riri
”Lama tuh Ri...si Awan tuh keras kepala.”
”Bukannya Awan dah jatuh cinta sama turbin?”
”Jatuh ke Mark 4, haha”
”Oh iya...ya...”
”Raisya yang sabar ya...”
”Sya sudah sabar dari dulu”
Kudengar perbincangan antara Arman dan Riri. Tapi semua tampak mengabur di otakku yang mulai lambat mengeja nama Novan. Novan Pradana, sosok yang baru kukenal sekitar dua bulan lalu. Begitu sederhana caranya bersikap, begitu sabar, begitu indah di mataku. Ah semua tampak indah bagi seseorang yang sedang jatuh hati kan?

”Gue heran sama Raisya dan Awan, sepertinya kalian tuh musuhan banget. Tiba-tiba nanti datang undangan pernikahan kalian” sahut Arman kesal karena tak ada tanggapan dariku, ”Apalagi tuh si Awan, kayaknya nggak suka banget ma Raisya”
”Emang dia nggak suka ma aku kok Mas” sahutku
”Belum....”
”Mas Awan kan sudah punya pacar”
”Tahu dari mana?”
”Ya tahulah”
”Patah hati dong loe”
”Jangan ngomong loe-gue deh gak pantes Mas. Cah Nganjuk aja pake loe gue”
”Ya suka-suka gue dong. Tapi bener loe patah hati?”
”Sebenci apapun kalau memang jodoh ya pasti merit. Sesayang apapun kalau memang nggak jodoh ya gak bisa bersatu...”
”Gue suka tuh...like this-lah”
“Ya, jodoh kan rahasia Tuhan”
”Tapi kalau nggak diusahakan mana bisa dapat?”
Betul juga ya...kalau aku hanya terdiam diri menanti sang pelangi menghampiri adalah suatu hal yang bodoh. Minimal tiap hari aku sempat berhubungan dengan Novan. Berharap dia akan melihatku. Berharap dia akan berpikir kiranya menjadikanku seorang isteri baginya. Aku tersenyum sendiri tanpa mengalihkan pandanganku dari birunya langit yang kutatap dari balik jendela.
”Nah malah melamun lagi si Raisya ini” Arman menatapku heran.

Hari ini tanggal merah, di kalender tertulis libur hari raya galungan. Tapi aku masih mengenakan seragam hari Kamis. Aku tetap berangkat ke Bekasi, sekalipun aku tahu di sana belum ada pekerjaan yang harus aku bereskan.
”Sya...gimana message kemarin sudah dibaleskah sama suamimu?”bisik Riri
”Belum Ri...”
”Coba kamu pakai alasan nanya rumus Benaulli, sesuai tuh sama telaah stafmu.”
”Hehe...”
”Malah meringis lagi. Kalau begitu kamu telpon gih”
”Terkesan maksa Ri...”
”Ya memang maksa supaya dia bisa melihatmu”
”Hehe...”
”Jangan bisik-bisik gitu...” komentar Arman.
”Mau tahu aja...” usikku
”Yeee....”sahut Arman
Riri menatapku lalu tersenyum simpul, “Awan apa Novan?”

Yup, Awan bukan buatku.
Aku bisa pastikan itu tapi Novan, mengapa hatiku takut untuk kehilangannya. Padahal harusnya aku yakin bahwa Tuhan telah menentukan yang terbaik untukku, hanya perlu sejumput kesabaran untuk menanti kehadirannya.
Mengapa aku meragukanNya.

Ya Rabb, siapapun nanti yang akan mendampingiku berilah jalan yang lapang bagi kehidupannya. Berilah cahaya di setiap langkahnya. Aku merindukannya. Cintailah dia, sayangilah dia.
Ya Rabb, siapapun nanti yang akan mendampingiku berilah keberkahan di setiap nafasnya. Berilah kekuatan ketika dia terjatuh. Aku mencintainya. Separuh jiwaku telah mendampinginya.

Tak terasa telah sampai gerbang kantor. Kuhapus bayangan Novan yang kerap menghantuiku. Aku harus bisa mengikhlaskan Novan. Harus !!!

Jakarta, 12 Mei 2010
Ditulis oleh : Eka S

Tidak ada komentar:

Posting Komentar