
Kulihat jam dinding di kamarku, sudah menunjukkan pukul tujuh. Kupakai peci putihku, kulihat bayanganku di cermin. Baju koko putih dan peci putih, wah sudah mirip wak kaji saja nih...
”Tuh kan ganteng” ucapku menenangkan diriku sendiri, ”Banyak orang bertanya mengapa aku belum menikah dan mereka melihatku sebelah mata, bukan karena tampangku pas-pasan tapi karena aku terlalu ganteng”
Aku tersenyum menatap bayanganku pada cermin setengah badan yang kerap membantuku menyesuaikan penampilan.
Kubaca short message di ponselku.
Diharap kehadiran antum sekalian dalam kajian akbar “Bagaimana Islam Menyelesaikan Problema Rumah Tangga” oleh Ust Zaenal Abidin, LC tanggal 23 Mei 2010 pukul 09.00 WIB di masjid Raudhatul Jannah (Komplek PLN, PLTU/GU Muara Karang, Jakarta Utara)
“Bismillahi tawakkaltu alallah laa haulaa walaa quwwata illa billah…” ucapku seraya mengendarai motor merahku, “Rabbi zidni ilman wal zughni farma birahmatika yaa arhamar rahimiin…”
Sesampai di masjid Raudhatul Jannah, kuparkir motorku. Terkejut kubaca spanduk tabligh akbar, disana tertulis merujuk pada buku Kalau Kau Jantan Ceraikan Aku. Serem juga judul bukunya, apalagi bagiku yang menjalani akad nikah saja belum.
”Assalamualaikum akhi...”sapa remaja masjid ramah
”Wa’alaikumsalam” sahutku
Remaja masjid yang kuduga sekitar umur dua puluhan itu tersenyum seraya menunjukkan sebuah kitab berwarna merah padaku. Kitab itu bertuliskan Kalau Kau Jantan Ceraikan Aku oleh Ust Zaenal Abidin,LC. Kubeli satu kitab walaupun membaca judulnya saja aku sudah ngeri.
Kulihat para akhwat dengan pakaian terlampau sopan mondar-mandir di pelataran masjid, terkadang mereka memburu malaikat kecil. Ada juga yang malaikat kecilnya masih berada dalam gendongan.
”Hayo mana Abinya?” ucap seorang akhwat bercadar mengejar seorang malaikat kecil laki-laki yang tiba-tiba memeluk kakiku.
”Afwan” ucap akhwat tersebut lalu menggendong malaikat kecilnya yang kuduga sekitar berusia 15 bulan, ”Abinya di dalam masjid ya Achmad”
Remaja masjid di depanku menatapku heran, ”Itu bacaan bagus buat pernikahan Akhi, judulnya saja yang serem tapi isinya bagus kok. Bisa dibuat kado bagi isteri”
”Saya belum menikah” jawabku
”Oh, saya pikir tadi ke sini sama isteri. Akhi pegawai PLN?”
”Ya termasuk keluarga besar PLN, hehe...saya kerja di anak perusahaannya PLN”
”PJB?”
”Memangnya saya kelihatan tua ya?”
Remaja masjid itu tersenyum simpul tanpa memberi jawaban.
Memang November tahun ini aku genap berusia 28 tahun. Nah mengapa aku belum juga menikah tentu ada penyebabnya. Patah hati? Hehe...itu salah satunya sih, salah duanya belum ada yang menarik hati.
Baru saja aku duduk di masjid, acara dimulai oleh MC yang rupanya aku sangat mengenal. Itu kan rekan kerjaku...partner kerjaku selama di kantor. Dia pasti membawa istri dan bidadari kecilnya. Ah rasanya baru kemarin aku magang bersamanya selama dua tahun, kemudian dia menikah dan aku putus dengan pacarku. Dia tidak pernah pacaran dengan isterinya sementara aku dulu terlalu sering nge-date dengan cewekku. Dia langsung melamar adik kelasnya ketika masa magang berakhir dan aku gigit jari karena pacarku pergi tepat ketika aku belum siap melamarnya. Hehe...
Mengapa aku belum siap? Karena orangtuaku belum meridhoi hubungan kami. Nah bukankah ridho Allah tergantung ridha orang tua. Aku memang lahir dari keluarga muslim yang taat, sedangkan mantan pacarku memakai hijab saja tidak. Bagaimana lelaki akan menghargai wanita jika wanita itu dengan bangganya memamerkan auratnya. Bagaimana seorang suami bisa bekerja nyaman di kantor jika isterinya selalu berpenampilan sexy. Itu kan menyenangkan tetangga sebelah. Hehe...
Ustadz Zaenal Abidin mengucap salam kepada seluruh jamaah. Aku membayangkan dirinya adalah seorang syeh Puji makanya aku tersenyum simpul saat ia maju ke mimbar. Astagfirullah...
Kriteria pemilihan jodoh. Para akhwat dan ikhwan, dalam mencari jodoh ada beberapa kriteria yang harus kita lihat. Ini bisa dilakukan dengan ta’aruf. Jadi bukan hanya dengan bertatap muka. Bukannya kalau bertatap muka hanya butuh waktu beberapa detik menetapkan yang ada di hadapan kita ini cantik atau ganteng, atau malah sebaliknya yaitu jelek. Nah inilah mengapa perlu diperhatikan dalam pemilihan jodoh.
1. Melihat watak (karakter) calon pasangan, padahal watak yang sebenarnya baru bisa ketahuan ketika kita telah 5 tahun mengenalnya. Wah kalau begitu bagaimana dong???
2. Nah untuk mengatasi poin satu maka kita bisa lihat kondisi rumah calon suami/isteri. Hal ini bukan berarti kita melihat berapa banyak harta yang ditimbun di sana. Hehe... melainkan melihat akhlak orang-orang penghuni rumah tersebut. Jika seisi rumah itu suka berbuat maksiat, lebih baik dilakukan pertimbangan lebih lanjut.
3. Jika wanita bisa dinikahi karena kecantikan, harta, nasab dan agamanya. Maka dinikahi karena Ad Diin (agama dan akhlaq) adalah jauh lebih utama. Apalagi dalam pernikahan ini wanita tersebut mau terus menggali ilmu-ilmu islam, dengan begitu tidak akan ada keraguan bahwa dia bisa jadi madrasah yang terbaik untuk putra-putri kita. Pada akhirnya akan menjadi anak sholeh-sholehah keturunan kita tersebut.
4. Pertegas kriteria isteri/suami dan tetapkan tujuan pernikahan. Biasanya kriteria isteri/suami ini yang biasa-biasa saja. Ya...biasa punya penghasilan besar, biasa tinggal di rumah sendiri, biasa terlihat cantik/ ganteng. Hehe...bukan itulah!!! Maksudnya disini adalah isteri/suami yang biasa beribadah pada Allah dan menetapkan tujuan pernikahan hanya karena beribadah pada-Nya dan memenuhi tuntunan sunah rasulullah SAW.
Rabbana hablanaa min ajwazinaa...wadurriyatinaaa qurrata a’yun...
Waj’alna lil muttaqinaa imama....
Jatuh cinta berjuta rasanya....hihi....
Tahu nggak kalau perasaan cinta itu sebenarnya bisa mudah mengalir begitu saja tapi pekerjaan cinta (menjaga cinta tetap ada) adalah suatu perbuatan yang susah dilakukan. Ini sangat positif bagi kaum Adam, bosen sama isteri? Nikah lagi dunk, selama bisa bersikap adil maka poligami masih halal dilakukan. Nah repotnya kalau sang isteri bosen sama suami. Nah lho.....^_^
Ini dibutuhkan suatu tindakan di mana agar cinta terus bersemi di hati masing-masing pihak. Laksana menanam bibit cinta. Butuh pupuk, diairi, disiangi (dicabuti rumput-rumput yang mengganggu) dan sebagainya sehingga bunga atau buah cintanya nanti bisa kita nikmati...nah masalahnya pekerjaan cinta seperti apa yang harus kita lakukan. Kan tidak mungkin kita mengucapkan seribu kali I love you tapi sang suami malas bekerja atau sang isteri sudah tidak mau mengurus rumah, bahkan saat suami pulang kerja sang isteri masih keluyuran. Nah kata-kata I love you atau i miss you ini seharusnya tidak hanya sekedar kata melainkan juga disertai tindakan. Apa saja tindakannya?
1. Menghomati suami/ isteri. Suami seharian bekerja tentunya rasa lelah akan terbawa sampai rumah, janganlah disambut dengan omelan atau bahkan disambut dengan isi rumah yang berantakan. Begitu juga dengan suami hargai masakan isteri ya walaupun sang isteri baru belajar masak ketika kamu melamarnya. Hehe...
2. Memenuhi kewajiban suami/isteri. Pernah suatu ketika dalam majlis bertanya, bagaimana jika suami saya memberi nafkah sebesar 20.000/5 hari dan saya mempunyai dua anak yang masih balita. Hehe…jawabannya minta cerai saja Umi….^_^. Itu namanya tidak sesuai, sangat tidak sesuai dengan kebutuhan. Masa’ mau makan 2 K (kangkung dan kerupuk)….
Kewajiban suami memberi nafkah pada keluarga, sementara isteri mendidik putra-putri serta mengurus segala pekerjaan rumah. Ketika suami bepergian maka si isteri harus menjaga harta dan kehormatannya.
3. Jangan suka menuntut sebelum memberi (hak baru didapat ketika kewajiban telah dilakukan). Pikirkan apa yang telah aku berikan, bukan apa yang akan aku dapatkan. Contoh kasus yang banyak terjadi misalnya buruh selalu menuntut kenaikan upah, padahal belum tentu kenerja mereka cukup qualified.
Dalam menjalani kehidupan berumah tangga tentunya tidak seindah yang kita bayangkan. Tentunya ada kerikil-kerikil yang menghalangi jalan kita. Bukannya kita bisa menukar kerikil dengan kapas, melainkan membuat kerikil-kerikil tersebut tidak terlalu tajam sehingga melukai kaki kita. Nah problema rumah tangga apa saja yang sering terjadi???
1. Jika suami/isteri beda agama. Perlu diperhatikan kepada para akhwat agar tidak menerima lamaran laki-laki yang berbeda akidah. Untuk para ikhwan yang terlanjur menikah dengan non muslim maka tutunlah dia menuju jalan Allah.
2. Lakukan dialog (komunikasi dua arah), sehingga tidak ada ke”egois”an di sana. Dalam pengambilan keputusan sebaiknya selalu dilakukan diskusi/ dialog antara suami isteri. Misalkan saja dalam menentukan sekolah anak.
3. Jangan ada kesombongan dari masing-masing pihak. Misalkan karena sang suami ganteng dan isteri sangat amat biasa maka sang suami jangan berbuat semena-mena pada isteri. Atau misalkan si isteri lulusan S1 dan suami lulusan SD 1 maka sang isteri jangan suka bersikap memerintah terhadap suami. Atau misalkan sang isteri karirnya sangat cemerlang sehingga mengabaikan pekerjaan rumah tangga. Wah pokoknya harus sadar hukum deh...eh sadar kewajiban masing-masing dan perlu digarisbawahi bahwa tak ada yang SEMPURNA di dunia ini. Jadi buat apa bersikap sombong???
4. Menggunakan kata ”kita” dalam pembicaraan, bukan ”aku” .Contoh : ” Bi, besok liburan hari raya Idul Fitri kita ke Surabaya alokasi berapa hari? Terus kita menginap di Solo berapa hari? ”
5. Jauhi membanding-bandingkan suami/isteri dengan kerabat. Contoh : ”Umi kok kalau masak nggak bisa seperti Ibu ya...rasanya selalu ada yang nggak pas gitu”. Pasti si isteri tersenyum dan bilang, ”Abi juga cerewet, beda sama Bapak yang tidak pernah protes sama masakan Ibu”. Nah padahal realitanya masakan Ibu enak maka dari itu Bapak tidak pernah protes tapi masakan Umi nggak enak makanya sang Abi protes. Nah loh...salah siapa nggak bisa masak. Hehe...intinya hargai setiap hal yang dilakukan suami/isteri kita, tentu saja mereka telah melakukannya dengan penuh rasa cinta....^_^
6. Pikirkan masa depan. Jika ada orang yang selalu melihat ke masa lalu maka makin terlihat keburukannya. Contoh : ”Jika saja waktu itu saya tidak menikah denganmu mungkin putra-putriku akan cerdas, karena kamunya nggak begitu cerdas jadinya nilai anak-anakku di sekolah pas-pasan deh”. Nah mengapa dari awal tidak memilih suami/isteri yang cerdas??? Mengapa menyesal setelah anak-anak beranjak besar??? Ingat buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Karakteristik anak tidaklah jauh dari karakter kedua orangtuanya. Jadi jika ingin mendapatkan anak-anak yang sholeh-sholehah maka pilihlah suami/isteri yang sholeh-sholehah pula.
7. ”Keterusterangan” yang disertai ”Kejujuran dan Ketulusan”. Sudah semestinya tidak ada dusta diantara suami dan isteri. Seperti lagunya Dewi Yull ”jangan ada dusta diantara kita” ^_^
Hal-hal yang menjadi racun dalam rumah tangga dapat dirangkum seperti berikut :
1. Kebiasaan berbohong. Maka hindarilah segala macam kebohongan, karena satu kebohongan akan melahirkan kebohongan-kebohongan yang lain. dan kebohongan itu akan meresahkan hati.
2. Cemburu buta. Boleh cemburu tapi lihat realita dunk.
3. Membiarkan orang lain ikut campur dalam urusan rumah tangga kita. Penonton haruslah tetap menjadi penonton bukannya malah ikut bertanding. Bayangkan saja jika ada satu penonton pertandingan sepakbola yang tidak terima tim kesayangannya kalah lalu turun tribun dan ikut menendang bola. Gawat kan???
4. Boring alias bosan....wah repot kalau kita bosan pada pasangan hidup kita. Sesekali lah sok romantis, membuat puisi buat Umi tercinta walaupun dulu waktu pelajaran bahasa Indonesia suka bolos karena tidak bisa membuat puisi, atau membuat black forest buat merayakan ulang tahun Abi, walaupun memakai adonan yang tinggal tuang...hehe, mungkin saja bisa melepaskan segala macam kebosanan yang ada. Di sini kreativitas sangat diperlukan dan dibutuhkan. ^_^
5. Sifat bakhil, maka dari itu berikan apresiasi atau pujian jika suami/isteri melakukan sesuatu yang luar biasa.
6. Mengingat keburukan suami/isteri ketika tersandung suatu permasalahan. Keburukan dan kekurangan serta kelemahan hendaknya jangan selalu diingat. Ingatlah kebaikan maka hal itu jauh lebih baik.
Boleh menyelipkan sedikit tentang sistem perokokan. Hehe...maksudnya bahaya merokok.
Nah sebagai kaum Adam yang suka merokok diharapkan agar bisa menghindari rokok. Karena menurut survei perokok aktif bisa merugikan empat orang di sekitarnya (itupun jika merokok dalam keadaan diam di tempat). Nah bagaimana jika merokoknya mondar-mandir. Egois banget ya??? Membuat orang lain menjadi perokok pasif yang efeknya lebih buruk dari perokok aktif.
”Alhamdulillah sejak putus dengan cewekku aku berhenti merokok, ya walaupun nggak bisa berhenti sepenuhnya. Paling nggak aku sudah tidak seperti kereta uap berjalan” pikirku. Sejenak aku memikirkan akhwat yang mengirimiku message pengajian akbar ini. Apa ia juga hadir? Apa dia juga memakai jubah besar, jilbab panjang dan mungkin cadar? ^_^....kumainkan bolpoin faster (PJB sponsored by faster bolpoint, Frisian flag, dan Aqua hehe..) yang ada di jemariku, kuputar-putar sejenak melepas ketegangan karena pembahasan rokok yang melibatkan banyak bahan kimia merugikan organ tubuh. Kalau begitu merokok adalah makruh???
Kubuka-buka lembaran kitab bersampul warna merah bertuliskan ”Kalau Kau Jantan Maka Ceraikan Aku”. Masih bergidik rasanya aku membaca judul buku tersebut. Hmm... kapan ya aku menikah lalu memiliki malaikat kecil yang selalu menyambutku sepulang kerja. Rumahku terlalu sepi untuk kutinggali sendiri. Seharusnya telah kubawa seorang bidadari untuk menemaniku, membuatkan sup ketika aku lelah. Jujur masih terasa capeknya, tiga hari lalu aku masih di Bandung menyelesaikan WBS serta Quality baseline untuk main inspection GT 1.2 Muara Karang. Dan besok Senin sudah mulai bekerja, bahkan Senin esok adalah hari pertama overhaul.
Jakarta, 23 Mei 2010
Ditulis oleh : Eka S
Untuk penjelasan lebih lanjut dapat dibaca ”Kalau Kau Jantan Maka Ceraikan Aku” oleh Ust Abu Achmad Zaenal Abidin, LC di situ juga diulas adzab kita terhadap mertua, ciri wanita shalihah dst...
Mohon maaf jika terdapat banyak kekurangan...^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar