Selasa, 22 Juni 2010

Bintang Harapan


Jiwaku masih menari di tengah indah malam. Anganku menerawang jauh, mendendangkan suara alam. Aku merasakan keindahan ini sangat sempurna. Hampir saja diriku terjatuh.
”Mi....” panggil suamiku.
”Dalem Bi...” sahutku seraya membuang pandanganku dari para bintang. Kutatap paras suamiku yang bersih. Ia baru saja menghadiri syukuran dari tetangga sebelah rumah.
”Umi melamun lagi...?”
”Afwan...”
Kulangkahkan kakiku menuju suamiku. Tubuh tegapnya sangat menarik, sungguh sempurna. Berulang kali hatiku berucap hamdalah pada-Nya karena telah memberi suami yang begitu baik.
”Aisha sudah tidur Mi?”
”Sudah Bi...”
Dan aku tak luput bersyukur atas kehadiran bidadari cantikku yang baru berusia dua bulan, Aisha Alfitria Novanti.

Dua tahun lalu

Rian mengendarai motornya dengan kencang, padahal aku ada dalam boncengannya. Berkali-kali aku menyalahkan diri sendiri atas kelakuan nekadku. Selama ini memang teman-teman bengkel sering mencomblangkan kami. Nah aku malah membuat hubunganku dan Rian seakan-akan semakin dekat. Padahal jelas hati kami saling berperang. Rian sendiri sebenarnya sudah sangat enggan dengan kehadiranku. Namun karena malam ini hujan mengguyur sementara tidak ada angkot yang lewat, maka dengan terpaksa Rian mau mengantarkanku ke tempat kost yang tak jauh dari kantor.
”Mas jangan ngebut” pintaku
Rian tak mempedulikan kata-kataku. Mungkin pikirannya penuh kecaman terhadapku. Entah berapa banyak kebencian tertanam dalam otaknya, atau ini hanya prasangkaku saja. Sebenarnya Rian hanya tak ingin ada gosip antara kami berdua.

”Maumu apa sih Sinta?” tegur Arini dalam telpon seluler.
Aku hampir menangis ketika sahabatku itu berkata dengan nada kasar padaku. Sejak kepulanganku bersama Rian, gosip tentangku makin sater di kantor. Padahal malam itu kami tidak melakukan hal-hal yang di larang agama. Aku hanya diantar pulang oleh seorang Rian. Itupun terpaksa karena hujan dan tidak ada orang lagi di kantor. Nah...apalagi ini???
”Kalau memang kamu sudah melepas Rian ya jangan setengah-setengah. Tahu nggak sih kamu kalau jadi bahan pembicaraan di sini” lanjut Arini.
”Separah itu Rin?” tanyaku polos, ”Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa dengan Mas Rian”
”Kamu bisa ngomong seperti itu ke aku tapi orang yang lihat kalian berdua, mana percaya dia”
”Memangnya ada yang melihat ya Rin?”
”Ya ada, mata-mata kan banyak”
”Tapi jujur aku tidak bermaksud untuk mendekati Mas Rian”
”Oke, sebagai sahabat aku mengerti. Tapi Sin...”
”Aku salah ya Rin?”
”Banget...”
”Padahal antara aku dan Mas Rian...”
”Teman-teman bengkel masih suka mencomblangkan kalian kan? Itu masalahnya”
”Itu juga cuma mainan Rin, biar nggak sepi selama perjalanan ke Bekasi”
”Oh ya satu lagi, sekarang Rian ditempatkan di Bekasi ya?”
”Iya, aku sendiri nggak tahu Rin tentang kebijakan atasanku itu”
”Padahal Rian kan sudah lama kerja di Jakarta, kok tiba-tiba dipindah”
”Aneh kan Rin...”
”Kamu berdoa apa?”
”Maksud Rini?”
”Jangan terlalu berharap Rian akan jadi jodohmu”
”Aku malah sama sekali tidak ada bayangan tentang Rian”
”Ada target lain?”
Aku benar-benar tidak tahu apa yang dipikirkan sahabatku ini. Mengapa Arini sekarang begitu berbeda. Mengapa ia tampak begitu takut aku akan terjatuh pada seorang Rian, padahal dia dulu sangat mendukung usahaku untuk mendekati Rian. Mungkin memang Rian bukan orang yang baik untuk mendampingi kehidupanku, mungkin...

Aku mengenalnya sebagai pribadi yang santun. Dia bekerja di Bekasi, dan hampir tiap hari aku bertemu dengannya di kantin kantor. Dia lebih sering makan di bawah pepohonan, katanya lebih natural. Sungguh dia pribadi yang sangat sederhana. Bagaimana hatiku tidak tertarik padanya, sementara tutur katanya sangat sopan.
”Ngekos di mana Mas?” tanyaku dalam perjumpaan kedua dengannya. Perjumpaan pertama hanya kulalui dengan senyum dan anggukan kepala.
”Aku ngontrak di Bekasi” jawabnya anpa menatap mataku. Benarkah dia seorang ikhwan. Subhanallah...
”Sama isteri Mas?”
”Iya...”
Jujur hatiku mencelos, wah ternyata sudah beristeri toh.
”Hehe... belum kok, belum punya isteri” sahutnya, mungkin ia melihat kerutan alisku. Atau ia melihat kekecewaanku yang terbias dari balik tatapanku.
Sejak saat itu aku selalu menantikan kehadirannya. Bahkan terkadang rindu ini terasa ketika sehari saja aku tidak bertemu dengannya. Jika sudah rindu aku akan membuka halaman facebookku seraya berharap dia online lalu kami akan chatting. Sekedar berbicara masalah pekerjaan.
Saat itu hatiku serasa berbunga-bunga. Aku sadar telah jatuh hati pada seorang Ikhwan bernama Alfian. Aku bertanya-tanya apakah hatinya juga telah luluh padaku? Namun aku tak berani mengungkapkan perasaanku selain pada Sang Pencipta. Aku tak pernah absen untuk bercerita tentang Alfian pada-Nya, tiap hari, tiap jam, bahkan mungkin tiap menit.

Apakah Alfian adalah jodohku ya Rabb??? jika benar dia jodohku maka dekatkanlah kami dan tunjukkan kuasa-Mu namun jika bukan dia maka jauhkanlah dan hapuslah segala rasaku ini padanya.
”Suwe...suwe...” ucap Rian kesal seraya menatap ke arahku.
Aku pun balik menatapnya kesal. Pekerjaanku masih banyak dan dia selalu terburu-buru untuk perjalanan menuju Jakarta. Memang hampir setiap hari aku dan beberapa teman bengkel perjalanan pulang pergi Jakarta Utara- Bekasi.
Rian menatap jam tangan warna hitamnya, tentu saja telah menunjukkan pukul delapan malam. Wajah capeknya jelas kentara apalagi ditunjang siluet lampu malam.
”Maaf ya Mas” ucapku luluh juga.
Entah apa yang membuat amarahku selalu reda ketika melihatnya. Apakah karena dulu aku pernah menaruh kasih padanya, atau karena aku sekarang malas marah?
Kulihat ponselku ada lima miscall, dari Arini. Dan satu message dari Arini.
’Kamu dah thu clonnya Rian kan? skrg ia drawat d RS, ktny sih mo operasi besok pg’
Aku menatap ke arah Rian, ”Mas maafin Sinta ya...”
Rian tiada menyahut, memang dia terlalu keras kepala. Atau mungkin aku yang keterlaluan. Tapi kan sekali lagi aku melakukkannya tanpa sengaja.

Setahun yang lalu.

Tiada lagi kutulis semua kisah. Ini harus diakhiri. Bayangan Rian dan Alfian tampak sering beralih. Namun aku yakinkan hatiku untuk menerima apa yang ada, dan apa yang terjadi. Kubuang kotak emosiku yang telah bertahan lebih dari setahun di kamarku. Kotak tempat kutuliskan kisah demi kisah. Kotak sebagai saksi bahagia dan sedihku.

Mungkin seringkali kita ucapkan kata yang tak mungkin. Bahkan menoleh pada sesuatu yang tak mungkin itu saja kita tak mau. Padahal setiap orang boleh saja bermimpi, boleh berharap. Sama seperti awal aku bertemu dengan jodohku ini. Aku melihatnya sebagai sosok yang tak mampu kuraih, karena begitu indah dia di mataku. Aku hanya mampu menatapnya ketika dia ada di depanku. Jangankan menyapa aku malah tertunduk malu.

Kini jodohku berada di sampingku, dengan fasih mengucapkan ayat-ayat suci Al Qur’an. Surat Ar Rahman terdengar begitu syahdu di telingaku.
Fabiayyi alaa irabbikuma tukadziban.....
Dan nikmat Tuhan yang manakah yang kamu ingkari...
Bahkan entah darimana awalnya hingga keindahan ini tercapai. Ada rasa sejuk mengalir dalam aliran darahku. Wangi cinta-Nya menelusup dalam setiap nafasku. Hampir saja aku elakkan semua nikmat ini dengan menuruti egoku. Ya...hidup ini memang penuh dengan rahasia-Nya. Itulah hari pernikahanku dengan seorang makhluk Allah yang begitu sempurna. Dahulu aku hanya bisa mentapnya dari kejauhan tanpa berani menyapanya. Kini dia yang akan selalu menemaniku dan akan menjadi imam dalam kehidupanku. Subhanallah...



Jakarta, 22 Mei 2010
Ditulis oleh : Eka S

Tidak ada komentar:

Posting Komentar