
Allah tak akan menyalahi janji …
Hasna Arifah tertegun di sepertiga terakhir malam. Bersujud setelah melaksanakan sholat tahajud. Airmata belum juga kering dari sudut matanya. Kini suara takbir bergema di seluruh pelosok dunia. Menyiratkan keagungan Alah SWT. Sudah bertahun ini doa di setiap sujudnya sama, Illahi syafarat yadayya fatrubhuma.
Bergulir kisah di sekitarnya, merapuhkan hati Hasna. Entah mengapa Allah masih juga membiarkan airmatanya kerap mengalir. Berharap akan ada seseorang yang menghapus airmata ini.
“Hasna” panggil ibunya.
Hasna terbangun dari sujudnya, “ Dalem”
“Siap-siap sholat subuh jama’ah”
“Inggih Bu”
Wanita berusia 50 tahun itu tersenyum seraya memeluk anak sulungnya, “Kudu sabar”
“Sampai kapan Ibu?”
“Ibu selalu berdoa”
“Nyuwun pangapunten ndamel Ibu kepikiran Hasna”
Wanita itu melepas pelukannya dan menatap mata anak sulungnya. Sebuah mata yang jernih tampak berkaca-kaca. Mata yang begitu cerdas. Mata yang selalu dikagumi banyak orang. Mata yang membuat Hasna terlihat tangguh.
“Hasna sabar ya anakku”
“Hasna mboten ngertos Bu, kados pundi maleh?”
“Hasna kan anak baik, insya Allah dapat yang terbaik”
“Hasna salah nopo nggih Bu?”
Wanita itu menggeleng, “Hasna nggak salah”
“Niki berat kagem Hasna, kula mboten sanggup Bu”
“Inna ma’al usri yusro”
Hasna memeluk ibunya. Membuncahkan kesakitan hatinya dengan tangis. Perempuan selalu menangis. Perempuan itu terlalu lemah.
“ Hasna mesti percaya Allah nggak tidur, Allah akan menolong hamba yang menegakkan agama-Nya”
Hasna mengangguk pelan, “ Ibu, kula nyuwun pangapunten sedaya kelepatan”
Wanita itu tersenyum, “Hasna, watthayyobatu litthayyiban walkhabitsu lil khabitsan”
“Insya Allah Bu, nyuwun pandunganipun supados kula dipun paring kesabaran kalian Allah”
“Insya Allah”
===
Afham menatap paras kakaknya yang murung
“Kenapa Mas?” tanya Afham pada Ikmal.
“Entahlah Dek, perasaan Mas nggak enak”
“Mas,masih kepikiran Mbak Hasna?”
Ikmal menatap adiknya, “Entahlah”
Suara adzan subuh terdengar.
“Kalau Afham jadi Mas Ikmal, Afham akan memperjuangkan cinta dan berusaha mendapatkan Mbak Hasna”
“Tapi … Mas nggak berani bicara ke Ibu Bapak. Apalagi kondisi Bapak yang sakit-sakitan. Mas harus konsen dulu ngurus keluarga”
“Lalu membiarkan Mbak Hasna menjadi isteri lelaki lain?”
“Mas suka Hasna sejak SMA, tapi Mas nggak tahu perasaan Hasna terhadap Mas”
“Mbak Hasna menunggu Mas Ikmal”
Ikmal menatap tegas adiknya. Afham Firdaus meninggalkan Ikmal Muwaffaq untuk mengambil wudhu dan bersiap sholat jama’ah subuh di masjid dekat rumah.
===
Idul Fitri yang membahagiakan bisa berkumpul bersama keluarga.
“Naufal, mana calon isterimu?” goda ayah Naufal Mumtaz Adz Dzaki pada anak semata wayangnya.
Sejak membatalkan pertunangan dengan Indira, Naufal tidak pernah menunjukkan ada wanita yang mengisi hatinya.
“Ayah ini bicara apa?” sangkal Naufal
“Lah bukankah Naufal punya rencana menikah akhir tahun ini, Ayah kan ingin tahu calonmu anak mana”
“Eh Ibu juga ingin tahu, apa dia sama cantiknya dengan Indira” sahut Ibu Naufal.
“Yang penting anaknya baik dan bisa menemani aku, Bu” jawab Naufal
“Ya sudah cari saja teman kerjamu. Bersyukur kalau dia adalah wanita shalihah” lanjut Ayah Naufal
“Iya Fal…” sahut ibu Naufal
“Ada teman Naufal yang insya Allah shalihah. Hanya Naufal tidak tahu bagaimana perasaannya terhadapku” kata naufal
“Wanita shalihah tidak menawarkan cinta melainkan mencintai lelaki yang meminangnya. Cobalah kau tanya padanya” kata Ibu Naufal
“Ibu, wanita itu sangat tangguh. Naufal takut tidak bisa mendampinginya” kata Naufal.
Ayah dan Ibu Naufal saling berpandangan, “Tangguh?”
===
Tuhan memberikanku cinta untuk kupersembahkan hanyalah padamu
Dia anugerahkan kasih hanya untuk berkasih berbagi denganmu
Atas restu Allah kuingin milikimu, kuberharap kau menjadi yang terakhir untukku
Restu Allah kumencintai dirimu
Kupinang kau dengan bismillah
Hampa terasa bila ku tanpamu
Hidupku terasa mati jika kutak bersamamu
Hanya dirimu satu yang aku inginkan, kubersumpah sampai mati
Hanyalah dirimu
Lagu “Kupinang kau dengan bismillah” yang dinyayikan oleh Pasha dan Rossa kembali membuat Hasna menangis.
“Hasna…” tegur Ibu Hasna
“Dalem Bu”
“Tuh HP dari tadi bordering, SMS atau telpon sih”
“Masya Allah…”
Hasna segera mengangkat telpon dari Naufal.
“Assalamualaikum…”
“Wa’alaikumsalam warahmatullah Mas Naufal… mohon maaf lahir batin ya”
“Iya…sama-sama Hasna”
“Mas Naufal lagi di mana nih?”
“Surabaya”
“Oh, kupikir Mas di Semarang”
“Keluargamu gimana kabarnya, sehat?”
“Alhamdulillah sehat. Bapak dan Ibu Mas Naufal gimana kabarnya? Salam buat mereka ya”
“Hasna lagi mudik atau masih di Surabaya?”
“Aku mudiknya di Gresik Mas,insya Allah nanti sore baru berangkat ke Gresiknya.”
“Hasna, ini aku sedang menuju rumahmu”
“Apa Mas?”
“Hasna, orangtuaku ingin mengenalmu”
“Tapi?”
“Boleh ya?”
“Oke, kami tunggu.”
“Makasih Hasna, assalamualaikum”
“Wa’alaikumsalam”
“Naufal mau ke sini?” selidik Ibu Hasna
“Hehe…cowok ganteng” Hasna meringis
“Tuh cuci muka biar nggak kelihatan habis nangis”
“Inggih Bu”
“Ada apa kok tiba-tiba Naufal mau datang ke rumah?”
Hasna mengangkat bahu, tandanya tidak tahu.
“Mungkin untuk melamarmu”
Aku berharap Mas Ikmal yang datang ke rumah. Aku masih berharap Mas Ikmal yang melamarku. Aku sudah mengenal Mas Ikmal sejak SMA. Aku juga satu kampus dengannya. Aku merasa nyaman saat bersamanya. Aku merasa bahagia saat bertemu dengannya. Aku masih sangat berharap menjadi pendamping bagi Mas Ikmal
Ikmal yang selama ini mengisi kehidupan Hasna dengan tawa dan senyuman tiba-tiba saja menghilang. Entah apa alasannya. Mungkin karena Hasna terlalu pintar dan tangguh untuk bisa disampinginya. Hasna memang berbeda dari wanita kebanyakan. Hasna sangat istimewa. Hasna Arifah, sesuai namanya yang berarti wanita cantik dan berilmu. Hasna memiliki akhlak yang luar biasa cantik dan dia wanita yang cerdas.
Hasna mencoba menghubungi nomer ponsel Ikmal, namun rupanya nada sibuk yang terdengar.
===
“Ibu, Mas Ikmal mau mengenalkan calon isterinya” kata Afham di sela-sela makan ketupat sayur, hidangan khas lebaran.
“Oh ya?” wanita berusia 55 tahun itu menatap mata anak sulungnya, Ikmal Muwaffaq
“Masmu kan nggak pernah pacaran, beda sama kamu Le…” sahut lelaki berusia 60 tahun
“Itu Yah…masalahnya Mas Ikmal ini nggak berani bilang ke Bapak ataupun Ibu” sahut Afham
Sementara Ikmal hanya terdiam tanpa peduli ocehan adiknya.
“Namanya Hasna Arifah, teman SMA-nya” lanjut Afham
Ikmal tersedak, “Afham…”
“Anak mana Mal?” tanya ibu
“Hasna? Anak Surabaya”jawab Ikmal
“Lah… kenapa kita tidak silaturahim saja ke rumahnya Yah…Ibu penasaran dengan wanita yang sudah memikat hati anak sulung kita ini. “ kata ibu
“Telpon Hasna dulu, siapa tahu dia lagi mudik ke rumah nenek atau saudaranya” putus ayah bijak
Ikmal mengambil ponselnya dari saku. Namun ternyata nomer telepon yang dia hubungi sedang sibuk.
===
“Hasna berbeda dua tahun dariku Bu, namun dia jauh lebih dewasa. Sekarang dia tinggal di Tangerang, rumahnya sendiri. Dia juga rajin sholat dan santun. Maka dari itu sebenarnya Naufal minder”
“Kamu kan ganteng toh” puji Ibu Naufal
“Wanita sholihah lihat hati bukan fisik Bu” sahut Naufal sambil mengendarai mobil milik ayahnya.
“Jodoh itu Allah yang menentukan, yang penting sudah ikhtiar” sahut ayah Naufal.
“Hasna tidak secantik Indira” kata Naufal
“Yang dilihat lelaki sholih itu hati bukan fisik” sahut ibu Naufal
“jika seandainya Bapak dan Ibu merasa cocok dengan Hasna, Insya Allah kami lamarkan Hasna atasmu” kata ayah Naufal
Tiba-tiba mobil terhenti mendadak.
“Naufal belum siap Yah…” kata Naufal
“Dulu ayah juga begitu merasa belum siap untuk menikahi ibumu. Tapi kakek dan nenek percaya bahwa sebenarnya ayah sudah pantas untuk menjadi suami. Bahkan waktu itu usia ayah masih muda, dua puluh dua tahun.” Sahut ayah Naufal
“Kalau niat kita karena Allah, insya Allah akan dilancarkan. Naufal mesti percaya itu” sahut ibu Naufal
“Sebenarnya Naufal pernah bermimpi melamar Hasna, Bu” suara Naufal agak tercekat
“Oh ya???” sahut Ibu dan ayah Naufal
===
Hasna tertunduk saat Naufal berada di hadapannya. Entah mengapa tiba-tiba dia terdiam. Padahal biasanya Hasna sering menggoda naufal dengan sebutan cowok ganteng. Dan Naufal juga biasanya memanggil Hasna dengan sebuta ndul (kepanjangan dari gundul).
“Afwan, mohon maaf jika kedatangan kami merepotkan Bapak dan Ibu dari Nak Hasna. Saya kira ini waktu yang tepat untuk silaturahim, mengingat putra-putri kita tinggal jauh di Jakarta. Perkenankan saya, sebagai Ayah dari anak kami satu-satunya Naufal Mumtaz Adz Dzaki untuk lebih mengenal keluarga Nak Hasna. Sepanjang perjalanan tadi Naufal sudah bercerita banyak tentang Nak Hasna” ucapan ayah Naufal
“Kedatangan Nak Naufal memang sempat mengejutkan kami sekeluarga. Kami tidak menyangka akan kedatangan tamu terhormat.” Ucap Ibu Hasna, “ Ini kedua kalinya saya bertemu dengan Nak Naufal, rupanya tambah ganteng ya…”
“Iya Bu, Naufal memang putra kami yang paling ganteng” sahut Ibu Naufal.
Sementara itu Naufal tersenyum dengan pipi kemerahan.
“Tidak membuang banyak waktu. Saya sebagai Ayah Naufal memiliki niat untuk melamar Hasna sebagai calon isteri Naufal” kata Ayah Naufal.
“ Yah, kan belum nanya ke Dek Hasna” sela Naufal.
Ayah Naufal menatap teduh pada Hasna yang sudah mulai mengangkat mukanya. Terlihat pancaran cerdas dari mata Hasna. Tatapan yang teduh, yang penuh dengan cahaya.
“Ayah yakin Hasna adalah wanita terbaik untukmu, Nak” ayah Naufal menepuk bahu anaknya.
Mungkinkah mimpi itu benar adanya. Hasna masih mengingat jelas saat pertama kali dia sholat istikharah. Wajah Ikmal di mimpinya, dan wajah Naufal yang mengatakan bahwa Hasna adalah calon isterinya. Serta surat Al A’raf yang dibacanya di mimpi (Al A’raf yang berarti tempat tertinggi). Secara ilmu memang Naufal jauh lebih baik daripada Ikmal.
“Hasna” tegur ibu Hasna, “Tidak perlu buru-buru menjawab”
Ibu Hasna tahu betul perihal perasaan anaknya pada Ikmal, lelaki yang telah bertemu dengannya sebanyak dua kali. Lelaki lembut dan berwibawa. Lelaki yang menjadi pujaan anaknya sejak tujuh tahun lalu. Lelaki yang mampu membuat mata Hasna bercahaya. Lelaki yang mampu meneduhkan hati Hasna. Lelaki yang mampu member rasa aman dan nyaman.
“Insya Allah, Hasna terima Bu” bisik Hasna pada ibunya.
Ibu Hasna tertegun sejenak. Lalu berbisik ke Bapak Hasna. Ayah dan Ibu Naufal saling berpandangan.
Bapak Hasna tersenyum, “Insya Allah kami terima lamaran nak Naufal”
“Alhamdulillah” jawab Ayah dan Ibu Naufal
“Kita tentukan saja tanggal pernikahannya” sahut ibu Naufal.
Naufal tampak bersujud syukur. Hasna juga.
===
“Mas Ikmal… silaturahimlah ke rumah Mbak Hasna” celoteh Afham.
“Sebenarnya saat pertemuanku kedua dengan orangtua Hasna, mereka minta supaya Mas silaturahim saat lebaran” oceh Ikmal
“Lha terus kenapa Mas Ikmal masih di sini”
“Mas masih ragu Dek”
“Ragu kenapa Mas?”
“Entahlah…rasanya Mas terlalu sayang pada Hasna, tapi Mas merasa sulit untuk mengungkapkannya”
“Wanita itu butuh kepastian Mas”
“Mas takut membuatnya menangis. Kehidupan yang telah dijalani Hasna cukup terjal. Itulah sebabnya dia menjadi wanita yang berbeda dengan yang lain. Dia mandiri dan tangguh”
“Hmm…jadi penasaran seperti apa sih Mbak Hasna itu”
“Insya Allah dia isteri dan calon ibu yang sholeh. Ilmu agamanya luar biasa baik”
“Lalu, Mas Ikmal nunggu apa? Kalau seandainya detik ini Mbak Hasna dilamar orang nanti Mas nyesal loh”
“Kok kamu doanya gitu Dek?”
“Lah Mas Ikmal sendiri gak berani”
“Mas hanya belum siap”
“Tapi Mbak Hasna sudah siap”
“Hasna akan menungguku”
“Bagaimana Mas Ikmal bisa seyakin itu, wanita sholihah tidak menikah dengan orang yang dicintai tapi mencintai orang yang menikahinya”
“Eh sejak kapan kau bijak seperti ini”
“Dikit-dikit curi dengar dari Ikwan kampusku”
“Oh begitu ya?”
“Tapi semua kembali lagi ke Mas Ikmal. Mungkin harus yakin kalau Mbak Hasna adalah jodoh Mas Ikmal pasti dia khusus tercipta buat Mas seorang. Hihihi…”
“Amin…”
“Telpon Mbak Hasna dong Mas…”
“Dari tadi kutelpon tapi tidak diangkat”
“Mas… apa mungkin terjadi sesuatu dengan Mbak Hasna?”
“Maksudnya?”
Afham mengangkat bahu, “ Entahlah”
===
Untuk lelaki yang pernah ada di hatiku
Untuk lelaki yang pernah hadir dalam kehidupanku
Untuk lelaki yang pernah mengubah tangisku menjadi senyum
Untuk lelaki yang kunantikan lama
Saat ini hatiku sangat bahagia
Karena aku telah menemukannya
Lelaki tangguh yang sanggup berada di sampingku
Walaupun itu bukan dirimu
Untuk lelaki yang luar biasa cerdas
Untuk lelaki yang selalu kupuji
Untuk lelaki yang kuharap menjadi imamku
Untuk lelaki yang saat ini tak berada di sini
Saat ini kubuka hatiku untuknya
Menerima pinangan dari lelaki asing
Lelaki yang bersedia meluangkan seluruh waktunya untukku
Walaupun itu bukan dirimu
Untuk lelaki yang selama ini kuimpikan
Untuk lelaki yang selalu kurindukan
Untuk lelaki yang pernah menjadi bagian dari kasihku
Untuk lelaki yang telah diridhoi kedua orangtuaku
Mungkin kau tak pernah tahu perasaanku padamu
Hingga kau tinggalkan aku begitu saja
Tak peduli banyaknya airmata yang mengalir tiap akhir tahajudku
Maafkan semua khilafku
Saat ini aku bersyukur pada Allah
Yang telah memenuhi janji-Nya
Watthayyibatu litthayiban
Walaupun itu bukan dirimu
Untuk lelaki yang aku dambakan
Untuk lelaki yang kubanggakan
Untuk lelaki yang pernah mengisi kekosongan hidupku
Untuk lelaki yang mereka kira akan bersamaku
Saat ini semua pertanyaanku terjawab sudah
Insya Allah dirinya adalah jodoh terbaik yang dikirim Allah untukku
Semoga kau juga menemukan bidadari pendampingmu
Yang shalihah dan berbakti padamu
Hasna menulis berbait puisi pada selembar kertas yang tentu saja curahan hatinya untuk Ikmal Mufawwaq, lelaki sempurna yang memberi kebahagiaan.
Ibu Hasna memeluk putri sulungnya, “Insya Allah Naufal adalah jawaban yang selama ini kamu cari Nak”
“Ibu…” Hasna bermanja kepada ibunya.
“Ibu selalu mendoakanmu”
“Insya Allah, mugi-mugi diparingi kelancaran nggih Bu”
“Amin yarobbal alamin”
===
Tangerang, 31 Juli 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar