Kamis, 11 Agustus 2011

Andai saja kau tahu



Benar-benar malam yang berat. Pukul sepuluh malam aku beranjak tidur. Tiap jam aku terbangun. Terasa dingin malam menusuk tulangku, namun bukan itu yang membuatku resah. Mimpi di setiap kali aku tertidur. Mimpi tentang dirimu. Harus berapa kali aku akui jika aku telah menyerah. Hatiku telah tertawan oleh keberadaanmu. Sejak perjumpaan pertama kita setelah sekian tahun tak berjumpa. Apakah ini hanya dirasakan oleh hatiku saja. Dan dirimu begitu mudahnya berlalu.

Malam ini masih menyisakan keperihan bagiku. Aku terbangun pukul tiga pagi. Mata ini tak mampu terpejam lagi. Akhirnya kuputuskan untuk makan sahur. Kemudian kulanjutkan keramas. Dinginnya udara rupanya mengalahkan dinginnya air. Aku merasa kantukku hilang tak berbekas. Kulanjutkan tahajud. Sudah hampir seminggu aku berhalangan untuk sholat. Terasa sejuk kurasakan dalam hatiku, bertemu kembali dengan-Nya.

Apa yang Allah tulis tentang kita? Ingin sekali aku tahu apa yang tengah terjadi atas diriku. Rasa nyaman dan aman yang kurasakan. Rasa bahagia saat aku tahu kau ada. Namun aku benar-benar tidak tahu apa yang kelak terjadi diantara kita. Mungkinkah Allah menyatukan kita dalam ikatan jodoh?

Aku melihat begitu indah tatapanmu padaku. Aku melihat begitu tulusnya perhatianmu. Namun aku tak berani terlalu berharap. Aku tak ingin terluka. Aku hanya ingin diriku dan orang-orang disekitarku bahagia. Dunia ini begitu indah, bukan?

Seolah sang waktu kembali memojokkanku dalam keheningan hati. Kau makin menjauh. Aku tak bisa kehilanganmu. Walaupun dulu aku yang kerap meninggalkanmu. Namun kali ini aku tak pernah berpikir kau akan meninggalkanku. Entah apa yang tengah tertulis dalam Lauhul Mahfudz. Hatiku terluka saat ini. Dan aku tak mengerti apa yang harus kulakukan.

Aku membutuhkanmu, sangat butuh akan hadirmu. Tak pernahkah kau rasakan apa yang kini kurasakan. Ternyata hatiku tak mampu berdusta, aku merindukanmu. Mungkinkah aku telah salah memilih hatimu sementara kau berlalu begitu saja. Aku sungguh tak ingin kau pergi. Aku membutuhkanmu.

Entah mengapa pedih kurasakan saat tak ada kabar darimu. Tak biasa diriku melewatkan malam tanpa perhatianmu. Apa aku telah salah? Kuberharap tidak ada lagi tangis dari mataku ini. Aku tak sanggup untuk terluka.

Aku bahagia saat kau ada…

Andai saja kau tahu tentang janjiku bertahun lalu. Aku memang meninggalkanmu tapi saat itu aku berjanji akan menemanimu suatu saat nanti. Mungkinkah Allah kini menagih janjiku saat itu. Pertemuan ini bukanlah hal yang biasa. Kurasakan keteduhan saat bersamamu. Kurasakan nyaman dan indah saat kau hadir.

Andai saja kau tahu betapa ketulusan rasa kasihku ini. Mungkin kau takkan tega melihatku terluka. Namun mengapa kini kau biarkan aku sendiri. Aku sangat membutuhkanmu, sangat membutuhkanmu. Tak bisakah kau membuat seuntai senyum dalam kehidupanku yang penuh airmata. Aku tak setangguh yang terlihat. Aku tak sehebat yang mereka katakan. Bagaimanapun aku tetaplah seorang wanita yang membutuhkan imam dalam kehidupanku.

Andai saja kau tahu betapa bahagianya aku saat kau menemuiku. Aku berharap itu bukan hanya sebuah mimpi. Aku sangat membutuhkanmu, sangat butuh.

Apa yang kini harus kulakukan?
Andai saja kau tahu…

===
Tangerang, Agustus 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar