
“Kamu anak akselerasi kan?” tegur Ikmal
Hasna tertegun, bagaimana bisa lelaki itu mengenalinya. Padahal dia sudah memakai jaket saat di bimbel (Bimbingan Belajar). Tentu saja Hasna tak ingin seorang pun tahu bahwa dia adalah salah satu siswi di sekolah terbaik se-Surabaya. Apalagi sampai tahu jika dia adalah siswi akselerasi yang menjalani masa SMA selama dua tahun saja.
“Kamu generasi satu kan?” tegur Ikmal kembali
“Kok Mas tahu?” tanya Hasna hati-hati
Ikmal tersenyum, “Aku tahu”
“Boleh Hasna tahu nama Mas siapa?”
“Aku Ikmal, generasi satu. Namamu Hasna?”
Hasna mengangguk pelan.
Ikmal masih membayangkan hari-hari yang dia lalui bersama Hasna. Keceriaan Hasna dan kecerdasan wanita itu kerap membiusnya. Entah mengapa hatinya selalu mengatakan Hasna adalah wanita yang tepat untuk menjadi ibu dari anak-anaknya.
Kini berita pernikahan Hasna membuat hati Ikmal bergetar hebat.
Hasna Arifah, ST dan Naufal Mumtaz Adz Dzaki, ST.
Jodoh memang sudah ditentukan Allah dalam Lauhul Mahfudz. Tak peduli seberapa besar rasa sayang Ikmal pada wanita bernama Hasna. Tak peduli seberapa lama Ikmal menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya.
Pertemuan yang tak pernah disangka terjadi beberapa bulan lalu. Tatapan Hasna masih cerdas seperti tujuh tahun lalu. Senyum dan keramahannya masih sama. Pesonanya masih memukau. Sampai akhirnya Ikmal yakin Hasna memang tercipta untuknya. Apalagi perhatian Hasna lebih dari sekedar sahabat.
Teruntuk wanita yang luar biasa dalam kehidupanku
Bagaimana aku bisa melupakanmu
Tahun demi tahun kulewati untuk menanti keajaiban ini
Aku bahagia saat menemukanmu
Aku tak peduli seberapa sibuknya diriku
Aku selalu ingin bertemu denganmu
Menatap jernihnya matamu
Melihat manisnya senyumanmu
Mendengarkan celotehmu
Aku selalu merindukanmu
Teruntuk wanita yang istimewa
Bagaimana aku bisa mengikhlaskanmu bersamanya
Sementara aku menunggumu terlalu lama
Aku bahagia saat kau perhatikanku
Aku tak peduli apa yang orang katakan tentangmu
Bagiku, kau begitu hebat
Bagiku, kaulah wanita terbaik
Teruntuk wanita yang telah memikat hatiku
Tak cukupkah perhatianku selama ini
Tak bisakah mataku ungkapkan besar cintaku padamu
Mengapa justru dia yang mendapatkanmu
Padahal hatiku telah yakin kau tercipta untukku
Teruntuk wanita yang berarti dalam hidupku
Bagaimana meredakan kekecewaan ini
Melihatmu bersamanya, sungguh aku tak sanggup
Namun jika ini merupakan jalan yang telah Allah tentukan
Seharusnya hati ini ridha menghadapinya
Seharusnya aku bahagia jika dirimu bahagia
Tak peduli kau telah memilihnya
Tak peduli kau telah menyakitiku
Teruntuk wanita yang selama ini kurindukan
Semoga kau berbahagia selalu
Semoga Allah memberiku penggantimu
Wanita yang mampu meluluhkan hatiku
Wanita yang mampu meredakan amarahku
Wanita yang mampu memberiku kesejukan
Wanita yang mempu mengubah resahku menjadi bahagia
Wanita yang tangguh
Wanita yang luar biasa dalam kehidupanku
Teruntuk wanita yang pernah menjadi bagian dari cintaku
Aku masih mencintaimu
“Mas Ikmal” sapa Afham
“Hei, salam dulu dong” tegur Ikmal
“Assalamualaikum Mas…”
“Wa’alaikumsalam. Tumben malam-malam begini telpon?”
“Mas, gawat Mas…”
“Apanya yang gawat Dek?”
“Mbak Hasna tag undangan pernikahan di facebookku”
“Oh…”
“Mas Ikmal sudah tahu?”
“Mas juga baru tahu.”
“Bukannya Mbak Hasna suka sama Mas Ikmal”
“Wanita shalihah tidak akan menikah dengan lelaki yang dicintainya melainkan mencintai lelaki yang menikahinya”
“Mas Ikmal jujur dong sama Mbak Hasna, tentang perasaan Mas selama ini”
“Mas kan sudah bilang, Mas tidak tahu perasaan Hasna terhadap Mas”
“Afham yakin Mbak Hasna ada perasaan kepada Mas Ikmal”
“Kalaupun perasaan itu ada pastinya sudah terlambat”
“Mas Ikmal mesti berjuang untuk mendapatkan Mbak Hasna. Percuma saja waktu tujuh tahun untuk mencintai wanita yang kini malah akan menjadi istri lelaki lain”
“Sudahlah Dek”
“Afham tahu betapa terpukulnya Mas Ikmal”
“Afham, sudahlah”
“Mas harus menelpon Mbak Hasna”
“Apa yang harus aku bicarakan padanya Dek?”
Sejenak hening
“Mas Ikmal tanya apakah Mbak Hasna pernah ada perasaan suka sama Mas atau tidak”
“Gila…enggak mungkin”
“Mas…ayolah”
“Pernikahan Hasna dan Naufal tinggal seminggu lagi. Aku tak mau mengacaukannya”
“GeeR amat sih Mas, kan belum tentu juga Mbak Hasna suka sama Mas”
“Hehe…iya ya”
“Hanya sekedar cari tahu saja Mas”
“Aku nggak bisa Dek”
“Jangan membuat kesalahan untuk ketiga kalinya Mas”
“Tiga kesalahan, banyak amat?”
“Pertama, membiarkan tujuh tahun tanpa kepastian. Kedua, tidak silaturahim saat hari raya idul fitri sebulan lalu.”
“Ketiga?”
“Mas membiarkan diri Mas terus bertanya-tanya apakah Mbak Hasna benar-benar suka sama Mas”
“Kamu sok dewasa”
“Mas, just do it. Okay?”
“Aku nggak ngerti darimana mulainya Dek”
“Think about it”
Afham menutup telponnya tanpa salam. Ikmal menggeleng pelan. Terkadang Afham yang lima tahun lebih muda darinya memang memiliki pemikiran yang dewasa.
===
“Assalamualaikum….”
“Waalaikumsalam Mas Naufal”
“Gimana kabarnya Dek?”
“Alhamdulillah sehat”
“Syukurlah, gimana sudah siap untuk menjadi Nyonya Naufal?”
“Insya Allah”
“Ya sudah Dek, aku mau pulang dulu”
“Mas masih di kantor?”
“Iya…tadi lembur sebentar”
“Hati-hati di jalan Mas”
“Iya Dek, assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Hasna menatap layar monitor HP-nya yang tertulis called : Ikmal
Entah mengapa hatinya merasakan kecewa ketika nama itu muncul. Padahal dua bulan lalu dia begitu merindukan kehadiran Ikmal dalam hidupnya. Padahal dua bulan lalu dia begitu yakin akan cinta Ikmal. Padahal dua bulan lalu dia begitu yakin akan mendampingi hidup Ikmal.
“Assalamualaikum Mas Ikmal” suara Hasna terdengar tercekat.
“Waalaikumsalam Dek, gimana kabarmu?”
“Alhamdulillah sehat, Mas Ikmal sendiri gimana kabarnya?”
“Baik Dek…”
“Mas, minggu depan Hasna nikah. Kalau Mas Ikmal ada rencana liburan ke Surabaya, datang ya…”
“Naufal itu teman kerjamu?”
“Iya Mas…”
“Selamat ya Dek”
“Mohon doanya ya Mas”
“Insya Allah”
“Mas Ikmal…”
“Ya?”
“Kemarin lebaran kok nggak mampir ke rumah? Keluarga Hasna nunggu loh”
“Kemarin sibuk Dek”
“Waktu lebaran itu Hasna dilamar sama Mas Naufal”
“Wah…seru dong…”
“Sebenarnya Hasna saat itu berharap Mas Ikmal yang datang”
“Kenapa kok berharap aku datang? Memangnya sudah nyiapin kue banyak ya…”
“Mas Ikmal, Hasna menunggu Mas terlalu lama”
“Menunggu apa Dek?”
“Hasna senang sekali saat bertemu dengan Mas, Hasna pikir Mas Ikmal memang tercipta untukku”
Ikmal terdiam.
“Mungkin Mas Ikmal tidak pernah bisa merasakan apa yang Hasna sudah rasakan”
“Dek, aku benar-benar tidak mengerti apa yang kamu bicarakan”
“Sudahlah Mas… maafkan Hasna ya…”
“Adek enggak salah kok”
“Iya…mungkin memang tidak ada yang salah”
“Loh…kok Adek malah nangis”
“Maafkan Hasna Mas…”
Hasna mengakhiri pembicaraannya dengan Ikmal.
Wanita memang makhluk yang paling tidak dapat dimengerti. Dalam bahagia, dalam duka selalu saja ada airmata. Seharusnya Hasna bahagia atas pernikahaannya yang akan terlaksana seminggu lagi.
“Mbak Hasna suka sama Mas Ikmal” komentar Afham ketika melihat kakaknya yang tertegun menatap layar HP-nya.
“Percuma Dek” Ikmal menatap adeknya lalu tersenyum.
“Belum jodoh Mas…”
“Iya…hidup, mati, rezeki dan jodoh sudah ditetapkan oleh Allah”
Afham memeluk kakaknya.
“Berasa seperti kisah KCB ya?” Ikmal mencoba menenangkan suasana hatinya.
“Apaan KCB?”
“Ketika Cinta Bertasbih”
“Ngawur kamu Mas…berarti kamu masih berharap Mbak Hasna akan menikah denganmu dong”
“Itu kan ceritanya Azzam sama Anna, bukan antara Ikmal dan Hasna”
“Atau Mas mbuat aja ceritanya, lumayan seru sih”
“Seru apanya?”
“Nggak bisa mbayangin aja, sama-sama suka dan tidak berani mengungkapkan sampai lebih dari tujuh tahun. Apalagi rasa cinta itu masih sama ketika kalian lama tidak bertemu.”
“Lebay kamu Dek”
===
Jakarta, 2 Agustus 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar