Jumat, 12 Agustus 2011

Ini Hanya Sebuah Kisah


Tentang Irfan

Watthayyibatu litthayyiban walkhabitsu lilkhabitsan …

Wanita itu terus berlari. Entah apa yang tengah ia kejar. Rasanya tak ada sesuatupun di depannya yang dia kejar. Namun wanita itu terus berlari. Jilbabnya berkibar, tampak lelah di parasnya. Sungguh, ingin sekali aku mendekatinya dan bertanya. Apa yang sebenarnya yang dia lakukan. Sungguh aneh melihat seorang wanita berlari ketika mentari belum sepenuhnya hadir menerangi bumi. Lagipula ini bukan sebuah taman melainkan pinggiran jalan.

Wanita itu tiba-tiba terdiam. Kulajukan mobil yang kukendarai sangat pelan. Sebenarnya, aku juga tidak akan pergi kemana-mana. Entah mengapa pagi ini aku ingin keliling komplek sebentar. Sekedar menghilangkan penat.

Kupinggirkan mobilku. Aku ke luar dari mobil. Kudekati wanita itu.
“Afwan…” ucapku
Wanita itu menatapku hingga gemetar hatiku menatapnya. Airmata mengalir membasahi jilbab putihnya.
“Assalamualaikum” sapaku
Wanita itu berusaha tersenyum, “ Wa’alaikumsalam warahmatullah”
“Afwan kalau saya mengganggu. Saya Irfan, saya melihat Ukhti berlari tanpa ada yang dikejar.”
“Saya hanya ingin menghilangkan penat di kepala. Dulu, sewaktu di Surabaya saya sering melakukannya dan berhasil. Namun entah mengapa saat ini sangat sulit bagiku.”
“Kalau saya boleh tahu apa Ukhti masih kuliah?”
“Memang kelihatan masih kuliah? Saya sudah berusia dua puluh empat, dan saya kerja di satu tempat di Jakarta”
“Hmm…pantes merasa penat”
Wanita itu mengerutkan dahi.
“Jakarta, sumber dari segala masalah….” Kataku
Wanita itu tersenyum ringan. Subhanallah mengapa aku tertarik menatapnya.
“Antum, tinggal di daerah sekitar sini?”
“Iya Ukh … “
“Pasti aneh melihat saya berlari tanpa tujuan ya? Mirip orang gila”
“Justru malah saya penasaran mengapa Ukhti lari begitu kencang tanpa ada yang dikejar. Jika memang pikiran Ukhti sedang penat, mengapa tidak mengembalikan semua permasalah kembali pada Allah. Ukhti bisa mendirikan sholat malam, memohon agar Allah memudahkan segala urusan. Wa man yattaqillaha yaj’al lahuu makhraja”
“Barangsiapa yang bertaqwa pada Allah maka Allah akan memberinya jalan ke luar”
“Na’am…Subhanallah, berarti benar dugaanku”
“Dugaan apa?”
“Ukhti bukan wanita yang biasa”
“Bagaimana bisa Antum menyimpulkan seperti itu. Antum baru bertemu saya sekali ini”
“Entahlah saya merasa telah mengenal Ukhti”
Wanita itu tersenyum lunak. Tampak aura cahaya parasnya mambiusku. Dia bukan wanita berkulit putih. Namun di mataku terlihat cemerlang.
“Ukhti wanita yang cerdas, yang mandiri, yang luar biasa. Sungguh beruntung lelaki yang bisa menjadi suami Ukhti”
Wanita itu menatapku tajam. Aku merasa tidak ada yang salah dengan perkataanku. Namun tiba-tiba matanya menjadi redup.
“Seandainya saja ada yang merasa beruntung untuk hidup bersamaku” pandangannya menerawang tak jelas. Walaupun begitu sebenarnya masih terlihat jelas kecerdasan dan kearifannya.
“Afwan Ukhti”
===
Tentang Irfan

Apakah dia, wanita yang dikirim Allah untuk mendampingiku. Wanita sederhana yang terlihat begitu cerdas. Aulia Rahmawati, mengapa aku kerap merindukannya. Pertemuan tanpa sengaja seminggu lalu membuatku tak pernah bisa melupakan bayangan wanita itu dari pelupuk mataku. Apakah aku tengah jatuh cinta?

“Mas Irfan?” tegur Akmal
“Eh, maaf Mal…”
“Wah, asyik melamun nih”
“Iya Mal… “
“Masih teringat wanita di pinggir jalan itu Mas?”
“Iya…”
“Lagi jatuh cinta rupanya?”
“Entahlah”
Kurasakan tatapan aneh dari Akmal. Mungkin parasku memerah.
“Apa minusku sudah bertambah ya? Kok aku lihat pipi Mas Irfan memerah?”
“Apa iya Mal?”
Akmal, juniorku di bidang perencanaan maintenance repair overhaul menatapku serius.
“Apa aku pantas mendapatkan wanita sholihah seperti dia ya…”
Akmal tersenyum, “Sudah sewajarnya Mas Irfan jatuh cinta lagi. Tak semestinya selalu teringat pada almarhumah isteri Mas”
“Aulia memang wanita yang indah Mal. Jika saja kamu bertemu dengannya, mungkin kamu juga jatuh cinta padanya”
“Aulia?”
“Iya…nama wanita itu Aulia”
Aku menatap keresahan di mata Akmal.
“Kenapa Mal?”
“Oh tidak ada apa-apa. Aku masih ada kerjaan”
“Ya sudah kembali kerja Mal”
“Makasih Mal”
“Eh… kapan undangan nikahmu disebar Mal?”
“Nikah sama siapa Mas?”
“Sama Anita, loh bukannya kalian pacaran?”
Kulihat paras Akmal memucat. Ingin rasanya aku bertanya atas sikapnya yang aneh itu, namun kuurungkan.

Afwan, bolehkah saya ke rumah Ukhti nanti sehabis isya’?
Tulisku dan mengirim message itu ke nomer ponsel Aulia. Dua menit, lima menit, tak ada balasan.
===

Tentang Akmal

Dan minta tolonglah pada Allah dalam sabar dan solat. Sesungguhnya hal itu berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk (Al Baqarah : 45)

Aku hampir tidak mengerti apa yang tengah aku rasakan. Rasa khawatir itu menghampiriku lagi. Ketika kucoba untuk melupakan seorang aulia dalam kehidupanku. Apakah karena aku terlalu mengenalnya. Ataukah karena memang terlalu lama aku menunggu kehadirannya. Namun apakah ada rasa yang sama dari aulia untukku. Wanita sehebat dia tidaklah pantas untuk berdampingan dengan lelaki sepertiku.

Hampir tiap tengah malam aku bersujud meminta petunjuk pada-Nya. Berharap ada secercah jawaban atas hidupku. Aku masih sangat menyayangi Aulia. Namun entah mengapa hatiku ragu untuk memintanya bersanding denganku. Apa aku takut mendapat penolakan darinya. Ataukah aku takut mendapati Aulia terlalu hebat untukku.

Mungkin aku harus bersabar sejenak. Menunggu apa yang akan Allah berikan untukku. Entah wanita seperti apa yang kelak akan mendampingiku.

“Assalamualaikum….” Sapa Anita menghampiri meja kerjaku.
“Wa’alaikumsalam” jawabku tak mengalihkan pandangan dari layar monitor computer.
“Sudah makan Mas?”
“Belum. Masih banyak kerjaan”
“Makan dulu, kasihan itu tubuhnya”
“Iya. Bentar”

Bahkan rasa laparpun sekarang tak pernah aku rasakan. Aku makan ketika tiba waktunya makan. Apa aku sudah tidak dapat merasakan apapun. Terasa berat melupakan Aulia. Wanita yang kukenal delapan tahun yang lalu. Segala tentangnya masih melekat dalam ingatanku. Kebaikan bapak ibunya masih bisa kurasakan. Keteduhan tatapannya mambuatku tak bisa berpaling. Namun mengapa aku masih ada niat untuk meninggalkannya. Jika memang dia lebih baik dariku, itu bukan salah dia. Salahku karena tidak bisa sepertinya. Salahku karena aku tak pernah ungkapkan perasaanku. Salahku karena aku…meninggalkannya.

“Mas Akmal…” tegur Anita.
“Ya…” sahutku tersadar dari lamunanku.
“Aneh banget sih, melamun terus”
Sekilas kulihat paras cantik Anita, rekan kerjaku yang beberapa minggu ini akrab denganku. Hampir tiap malam kami bertukar sms. Namun entah mengapa sejak Mas Irfan mengucap nama Aulia, aku jadi teringat tentang Aulia-ku.
“Sori Nit…aku lagi sibuk” jawabku asal.
Kubuka saja folder-folder projectku supaya Anita tidak curiga sebenarnya aku sedang tidak mengerjakan apapun. Aku hanya ingin menenangkan diri.
“Okelah… aku ke kantin duluan ya. Entar Mas Akmal nyusul ya…” pinta Anita manja.
Aku tak menjawabnya. Andai saja Anita tahu bahwa otakku sudah penuh dengan nama Aulia.

- Mas Akmal kenapa? Marah ya sama Aulia?
- Enggak. Gpp kok Dek

Message terakhir aulia yang kubalas. Banyak message lain yang kuhapus begitu saja tanpa membalasnya. Aku, ternyata memang terlalu takut untuk jatuh hati pada seorang Aulia. Hingga akhirnya saat family gathering di Bandung semua teman-teman mencomblangkanku dengan Anita. Anita memang wanita cantik dan menarik, tapi terasa sangat berbeda ketika aku dekat dengan Aulia. Aulia memang lebih cenderung pendiam dan kaku dibandingkan Anita. Namun sorot matanya yang teduh menampakkan kejujuran dan kebeningan hatinya. Tak pernah kujumpai wanita seperti Aulia.

Aulia, andai saja mampu kukatakan rindu padamu. Bukankah dulu kau pernah mengatakan kangen padaku. Masihkah ada harapan untukku kembali hadir dalam kehidupanmu. Ataukah kini kau telah menemukan pengganti diriku. Bukankah kedua orangtuamu sudah menganggap aku sebagai anak mereka. masih adakah waktumu untukku. Seperti berbulan-bulan lalu. Rasanya tak lengkap hariku tanpa mendengar cerita darimu. Meski ceritamu itu begitu hebat terdengar di telingaku. Kau selalu jadi sorotan orang-orang sekitarmu. Kau mampu bersikap dewasa dan berpikir cerdas.

Aulia, andai saja saat itu aku tak membuatmu gelisah atas sikapku. Aku berharap masih ada kesempatan untukku kembali di sampingmu. Meski orang-orang lebih cenderung melihat kehebatanmu daripada diriku.

Kuhela napas panjang. Hatiku benar-benar gelisah. Seperti itukah perasaan aulia, saat aku menjalin kisah dengan Anita. Akankah rasa ini tumbuh kembali diantara kita. Akankah rasa ini bisa terjaga saat kita jauh. Akankah Allah ridha atas kasih diantara kita.

Aku harus bagaimana?
Aku benar-benar tak mengerti apa yang harus kulakukan.

===
Tentang Aulia

“Mbak, nanti minta tolong hasil rapatnya diupload di dashboard manajemen ya”
“Insya Allah Pak” ucapku seraya mohon diri dari ruangan GM
Sehari ini sudah dua kali aku meeting di tempat GM. Meetingku bersama dengan para manager lagi. Apa aku sepenting itu hingga mesti terlibat dalam system perusahaan. Jabatanku masih staff perencanaan dan pengendalian overhaul, namun terlalu sering ikut rapat manajemen.

Sms dari Irfan belum juga kubalas. Aku masih belum bisa membuka hati. Jujur, masih terasa sakit saat Mas Akmal pergi begitu saja dalam kehidupanku. Aku masih sangat menyayanginya. Perasaanku masih sama seperti pertama mengenalnya, delapan tahun yang lalu. Entah mengapa hati Mas Akmal mudah sekali berpaling. Mengapa harus ada wanita lain antara aku dan Mas Akmal.

Masih terasa airmata yang tiap malam mengalir. Bantal dan gulinglah yang menjadi saksi sesenggukan tangisku. Aku hanya tak ingin sendirian. Rasanya semua usaha telah aku lakukan untuk mengobatinya, namun aku masih juga merasakan sakit. Aku tak bisa kehilangan Mas Akmal.

Apakah karena aku terlalu hebat untuk seorang Mas Akmal. Apa hebatnya, jika tiap kali aku hanya bisa menangis. Aku terlalu takut untuk kembali menatap apa yang ada di hadapanku. Mungkin aku harus bersabar atas apa yang tengah terjadi.

Mas Akmal, ini sudah lebih dari sebulan tanpa kabar darimu. Apakah kau tengah merasakan cinta yang begitu indah dari seorang Anita. Aku hanya tahu sosok Anita dari facebook. Wanita yang kerap member komentar di status Mas Akmal.

Mas Akmal, apa yang salah dariku? Bukankah Mas tahu kedua orangtuaku sangat sayang sama Mas. Aku benar-benar tak habis berpikir mengapa Mas Akmal bisa berlalu begitu saja dari kehidupanku. Segala upaya sudah kulakukan untuk melupakanmu. Tapi aku tak bisa. Mungkinkah karena aku memang benar-benar membutuhkanmu ataukah sebenarnya apa yang kurasakan ini benar. Aku merasakan bahagia dan nyaman saat kau hadir dalam kehidupanku. Rasa syukur pada Allah yang tak berhenti aku panjatkan saat Mas Akmal mau menemaniku.

Mas Akmal, apa yang kini tengah terjadi padamu. Tak bisakah kau lihat betapa rasa sayangku padamu. Tak bisakah kau rasakan betapa dalamnya rasa rinduku. Setiap malam kunantikan message darimu. Rasanya ada yang kurang saat kau tiba-tiba tidak hadir di tiap malamku. Hidupku terasa begitu sepi. Seolah hati ini menyangsikan hilangnya kebahagian itu.

Mas Akmal, aku masih selalu ada di sini. Entah merupakan suatu kebodohan atau apa sehingga sampai detik ini aku tak mampu melupakanmu. Aku tak bisa merasakan lapar, aku tak bisa merasakan apapun saat kau tak ada.

Kembali airmata itu tiba-tiba menghampiri. Aku tidak sanggup menghadapi ini semua Ya Rabb. Ini terlalu berat bagiku. Aku benar-benar tak sanggup.

===

Tentang Akmal dan Irfan

“Mal, aku mau cabut dulu ya…” kata Irfan seraya menumpuk beberapa file di meja Akmal.
“Mau kemana Mas. Tumben sore-sore sudah cabut” tegur Akmal. Biasanya Irfan adalah pecandu kerja. Sejak istrinya meninggal sebulan lalu akibat meningitis, Irfan kerap menyibukkan diri dengan pekerjaan.
“ Minta doanya ya…aku mau ke tempat Aulia mengajar”
“Insya Allah. Memang profesi wanita itu sebagai guru ya Mas?”
“Iya…di salah satu bimbingan belajar”
“Wah mantappp…. Berarti dia termasuk wanita yang sabar ya Mas. Karena mengajar merupakan kegiatan yang butuh extra kesabaran”
“Alhamdulillah iya. Wah kalau aku terlalu banyak cerita tentang Aulia nanti malah kamu yang jatuh cinta sama dia”
Akmal tertawa kecil, “Mana mungkin Mas”
“Pokoknya dia adalah wanita yang luar biasa”
“Ya sudah semoga sukses ya Mas”
“Amin… kamu juga buru-buru lamar Anita, biar nggak sendirian terus”
“Hehe…”
“Biar nggak nyuci baju sendiri. Kamu tuh parah, nyuci baju jam sepuluh malam”
“Hehe…”
“Eh sebenarnya beruntung juga wanita yang jadi isterimu. Kamu tuh orangnya rajin”
“Mas Irfan juga rajin”
“Tapi enggak serajin kamu”
“Bisa saja”
“Betewe…emang Anita cocok kok sama kamu.”
“Semoga berjodoh ya Mas”
“Ya…semoga Aulia mampu melupakan masalalunya yang membuatnya kerap menangis”
Akmal tersenyum ramah. Berbeda jauh dengan kondisi hatinya uyang selalu berguncang saat mengingat Aulia.
“Wah sepertinya cerita tentang Aulia ini seru Mas. Kapan-kapan cerita ke aku ya”
“Nah itu takutnya nanti kamu jatuh cinta sama dia”
Akmal tertawa kecil.

Sebuah message tertera pada layar HP Akmal. Nama yang tertera di sana terasa begitu dekat. Akhirnya Aulia mengirim kabar juga. Buru-buru Akmal melihat isi message-nya.

- Mas Akmal, pa kabar? Malam ini Aulia mau taaruf dengan seseorang. Minta doanya ya…


Sungguh merupakan sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Akmal. Rasanya dia ingin berlari ke tempat di mana Aulia sekarang berada. Rasanya ingin dia menceritakan apa yang tengah terjadi padanya selama ini. Namun mungkin semua itu sudah terlambat.

===

Tentang Aulia

Kutatap jam tanganku. Sudah menunjukkan pukul delapan malam. Namun Irfan belum juga kelihatan.
“Assalamualaikum Ukhti, apa kabar?”
Aku menatap lelaki yang tiba-tiba muncul di hadapanku
“Bagaimana murid-muridnya? Suka godain Bu Gurunya ngga?”
“Bisa aja Mas….” sahutku
“Ehm… senengnya punya isteri yang sabar seperti Ukhti”
Aku hanya meringis.
“Aku anter Ukhti pulang ya…sekalian mau lihat rumah Ukhti”
“Boleh…kebetulan tadi sehabis kerja saya langsung ke sini nebeng teman, jadi nggak bawa motor”
“ Sekalian kita ngobrol sebentar”

Irfan menuju tempat parkir. Honda City warna hitam segera menghampiri tempatku berdiri. Ini semua mirip cerita dongeng. Seorang pangeran baik hati tiba-tiba datang menghampiri sang putri. Apa mungkin benar kata ibu, jodoh itu datangnya tidak disangka-sangka.

Sungguh, amat beruntungnya diriku yang kini mendapat penjagaan dari seorang lelaki seperti Irfan. Meski aku belum tahu latar belakangnya, namun aku mencoba percaya ini adalah jalan terbaik yang diberikan Allah padaku. Ini adalah buah kesabaran yang selama ini aku jalani.

Dalam perjalanan Irfan bercerita tentang kehidupan rumah tangganya yang baru dijalani selama tiga bulan. Dan kematian istrinya sebulan lalu. Aku merasa lelaki di sampingku ini sangat asing. Perasaanku bercampur aduk, resah dan gelisah. Bukankah aku harusnya bahagia?

Saat Irfan menceritakan pekerjaannya, tiba-tiba saja kepalaku terasa pusing. Ada rasa takut yang berlebih. Ada keresahan yang kian memuncak.

“Ukhti sakit?”
Aku menggeleng pelan.
“Ukhti terlihat pucat”
Aku hanya menatap Irfan.
“Ukhti kenapa?”
“Mungkin capek”
Irfan tersenyum ramah, “Rumah Ukhti yang mana?”
“Yang bercat pink”

“Loh, itu bukannya motor Akmal?” gumam Irfan.
“Mas Akmal?” ucapku pelan.

“Afwan…” Irfan menghampiri Akmal.
Akmal melihatku setengah tak percaya. Aku menundukkan kepala. Entah mengapa aku merasa sangat malu untuk berhadapan dengan Mas Akmal. Apa karena aku takut dia berprasangka buruk setelah aku jalan dengan Irfan. Aku tahu takkan baik jika Irfan ternyata satu kantor dan satu bagian dengan Akmal.
“Aku hanya mampir sebentar ke rumah teman” jawab Akmal dengan suara parau.
“Aulia ini temanmu?” pekik Irfan tak percaya
“Iya…”
“Wah baguslah berarti aku bisa nanya banyak tentang Aulia padamu ya…”
Akmal mengangguk, “ Jadi wanita yang luar biasa itu Aulia Rahmawati?”
“Iya…”
“Mas Irfan benar, dia memang wanita yang luar biasa”
“Tapi kamu jangan sampai jatuh cinta padanya loh Mal”
Akmal terdiam.
“Ah…Aulia kan hanya temanmu, tak mungkin kamu jatuh cinta padanya”
“Aku … “ Akmal menatap atasannya, “Aku sebenarnya baru sadar bahwa aku telah lama jatuh hati pada Aulia. Perasaan yang masih sama dengan perasaan saat pertama kami bertemu, meskipun itu sudah delapan tahun yang lalu”

Aku menatap ke arah Mas Akmal. Mata yang sama dengan mata yang selalu kurindukan. Sorotnya begitu teduh hingga membuatku merasa begitu nyaman.

===
Jakarta, 11 Agustus 2011







Tidak ada komentar:

Posting Komentar