Sejuta doa kulebur untuk cinta …
Esa meletakkan ponselnya ke dalam tas. Hatinya gundah. Beberapa message yang dia tulis untuk Iman tidak berbalas. Kerinduan hatinya kian membuncah. Seandainya mampu dijelaskan semua rasa hatinya pada lelaki bernama lengkap Iman Akbar Al Aziz.
Masih terasa tatapan dari mata jernih Iman, meski terakhir bertemu lebih dari dua bulan yang lalu. Bagaimanapun Esa sudah mengenal Iman sejak semasa SMA. Ketika Iman masih menjadi senior Esa, dan mereka kerap akrab saat berada di bimbel (bimbingan belajar). Itu sudah hampir delapan tahun yang lalu.
Sebenarnya Esa sudah hampir melupakan Iman sejak dia meninggalkan kampus. Pekerjaannya yang jauh dari keluarga, membuatnya sedikit melupakan segala yang ada di daerah asalnya yaitu di Surabaya. Dan tiba-tiba sosok bernama Iman muncul di media share bernama facebook. Sejak saat itu hampir tiap hari Esa tersenyum bahagia. Tiap hari Iman menanyakan kabar dan kegiatan Esa. Bagaimanapun setiap orang akan bahagia jika ada yang memperhatikan, meski Esa tak yakin Iman mencintainya.
Pertemuan pertamanya dengan Iman membuat hatinya sangat berbunga-bunga. Tak pernah ada cinta yang menghampirinya. Tak pernah ada lelaki yang diizinkan untuk masuk ke ruang hatinya. Namun untuk Iman, semua terasa berbeda.
Tatapan Iman menyejukkan hati Esa. Apalagi demi kencan pertamanya itu Iman lembur kerja sampai pagi dan langsung menuju tempat kos Esa di Jakarta. Padahal jarak antara tempat kos Iman dan Esa cukup jauh. Iman sendiri merasa nyaman tinggal di Tangerang.
“Mas, aku sudah janji pada Allah untuk menemanimu. Janji itu telah begitu lama kuikrarkan, janji itu sudah tujuh tahun yang lalu.” Gumam Esa, “Tak tahukah aku kerap menangis karenamu, Mas. Aku sudah terlanjur sayang. Mas, bagaimana aku bisa meredakan rasa sakit ini. Mengapa harus ada seorang Nita diantara kita. Mengapa cinta ini sulit sekali untuk bersatu. Aku bisa merasakan cintamu, namun tak bisakah kau rasakan besarnya cintaku padamu?”
Materi pelatihan rupanya tidak bisa masuk ke otak Esa. Wanita bertubuh pendek itu akhirnya memohon izin untuk ke luar ruangan. Esa menelpon ibunya.
“Assalamualaikum Ibu”
“Waalaikumsalam Nduk”
“Ono opo tho, kok kowe nangis?”
“Mboten ngertos Bu, kula namung sumpek kemawon”
“Kudu sabar Nduk…” kata ibu Esa lewat telepon.
“Inggih Bu..” Esa menghapus airmata yang kini begitu akrab dengan parasnya.
“Insya Allah Iman ora suwe karo Nita”
“Ibu …”
“Iya Nduk…”
“Kok Mas Iman tego inggih Bu kale kula?”
“Ibu mesti ndungo kanggo kowe Nduk, cah ayu…”
Esa sekali lagi tak sanggup menahan kepedihan hatinya
“Esa klintu nggih Bu?”
“Ora Nduk, insya Allah Mas Iman sadar nek kowe luwih apik tinimbang Nita”
“Ibu, niki rasanipun sakit ing ati kula”
“Kudu sabar Nduk…”
“Nyuwun pandunganipun inggih Bu”
“Insya Allah anakku”
“Ibu, sampun nggih. Kula taksih pelatihan niki”
“Nduk … Ibu pesen, kowe ora usah sedih-sedih. Mengko nek loro sakno awakmu”
“Inggih Bu… Assalamualaikum”
“Wa’alaikumsalam. Barokallah Nduk”
Ini tentang seorang Esa. Wanita luar biasa yang kerap menemani-Nya ketika para makhluk lain tertidur pulas. Wanita yang luar biasa mandiri dengan segala kecerdasannya. Tak pernah ada kekasih di dekatnya, sebagai bukti cinta pada-Nya. Dan keyakinan hatinya saat Iman datang untuk menjadi pasangan hidupnya kini membuatnya terluka. Rasa sayang itu masih sama. Harapan itu masih tertuju pada seorang Iman.
Kini Esa tidak lagi tinggal di Jakarta. Semenjak Iman menyatakan bahwa dia suka tinggal di Tangerang, Esa memutuskan untuk tinggal di Tangerang. Bagaimanapun dia bersikap, namun di mata banyak orang dia adalah wanita tangguh.
Seharian Esa murung, seharian Esa bersikap dingin. Bagaimana bisa tersenyum jika lelaki yang diharapkannya kini mulai menjauh. Apakah Allah tidak ingin melihatnya bahagia?
Pikirannya kini berkecamuk tanya apa gerangan yang terjadi pada Iman? Tak pantas dia hanya memikirkan seorang makhluk-Nya. Tak pantas sekiranya dia berduka terlalu dalam. Tapi bagaimana dengan janji tujuh tahun lalu. Bukankah Iman tak pernah mendengar janji itu.
“Mas, aku sayang sama Mas Iman” gumam Esa.
Suara adzan dhuhur terdengar nyaring. Menyentuh tiap jiwa yang melabuhkan cinta pada-Nya.
Ya Rabb, dalam sujud ini hamba memohon
Hamba tak pernah merasakan sakit seperti ini sebelumnya
Hamba sangat mencintai-Mu
Hamba ingin selalu dalam naungan kasih-Mu
Ya Rabb, tunjukkan jalan terbaik untuk hamba
Pilihkan jodoh terbaik untukku
Jika memang Mas Iman jodohku maka mudahkan bagi kami untuk menikah atas rahmat dan ridha-Mu
Mudahkanlah kami membina keluarga sakinah mawadah warahmah atas cinta dan kasih-Mu
Bagaimana kujelaskan cinta karena itu tak dapat dijabarkan
Sesuatu yang indah terlahir dari rasa
Dan rasa itu karunia illahi
Bagaimana kujelaskan cinta
Bila malu selalu melandaku
Semua rasa itu mau resah bahagia takut dan cemburu karunia illahi
Dari sujud ke sujud sejuta doa kulebur untuk cinta
Dalam hati ada tanda manusia hablum minannaas
Dari sujud ke sujud kutasbihkan hanya untuk cinta
Subhanallah cinta kita terus bertasbih.
Lirik lagu “Dari sujud ke Sujud” membuat hati Esa semakin menangis
Tiba-tiba HP-nya bergetar, sebuah message.
“Gimana Mbak pelatihannya?”
Dari : Hamdan
===
Kantor perwakilan PT PJB
Jl Gatot Subroto Jak Sel
Tidak ada komentar:
Posting Komentar