Jumat, 04 Februari 2011

Sebuah Doa pada-Nya


Masih terbesit dalam ingatanku ketika rasa kecewa itu menyerangku. Entah apa yang aku inginkan saat ini. Meski ingin sekali kuhapus rasa sepi dalam hidupku. Atau menanti keajaiban dari Allah hingga aku mampu merasakan kebahagiaan.

Air wudhu ini masih melekat di kulitku namun aku merasakan kegundahan yang luar biasa. Pagi ini seperti biasa aku menunaikan solat dhuha. Karena perasaanku masih kacau maka kuulangi kembali berwudhu dan berulang membaca al fatihah dalam hati.

Apa yang kiranya akan terjadi. Sudah kupasrahkan semua jalan hidupku pada-Nya. Mungkin secara fisik kau akan melihatku sebagai sosok yang beruntung. Aku tampan, terlahir dari keluarga ekonomi dan sekarang kehidupanku sudah mapan. Aku telah tinggal di rumah sendiri, aku telah menjadi pegawai negeri. Apalagi yang kurang?

Namun hidup sudah ada yang mengatur, yaitu Allah SWT. Masih teringat saat-saat aku masih duduk di bangku sekolah dengan pacar yang sering berganti. Aku tajir dan tampan, tak ada seorang wanita pun yang menolak untuk jalan bersamaku.

Kini, aku bahkan tak mengerti apa yang terjadi dalam kehidupanku. Sempat terbesit rasa iri pada teman-teman yang sudah memiliki buah hati. Dan bidadari yang kuharapkan untuk mendampingiku belum juga datang. Berapa lama lagi aku menunggu?

“Abi…” kudengar suara sayup yang tak kutahu dari mana.
Seringkali kudengar suara sayup itu, namun belum pasti itu suara dari siapa.

Sudah beberapa hari ini aku merasakan keresahan. Padahal aku semakin tingkatkan amalanku, termasuk sholat tahajudku. Namun masih kurasakan keresahan dalam hatiku. Semakin aku tenggelam dalam solatku semakin aku merasakan keresahan tak terhenti. Apakah karena seorang bidadari yang selama ini kunantikan.


Teruntuk bidadariku….
Wahai cintaku,
Tetapkanlah Islam sebagai agamamu.
Tetapkanlah Allah sebagai Tuhanmu, dan tiada yg lain selain Dia.
Tetapkanlah Muhammad sebagai Nabi dan Rasulullah.
Tetapkanlah Al Qur`an sebagai kitab dan penuntunmu.

Wahai cahaya hatiku.
Ucap dua kalimah syahadat disetiap desah nafasmu.
Sembahyanglah lima waktu dalam hari harimu.
Berpuasalah sebulan dalam bulan Ramadhan.
Tunaikanlah haji ke Baitullah Rumah Allah jikalau kau mampu.
Tunaikanlah zakat selagi kau mampu.
Jangan lupakan Infaq Shadakah dan menyantuni mereka yg tidak mampu.

Wahai bidadariku
Beriman selalu hanya kepada ALLAH SWT
Berimanlah bahwa Allah telah menciptakan Malaikat-malaikat
Berimanlah bahwa Allah telah menciptakan Kitab-kitab Al Qur`an dan kitab kitab sebelumnya
Berimanlah kepada nabi dan Rasul rasul
Yakinlah dan Berimanlah akan adanya Hari Kiamat
Yakinlah dan Berimanlah kepada Qada dan Qadar

Wahai pesona jiwaku.
Hidupmu kelak akan lebih keras dan berat.
Lebih keras dan berat dari kehidupan kami orangtuamu.
Maka bekalkanlah dan perkuat keimanan dan ketaqwaan.
Agar kalian selamat sampai ditujuan hidupmu kelak.

Wahai penyempurna hidupku.
Ingatlah dan camkanlah beberapa hal
Bahwa yang singkat itu WAKTU,
Yang dekat itu MATI,
Yang besar itu NAFSU,
Yang berat itu AMANAH,
Yang sulit itu IKHLAS,
Yang mudah itu BERBUAT DOSA
Yang abadi itu AMAL KEBAJIKAN,
Yang akan di investigasi itu AMAL PERBUATAN,
Yang jauh itu MASA LALU.
Persiapkanlah dirimu untuk semua hal itu.

Wahai masa depanku.
hiduplah demi akhiratmu
karena itu yang akan abadi kekal selamanya
janganlah kalian hidup demi duniamu
karena itu hanya semu dan bakal termakan waktu

Wahai permataku,
Doa orangtuamu selalu menyertaimu.
Semoga Allah selalu membimbingmu.
Semoga Allah selalu meridhoimu.
Semoga Allah selalu mendampingimu.
Dalam setiap langkahmu, doamu dan dalam semua kehidupanmu.


Entah mengapa ada suatu rasa kesepian yang mendalam, sekalipun aku mecoba untuk terus tersenyum. Aku yakin suatu saat Allah akan mengamanatiku seseorang untuk kucintai dan mencintaiku. Seorang bidadari yang mendidik putra-putriku hingga nantinya menjadi pemimpin yang menjunjung tinggi agama islam. Aku yakin Allah takkan lupa akan janji-Nya, watthayyibatu litthayyiban walkhabitsu lilkhabitsin.

Ya Rabb, jagalah bidadariku dari segala zina dan fitnah. Sungguh aku tak ingin dirinya terluka.
Ya Rabb, jagalah hatiku untuk selalu mencintai-Mu, aku takut diriku kembali pada sifatku yang dulu.
Ya Rabb, ridhoilah langkahku dan langkah bidadariku agar kami bias bertemu dan menjalin ikatan cinta suci karena-Mu.
Ya Rabb, kabulkanlah doaku….Amin


Kulihat di luar kantor tampak hujan gerimis. Gerimis seperti perasaan hatiku. Namun harus kutegarkan diriku. Semua ini pasti akan indah pada waktunya. Allah tentunya telah menyiapkan bidadariku. Sosok indah yang akan membantuku dalam mendakwahkan islam secara kafaah. Sosok yang selalu ada ketika aku berduka dan ketika aku bahagia. Insya Allah.

“Angga…. Ada pesan buat kamu…” ucap Haryo, teman satu ruangan denganku.
“Dari?”
“Gedung sebelah… kayaknya mau ada rapat”
“ Masya Allah aku lupa”
Haryo menatapku tenang, “ Makanya buruan cari istri, biar kalau bangun pagi nggak kesiangan dan nggak sering melamun kayak gini”
Aku meringis.

Ya Rabb, illahi syafarat yadayya fatrubhuma.

Jakarta, 3 Februari 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar