Kamis, 03 Februari 2011

Doa untuk Abi dan Putraku


Kulihat putraku, Ibrahim tengah menghafalkan surat An-Naba’. Hatiku merasa begitu tenang ketika melihatnya. Sementara putri kecilku, Almira Az Zahra tengah tertidur pulas setelah kubacakan surat Ar Rahman. Surat Ar Rahman adalah surat favorit putri kecilku yang belum genap enam bulan. Ketika mulai rewel, kubacakan surat itu untuknya dan dia tak lagi rewel.

Sementara itu Muhammad Ibrahim kini tengah berusia tiga tahun. Hobinya adalah belajar bahasa arab. Walaupun dia cukup bisa berbahasa inggris dan bahasa Jawa. Walaupun dia hidup di Jakarta, tapi tak pernah sedetikpun dia memakai kata ‘loe gue’.

“Umi…” Ibrahim menoleh ke arahku yang tengah menatapnya.
“Ya sayang” sahutku
“Umi minta periksa hafalan An-Naba’ “
“Iya…Umi dengarkan hafalan dari mujahid kecilku”
Ibrahim tersenyum ramah padaku. Seandainya seluruh bintang bersinar di malam ini, tiada yang bisa menandingi indahnya tatapan mata mujahid kecilku ini.
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan (Al Kahfi : 46)

“Umi, mengapa menangis? Ibrahim buat Umi sedih ya?” Tanya mujahid kecilku.
“Tidak sayang, Ibrahim justru membuat Umi bangga” jawabku. Sungguh harta dan anak-anak hanyalah perhiasan dunia yang kelak dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT.
“Umi, apakah Allah sayang pada semua makhluk-Nya?”
“Kenapa Ibrahim bertanya seperti itu? Allah selalu sayang pada makhluk-Nya”
“Kalau Allah sayang pada semuanya, mengapa teman Ibrahim masih memeluk agama hindu dan memuja patung-patung yang diam tak bergerak?”
“Teman Ibrahim?”
“Iya Umi. Namanya Ida Bagus Yudhisthira. Ibrahim pernah tanya mengapa dia menyembah patung”
“Ibrahim tanya seperti itu?”
“Iya…. Maafkan Ibrahim ya Umi. Afwan kabir….”
“Allah mungkin belum memberikan hidayah pada teman Ibrahim. Kita doakan saja ya sayang”
“Mi, sebenarnya Yudhis juga pingin memeluk islam. Karena di kastanya untuk prosesi kematian saja pakai dibakar. Bayangkan betapa sakitnya Mi.”
“Umi mengerti sayang, Ibrahim sebelum tidur nanti berdoa untuk Yudhis supaya Allah memberikan rahmat dan hidayah di hatinya sehingga bisa menjadi sosok yang iman islam”
“Insya Allah Mi”
Kutatap hangat mata yang selalu membuatku bahagia. Mata dari mujahid kecilku yang cerdas.

Langit dan bumi itu dulu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapalah mereka tiada juga beriman? (Al Anbiya : 30)

Kini kedua mujahid kecilku telah tertidur. Lelahku selama sehari tak sebanding dengan apa yang telah mereka berikan dalam kehidupanku. Maha Suci Allah yang tidak mengingkari janji-Nya. Sebelum Muhammad Ibrahim dan Almira Az-Zahra hadir dalam kehidupanku bahkan sebelum bertemu suamiku tak berhenti aku berdoa pada-Nya. Aku berdoa untuk calon suamiku agar terhindar dari segala macam zina dan fitnah.

Masih kuingat amarah rekan kerjaku ketika mendengar doaku. Entah mengapa dia tiba-tiba marah. Mungkin karena hidupku yang terlalu datar, bahkan untuk jalan berdua dengan cowok pun aku tak pernah. Bagaimana aku bisa mendoakan calon suamiku yang bertemu saja belum. Tapi aku benar-benar berdoa untuk calon suamiku dan anak-anakku jauh sebelum mereka hadir dalam kehidupanku. Keyakinanku akan janji Allah kini terbukti sudah.
Allah sekali-kali tidak menyalahi janji-Nya (Al Hajj : 47)

Abiku, suamiku tercinta… bukanlah seorang ikhwan yang terkenal alimnya. Namun sama sepertiku, dia tak pernah memiliki kekasih. Dia ingin istrinya adalah cinta pertama dan terakhir dalam hidupnya.


Masih teringat saat pertama kali aku berjumpa dengannya. Entah darimana asalnya hati ini mantap memilihnya untuk menjadi imamku.Sebenarnya saat itu aku benar-benar tak tahu kadar iman dan taqwa di hatinya, namun seolah merupakan pertanda hatiku sangat mantap untuk mendampinginya. Selama ini aku sangat mengidamkan lelaki sholeh yang selalu mencintai-Nya. Dan akupun berdoa pada Allah agar calon suamiku dijauhkan dari segala zina dan fitnah.

Jodoh tetaplah menjadi hak mutlak bagi Allah. Dengan mudahnya hal yang selama ini kami impikan tercapai, yaitu menikah tanpa melalui proses pacaran sebelum nikah. Kedua pihak keluarga kami pun merestui tanpa ada halangan tertentu.
Apabila Allah telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata padanya “jadilah” maka jadialah ia (Maryam : 36)

“Assalamualaikum Umi” sapa suamiku yang baru pulang kerja seraya melepas sepatu kerjanya.
“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh” sahutku menhampirinya. Kucium tangannya.
“Bagaimana kabar mujahidku, apakah hari ini mereka rewel?” tanya suamiku seraya duduk di depan meja makan.
“Alhamdulillah mereka baik Bi…. Tidak ada yang rewel”
“Ini untuk Ibrahim” suamiku mengeluarkan sebuah kado
“Ibrahim tidak ulangtahun hari ini Bi, kok tiba-tiba diberi hadiah?”
“Umi lupa kalau setelah mujahid kecilku menghafalkan surat An-Naba’ berarti dia telah hafal juz tiga puluh. Subhanallah…. Mujahid kecilku itu”
Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan (Al Hajj : 78)
“Kado ini berisi apa Bi?”
“Buku Ensiklopedia tentang alam raya dan segala penciptaan-Nya. Gambar-gambar di dalamnya sangat komunikatif. Lagipula Ibrahim masih belum Abi bolehin buat main internet. Jadi Abi belikan koleksi Ensiklopedia penciptaan Allah. Termasuk keajaiban penciptaan manusia”
“Jazakumullahi khairan katsiro”
“Mi, perlu disadari bahwa Ibrahim dan Almira adalah titipan Allah. Jadi mesti kita jaga dengan penuh amanah”
Kutatap paras suamiku yang lelah bekerja. Ada satu kesejukan di hatiku.
“Ana uhibbuka fillah” kataku seraya mencium pipinya.
Suamiku tersenyum manis dengan pipi yang kemerahan.
Kepunyaan Allahlah apa-apa yang ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang berada diantara keduanya, dan tidaklah Tuhanmu lupa (Maryam : 64)

Jakarta, 30 Januari 2011
Oleh : Eka S

Tidak ada komentar:

Posting Komentar