
Langit masih menyimpan banyak rahasia. Seperti hati ini yang belum termiliki. Entah kapan akan menemukan titik bahagia. Mengakhiri kesendirian dan hidup penuh cinta. Mungkin hanya ada dalam dongeng saja. Ketika sang putri bertemu dengan pangeran berkuda putih. Dan cerita yang selalu kuhayalkan. Namun kini cerita itu hanyalah tumpukan harapan yang berserakan dalam hidupku. Kini langit malam yang menyisihkan sepiku. Tanpa bisa menghapus airmataku.
Aku bukanlah bunga terindah di taman kehidupan. Aku bukanlah bunga yang selalu dipuja dan dihinggapi para kumbang. Aku hanyalah bunga putih nan sendiri. Aku hanyalah bunga yang tumbuh di tebing. Embun pagi selalu menemaniku dan menjadi saksi kesendirianku selama ini. Aku hanya berharap kesucian kasihku tak ternoda hal yang semu.
Aku ingin berteriak. Namun suaraku kian tercekat. Aku ingin bicara. Namun bibirku terus terdiam. Aku ingin berlari dan berlari tanpa peduli peluhku. Aku terus berlalu dan berlalu tanpa ada yang menatapku. Aku terus menghilang di balik setiap episode kehidupan. Tapi itu hanyalah khayalku. Bahkan aku masih tetap berdiri dan terdiam.
Seandainya saja ada cinta untukku. Cintanya yang mencintai-Mu. Aku sungguh merindukannya, untuk menghapus kepedihan hatiku. Aku sungguh merindukannya untuk menghentikan airmataku. Aku sungguh merindukannya.
“Tiiinnn” suara klakson mobil membuyarkan lamunanku. Sejenak bibirku tersenyum menatap sosok yang ada di balik kemudi. Terasa begitu lama waktu berlalu. Aku merasakan tiap detik yang begitu berat. Waktu seraya berhenti berdetak. Ada tangis dalam hatiku yang tak bisa dilukiskan di mataku. Seraya diriku terhempas tak menentu. Padahal ini hanyalah satu perdetik dari waktu yang kumiliki. Namun begitu terasa beratnya.
Hatiku mencoba untuk bicara, meski telingaku tak mampu mendengar. Begitu sunyi dan senyap. Apakah aku masih mampu bertahan sekalipun aku merasakan jiwaku tak lagi berhinggap. Semua telah pergi. Aku tak tahu mesti berbuat apa. Bahkan diamku hanya menambah luka. Bibirku berusaha beristighfar, menyebut Dia dalam cinta tersuciku.
Entah mengapa hatiku kian merapuh. Aku sungguh ingin menegarkan diriku dengan cinta-Nya. Aku yakin akan janji-Nya. Mengapa airmata ini kerap temani malamku. Mengapa kepedihan ini tak beranjak dari hidupku. Bukankah Dia, Allah yang Maha Memberi. Dan hanya pada-Nya segala permohonan. Dia yang berhak memberi rezeki pada tiap-tiap makhluk-Nya. Bahkan seekor semut pun tak luput dari perhatian-Nya.
Katakanlah, “ Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang berkuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” maka mereka akan menjawab’ “Allah”. Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya?” (QS Yunus: 31)
Tidak ada sesuatupun yang diciptakan dengan sia-sia di dunia ini. Hanya pada-Nya segala ini dikembalikan. Apapun yang ada di langit dan di bumi serta yang ada diantara keduanya takkan pernah luput dari sentuhan-Nya. Sungguh begitu besar cinta yang Allah berikan. Lalu mengapa hatiku masih menangis akan hal yang semu.
Sesungguhnya Tuhan kamu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam dalam Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakanlah pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk pada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam. (QS Al A’raf: 54)
Dalam hening malam. Hanya berteman dengan langit hitam. Kerinduanku memuncak. Masih diriku bersujud, berharap keajaiban akan datang pada kehidupanku. Sekalipun lelah hariku menantikan. Allah tahu apa yang ada di hati tiap hamba-Nya. Allah tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.manusia hanya bisa ikhtiar dan berdoa. Biar Allah yang menentukan hasilnya. Semestinya hati ini bertawakal pada-Nya.
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi ini setelah Allah memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS Al A’raf:55-56)
Ya Rabb, ampunilah segala hati yang bicara ini. hati yang terluka ini. Hati yang merasakan pedih ini. segala fatamorgana telah membutakan hatiku, menulikan pendengaran jiwaku. Tak sepantasnya hati ini menangis karena dunia yang fana.
Ya Rabb, demikian rapuhnya diriku. Tak ingin terluka dan berduka. Berikan petunjuk-Mu agar aku mampu meraih cinta-Mu. Bukankah segala hal telah Engkau tuliskan dalam Lauhul Mahfudz. Tak sepantasnya hati ini memberontak. Jangan biarkan hatiku ini menjauh dari kasih-Mu. Aku sungguh ingin mencintai-Mu.
Ya Rabb, berkahilah tiap langkah kakiku. Hanya pada-Mu segala harapan ini bertumpu. Ya Rabb, genggam aku dalam cinta-Mu. Kirimkan imam yang juga mencintai-Mu dalam kehidupanku agar tidak kurasakan sepi yang kian mendalam. Hanya pada-Mu kupasrahkan diri.
Ya Rabb, illahi syafarat yadayya fatrubhuma….
Di tanganku tengah hampa maka pertemukanlah jodohku.
Jakarta, 29 januari 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar