
Segera aku sign out dari yahoo messenger sementara pikiranku terus berputar. Bagaimana masalah ini bisa kelar sebagian besar tak peduli dengan kewajibannya.
“Rama monitor” suara di HT-ku.
“Masuk-masuk” ucapku.
“Segera ke lokal. Starting GT bakal dimulai”
“Oke…makasih Yan”
“Sip-sip, ditunggu…”
Kuambil safety helmet-ku dan segera berlalu dari ruanganku.
Ryan menyambut kedatanganku dengan setumpuk kertas.
“Lembar performa test. Ini Quality planning buatan orang UHar”
“Nambahi kerjaan saja”
“Ye….kan mau supaya heat rate turun. Jadi kan declare EAF tinggi”
“Ribet urusannya kalau dah berhubungan dengan Equivalent Availibility Factor. Belum lagi kalau dihubungkan dengan pendapatan pada komponen A dan komponen B”
“Ah itu mah tugasmu sebagai rendal. Menghitung-hitung semu”
Aku tersenyum kecut menanggapi komentar sahabatku, Ryan. Menurutku Ryan tipe orang pekerja keras. Tapi kalau sudah sampai rumah, totally tidak ada yang namanya pekerjaan kantor. Ah senangnya ada yang menunggu di rumah. Aku pernah sekali berkunjung ke rumahnya, dua malaikat kecilnya segera menyambutku. Aira dan Arya, kedua anak kembar wanita dan laki-laki yang masih berusia 2 tahun.
Kudengar suara wanita di tengah hiruk pikuk para kaum Adam. Suaranya nyaris hilang tertelan suara gas turbin yang sedang start.
“Dek Rani” panggilku pada wanita yang memakai wearpack biru muda. Wanita itu tersenyum seraya berjalan ke arahku.
“Tumben di sini? Nggak ke Bekasi hari ini?” tanyaku.
“Lagi kosong di sana, lagipula rendal mekanik Muara Karang lagi ada di Bali” jawabnya.
“Liburankah di Bali?”
“Tes NDT di sana, ikut Mitsubishi”
“Wah asyik ya…sambil jalan-jalan”
“Kemaren Rani baru dari Cirata”
“Rapat Alokasi Energi?”
“Yup”
“Asyik tuh….”
“Mas, udah lama di lokal? Kok Rani baru lihat?”
“Baru aja seh, tadi dipanggil ma Ryan”
“Mas Ryan? Oh pantes Rani baru lihat”
“Hehe….”
Kutatap wajah semangat dari Rani. Status wanita ini masih siswa magang, tapi rupanya telah banyak kesibukan. Ada hal yang aku suka darinya, she is simple. Tentu saja dia bukan wanita yang memperhatikan penampilan. Dia lebih suka memakai safety shoes daripada sepatu hak tinggi. Dia suka memakai wearpack dibandingkan kemeja. Dia lebih suka di tempat panas dan berdebu dibandingkan di ruangan ber-AC. Wanita yang aneh menurutku. Tapi dia menarik, buktinya dia bias dengan nyaman bergabung dengan kaum Adam mengikuti start up unit.
“Temanmu mana Dek?”
“Maksud Mas, Amelia?”
“Yup”
“Dia lupa gak pakai safety shoes”
“Oh….kirain dah benar-benar jadi pekerja kantoran”
“Wah kalau yang namanya cewek teknik Mas, kerjanya paruhan. Ya di lapangan ya di kantor. Namanya administrative teknik.”
“Bisa aja”
“Sudah mulai ambil data performa test tuh Mas”
“Oke, aku gabung sama teman-temanku dulu ya….”
“Yuppy….”
Aku masih tak mengerti akan maksud kehadiran para wanita teknik di perusahaan tempatku bekerja. Tapi rupanya dengan mudah mereka bisa menyesuaikan diri. Justru malah mereka cepat sekali pindah posisi. Untuk jadi rendal operasi saja, aku harus jadi operator selama tiga tahun. Nah anak yang kemarin hari jadi teknisi sekarang sudah berstatus rendal mekanik.
=============
Aisha masih menatapku seraya terdiam. Ini bukan pertama kalinya aku lari dari kenyataan. Entah mengapa hatiku belum bisa menerima apa yang terjadi. Harusnya aku sudah melupakan pengalaman burukku dengan mantan pacarku tapi aku malah terhanyut dalam kenangan. Dan kini seorang Aisha, gadis cantik dari Sukorejo.
“Belum bisa Bu” ucapku pada wanita yang telah melahirkanku.
“Aisha kurang apa toh Le?” Tanya ibu Aisha.
“Hati Rama masih belum bisa” jawabku.
“Aisha baik loh Le” bujuk ibuku.
“Bu, Rama pamit dulu ya….mau ketemuan sama teman-teman kuliah” ucapku beranjak pergi namun langkahku terhenti ketika suara seorang wanita memanggilku.
“Rama, bisa bicara sebentar” kata Aisha.
Kuurungkan niatku untuk meninggalkan forum perjodohan itu. Aisha wanita yang berusia 26 tahun itu tampak bersikap dewasa menanggapi sikapku yang kekanakan. Parasnya ayu dan dia wanita yang cukup cerdas. Lulusan Manajemen UI dengan IPK cumlaude. Sekarang wanita ini bekerja di perusahaan migas yang cukup ternama. Harusnya aku bersyukur keluargaku sangat peduli akan kondisiku saat ini, mereka berusaha mengirimkan bidadari untuk mendampingiku.
“Mas Rama sudah punya calon isteri?” Tanya Aisha.
“Belum” jawabku enggan, “tapi hatiku masih belum bisa nerima Sha, maaf ya…”
“Gak apa-apa Mas, mungkin Mas Rama butuh waktu buat berpikir. Kehadiran Aisha terlalu cepat ya…”
“Mungkin, maafin aku ya Sha”
“Isha maafin. Tapi Mas Rama harus janji untuk bisa melupakan mantannya Mas”
“Insya Allah”
“Satu lagi Mas, coba deh buat istikharah. Gak ada salahnya buat mencari jawaban dari Allah, jalan mana yang harus Mas Rama tempuh”
Aku mengangguk pelan. Selama ini memang aku rajin mendua bersama Sang Penciptaku dalam hening malam, tapi hanya sekedar tahajud dan witir. Sungguh masih belum terpikir olehku untuk mencari pendamping hidupku.
“Isha pamit dulu ya Mas” ucap wanita cantik mengejutkanku. Bagaimana bisa hatiku tidak terhanyut dalam kecantikannya. Bagaimana bisa hatiku tak bisa menerima kehadiran Aisha dalam kehidupanku.
“Iya Sha”
Aisha tersenyum menatapku.
=========
Bowo menghampiriku. Tapi kali ini matanya menatapku bersahabat, berbeda dengan beberapa hari yang aku lalui bersamanya selama ini. Bowo adalah seniorku saat kuliah dulu.
“Assalamualaikum” ucap Bowo seraya menyalamiku.
“Waalaikumsalam” sahutku seraya menyambut tangannya.
“Sudah terima sms dariku, Ram?”
“Sms yang mana?”
“Itu tentang calon pendamping hidupmu”
“Memangnya kenapa? Kok tiba-tiba nanya?”
“Cuma nanya aja sih Ram, boleh kan?”
“Belum ada pandangan”
“Oh, kriterianya terlalu sempurna sih”
Aku tersenyum menatapnya, “Mungkin”
“Memangnya pingin punya isteri yang seperti apa?”
“Minimal berjilbab”
“Ya zaman sekarang jilbab kan jadi trend, belum tentu wanita berjilbab itu baik”
Kudengarkan dengan seksama apa yang dikatakan Bowo. Benar juga apa yang ia katakan. Zaman sekarang jilbab memang jadi trend. Terkadang malah buat jadi penutup kedok kejahatan. Tapi bagaimana bisa orang biasa sepertiku menilai hati. Bukankah hanya Allah yang mengetahui apa yang ada di hati hamba-Nya.
“Terus?”
Bowo mengangkat bahu, “Tanya sama hatimu, aku rasa ada kok wanita berjilbab yang hatinya berhijab”
“Apa ada rekomendasi buat aku?”
“Sekedar saran saja sih, lihat lingkungan di sekitarmu. Mungkin saja kamu menemukan apa yang kamu cari selama ini”
“Wah….sepertinya ada yang dirahasiakan nih”
“Nggak ada rahasia kok”
Kulihat ada senyum tak biasa yang terkembang dari bibir Bowo yang segera beranjak meninggalkanku. Terik matahari makin kentara, namun tak bisa mengusik pikiranku. Masih aku terhenyak akan sikap Bowo yang tak biasa. Seringkali aku merasakan damai, namun aku tak mengerti apa sebabnya. Ketika aku menatap sang mentari yang baru mulai muncul, aku merasakan bahagia. Ketika aku menatap matahari tenggelam aku merasakan kesunyian tak berhingga. Sungguh aku tidak bisa mengerti perasaan yang seringkali berkecamuk dalam pikiranku.
“Ram…” tegur Pujo melihatku termenung sendiri.
“Ya?” sahutku.
“Tadi di kantor ada yang nyariin kamu”
“Siapa Jo?”
“Kalau nggak salah namanya Rani, dia mau minta hasil performa test Gas Turbine unit 1.1”
“Masya Allah aku lupa sudah janjian sama dia”
“Kenapa gak kirim via email saja?”
“Iya…ya kenapa gak kepikiran buat kirim via email”
“Wah parah kamu Ram”
“Hehe…”
“Atau jangan-jangan kamu sengaja supaya ketemu sama Rani?”
“Kok kamu bisa berpikir seperti itu Jo?”
“Karena kamu single”
“Sok tahu kamu”
“Ye…siapa tahu kalau ternyata Rani memang jodohmu”
“Enggak mungkin lah Jo….aku ma dia beda usianya banyak”
“Nah kalau aku jadi kamu, usia tuh gak masalah yang penting dewasa. Percuma saja usia banyak tapi kekanak-kanakan seperti mantanmu dulu”
“Sudahlah Jo…”
“Loh, aku tuh pingin kamu membuka hatimu. Tak ada seseorang yang sempurna di dunia ini.”
“Insya Allah bakal membuka hati, tapi enggak sekarang”
“Nunggu kapan? Apalagi aku dengar Rani dah lulus ujian kepegawaian.”
“Kok Rani terus?”
“Ya…aku merasa kalian cocok saja”
“Cocok darimana?”
“Dari sini”
Kulihat Pujo menunjuk dadanya. Itu berarti dia melihat kecocokanku dengan Rani dengan hati. Kuhubungi ponsel Rani namun tak ada sambungan.
========
Aku berjalan setengah berlari menaiki tangga kantornya, akan menuju ruanganku untuk mencari data performa test GT 1.1 yang disimpan di desktop komputer. Bapak Arman menghampiriku.
“Assalamu’alaikum Rama” sapa lelaki berpeci hitam.
“Wa’alaikumsalam Bapak Arman, bagaimana kabarnya?”
“Alhamdulillah baik. Bagaimana kabar isteri? Kelihatannya kamu tambah makmur saja”
“Ah Bapak ini niatnya nyindir atau gimana, kan saya belum menikah. Hehe”
“Masya Allah mana mungkin saya lupa, Ram. Aku ada tawaran, mau?”
“Ah Bapak, tidak usah repot-repot”
“Insya Allah wanita ini baik. Hanya saja dia wanita karir sepertinya”
“Saya kan ingin wanita yang mau sebagai ibu rumah tangga”
“Tapi saya yakin wanita ini penurut kok. Jadi kalau suami ingin dia berhenti bekerja insya Allah nurut”
“Kok Bapak bisa seyakin itu?”
“Sebab wanita ini pernah berbincang dengannya”
“Apa saya kenal wanita itu, Pak?”
“Mungkin”
“Siapa Pak?”
“Kamu nanti siang ada acara-kah? Ikut kajian, dia pasti datang”
“Wanita itu sering ikut kajian? Berarti orang kantor dong Pak?”
“Ikut saja dulu, nanti saya kenalkan”
“Tapi Pak saya sangat anti dengan teman sekantor. Tidak enak kesannya”
“Berarti ini ucapan penolakan?”
Aku menatap lelaki yang sering mengurusi pengajian di kantorku. Parasnya tampak serius.
“Maafkan saya ya Pak”
“Iya…mungkin saja belum jodoh buatmu. Tapi saya sayangkan jika kamu menolak. Aku tahu persis kondisi wanita ini. Aku tahu persis kisah hidupnya. Aku tahu persis karakternya.”
“Sekali lagi maafkan saya ya Pak”
“Ya…ya…. Pernikahan itu harus tanpa paksaan.”
“Boleh tahu siapa Pak?”
“Rani Ariestya”
“Wah kalau itu saya tahu Pak”
“Kalian sudah saling kenal?”
“Alhamdulillah sudah, bahkan saya menganggap dia sebagai adik”
=========
Ryan menatapku memasuki ruangan kerjaku.
“Tumben lesu Ram?”
“Tadi habis ketemu Pak Arman”
“Terus?”
“Dia nyuruh buat segera cari jodoh”
“Haha…pengumuman-pengumuman siapa yang mau bantu tolong aku, carikanlah aku kekasih hatiku suapa yang mau…” sindir Ryan sambil menyanyikan lagu ‘Cari jodoh’ Wali.
“Gile lu”
“Ram, Ram…kamu tuh kebangetan memang. Apa yang kamu cari itu terlalu sempurna. Bidadari surga saja enggak sesempurna wanita yang ada dalam bayanganmu. Atau jangan-jangan kamu memang nggak mau nikah ya….???”
“Nikah kan sunah Rosul”
“Tuh bener, tapi kok kamu malah mempersusah”
“Siapa yang mempersusah?”
“Kamu”
“Kok kamu jadi ikutan seperti Pak Haji Arman”
“Renungkanlah Ram, usiamu itu dah pantas buat punya anak”
“Aku hanya berusaha mencarikan ibu yang terbaik untuk anak-anakku”
“Ibu yang SEMPURNA”
==========
Kupandangi sekeliling ruangan. Tampak Lukfi tersenyum padaku.
“Lukfi?” sapaku
“Subhanallah….apa kabar Ram?”
“Alhamdulillah baik”
“Tambah subur saja tuh. Isterinya pasti hobi masak”
“Hehe…aku belum menikah”
“Waduh jangan ngikuti jejakku”
“Hehe…belum ada yang pas saja kok. Kamu?”
“Insya Allah tahun depan nikah”
“Masih ada yang mau sama kamu, Fi?”
“Alhamdulillah, dia wanita yang baik Ram…insya Allah sholehah”
“Siapa? Wanita dari Nganjuk juga?”
“Bukan. Namanya Rani…dia kenal kamu kok Ram”
“Rani Ariestya?”
“Iya”
Aku terbangun dari tidurku, ternyata pembicaraanku dan Lukfi hanyalah mimpi.
Mengapa aku jadi kepikiran Rani???
“Astagfirullahal adziiiim”
Jakarta, Agustus 2010
Oleh : Eka S
Tidak ada komentar:
Posting Komentar