Rabu, 07 Juli 2010

Tuhan yang Tahu Ku Cinta Kau


Tia menutup pintu kamarnya. Entah mengapa hatinya demikian gundah. Ia menatap cermin yang memantulkan bayangan dirinya. Seorang gadis berjilbab hijau yang kian menatap sendu. Adakah yang membuat hatinya demikian terluka?
Masih dipandanginya wajah sendu itu, apakah ia telah jatuh cinta dan tak mampu melepas ikatan cinta dalam hatinya? Apakah cinta ini yang menjadikannya alasan untuk bertahan? Lalu mengapa mesti tumbuh cinta dalam lubuk hatinya. Bukankah Tuhan tahu rasa cinta di hati Tia itu terlalu tulus, lalu mengapa rasa itu mesti ada?

Pagi itu tanpa sengaja ia bertemu dengan seseorang yang dijumpainya sebulan lalu. Seseorang yang mampu membuatnya tersenyum sekaligus menangis. Tersenyum karena dari awal lelaki itu memberi harapan untuk tinggal tak jauh dari keluarganya. Menangis karena saat ini telah tumbuh cinta dalam hatinya. Lelaki itu bernama Anggono Rahmansyah. Saat ini lelaki itu sedang berbicara dengan atasannya yaitu Adi Bagus Dharma. Entah mengapa di tengah pembicaraan mereka berdua, Anggono menatap Tia.
”Bagaimana Mbak, apa Mbak Tia berminat untuk pindah kantor ke Gresik?” tanya Anggono seraya tersenyum pada Tia.

=======

Adi Bagus Dharma, adalah general manager unit pemeliharaan wilayah Barat, tempat Tia bekerja. Kota yang dulu sangat Tia benci yaitu Jakarta. Kota yang tak lepas dari kata macet dan kerusuhan. Sedangkan Anggono Rahmansyah adalah general manager unit pemeliharaan wilayah timur yang bertempat di kota Gresik Jawa Timur. Tia bertemu dengan Anggono pada acara rapat perusahaan yang saat itu diselenggarakan di Bandung.

Lelaki berkacamata itu tersenyum menatap Tia, sementara Tia hanya menganggukkan kepala sebagai tanda penghormatan pada atasannya.
”Selamat datang di Bandung Bapak Anggono” sapa Adi seraya menyalami Anggono dan Anggono membalasnya.
”Kok saya baru lihat Mbak?” tanya Anggono yang melihat Tia berada di samping Adi.
”Saya masih magang Pak” jawab Tia
”Bagaimana jika dia jadi pegawai saya” ucap lelaki berkacamata itu seraya menatap Tia. Tia jadi salah tingkah dibuatnya. Ya itulah salahsatu mimpinya dulu. Bekerja di wilayah timur tanpa harus berjauhan dengan keluarga. Keluarga Tia berada di Surabaya dan sekarang Tia bertugas di Jakarta Utara.
”Saya telah berpikir dan sedikit menimbang. Sebenarnya di kantor kami masih butuh banyak pegawai. Namun jika Hadistya menghendaki ya...silakan.” jawab Adi, General Manager tempat perusahaan Tia.
Terus terang ada bintang kebahagiaan tumbuh di hati Tia yang saat itu mendengar pembicaraan dua general manager tersebut.

Dari awal perjumpaan tampak di mata Anggono bahwa dia sangat menghargai kehadiran Tia, sekalipun saat itu Tia masih berstatus magang. Entah darimana rasa itu muncul menghadirkan sejuta tanya di hati Tia. Apakah ia kini memiliki arti dalam perusahaan tempat ia bekerja. Padahal dari awal telah ada benih-benih kebencian dari beberapa pihak di tempat ia bekerja.

=========
Angga menatap layar monitor laptop di hadapannya. Jemarinya mengetikkan angka-angka ajaib yang sangat penting bagi perusahaannya. Equivalent Availibility Factor, adalah angka ajaib yang sangat di sanjung di perusahaannya. Bahkan rapat antar general manager sebulan lalu khusus untuk membahas declare EAF.

Menghitung besarnya EAF sekaligus menganalisa efektivitas peralatan pada sistem pembangkitan adalah tugas utamanya dalam perusahaan. Sebagai perencana dan pengendali operasi sistem pembangkitan listrik. Dia bekerja khusus di sektor PLTGU, pembangkit listrik tenaga gas dan ua. Penggabungan antara siklus rankine dan brayton.

Ponselnya bergetar. Telpon dari Ibu.
”Assalamualaikum Bu...”
”Waalaikumsalam Le, piye kabare?”
”Sae-sae kemawon Bu, Ibu kalian Bapak supados pundi kabaripun?”
”Alhamdulillah sehat Le”
”Adek Mirsa kalian Dek Alfian sae sekolahipun?”
”Yo Le, adekmu kuwi rajin kok sekolahe”
”Alhamdulillah menawi kados mekaten”
”Kok wis suwe ora mulih nang Solo, sibuk tha Le?”
”Mboten Bu”
”Opo tha ora wani polahe dhek wingi ditaksir anake lurah?”
”Dheweke taksih alit lho Bu”
”Wong bedo mung limang tahun Le, yo ora cah cilik maneh kuwi jenenge”
”Inggih Bu, namung...”
”Yo wes, Ibu ora mekso. Ibu namung ngelingno kowe, wes wolu lekor lho Le...”
”Ibu wes kepingin nggadah putu nggih?”
”Lha iyo, wes pinter ngunu Le...”
”Insya Allah Bu, menawi Allah maringi jodoh kula bakal sanjang kalian Ibu”
”Lha kuwi jodoh ora mung meneng wae, digoleki tha Le”
”Inggih Bu, insya Allah”
”Lha ning panggon kerjomu ora ono tha Le?”
”Taksih dereng wonten Bu”
”Lha kuwi jarene ono cah magang, opo yo wes diangkat dadi pegawai?”
”Lare kuwi tha Bu? Dheweke inggih taksih alit, benten gangsal tahun kalian kula”
”Lah iku ora cilik Le...wes ndang dilamar bae...”
”Dos pundi tha Bu, kula mboten tresno kalian Tia”
”Lah kuwi jenenge wae kowe apal, wes ndang dilamar gih”
”Kula mboten tresno, Bu”
”Sing penting dheweke tresno marang kowe, Le...”
”Kula pikir rumiyin nggih Bu...”
”Yo...insya Allah yen dheweke sayang marang kowe iku bakal setia terus”
”Menawi kula mboten saged tresno?”
”Tresno kuwi jalaran Allah. Lek dalanmu kuwi becik insya Allah tresno kuwi timbul dhewe. Lan biso dadi keluarga sing sakinah mawadah warahmah”
”Kados mekaten nggih Bu?”
”Iyo Le...”
”Bapakmu biyen yo kaya kuwi, ora wani kawin”
”Kula mboten ajre Bu, namung...”
”Yo pada wae kuwi jenenge, ora usah alasan”
”Kula tahajud rumiyin kemawon nggih Bu”
”Yo wes. Mugi-mugi Allah maringi kowe isteri shalihah Le...”
”Amin ya Rabbal Alamin”
”Ya wes Le, saiki lapo kowe?”
”Niki Bu, wonten tugas kantor kagem rapat mbenjing senin”
”Dino Sabtu kok isih kerjo tha Le...mengko yen wes duwe bojo lak ora kaya ngene...”
”Mboten kados mekaten punopo tha? Ibu niki saged kemawon”
”Lah iyo awakmu kuwi sibuk kerjo terus”
”Inggih Bu, insya Allah”
”Ndang kawin, Ibu iki pingin nggendong putu”
”Inggih Bu”
”Wes nyarap? aja lali mangan kowe Le..”
”Inggih Bu”
”Assalamualaikum”
”Waalaikumsalam warahmatullahi wabrakatuh”
”Barakallahu fik”
”Amin, insya Allah”

Masih ditatapnya layar monitor laptopnya. Ditutupnya sheet microsoft excell 2007 lalu menancapkan modemnya, activate internet. Di doble klik mozilla.
www.facebook.com
search : Hadistya Rahmawati
Segera gambar kartun wanita berhijab muncul.
Dibacanya profil milik Tia, dilihatnya wall facebook wanita itu. Rupanya telah lama wanita itu tidak meng-update status.

Setelah membaca profil Tia, ia membuka profilnya.
Seorang teman kuliah menulis di wall-nya.
’Kowe saiki ora karo Ayudya maneh tho?’
Tapi ia tidak berminat memberikan komentar. Ayudya adalah mantan pacarnya. Wanita cantik jelita yang jadi pujaan sekian banyak lelaki kini tak lagi bersamanya. Bahkan jika melihat foto Ayudya di album facebook, akan tampak beberapa phose mesra sang mantan dengan pacar barunya.

Ayudya tentu saja gadis yang amat sangat menarik. Cantik dan selera humornya tinggi. Mahasiswi komunikasi ini sangat bisa membuat orang lain terpikat hanya dalam hitungan detik. Nah ini yang membedakan seorang Ayudya dengan Hadistya.

Hanya ada satu kata untuk menggambarkan kepribadian seorang Tia yaitu SIMPLE. Wanita ini cenderung tidak peduli pada penampilan. Namun cara berpikirnya logis, pantaslah dia masuk jurusan teknik. Padahal jurusan teknik itu cenderung diminati kaum Adam. Nah sekalipun Tia bukan gadis semenarik Ayudya, teman prianya sangat banyak. Bahkan dia bekerja di area pekerjaan pria.

Mungkin naluri sebagai lelaki akan memilih Ayudya sebagai pasangan hidup. Membayangkan bodinya saja tidak membuat bosan. Tapi apa yang dibutuhkan anak-anakku pada nantinya adalah ibu yang penuh kasih sayang. Bukan isteri yang terus menerus menghabiskan uang suami untuk shopping serta perawatan kecantikan. Bukan pula ibu yang pulang malam atau sering menginap di tempat lain karena tuntutan karir. Sungguh pilihan yang sangat sulit.

Ya Rabb, tunjukkan jalan yang Kau ridhai untukku....

========
Tia masih menatap message dari sahabat di Surabaya. Sahabatnya akan merantau di Jakarta sebagai seorang guru di sekolah swasta. Dan kini sahabatnya itu menulis message yang meresahkan hatinya. Sahabatnya menawarkan diri untuk menjadi pendamping hidupnya. Sebenarnya Tia telah menduga dari awal, karena semua itu terlihat dari sikap dan tatapan matanya. Tapi...

Berulang kali Tia menghapus message yang telah ditulisnya untuk Haris. Bagaimana ia harus bersikap, ia benar-benar tidak tahu. Tia ingin menikah dalam waktu dekat, namun selama ini hatinya sering mengucap satu nama yaitu Angga. Lelaki yang di mata Tia sangat dewasa ini menarik perhatian Tia. Apalagi mereka satu jurusan teknik, mereka mempelajari hal yang sama. Ini memudahkan komunikasi antara Tia dan Angga. Memang akhir-akhir ini Tia lebih banyak meluangkan waktu di Bekasi, walaupun kantornya di Jakarta Utara. Dan itulah yang membuat pertemuan antara Tia dan Angga terbilang sangat jarang.

Ketika Tia menghadapi ujian pengangkatan pegawai ia bertemu dengan Angga. Di sana Tia tampak canggung dan grogi sementara Angga memberinya semangat serta meyakinkan bahwa Tia mampu menghadapi ujian tersebut. Betapa Tia tidak terpesona oleh sikapnya yang santun dan dewasa?

Bagaimana jika Haris mengatakan kembali kesediaannya untuk mendampingi hidup Tia. Bukankah diantara teman-temannya hanya ia yang berstatus SINGLE. Memang dia sangat menghindari yang namanya pacaran. Bukankah hal itu dilarang agama karena mendekati zina? Meskipun Tia bukanlah muslimah yang kolot namun dia menjunjung nilai-nilai kandungan ayat Al Qur’an. Dan Tia sangat percaya keajaiban. Seperti pertemuannya dengan lelaki shalih bernama Angga.

Pertemuan-pertemuan dan sapa kecil ketika berada di tempat pengajian sangat membuat hati Tia berbunga-bunga. Bukankah lelaki yang selama ini Tia cari ada dalam diri Angga. Lalu mengapa Allah belum juga menunjukkan jalan, apakah Angga kelak menjadi jodoh dalam hidupnya. Tiap malam ia berdoa semoga segera ada jawaban atas perasaan hatinya. Tia merasa bersalah jika ada cinta lain di hatinya selain cinta pada Allah serta Rasulullah. Dan saat ini justru dia malah dihadapkan pada pilihan yang sulit. Menerima tawaran nikah dari sahabat yang telah ia kenal dan menyayanginya atau menunggu jawaban dari Allah atas rasa hatinya pada Angga. Seandainya ia bisa jujur maka ia mengatakan bahwa ia bersedia mendampingi hidup lelaki yang terkenal keshalihannya seperti Angga.

Illahi syafarat yadayya fatrubhuma....
Hujan mngguyur cukup deras, namun bukan karena itu Tia tidak meneruskan tidurnya. Biasanya usai tahajud ia kembali meneruskan tidurnya. Tapi kali ini perasaannya sangat terganggu. Bukankah semua jalan telah terbuka untuknya, tapi mengapa sang jodoh belum juga hadir. Apakah Haris yang menjadi jodoh di dalam Lauhul Mahfud-Nya. Lalu mengapa ia tidak dapat menghapus perasaannya pada Angga?

Ia membaca perlahan surat Ar-Rahman. Hatinya bergetar hebat. Tangis menghiasi matanya yang sedu. Fa biayyi alaa irabbikuma tukadzibaaan..
Bergegas ia mengambil wudlu kembali usai menamatkan bacaan tartilnya. Ia tak ingin hatinya terus berduka.

Ya Rabb, tunjukkan jalan yang harus hamba tempuh.....

===========
”Gile abis nih, anak magang yang baru rencana diangkat pegawai bulan depan udah bisa pindah ke wilayah timur” oceh Bram.
”Pagi-pagi sudah mengoceh ria begitu. Jangan lupa entar rapat Combustion Inspection GT 1.1 loh di gedung sebelah” tegur Angga.
”Busyet dah, hebat kali ya tuh anak magang” omel Bram tanpa mengacuhkan perkataan teman satu kantornya, Angga.
”Memangnya siapa? Kok bisa? Bukannya harus nunggu lima tahun ya?”
”Ya itu kan aturannya. Masalahnya Mister Anggono tuh yang narik langsung.”
”General manager pemeliharaan wilayah timur?”
”Yup...tapi anehnya nih anak magang malah nolak”
”Memangnya daerah asal anak magang ini di mana? Jangan-jangan rumahnya Bandung kan wajar kalau dia nolak”
”Asalnya Surabaya, justru itu yang aneh. Kan enak tuh biaya hidup di Gresik murah dan dekat lagi sama keluarga. Dasar anak yang aneh...”
”Hadistya?”
”Iya, tuh nama nak magang yang aneh”
”Kok bisa ya?”
”Maksudnya?”
Bram menatap temannya yang lagi gusar.
Angga segera mengambil buku agendanya dan berjalan menjauh dari Bram,
”Kemana?” tanya Bram heran.
”Gedung sebelah” jawab Angga.
”Buat rapat? Kan masih kurang lima belas menit?”
”Buat ketemu sama Tia”
Bram mengernyitkan dahi. Wah ada yang tidak beres rupanya.

Entah mengapa langkah kaki Angga begitu mudah. Ia tidak mengerti apa yang akan dia lakukan. Tapi dia merasa harus bertemu dengan Tia.

Aku bisa merasakan kehadirannya.
Namun ketika dia menghampiri, aku tak mengerti.
Benarkah dia yang dikirim oleh-Nya.
Atau hanya perasaan sesaat saja.
Ya Rabb, seandainya aku harus mencintai.
Biarkan cinta itu mengalir karena-Mu.
Sebab hatiku akan rapuh tanpa-Mu.
Sebab ku tak mampu melangkah tanpa ridha-Mu.
Sisipkan selalu kasih-Mu dalam sukmaku.
Ya Rabb, jangan biarkan aku menjauh dari jalan-Mu.
Izinkan aku menjalani hidup ini hanya karena-Mu.
Seandainya aku harus mencintai.
Aku hanya ingin atas ridha-Mu.


Jakarta, 19 Juni 2010
Ditulis oleh : Eka S

Tidak ada komentar:

Posting Komentar