
Bekasi
Riana
Ya Rabb, jangan biarkan hati ini mencintai dirinya jika memang dia bukan jodohku.
Setiap kali kulihat dirinya, berjuta kerinduan seakan berlomba untuk ke luar dari lubuk hatiku. Jujur saja aku takut jatuh cinta. Aku takut perasaan ini salah. Aku takut jika dan hanya jika dia bukanlah pendamping hidupku nanti.
Tidakkah semua rasa ini biarlah mengalir seperti air, melewati tiap bebatuan yang ada. Namun serasa tak bisa diri menyembunyikan perasaan yang kian hari meresahkan. Harusnya ini tak pernah terjadi. Cintakah ini? Kuharap hanya rasa kagumku yang masih belum bisa kubendung.
Kutunggu warna hijau muncul dari lingkaran kecil chat di facebookku. Mengapa dia tak pernah online lagi. Aku ingin menyapanya. Bahkan hanya sekedar basa-basi menanyakan kabarnya yang sekarang jauh dariku. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Payah, aku benar-benar merindukannya.
Ya Rabb, mengapa hati ini begitu rapuh? Tak bisakah aku mencoba tegar menanti jawaban dari-Mu
Warna hijau itu akhirnya muncul. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 12.30. tentunya dia sedang istirahat.
”Assalamualaikum...”
Lima menit kutunggu tanpa jawaban. Mungkin dia masih sibuk, kutenangkan pikiranku.
”Wa’alaikum salam, afwan Dek baru bales”
”Hmm..baru selesai sholat dhuhur ya Mas?”
”Iya ^_^”
”Adek sudah?”
”Sudah Mas”
”Masih di Bekasi?”
”Iya...Mas lagi sibuk ya?”
”Enggak juga...oh ya aku belum sempat tanya orang predictive maintenance data kWh meternya”
”Oh iya...baru saja mau aku tagih”
”Entar sorean masih online?”
”Sepertinya iya”
”Oke...aku off dulu ya, entar nyambung lagi”
”Yup ^_^”
”Assalamualaikum”
”Wa’alaikumsalam”
Ya Rabb, tunjukkan kuasa-Mu. Mengapa diri ini begitu lemah. Mengapa harus kulewati lagi fatamorgana cinta. Tak bisakah hatiku tegar, kuat dan selalu bersama cinta-Mu. Jangan Kau lepaskan diriku. Aku ingin terus mencintai-Mu.
Jakarta
Ferdyan
Kulihat jam tangan G-Shock ku yang menunjukkan pukul 12.45. lima belas menit lagi istirahat selesai tapi Ibu belum juga menelponku. Aku masih tak habis pikir tiba-tiba saja pagi tadi Ibu mengatakan ada hal penting yang harus dibicarakan. Hal penting apa?
Handphoneku berbunyi, kulihat gambar ibuku di sana. Rindu juga aku pada Ibu. Sudah sebulan ini aku tidak pulang kampung. Pekerjaan telah menyita waktu yang biasanya kuluangkan untuk keluarga.
”Assalamu’alaikum”
”Wa’alaikumsalam Ibu”
”Le, sabtu iki iso mulih?”
”Insya Allah, wonten punopo Bu?”
”Ana sing nakoke kowe Le”
”Bu...Ian dereng siap nikah”
”Kowe ngenteni opo to Le? Cah Ayu kuwi tho wis ora gelem bali karo kowe”
“Kula mboten ngentosi Ayu, Bu”
“Lha terus ngenteni opo tho Le? Ibu iki yo wis pingin duwe putu”
“Mbenjing kula telpon malih nggih Bu, niki sampun jam kerjo.”
”Yo wis dak enteni lho Le”
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam…barakallah Le”
“Aminnn Bu….”
Ku hempaskan tubuhku di kursi. Pikiranku masih penuh dengan bayangan Ayu, mantan pacarku. Minggu depan Ayu dan kekasih barunya akan menyelenggarakan pernikahan. Hatiku ragu untuk datang, mungkin jauh dalam lubuk hatiku masih sangat menyayanginya. Aku masih berharap suatu keajaiban akan muncul sehingga Ayu kembali hadir dalam kehidupan cintaku.
Solo
Ayunita
Kupandangi foto kenanganku dengan mantan. Ferdyan, sosok tinggi putih yang selalu membuatku merasa nyaman di dekatnya. Lelaki itu sangat penyabar. Lama juga kami tak berjumpa. Terakhir bertemu dengannya dua bulan lalu pada acara reuni akbar UGM di Aston Jakarta. Dia masih menarik bagiku. Mungkin keputusanku untuk meninggalkannya adalah kesalahan yang besar, namun aku tak bisa mengubah keputusan itu kembali. Aku masih interest dengan karirku, sebagai konsultan hukum di Solo. Sementara dia bekerja di Jakarta, kota yang paling aku benci. Selain polusi yang luar biasa, kemacetan juga di mana-mana. Jika sudah begitu mana mungkin aku bebas membawa mobil terios kesayanganku. Lagipula mencari kerja di Jakarta juga susah dan aku tak mau jika hanya dijadikan sebagai ibu rumah tangga.
Aku berkenalan dengan Ferdyan Anggara saat aku menginjak semester empat di jurusan hukum. Waktu itu Ferdyan menginjak semester enam di jurusan teknik Elektro. Sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Elektro nama Ian cukup terkenal. Apalagi sikapnya yang dewasa, membuat banyak wanita mengaguminya. Lelaki yang berasal dari Solo ini adalah pacar pertamaku, kami jadian cukup lama yaitu lima tahun. Sampai akhirnya aku harus meninggalkannya karena ia lebih memilih Jakarta daripada kembali ke Solo.
Lebih tepat alasan mengapa aku meninggalkannnya adalah pihak keluarganya yang menginginkan menantu berjilbab dan santun. Sementara aku memiliki banyak sahabat laki-laki dan aku masih belum ada rencana mengenakan jilbab.
”Halo”
”Ayu...” suara bass yang selalu kurindukan kini kudengar lagi, ”syukurlah nomer ponselmu nggak ganti, hehe...”
Masih sempat juga dia bercanda, padahal jantungku berdegup sangat kencang. Aku masih menyayanginya.
”Mas Ian apa kabar?”
”Baik. Ayu sendiri?”
”Baik juga”
”Sudah makan siang?”
”Sudah tadi di kantin kantor”
”Hmmm...”
”Tumben Mas Ian menelpon”
”Lagi kangen ma mantan. Kangen banget...”
”Waduh padahal minggu depan mantannya in mau merit loh. Kok berani-beraninya bilang kangen...hehe”
Kunetralkan perasaanku yang sebenarnya masih berharap Ferdyan akan mengatakan bersedih atas pernikahanku. Bahkan mungkin aku berharap Ferdyan mengucapkan cinta padaku.
”Oh iya ya... selamat ya...aku turut berbahagia” ucap Ian
Aku merasa terhempas oleh pengharapanku sendiri. Terkubur dalam angan yang selama ini menaungi pikiranku. Ternyata tak ada yang berubah sejak putusnya hubungan asmara kami setahun lalu.
”Makasih Mas Ian”
”Yup...apapun yang membuatmu bahagia adalah bahagiaku juga”
Seandainya saja bisa kuteriakkan aku bahagia jika kau ada bersamaku.
”Mas kapan nikah?”
”Belum ada calonnya”
”Masa’ cowok seganteng Mas Ian gak ada yang naksir”
”Ya gimana lagi kan kantorku 80 % isinya pegawai laki-laki”
”Iya...ya...”
”Ada sih beberapa cewek tapi ya sama aja kelakuannya seperti cowok”
”Cewek teknik? Keren dong”
”Hehe...keren dilihat dari mananya Yu. Kamu aja tomboy eh malah ada yang lebih tomboy”
”Masa’?”
”Betul itu Yu...”
”Wah merit sama cewek itu aja Mas”
”Kok Ayu bisa ngomong begitu?”
”Daripada kehabisan stok. Hehe”
”Bukannya dari hasil sensus tuh jumlah cewek empat kalinya jumlah cowok ya?”
”Tapi sensusnya nggak nyampai di kantornya Mas Ian”
Terdengar suara Ferdyan tertawa kecil. Tawa yang selalu kurindukan.
”Yu...”
”Ya Mas”
”Sekali lagi selamat ya atas pernikahanmu”
”Iya, doakan lancar ya Mas”
”Insya Allah”
”Oh ya satu lagi Mas. Pertimbangkan tuh cewek teknik, kan keren”
”Haha...”
”Serius nih, umurmu udah tua lho....”
”Tapi kan aku masih imut...”
”Innocent sih iya...tapi...”
”Tapi kenapa Yu?”
”Tetap aja usia gak bisa bo’ong”
”Yu...Ayu...kamu tuh ya, bisa-bisa aja”
”Emang bisa, kan Ayu udah kenal Mas Ian lamaaaa banget”
”Iya...iya... oke deh entar aku telpon lagi ya...”
”Gak boleh!!!”
”Lho kok???”
”Entar Ayu jatuh hati lagi sama Mas Ian”
”Hehe...”
”Kok malah ketawa?”
”Ya itu sih resiko ketemu ma cowok ganteng kaya’ aku”
”Ge eR banget nih cowok...hihi”
”Ya emang ganteng kan?”
”Tapi kok nggak laku-laku ya?”
”Hmmm...kasih tahu nggak ya kenapa”
”Apa karena hatinya penuh tiga huruf A.. Y... U...”
”Waduh kok jadi Ayu yang Ge eR???”
”Haha...kan Ayu cantik seperti Luna Maya”
”Cantik sih...tapi...”
”Tapi kenapa?”
”Tapi judes abis, suka ngatur, es krim mania, duh...tekor deh jalan ma Ayu”
”Wah buka rahasia nih...hihi”
“Hmmm…fakta kan?”
“Nggak nyangka ya Ayu bakal nikah duluan”
”Iya...”
”Eh Mas, Ayu balik kantor dulu ya...”
”Dah Ayu honey-ku...”
”Dah Mas Ian baby-ku....”
“Hehe…”
“Hihi…”
Aku tersenyum kecil ketika telpon dari mantanku terputus. Hatiku masih bertanya-tanya apakah dia masih mencintaiku. Aneh juga rahasia Tuhan, sekalipun aku sangat menyayangi Mas Ferdyan dan juga sebaliknya masih juga antara kami tidak ada ikatan jodoh. Sungguh aku masih merasa aneh.
Jakarta
Riana
Subhanallah mengapa semua jadi berbeda? Kulihat sosok lelaki baru ke luar dari masjid Raudhatul Jannah. Aku menghampirinya di pelataran masjid.
”Assalamualaikum”
”Eh Adek, wa’alaikumsalam” sahut Ferdyan
”Kok kelihatannya capek banget?”
”Iya, baru balik dari Solo. Nyampai Jakarta pagi tadi”
”Oh...”
”Lho kamu kok di Jakarta?”
”Off satu hari, banyak kerjaan di Jakarta”
”Sering sholat di sini?”
”Terkadang aja Mas...tadi kebetulan mampir ke Bengkel”
”Lho katanya kamu sudah nggak terjun ke lokal lagi?”
Aku tersenyum menatapnya. Matanya yang jernih membuatku terpaku sejenak. Sungguh sesuatu nan indah telah hadir nyata di hadapanku.
”Sesekali saja...”
”Tapi kan sudah nggak pake wearpack”
”Hehe...”
Perjumpaan pertamaku dengan lelaki ini tepatnya di bengkel listrik, itupun yang kami bahas adalah masalah perbedaan ratio current transformer.
”Aku lagi bingung nih Dek”
”Hah??? Memangnya kenapa Mas? Dijodohkan?”
”Kok Adek tahu?”
”Hehe...hanya menebak saja Mas”
”Terus?”
”Hatiku belum bisa sreg”
”Masih ingat mantan?”
”Mantanku udah milik orang dan mereka akan segera menikah”
”Oh..”
”Eh kok aku jadi curhat begini”
”Enggak apa-apa Mas”
”Dek, menurut Adek apa yang harus aku lakukan?”
”Istikharah...insya Allah akan ada jawaban terbaik dari-Nya”
”Sudah”
Deg deg deg...mengapa detak jantungku malah berpacu cepat. Mungkin aku hanya bisa jujur pada Allah tentang perasaanku pada Mas Ferdyan. Tapi saat ini aku hanya bisa terdiam tanpa bisa mengatakan apapun.
”Terus?” tanyaku hati-hati, aku takut melukai hatiku atau aku hanya ingin memenangkan diriku.
Aku berusaha menetralkan perasaanku. Tidaklah mungkin seorang yang tampan seperti Ferdyan memikirkan tentang kehadiran seorang Riana, sekalipun tiap akhir sholat aku selalu menyebut namanya.
”Ya Mas Ian harus sabar menghadapi ini semua. Sesuatu yang berhubungan dengan hati memang sangat berat”
”Beberapa hari ini aku sering bermimpi tentang Adek, kenapa ya?”
”Kangen kali...”
”Bagaimana kalau jawaban istikharah itu...”
”Enggak mungkin”
”Kenapa enggak?”
”Ah sudahlah Mas, mungkin Mas ingat ma aku karena kita sering chatting”
”Mungkin sih”
”Nah istikharah dulu lagi ya Mas. Sabar...”
”Insya Allah”
”Hmm...Riana mau balik lagi ke bengkel ya. Wassalamualaikum...”
”Waalaikumsalam”
Aku bergerak meninggalkan Ferdyan yang masih berdiri di pelataran masjid. Aku merasa kedua matanya masih mengikutiku. Hatiku berbunga namun ada satu rasa sakit terselip, apakah aku juga akan melukai hati. Bukankah telah ada wanita di sana yang menunggu kehadiran Ferdyan untuk menjadi pendamping dunia akhirat. Dan pantaskah aku untuk bersama Ferdyan?
Solo
Ayunita
Berulangkali kuhubungi ponsel mantanku namun tiada yang menyahut. Aku benar-benar marah ketika tahu dia akan dijodohkan dengan Maharani. Bukan karena aku cemburu, tapi karena aku tahu sisi lain Maharani. Wanita itu memang berasal dari keluarga ustadz-ustadzah namun...
”Mas Ian...”
”Kenapa Yu, kok kelihatannya penting banget sampai miscal lima belas kali”
”Apa ibu menjodohkan Mas dengan mbak Maharani?”
”Iya”
”Mas terima?”
”Kamu cemburu ya Yu???”
”Bukan begitu”
”Terus?”
”Ayu pernah lihat dia di club, ia lepas kerudung dan lagi asyik bermesra sama cowok”
”Ayu mungkin salah lihat”
”Enggak mungkin Mas”
”Itu bener mbak Maharani”
”Alhamdulillah...”
”Lho kok???”
”Karena aku belum memberi jawaban iya”
”Syukurlah Mas. Menurutku mendingan nikah ma cewek teknik yang sering Mas ceritakan itu daripada mbak Maharani”
”Memangnya nggak ada calon lain ya Yu???”
”Hmmm...gimana ya? Ayu merasa ada ikatan kuat antara kalian berdua”
”Sok tahu”
”Karena Mas Ian sekarang jauh lebih baik sejak mengenalnya”
”Boleh juga alasannya”
”Apa Mas Ian tidak merasakan?”
”Apa?”
”Wah parah nih...eh berapa nomer telpon cewek itu biar Ayu yang bilang”
”Bilang apa?”
”Mas Ian suka ma dia...hehehe”
”Yee...”
Aku menghela napas panjang. Entah mengapa tiba-tiba rasa cintaku pada Ferdyan menguap begitu saja. Mungkin ini jawaban yang diberikan Tuhan atas doa-doaku selama ini. Aku memang marah karena terang-terangan keluarga Ferdyan menolak kehadiranku, namun saat ini perasaanku menjadi sangat berbahagia.
Entah darimana aku merasa cewek teknik nan tomboy itu adalah jodoh dari mantanku, Ferdyan Anggara. Hmmm... saatnya aku mempersiapkan diriku untuk menjadi seorang isteri.
”Yu...makasih ya..”
”Siiip deh Mas...”
”Eh bentar nih aku lihat Riana lagi online”
”Hmmm...okeh deh”
”Dah Ayu honney-ku...”
“Dah Mas Ian baby-ku…”
“Hehe…”
“Hihi…”
Bekasi, 18 Mei 2010
Ditulis : Eka S
Tidak ada komentar:
Posting Komentar