Jumat, 09 Juli 2010

HARAPAN SANG PEMIMPI


Takkan habis waktu berlalu, menghadirkan seuntai harapan. Sementara sang bintang malu untuk menampakkan diri. Gerimis masih membayang. Aku merindukan saat-saat di mana keheningan akan terhapus. Aku merindukan dunia tanpa rasa sepi. Namun semua masih terasa sunyi, menghadirkan kegundahan tak terhenti. Aku sungguh tak ingin sendiri. Aku ingin bercanda, tertawa, bahagia bersama kisah kehidupanku.

Lelah terasa memuncak, menghadirkan keengganan tak berhingga. Aku merasakan diriku makin terhempas dalam satu sudut kehidupan. Aku masih merindukan, di mana tawa bocah menghampiri telingaku. Aku merindukan kemanjaan yang indah bersama sang terkasih. Namun entah di mana dirinya berada.

Aku memimpikan hadirnya. Mungkin di sana dia tidak berharap sedikitpun kehadiranku. Mengapa harus aku yang mencintai, mengapa hanya aku yang merasakan kerinduan. Tak seharusnya semua ini yang kurasakan. Aku takut terluka kembali, merasakan kepedihan dalam hati. Aku benar-benar takut kecewa.

Di mana semua mimpi-mimpiku? Dulu selalu kubangun dengan ceriaku. Di mana kisah-kisah ini kan kutulis, sementara tangan ini telah lelah untuk menulis. Kini pikiranku serasa melayang, tak lagi berpijak pada logika. Terhanyut dalam bualan mimpiku. Terbelenggu akan ketidakpastian. Aku benci ini semua, namun aku tak bisa mengelak. Mimpi-mimpi itu semakin mengakrabiku, membujukku untuk ke luar dari dunia nyata.

Lalu mereka menertawaiku. Dalam keheningan jiwa aku terdiam. Aku semakin tersudut dalam ketidakberdayaanku. Aku tak ingin sendiri, aku takut sendiri. Bukankah sunyi ini terlalu naïf untuk kunikmati sendiri. Lalu kapan sang terkasih itu dating? Aku merindukannya, mencintainya, serta mengharapkan kehadirannya. Aku menginginkan untuk menghapus perih atas sepi ini.

Apakah semua mimpi ini harus kuhapus? Sementara aku tak ada alasan untuk bertahan kembali. Aku semakin lemah atas apa yang terjadi. Aku semakin terhempas atas apa yang kurasa. Kini aku bersujud pada hening malam, melantunkan doaku pada Sang Maha Kuasa. Semoga kegundahan hati ini terhapus, semoga kepedihan dan kesendirian ini terhapus. Semoga hati ini masih menahan sebagian cinta yang tersisa.

Aku masih merindukan kehadiran sang terkasih. Selalu merindukan kehadirannya. Dalam sabar diri serahkan segala hati penuh kerinduan pada Sang Maha Cinta.

Ya Rabb, hapuskan kesepian ini dari kehidupanku. Sebarkan cinta yang terus melingkari jiwaku. Tiada yang bisa kuminta selain pada-Mu. Tiada yang bisa kuceritakan melainkan pada-Mu. Dan hanya pada-Mu segala ini kuserahkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar