
Langit masih menyisakan mendung. Sementara tetesan air hujan telah reda. Aira berdiri menatap mendung dekat jendela kamarnya. Jilbab putihnya berkibar terbawa hembusan angin. Wanita itu seolah menunggu sesuatu atau ia sedang menunggu seseorang. Parasnya tampak tidak tenang. Bibirnya terus mengucapkan istighfar pada Allah. Aira bahkan tidak tahu sudah berapa lama ia mematung menatap langit. Ia hanya merasakan detik demi detik yang berlalu sangat cepat.
Semua ini terasa begitu berat. Peristiwa demi peristiwa terjadi begitu cepat tanpa bisa ia prediksikan. Dirinya menangis namun secara sadar ia menghapus airmata yang tidak akan pernah mengubah keadaan. Ia yang telah memilih jalan itu, dan ia pula harus bertanggung jawab serta menerima apapun konsekuensi atas pilihannya itu. Hanya saja mengapa semua terjadi begitu cepat.
Enam bulan lagi, waktu yang cukup singkat. Suatu kesalahan menulis hal yang tidak bisa masuk logika. Tapi bukankah hidup itu penuh dengan keajaiban. Aira selalu percaya suatu saat nanti akan tiba waktunya. Namun kepercayaan itu menipis sedikit demi sedikit. Apa yang tertulis dalam lauhul mahfudz-Nya, pikir Aira.
Aira menatap foto pernikahan Rahmat, sahabatnya saat di bangku SMA. Di sebelah mempelai wanita tampak Aira yang menggunakan baju warna coklat muda. Sedangkan di sebelah mempelai pria terdapat teman SMA Aira. Rahmat memang lelaki yang baik, pengetahuan agamanya di atas rata-rata, cerdas dan selalu menghargai wanita. Hanya wanita bodoh yang menolak untuk menjadi istri lelaki sesempurna Rahmat Adi Herwanto, S. Ked. Suatu saat kelak lelaki itu akan menggantikan ayahnya yang menjadi dokter spesialis jantung terkenal yang bertugas di salah satu rumah sakit besar di Surabaya yaitu dr. Aribi Herwanto, sp JP.
Tidak terasa semua cepat berlalu. Masalalu tinggallah lukisan tak berharga. Hanya menjadi kepingan cerita tak berbentuk. Dan Rahmat adalah secuil kisah lalu yang tak pantas untuk datang kembali. Aira kembali menatap langit yang mendung. Pikirannya cemas dan untaian istighfar belum juga terhenti. Apa kiranya yang kini sedang terjadi. Mengapa ia begitu resah. Apakah karena cahaya itu. Cahaya yang membuatnya kembali pada-Nya. Cahaya yang tiap kali membuatnya menangis dalam sujudnya. Entah sejak kapan ia berubah menjadi melankolis. Entah sejak kapan ia lebih menunggu malam di mana ia akan bertemu dengan sang Pencipta dalam tahajudnya serta menunggu datangnya pagi untuk dhuha. Menghabiskan seluruh waktunya untuk membaca Kitabullah. Sungguh Aira bahkan sering merasa asing pada dirinya sendiri. Apakah cahaya itu yang telah mengubahnya.
Langit mendung kini mulai pergi. Sinar matahari mulai nampak, sementara adzan dhuhur berkumandang. Apakah ia di sana juga masih bisa menunaikan sholat berjamaah, apakah ia masih melantunkan ayat-ayat suci di setiap pagi dan petang, apakah ia masih menjaga tahajudnya, apakah ia masih menunaikan shaum senin-kamisnya, apakah ia baik-baik saja. Lelaki yang sangat asing bagi Aira. Lelaki yang selalu dijumpainya di dalam masjid kampus, yang setiap kali memberikan senyuman bagi semua jamaah, yang selalu menundukkan pandangan ketika bertemu dengan akhwat. Subhanallah. Lelaki yang dulu adalah aneh bagi sosok Aira yang tidak mengenal islam kini sering hinggap dalam pikirannya. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik dan lelaki yang tidak baik untuk wanita yang tidak baik pula. Apakah aku termasuk wanita yang tidak baik?, pikir Aira. Tentu saja lelaki asing itu adalah lelaki yang baik, yang luar biasa cinta pada-Nya, dan melebihi semua cinta yang ia miliki. ”Ya Allah lindungilah selalu dirinya. Berikanlah kemudahan dalam setiap langkah hidupnya. Meskipun hamba tidak tahu apakah masih ada kesempatan untuk bertemu lagi dengannya. Berikanlah yang terbaik untuknya. Ya Allah kutitipkan dia pada-Mu, ampunilah hamba yang kini merindukannya. Amin.”
Segera Aira mengambil air wudhu lalu melaksanakan sholat jamaah di masjid dekat rumah. Tak lupa ia sholat rowatib Qobliyah dan Ba’da. Hati Aira seperti tersiram es, dingin. Kerinduan pada lelaki asing itu berganti dengan rasa syukurnya pada sang Pencipta. Setidaknya ada perubahan di tiap tahap kehidupannya, ia juga berdoa semoga Allah tidak akan pernah membiarkannya terlepas dari-Nya. Ia takut sendiri, ia takut terlepas dari kasih sayang-Nya yang tak terbatas. Mungkin inilah perasaan lelaki itu saat melantunkan ayat-ayat Allah hingga airmata membasahi pipi. Perasaan takut akan jauh dari-Nya.
Usai sholat dhuhur Aira membaca surat Ar Rahman, surat favoritnya. Bukan karena surat itu mirip dengan nama Rahmat melainkan satu ayat yang dibaca berulang di sana, Fabiayyi alaa irobbikuma tukadziban, dan nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan.
Aira menghentikan bacaan kitab sucinya dan bergegas melanjutkan membaca novel Di Atas Sajadah Cinta. Telepon selulernya berdering, Aira menghentikan bacaan novelnya.
”Assalamualaikum Ukhti Aira” sapa Nisa.
”Waalaikum salam. Aduh jangan manggil diriku Ukhti dong, belum pantas.”
”Ukhti Aira ini tidak berubah ya, sama persis dengan Aira yang kukenal sewaktu SMA, suka bersikap litotes.”
”Ah Ukhti Nisa berlebihan. Saya hanya bicara apa adanya. Bagaimana kabar Ukhti?”
“Alhamdulillah baik. Ukhti sekarang sudah gawe-kah?”
“Belum.”
“Sabar dulu. Ukh, sudah lihat film Ketika Cinta Bertasbih?”
“Sudah pernah baca novelnya tapi lupa ceritanya bagaimana, paling-paling si ikhwannya itu perfect banget.”
“Subhanallah. Mengapa Ukhti kelihatannya tidak senang melihat ikhwan yang baik.”
“Habiburrahman El Shirazy yang selalu menulis bahwa si ikhwan itu begitu ganteng mendapat istri si akhwat yang begitu cantik. Semua dibuat manis. Nah kalau wanita yang nggak cantik sepertiku tidak akan pernah masuk dalam cerita cinta.”
“Jika Habiburrahman tidak mau menulis cerita wanita tak cantik mendapat suami lelaki sholeh yang ganteng, Ukhti saja yang membuat cerita, kan Ukhti suka tuh menulis. Judulnya apa ya...Cinta di Bawah Atap Manarul Ilmi. Nanti kalau ceritanya bagus dan mau dibuat film kan tidak perlu jauh-jauh ke Mesir, tinggal shooting saja di kampus kita.”
“Tuh kan ngaco...”
“Eh siapa tahu kalau ternyata Ukhti Aira ada satu cerita yang berkesan di masjid kampus kita, iya kan?”
“Cerita apaan?”
“Ya cerita cintalah Ukh, mungkin sama ikhwan yang dulu asyik berbincang dengan Imam Masjid kampus.”
”Ngaco lagi...”
”Afwan, oh ya september akhir nanti teman-teman SMA berencana mengadakan reuni di Jakarta. Ukhti datang ya...”
”Tidak adakah tempat yang lebih bagus dari Jakarta?”
”Lha kan teman-teman banyak yang bekerja di Jakarta.”
”Insya Allah, tapi sebenarnya saya malas ke Jakarta. Ruwet, ribet.”
”Ya entar berangkatnya bareng ana.”
”Iya insya Allah.”
”Oke. Ya sudah Ukh dilanjutkan lagi aktivitasnya, Assalamualaikum.”
”Waalaikum salam.”
Apa yang aku tunggu? Enam bulan itukah. Bagaimana jika ia tidak pernah datang. Bagaimana jika ternyata ia malah mengirimiku undangan walimatul nikah. Apa yang tertulis dalam Lauhul mahfudz. Apakah lelaki itu hanyalah cahaya yang sejenak hinggap dalam kehidupanku ataukah semua ini hanya kepingan cerita yang tak perlu aku indahkan. Jangan pernah tanya soal cinta, karena aku benar-benar tidak tahu. Kehadirannya memang telah mengubahku untuk semakin dekat dengan-Nya, namun belum tentu aku mencintainya. Aku heran bagaimana semudah itu Habiburrahman menuliskan kata cinta. Mengapa aku bahkan tidak pernah berharap lebih dari jalan hidupku kecuali membuat orang-orang di sekitarku bahagia. Aneh, sesuatu yang aneh, pikir Aira. Cinta, cinta, cinta, harusnya hanya ada sang Khalik di sana, serta habibullah Muhammad SAW. ”Ya Allah tunjukkanlah jalan bagi hamba. Hamba ingin meraih kasih suci-Mu bukan hanya kebahagiaan semu.”
Hafiz tidak menyangka betapa cinta yang diberikan Allah terlalu besar untuknya. Usai menamatkan pendidikan strata satu-nya dan meraih gelar ST segera dirinya mendapat pekerjaan. Tak berhenti sampai di situ, ia juga telah menemukan bidadari pujaan hatinya dalam ta’aruf dua minggu yang lalu. Kini ia tinggal menunggu hitungan minggu untuk mempersunting bidadari ayu nan sholihah, sosok yang kelak menemani hari-harinya, menjadi istri dunia akhirat sekaligus ibu dari putra-putrinya. Semua persiapan walimatul nikah hampir selesai, sebentar lagi Hafiz akan mengabarkan berita gembira ini pada teman-teman mujahid Allah. Hafiz akan menikah dengan bidadari cantik nan sholihah. Subhanallah, Maha suci Allah yang telah menjadikan makhluk-Nya berpasang-pasangan, pikirnya.
Ponselnya bergetar, sebuah sms masuk.
Dari bidadarinya.
Assalamualaikum. Afwan bisakah Antum menunda pemberitaan walimatul nikah kita, sebab ana ingin istikharah lgi. Afwan bkn ana meragukn Antum. Ana thu Antum adl lelaki yang sholeh. Tapi ana bharp Antum bs mengerti.
Hafiz menatap langit biru yang kini tertutup mendung. Ada apa kiranya sang bidadari tiba-tiba menulis sms tersebut.
”Ya Allah tunjukkanlah jalan bagi hamba-Mu ini. Amin.”
Di perbatasan langit tampak pelangi nan indah. Seindah untaian cinta sang Khalik pada makhluk-Nya. Para malaikat pun berdzikir pada-Nya. Aira takkan pernah tahu apa yang akan terjadi. Lelaki asing yang bernama Hafiz pun tiada menahu rahasia sang Illahi. Semoga Allah selalu memberikan rahmat dan ridho-Nya bagi orang-orang yang berjuang menegakkan agama-Nya. Bidadari-bidadari surga tersenyum menatap Hafiz yang kini membaca tartil surat An-Nur. Betapa cahaya selalu berada di sisi orang-orang yang bertaqwa. Semua rencana Allah sangat sempurna dan semua itu tertulis dalam Lauhul Mahfudz-Nya.
Surabaya, 10 juni 2009
Ditulis oleh : Eka S
Tidak ada komentar:
Posting Komentar