
Jantungku berdebar dengan ritme yang tak seperti biasanya. Kutenangkan diri dengan bacaan ayat-ayat suci. Ya Allah aku sungguh tidak mengerti hal yang aku alami saat ini. Kerinduan akan suatu kisah tentang seorang makhluk-Mu. Mengapa ini tak bisa lepas dari otakku. Aku benar-benar merasa letih. Seharusnya banyak hal yang bisa aku lakukan hari ini, namun aku hanya termenung. Tak bisakah semua ini berakhir. Hingga akhirnya aku menemukan jalan untuk kutempuh, menuju cahaya-Mu.
Berawal dari sebuah musholla kecil, aku sering bertemu dengannya. Dia tiada menyadari kehadiranku, atau sebenarnya dia menyadari kedatanganku hanya saja dia begitu asyik berdua dengan-Nya. Biasanya kuhempaskan diriku dalam alunan ayat suci-Nya hingga aku letih dan melihatnya usai menunaikan sholat Dhuha. Ada suatu kedamaian saat melihatnya setiap hari dalam kondisi yang sama, berdua dengan-Nya. Namun waktu teruslah berlalu membawanya tidak hanya dalam cinta kasih-Nya melainkan membawanya memasuki alam pikiranku. Jujur aku benci rasa ini. Tapi ini fitrah, layaknya Fatimah Az-Zahra yang menyimpan rasa untuk Ali bin Abi Tholib atau Khadijah yang menyayangi Muhammad Rasulullah. Sayangnya aku tak seindah Fatimah, tak sesabar Khadijah, atau bahkan tidak secerdas Aisyah. Aku tersenyum menyadari siapa diriku dibandingkan dengannya. Dan aku tak bisa berbuat apapun.
“Anti kenapa, kok sepertinya resah?”
Aku tersenyum pada sosok ayu di depanku. Bu Dokter ini sangat perhatian pada sesama. Terkadang aku berpikir bagaimana bisa wanita secantik, secerdas dan sebaik dr. Kamila Praditya masih belum menikah. Tahun depan usianya genap 30 tahun, tapi ia begitu tegar dan sabar bila ditanya masalah jodoh. Saat ini kegiatannya sangat padat, mulai dari kerja di puskesmas sampai banyak kegiatan sosial lainnya, tidak jarang pula dirinya menjadi pembicara dalam suatu seminar baik seminar kesehatan maupun seminar keislaman. Kemampuan mengajinya pun tidak diragukan lagi. Apalagi kontribusinya dalam menangani masalah-masalah yang terjadi pada umat islam di seluruh pelosok negeri. Dia berwawasan luas dan dan sangat peduli lingkungan. Menurutku, dia wanita yang sempurna, sangat indah.
“Tidak ada apa-apa Ukh, saya hanya capek saja.”
“Bagaimana tes kerja kemarin, sukses?”
Aku menggeleng lemah.
”Mungkin masih belum rezeki. Tapi Anti jangan berhenti berusaha ya.” tuturnya.
Hanya senyum yang bisa aku persembahkan untuknya. Senyum yang tak seindah senyumnya. Terkadang terbesit rasa iri diriku padanya parasnya yang ayu, sikapnya yang santun, pembawaanya yang ramah dan selalu ceria. Ah, dirinya memang terlalu indah.
”Lama kian Anti tidak mengaji. Saya pikir Anti di luar kota.” ucapnya tulus tanpa bermaksud menyinggungku yang sering bolos mengaji dengan berbagai alasan.
”Afwan Ukh” ucapku malu, ”Saya memang agak sibuk akhir-akhir ini. Adik didik saya menjalani ujian akhir, jadi saya mendampingi mereka belajar.”
”Tidak apa. Anti masih ingat materi terakhir yang saya sampaikan, kan?”
”Insya Allah. Tentang memahami islam secara menyeluruh yaitu Al Qur’an dan As Sunah sebagai satu-satunya sumber hukum, beribadah dengan sungguh-sungguh, menghindarkan diri dari perbuatan syirik, meminta pendapat ulama tentang hal-hal yang tidak kita ketahui, lebih mengutamakan amal daripada bicara, mensucikan dan mentauhidkan Allah, serta menjauhi bid’ah”
dr. Kamila tersenyum. Kemudian dia menatapku tajam, ”Ana merasa ada yang ingin Anti sampaikan hari ini. Ana melihat kecemasan di mata Anti.”
”Tidak ada Ukh.” elakku.
”Sungguh?” tegurnya lebih tegas.
Aku hanya bisa menatapnya tanpa kata.
”Ya sudah saya lanjutkan materi yaitu bagaimana cara mendapatkan kedisiplinan yang sempurna, yang pertama paham dengan islam yaitu yakin islam sebagai fitroh yang bersih. Yang kedua ikhlas semua perbuatan dan perkataan kita semata-mata untuk mencari ridlo Allah.”
Aku berhenti mencatat, ”Ukh, saya mau bertanya.”
Wanita berparas ayu itu mengangguk sempurna, ”Ya, silakan.”
“Bagaimana caranya bisa menerima apa yang telah terjadi dengan hati yang ikhlas?”
”Ikhlas memanglah suatu hal yang mudah diucapakan namun terkadang sulit untuk dilakukan. Jika suatu hal telah terjadi, kita tidak bisa terus-menerus menyesalinya dan kita harus yakin bahwa apa yang telah terjadi adalah jalan terbaik yang diberikan Allah.”
dr. Kamila menatapku, ”Apa ini ada hubungannya dengan acara pernikahan teman Anti minggu kemarin?”
Minggu kemarin di Ketapang, Probolinggo ada acara pernikahan Arga-Istiqomah. Awalnya aku menolak ajakan teman-teman untuk datang ke acara tersebut. Tapi teman-teman terus memaksa bahkan ada yang bertanya apakah aku cemburu pada calon istri Arga Sidharta, S Ked. Arga memang teman akrabku saat SMA tapi semenjak kuliah di tempat berbeda hubungan kami makin jauh. Saat itulah Arga mengenal sosok bernama Istiqomah yang kini menjadi calon istrinya. Terkadang aku bertanya di hati apakah aku benar-benar cemburu, ataukah ini hanya rasa tidak ingin kehilangan saja. Enam bulan terakhir ini memang Arga sering menulis short message padaku, isinya formal, dia menanyakan tugas akhirku, lalu perayaan wisuda di kampusku bahkan rencanaku bekerja di mana. Aku sendiri cukup shock ketika teman Arga mengabarkan pernikahan tersebut dalam H-5. Aku marah karena bukan Arga sendiri yang mengabarkan padaku berita penting ini, tapi akhirnya aku hanya sedikit menegurnya. Dia mengatakan bahwa sebenarnya dirinya telah lama ta’aruf dengan sosok bernama Istiqomah. Aku pikir ini semua tidak ada hubungannya denganku sebelum akhirnya secara kompak teman sekelasku saat SMA menyebut diriku mantannya Arga. Apalagi saat itu hanya diriku yang tahu nomor ponsel Arga terbaru serta saudara Arga yang belum menyelesaikan kuliahnya di fakultas teknik. Aku harus meluruskan semua ini. Antara aku dan Arga tidak pernah jadian ataupun putus, antara kami hanya murni berteman tanpa ada jalinan kisah asmara apapun.
Asmara? Kembali dirinya yang ada di benakku, lelaki yang sering kujumpai di musholla kecil. Harusnya aku menghapus perasaan ini, perasaan yang sewajarnya kupersembahkan untuk suamiku. Debaran jantung dengan ritme tak menentu yang hanya mampu disembuhkan oleh ayat-ayat suci-Nya. Bahkan perasaan ingin mendengar dirinya melantunkan ayat-ayat Al Qur’an tersebut. Ini tidak boleh terjadi. Semua ini harus dihapuskan. Harus.
“Afwan, apa yang sedang Anti pikirkan?” suara dr. Kamila menyadarkan lamunanku. Aku merasakan dinginnya telapak tanganku. Ini parah, hanya mengingat lelaki itu saja sudah membuat anggota tubuhku beraktivitas tidak normal. Udara Surabaya begini panas tapi tanganku terasa dingin.
“Tidak ada Ukh, tidak ada hubungannya dengan pernikahan Arga atau apapun juga. Saya cuma sedang tidak enak badan, jadi tidak bisa konsentrasi.”
”Anti sedang melamun, jelas saja tidak konsentrasi. Mungkin Anti harus belajar banyak tentang ikhlas.”
Aku mengangguk pelan.
”Jodoh itu di tangan Allah. Pastinya Allah tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Sebagai umat yang memiliki iman dan islam kita harus percaya dengan hal tersebut. Perbanyak sholat tahajud, dzikir malam dan membaca Al Qur’an. Insya Allah keresahan yang Anti rasakan akan berkurang. Fahimtum?”
“Fahimna Ukh.”
“Begitu juga dengan rezeki semua itu sudah diatur oleh Allah. Kita berikhtiar namun semua hasilnya itu menjadi urusan Allah.”
Pikiranku kembali mengembara membayangkan menemukan satu cahaya dalam gelapnya lorong perjalanan hidupku. Terkadang aku merintih dan mengeluh tapi aku tahu akan selalu ada jalan jika aku menemukan cahaya itu. Apakah aku akan menemukan cahaya indah itu dan terus mengikuti jejaknya, pikirku lelah. Hanya satu cahaya yang menjadi penantian dan pencarianku.
Surabaya, 11 Mei 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar