Rabu, 07 Juli 2010

DEMI CINTA


Entah berapa lama ini akan bertahan. Aku mendengar tawa itu tapi semua terasa seperti sebuah ejekan untukku. Aku mendengar pujian itu tapi semua terlihat bagai sebuah ironi. Aku masih bisa merasakan denyut nadiku tapi semua saraf di otakku serasa tak berfungsi. Apakah semua ini akan berakhir begitu cepat, di mana hanya ada sedikit kenangan dalam pikiranku.

Detik-detik menyiratkan sisa waktu yang kupunya. Apakah mereka akan menangisi kepergianku ataukah mereka hanya menganggapku sesuatu yang tak berarti. Bukankah dulu aku sering menyakiti mereka. Bukankah dulu aku sering tidak mempedulikan mereka. Aku terlalu jahat. Bahkan aku belum pernah membahagiakan mereka. Inikah balasannya. Dalam detik-detik terakhir yang kupunya, aku sendiri.

Pagi masih menyisakan dinginnya malam. Meski selimut ini cukup tebal namun aku masih juga merasakan kedinginan. Tak adakah satu orang di sini yang menyambutku dengan segelas teh atau sepiring bubur ayam. Aku benar-benar merasa renta dan tak berguna. Di mana anak-anakku. Mengapa mereka meninggalkanku.
===============

Tiga puluh tahun yang lalu usai menamatkan pendidikan strata satu-ku. Kucium kedua pipi ibundaku, orang yang selama ini selalu ada di sisiku. Ia selalu memberikan support dalam setiap langkah kakiku. Orang yang paling aku hargai dan aku cintai. Wanita terhebat yang pernah aku kenal. Apalagi sejak ayahku terkena PHK kehidupan keluargaku bergantung pada ibunda. Dia mencari nafkah dengan berjualan kue, namun ia juga masih mengurusi pekerjaan rumah serta memberikan perhatian pada anak dan suaminya. Ibunda tak pernah mengeluh meski dia harus berjuang siang malam demi pendidikanku. Aku memang hanya seorang wanita, tapi ibunda tidak ingin aku kalah dengan kaum adam. Wanita tak bisa hanya pandai di rumah melainkan juga bisa bekerja mencari uang. Zaman sudah berubah, banyak suami yang menggantungkan kehidupannya pada istri.
Akhirnya aku mendapatkan pekerjaan itu. Meskipun aku tahu itu akan menyita seluruh waktuku, aku tidak peduli. Pekerjaan itu memiliki prospek yang cukup menjanjikan. Aku meninggalkan status pengajar pada sebuah lembaga pendidikan demi pekerjaan itu, meski aku harus meninggalkan ibundaku untuk merantau. ”Ibu selalu berdoa semoga dirimu dimudahkan oleh Allah dalam setiap langkah.” kata ibundaku seraya mengusap kepalaku.
Aku juga tidak bisa menaruh kepercayaan sepenuhnya pada kaum adam, layaknya teman-teman wanitaku yang lain. Mungkin hal itu terasa sangat aneh. Bahkan di usiaku yang cukup dewasa aku belum berpikir untuk punya pacar. Aku hanya menunggu waktu untuk bisa menemukan orang yang bisa benar-benar aku percaya untuk menjadi pendamping hidupku.
Namanya Fikri, lelaki yang cukup dewasa untuk bersamaku. Butuh waktu panjang agar aku bisa dekat dengannya. Dia tipe pekerja keras yang tidak begitu peduli urusan cinta-cintaan. Pendeknya, dia bukan tipe lelaki romantis. Namun semua bukan masalah bagiku yang tak suka dengan bunga atau hadiah kejutan ulangtahun. Ini sangat klop dengan diriku. Sampai akhirnya aku menikah dengannya. Pernikahan yang cukup membuat konflik karena dia bekerja di tempat yang jauh dariku. Sementara aku yang baru menapaki jenjang awal karir tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Aku akan bertahan di perusahaan itu. Meskipun gaji suamiku cukup besar, aku tetap tidak mau meninggalkan pekerjaanku. Sampai akhirnya kami hanya berstatus menikah dan hanya berjumpa dua minggu dalam setengah tahun. Sungguh suatu ironi. Meski aku telah memiliki Muhammad Ibrahim, putra pertama kami, tetap saja aku sibuk dengan urusanku sendiri. Ibrahim lebih banyak menghabiskan waktu di TPA (Tempat Penitipan Anak).
Terkadang timbul rasa iriku pada wanita-wanita biasa yang sering aku jumpai saat berangkat atau pulang kerja. Wanita tunakarya itu bisa menghabiskan seluruh waktunya untuk anak-anak mereka. Bahkan bisa tinggal seatap dengan suami mereka. Meskipun terkadang pertengkaran terdengar dari rumah mereka tapi toh akhirnya mereka berbaikan kembali. Hal yang sungguh berlawanan dengan diriku dan Fikri, kami tak pernah bertengkar tapi kami hidup dengan urusan masing-masing. Untuk menyiapkan sarapan atau makan malam pun aku tak pernah. Wanita macam apa diriku. Apakah pendidikan kemandirian yang diajarkan ibundaku telah merasuk kuat di dalam otakku hingga aku hanya peduli pada diriku sendiri. Egois dan sungguh keras kepala.
Anak keduaku adalah perempuan, berbeda tiga tahun dari anak pertamaku. Aku memberi nama Fatimatus Az-Zahra agar kelak ia bisa seperti Fatimah, putri Rasulullah SAW, menjadi wanita yang tunduk pada suami dan berbakti kepada kedua orangtua. Namun rupanya pekerjaan telah menguras seluruh waktuku. Perusahaan tempatku bekerja memang cukup ternama sehingga para karyawan dituntut bekerja lebih demi perkembangan dan kemajuan perusahaan. Ujung-ujungnya Fatima pun menjadi balita terfavorit di TPA yang sama dengan tempat Ibrahim aku titipkan. Ibu macam apa diriku, mempercayakan bibit generasi penerus bangsa pada sebuah tempat bernama TPA Kasih Bunda. Namun aku tak bisa memungkiri bahwa aku semakin asyik dengan pekerjaanku yang penuh dengan tantangan. Bahkan aku tidak peduli lagi jadwal Fikri untuk mengunjungi kami bertiga.
Meski di hadapan mertua dan orangtuaku sendiri semua terlihat baik-baik saja tapi aku tahu ada yang tidak sempurna. Sikapku pada Fikri tak lebih dari sikapku pada teman satu kantor, sangat formal. Aku memang menghargai dia, tapi aku tak pernah mengindahkan perkataannya agar aku mau tinggal di tempat di mana ia bekerja. Aku cukup merasa nyaman dengan kondisiku, Fikri tidak akan memandangku sebelah mata karena pendapatanku pun kini hampir sama dengannya.
Kebahagiaan memang tak bisa diukur dengan materi. Kehidupanku memang mapan tapi aku sering merasa kesepian. Pekerjaankulah yang telah membuang jauh rasa kesepian yang aku alami. Aku juga masih punya Ibrahim serta Fatima yang menemaniku setiap akhir pekan.
”Aku menikah lagi.” ucap Fikri suatu hari. Aku marah, benar-benar marah atas keputusannya. Aku tahu dalam islam diperbolehkan lelaki memiliki istri lebih dari satu asalkan lelaki itu bisa bersikap adil. Aku percaya Fikri bisa bersikap adil, rasa percaya yang masih sama dengan saat pertama aku mengenal Fikri. Aku selalu menghargai dia, dia memang lelaki yang sholeh, sayang ia menikah dengan wanita sepertiku. Aku heran mengapa seorang yang sholeh seperti dia berjodoh dengan wanita tak tahu diri sepertiku. Akhirnya aku merestui pernikahan itu dengan syarat pihak keluargaku tidak tahu perihal pernikahan siri tersebut. Kali ini aku merasa seperti Khadijah, mengizinkan Rasulullah SAW menikah lagi.
Waktu demi waktu telah menghanyutkanku dalam dunia yang begitu fana, hingga rentan. Putra-putriku tumbuh dengan cerdas hanya saja mereka terkadang bersikap seenaknya sendiri, persis seperti apa yang aku lakukan di waktu muda. Aku merasa kesepian yang teramat sangat ketika tidak lagi bekerja. Fikri masih tetap mengunjungi kami dua minggu dalam setengah tahun. Kondisinya cukup rentan tapi parasnya selalu berseri-seri ketika berbicara dengan istri keduanya. Aku cemburu. Baru kali ini aku bisa merasakan cemburu. Hatiku terluka. Kemewahan dan kemapanan yang aku punya tak sanggup menghapus airmataku. Benarkah semua ini telah terlambat. Mungkinkah Fikri mau memaafkanku jika aku bersedia untuk tinggal bersama dengannya. Fikri selalu memaafkanku, aku yakin itu. Suamiku adalah lelaki terbaik yang pernah kukenal. Ketakutanku akan adanya lelaki yang melepaskan tanggungjawabnya sebagai suami hilang sudah dari otakku. Tapi terlambat, di sisi Fikri telah ada bidadari lain. Bidadari yang membuat Fikri begitu jatuh hati dan merasakan bahagia. Bidadari yang menyiapkan sarapan serta makan malam dengan penuh cinta. Alangkah indah kehidupan mereka. Lalu apa yang selama ini aku lakukan. Anakku tumbuh tanpa pengawasan ekstra seperti yang dulu ayah lakukan padaku. Anakku tumbuh tanpa merasakan manis asinnya masakan ibunya karena aku sendiri tidak suka pekerjaan dapur. Ironi sekali.
===============


Ibrahim menatapku iba. Aku masih belum juga menoleh dan peduli pada kehadirannya. Meskipun pagi ini masih menyisakan kesal bagiku. Fatima tak juga kelihatan batang hidungnya padahal napasku bagai hitungan jari, sangat lambat. Ibrahim menyentuh tanganku yang dingin. ”Aku tidak akan meninggalkan Ibu. Meskipun dulu aku sering marah karena Ibu tidak pernah peduli akan diriku. Meskipun dulu Ibu menitipkanku pada TPA seolah-olah aku ini anak yatim piatu. Meskipun Ibu yang memutuskan untuk bekerja jauh sehingga aku dan Fatima jarang bertemu dengan bapak. Meskipun terkadang aku marah melihat bapak bahagia dengan istri keduanya dan saudara-saudara tiriku.”
Airmataku menetes. Aku hampir selalu teringat pada Fikri. Aku selalu menangis saat mengingatnya. Hal yang sama ketika aku mengenal Fikri di bangku kuliah. Satu-satunya lelaki yang mampu membuatku jatuh hati. Namun semua ini serasa tiada berarti. Aku sendiri yang telah mengacaukannya. Bahkan putriku Fatima pun rupanya tak peduli akan keadaanku. Dia kini juga sibuk dengan karirnya. Aku benar-benar sendiri. Ibrahim masih menggenggam tanganku saat aku merasakan lelah. Aku lelah karena selama ini aku baru menyadari apa yang aku lakukan ternyata salah. Menjadi wanita karir tentu ada batasan, bukan berarti seluruh hidupku kuhabiskan dengan karir. ”Ibu, Ibrahim sayang sama Ibu. Dari dulu Ibrahim selalu berharap bisa menemani Ibu, bisa membuat Ibu tersenyum bahagia, Ibrahim benar-benar ingin Ibu kembali sehat. Ibrahim janji akan membawa bapak di sini dan akan tinggal bersama kita. Ibu harus kuat ya, pasca operasi Ibrahim akan menepati janji, Insya Allah.” kata Ibrahim menghanyutkanku dalam lamunan tak terbatas. Masih adakah waktu untukku. Adakah pintu maaf bagi seorang yang begitu khilaf sepertiku. ”Ya Allah ampunilah hamba dan kuatkanlah hamba dalam menghadapi detik-detik terkhir ini. Amin.” gumamku. Ibrahim menatapku seperti tatapan seorang Fikri tiga puluh tahun lalu, teduh dan sangat berkharisma. Andai saja aku bisa memilih kembali, aku akan menjadi ibu rumah tangga yang baik yang bisa menjadi satu-satunya istri dunia akhirat bagi Fikri dan menjadi ibu yang sempurna bagi anak-anakku.

Surabaya, 11 Juni 2010
Ditulis oleh : Eka S

Tidak ada komentar:

Posting Komentar