
Jingganya senja makin hilang ditelan hitam. Burung-burung telah berarak pulang menjemput kehangatan dan melepaskan lelah di sarangnya. Kamu dengar suara-suara itu. Malam mendendangkan lagu nina bobo untuk semua makhluk yang lelah bergulat dengan terang. Tidakkah kamu lelah juga, Sayang ? Kemarilah dan tidurlah di atas pangkuan Ibu. Biarkanlah Ibu bercerita tentang kehidupan nyata, bukan dongeng happy ending seperti yang selalu kamu inginkan dariku. Bukannya aku tak ingin melakukannya untukmu, kehidupan inilah yang tak mengizinkanku untuk mengenal aneka dongeng pembawa mimpi indah itu. Ibu menceritakan ini bukan mengharapkan airmatamu atas perih yang pernah kualami. Sekali lagi, tidak pernah. Ibu hanya ingin kamu menjadi seorang manusia yang tegar, bukan anak cengeng yang biasa tidur dalam pelukan hangat, karena kehidupanmu kelak tak selalu berjalan seperti yang kamu inginkan.
Masa kecilkuSeorang manusia tak pernah bisa memilih akan lahir dari keluarga yang seperti apa, dan hal itu juga berlaku untukku. Aku tak tahu kapan tepatnya pertama kali kuhirup wanginya udara di dunia ini. Aku hanya tahu diriku lahir pada tahun 1965 di sebuah desa kecil yang bernama Kedung Pring, kabupaten Gresik Jawa Timur. Aku adalah anak kelima dari tujuh bersaudara. Namun anak pertama dan kedua meninggal sebelum usia mereka genap satu tahun. Aku memanggil orangtuaku dengan sebutan Emak dan Bapak layaknya teman-temanku. Keluarga kami hidup sangat sederhana. Bapak bekerja sebagai petani, pagi-pagi berangakat ke sawah pulang ketika sore tanpa membawa sepersen uang apapun. Terkadang Bapak memetik sayur-sayuran di pinggir sawah untuk makan kami esok hari.
Anak pertama, kedua dan ketiga adalah seorang laki-laki. Anak keempat, kelima dan keenam adalah perempuan. Sedangkan anak terakhir adalah laki-laki. Seperti yang telah aku ceritakan anak pertama dan kedua meninggal sebelum mereka genap berusia satu tahun. Emak menceritakan kematian misterius kedua anaknya tersebut. Orang-orang bialng mereka meninggal karena dimakan oleh setan, maklum di belakang rumah banyak semak-semak yang terlihat cukup angker. Kematian keduanya hampir sama yaitu beberapa minggu setelah kelahiran, tubuh mereka kebiruan dan tangis mereka tak berhenti sampai ketika mereka menghembuskan napas terakhir. Dengan kematian kakak pertama dan keduaku maka tanggung jawab beralih pada kakak ketigaku. Ketika Emak dan Bapak sibuk di sawah, dialah yang mengawasi dan menjaga kami berempat.
Suatu ketika, ada seorang pengemis datang ke rumah. Waktu itu kakak laki-lakiku sedang mengantarkan makanan ke sawah tempat Emak dan Bapak bekerja. Di rumah hanya ada kakak perempuanku, aku, adik perempuanku yang berusia tiga tahunan dan adik laki-lakiku yang masih belum genap satu tahun. Pengemis itu bertanya pada aku dan kakak perempuanku di mana kedua orangtua kami. Dengan polos kami jawab mereka sedang di sawah dan baru pulang menjelang senja nanti. Melihat kondisi kami yang tak terawat dan rumah kami yang reyot pengemis itu malah memberikan satu tandon pisang yang di dapatnya dari tetangga sebelah. Entah tetangga sebelah yang mana, setahuku di kampungku tidak ada orang kaya. Kami semua hidup sangat sederhana. Namun aku dan kakak perempuanku hanya mampu mengucapkan terima kasih. Setelah itu pengemis itu pergi seraya tersenyum pada kami dan menasihati supaya kami menjaga adik-adik kami dengan baik. Untuk selanjutnya aku tak pernah lagi bertemu dengan pengemis tersebut, pengemis yang bisa meredam keruyuk lapar di perut kami.
Kakak laki-laki, kakak perempuan serta diriku disekolahkan oleh Emak dan Bapak. Sebenarnya mereka keberatan jika anak perempuan melanjutkan sekolah sampai tingkat tinggi. Di pikiran mereka asalkan aku dan kakak perempuanku bisa baca tulisan dan mengaji itu sudah cukup. Kami sekolah tanpa menggunakan seragam, bahkan tanpa alas kaki. Maklum hal seperti ini lumrah untuk desa-desa yang terpencil seperti di desaku. Tapi pada saat olahraga kami diharuskan membeli seragam olahraga. Inilah yang membuat pikiranku berkembang. Tak mungkin Emak dan Bapak memberikan uang begitu saja untuk membelikanku seragam olahraga, jadi aku harus bekerja. Tiap kali aku ke sekolah membawa permen yang aku beli dari tetangga lalu kujual lagi pada teman-temanku dengan keuntungan yang tipis. Aku juga tidak pernah jajan di sekolah meskipun Bapak memberiku uang lima sen sebagai uang jajan. Lama-lama aku bisa mengumpulkan uang banyak untuk modal baik dari uang saku maupun dari keuntungan tipis penjualan permen. Kini tak hanya permen aku juga menjual jajan-jajan lain yang harganya terjangkau. Aku pun akhirnya mampu membeli seragam olahraga dari hasil jerih payahku sendiri.
Berbeda denganku, kakak perempuanku terus merengek minta dibelikan seragam olahraga. Uang saku yang diberikan Bapak selalu habis untuk jajan. Entah karena dia lebih cantik dari aku atau entah karena apa, Emak selalu menuruti keinginan kakak perempuanku. Emak tidak pernah peduli akan kebutuhan dan keinginanku. Bahkan untuk pakaian Emak selalu membelikan baju model terbaru untuk kakak perempuanku dan memakaikannya padaku saat baju itu sudah tak muat lagi.
Aku jarang makan di rumah. Aku biasanya menginap pada tetangga yang merupakan guru mengaji. Guru mengaji tersebut memiliki pondok dengan sedikit santri, disitulah aku menginap berbaur dengan santri-santri yang usianya lebih tua dariku. Selain mendapat makan aku juga bisa belajar mengaji di sana. Tentu saja aku tidak berpangku tangan, tiap pagi sebelum sekolah aku membersihkan rumah tetanggaku itu. Bahkan tiap sore aku sering disuruh memetik kangkung atau sayur-sayuran lain di halaman belakang rumah. Jangan dibayangkan halaman belakang rumah itu bersih dan terawat. Halaman belakang itu penuh dengan semak belukar sehingga seringkali kakiku terkena duri tanaman-tanaman yang ada di dalamnya. Kakak laki-lakiku juga mengaji di sana tapi tak pernah mau menginap di sana karena jika di pondok itu ada aturan untuk melaksanakan sholat tahajud. Pada tengah malam semua isi pondok dibangunkan apabila bandel maka akan terkena pecut dan tentu saja akan terasa sakit di punggung sampai berhari-hari. Pecutan tak hanya diberikan untuk kami yang malas bangun sholat tahajud melainkan juga kami yang terbata-bata dalam mengaji. Itulah sebabnya kakak perempuanku enggan belajar mengaji.
Sering juga aku dimintai tolong oleh tetangga lain yang pekerjaannya adalah berdagang. Mereka menyuruh aku ke pasar untuk berbelanja barang-barang yang akan mereka jual, diantaranya gula, tepung, jagung, kedelai dan sebagainya. Dengan mengayuh sepeda kebo (sepeda berukuran besar yang digunakan para peternak untuk mengangkut pangan sapi) disertai dua ronjot (tempat dagangan yang tebuat dari bambu tipis) aku berangkat menuju ke pasar. Tentu saja hal itu menyulitkanku mengingat ukuran tubuhku yang kecil apalagi jalanan yang penuh dengan bebatuan. Itu belum seberapa, jika musim penghujan tiba jalanan menjadi becek dan licin. Hal tersebut jauh lebih menyulitkanku. Tapi demi uang dan makanan aku mengerjakan semua itu tanpa mengeluh sedikitpun. Toh buktinya aku bisa makan empal dan ayam goreng sedangkan saudaraku yang lain cuma makan seadanya di rumah, tanpa lauk yang bergizi.
Di sekolah aku termasuk anak yang pintar. Selama tiga tahun sekolah aku sudah pandai membaca dan sedikit berhitung. Tentu saja berbeda dengan kondisi saat ini di mana anak kelas tiga SD sudah pandai perkalian bersusun. Dulu tidak ada sekolah TK dan anak kelas tiga SD baru diajari pertambahan dan pengurangan bersusun jadi sama sekali belum mengenal perkalian. Aku selalu mendapat rangking kedua di sekolah, prestasi yang cukup membanggakan mengingat kakak laki-laki dan kakak perempuanku tidak pernah rangking tiga besar. Namun suatu ketika ada pakdhe dan budhe datang dari pulau Kalimantan ke rumah. Mereka membutuhkan seorang perawat bayi untuk mengawasi anaknya. Akhirnya aku bersedia ikut mereka karena mereka menjanjikan akan menyekolahkanku dan memberikan uang saku lebih banyak dibanding yang kuterima dari Bapak.
Betapa beruntungnya aku saat ini. Aku bisa sekolah, memakai pakaian yang layak dan tidak pernah kelaparan. Lalu, apa lagi yang harus kukeluhkan saat ini? Tidak ada. Betapa egoisnya diriku yang tidak pernah menghargai apa yang telah engkau berikan kepadaku.
” Mengapa kamu murung, Sayang? ” tanya Ibu ketika aku pulang sekolah.
” Bu, teman-teman selalu dijemput pakai mobil. Paling nggak pakai sepeda motor. Masa’ aku dijemput paki sepeda onthel. Besok aku mau naik bemo ke sekolah. Lagipula tadi ada temanku bertanya apakah orang yang biasa menjemputku adalah kakekku. ” ucapku seolah menerangkan begitu malangnya diriku.
Ibu tersenyum manis sambil mengelus rambutku yang panjang, ” Kamu mau naik bemo? Ya sudah besok Ibu tambah uang saku kamu buat naik bemo. Sebenarnya Ibu tidak tega melihatmu naik bemo sebab si supir kadang suka kebut-kebutan kejar setoran. Tapi kalau kamu malu dijemput Bapak naik sepeda ya Ibu mempebolehkan kamu naik bemo. ”
” Kenapa sih Bu, Bapak tidak beli sepeda motor saja. Daripada uang diberikan pada saudara-saudara yang tidak jelas digunakan untuk apa.” protesku.
Ibu hanya tersenyum mendengar komentarku. Aku sangat tidak suka dengan kelakuan Bapak yang suka memberi berlebih pada saudara-saudaranya karena kupikir mereka baik karena ada maunya. Bahkan terkadang aku melihat ketidakadilan yang dilakukan oleh nenekku. Nenek selalu membelikan sepupu-sepupuku barang-barang yang mereka inginkan tapi tak pernah bertanya padaku apa yang aku inginkan.
Awal Perahu KehidupankuPakdhe dan Budhe membawaku pergi ke Kalimantan dengan naik kapal selama beberapa hari. Harapanku melambung tinggi, aku bisa terus sekolah sekaligus akan mendapat uang yang banyak, mungkin aku juga tidak akan kesulitan untuk makan. Di rumah dulu tak pernah ada lauk untuk dimakan, makanya aku rela tinggal di rumah tetangga dengan konsekuensi akan dipecut ketika melanggar aturan. Tak apalah yang penting sekarang aku sudah bisa membaca Al Qur’an jauh lebih baik dibanding saudara-saudaraku yang lain. Apalagi sekarang kehidupanku akan segera berubah. Aku hanya mampu berdoa semoga kehidupanku lebih baik.
Harapan tinggallah harapan. Mungkin pupus terbawa angin laut di selat Jawa. Ternyata kondisi Pakdheku yang tinggal di Kalimantan itu tak jauh lebih baik dari kondisiku di rumah. Janji tinggallah sebuah ucapan tanpa pertanggungjawaban. Mereka tidak menyekolahkanku karena memang tak ada sekolah di dekat perkampungan mereka. Jika ingin sekolah harus berangkat ke kota yang letaknya sangat jauh dari perkampungan. Hal itu sangat tidak mungkin aku lakukan melihat rumah reyot dan kehidupan pas-pasan Pakdhe. Ternyata Pakdhe punya sebuah warung kecil. Tiap hari aku membantu mereka merawat bayi, memasak, berjualan, bahkan menimba air. Hal yang paling membuatku bersedih adalah saat menimba air. Aku harus bangun pukul dua pagi lalu menuruni bukit terjal melewati semak-semak sambil membawa dua timba. Alam Kalimantan masih sangat liar, para biawak hidup dengan tenang di sana. Untunglah aku tidak pernah menjumpai mereka ketika aku berjalan menuju lembah padahal tempat yang aku lewati konon hidup berpuluh-puluh biawak liar.
Aku harus bisa kembali ke Pulau Jawa. Akhirnya aku berpikir untuk bekerja dan pilihanku jatuh pada berjualan es temulawak. Penjualan es itu aku lakukan setelah semua pekerjaan rutinku selesai. Meski tak dibayar aku selalu melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh. Hasil yang aku dapat dari penjualan es temulawak cukup lumayan. Di samping itu, aku juga bersedia disuruh mengantarkan pesanan pada langganan oleh beberapa pedagang dengan upah tertentu. Para langganan pun tidak tinggal diam ketika aku mengantarkan makanan atau minum pesanan mereka. Mereka memberi aku upah yang cukup besar mengingat profesi mereka sebagian besar adalah wanita penghibur. Mungkin juga mereka kasihan melihatku, tubuh yang kurus dengan berbagai pekerjaan yang menumpuk.
Setelah hampir tiga tahun di Kalimantan akhirnya aku bisa kembali ke Pulau Jawa dengan uang hasil jerih payahku sendiri bukan pemberian dari Pakdheku. Aku naik kapal menuju pulau Jawa. Tak terbendung rasa senang di dalam hatiku. Aku mengelilingi seisi kapal sampai akhirnya aku dimarahi oleh seorang Kapten. Setelah bertanya dengan siapa aku berada di kapal Kapten itu justru mengajakku ke dapur kapal. Di dapur tersebut aku boleh memilih makan sesukaku. Ternyata di kapal itu ada banyak drum penyimpanan air. Dulunya aku berpikir bahwa kapal tak perlu membawa air toh bisa mengambil air dari laut. Air laut itu asin sedangkan yang kita butuhkan untuk minum dan memasak adalah air tawar, begitu penjelasan sang Kapten. Orang-orang di kapal ini tidak pernah meninggalkan sholat wajib. Hal ini sangat berbeda jika kita melihat kehidupan di daratan yang bahkan ada yang dengan sengaja melupakan sholatnya. Mungkin karena kehidupan di kapal ini sangat dekat dengan kematian jadi para penghuni kapal senantiasa berdzikir dan mengingat Tuhan.
” Bu, kuliahku akan mengadakan studi ekskursi nanti awal Juli. Bayarnya mahal Bu soalnya kami akan pergi ke Kalimantan.” kataku, ” Bener sih aku sudah punya penghasilan sendiri hasil dari memberi les privat tapi kan eman kalau uangnya dibuat ke Kalimantan sebanyak itu.”
” Kamu ke sana kan buat belajar. Ibu ingatkan sama kamu jangan pernah pelit untuk urusan pendidikan. Itu juga kan untuk masa depanmu. ” kata Ibu tenang.
” Tapi Bu bayarnya mahal sekitar satu jutaan itu hanya biaya transport. ”
” Kalau kamu nggak ada uang biar Ibu yang bayar. Ibu nggak pingin nanti kamu menyesal karena tidak bisa ikut acara tersebut. ”
” Nggak usah Bu, Eka ada uang kok buat membayarnya. ” ucapku seraya mencium pipi Ibu.
Sebenarnya aku tidak yakin Ibu mengizinkanku pergi sejauh itu. Melintasi laut Jawa, naik pesawat terbang. Padahal awal tahun kemarin ada berita yang cukup menggemparkan sebuah pesawat Adam Air yang akan terbang ke Sulawesi hilang tak berbekas. Serpihan-serpihan pesawat telah ditemukan warga sekitar pulau tersebut namun tak satupun bangkai manusia ditemukan. Pemerintah disibukkan dengan pencarian kotak hitam pesawat yang mungkin terlempar di dasar laut. Bahkan adikku pun tidak diperbolehkan tur ke Bali karena adanya kasus tiga siswa SMA Negeri 4 surabaya tewas tergulung ombak pasang di pantai Kuta. Tapi mengapa aku diperbolehkan ke Kalimantan, naik pesawat lagi. Mungkinkah Ibu ingin aku mengulang sejarahnya. Bukannya ia pernah hidup menderita di pulau terbesar se-Indonesia itu, Kalimantan.
Lelaki itu jodohkuKondisi ekonomi keluargaku juga tak kunjung membaik. Kakak laki-lakiku, adik perempuanku dan adik laki-lakiku bersekolah. Sedangkan kakak perempuanku telah berhenti sekolah. Kakak perempuanku memiliki kekasih namun orangtua tidak merestui hubungan mereka. Aku sendiri kemudian ikut Ibu Suti, tetanggaku yang punya warung cukup terkenal di desa. Wanita cantik itu tak punya anak meski talah berpuluh tahun berumah tangga. Akhirnya aku menjadi salahsatu dari dua anak angkatnya. Anak angkatnya yang lain adalah laki-laki yang umurnya sekitar tujuh tahun di atasku. Aku tak lagi bersekolah meskipun guruku sempat memaksaku untuk kembali ke bangku sekolah. Aku membantu Ibu Suti untuk berjualan di warung. Aku membuat bumbu pecel, soto dan banyak masakan lainnya. Dari warung ini aku belajar banyak kemampuan memasak. Dari warung ini aku juga mengenal banyak orang, terutama para pedagang di pasar yang sering singgah untuk makan dan mengobrol di warung. Memang banyak warung berjejer tapi warung Ibu Suti terkenal dengan masakannya yang enak.
” Mau ana kancamu SD mrene. Dheweke nggawa buah-buahan uakeh. (Tadi ada teman SD kamu yang main ke rumah. Dia bawa buah-buahan yang cukup banyak.) ” kata kakak perempuanku tentu saja dengan bahasa Jawa yang kental , ” Kayak’e dheweke tresna menyang awakmu. Eh dheweke iku sugih tenan lho. Sawahe lapang, ternake akeh pisan. (Dia naksir kamu kayaknya. Eh dia itu anak orangkaya lho. Sawahnya luas, ternaknya banyak.) ”
” Bojoku mene wong Surabaya, aku gak perlu neng sawah maneh. (Suamiku nanti orang Surabaya, jadi aku tidak akan ke sawah lagi.) ” jawabku santai.
Kakak perempuanku tertawa terbahak-bahak, ” Ngimpi kowe. (Mimpi kamu.) ”
Aku sering mendengar bahwa hidup di Surabaya itu enak. Bisa beli apapun yang kita inginkan apalagi sangat mudah mendapatkan uang di sana. Dulu Bapak kalau pergi ke Surabaya pasti pulangnya bawa baju dengan model terbaru dan oleh-oleh yang banyak sekali. Meskipun aku tidak tahu di mana tepatnya Surabaya itu tapi aku sangat ingin tinggal di sana.
Ternyata usaha teman lamaku tak hanya berhenti sampai di situ. Selain memberikan buah-buahan tiap akhir pekan ia juga membelikanku sebuah sepeda. Ya dulu sepeda merupakan salahsatu barang mewah. Laki-laki itu bilang kalau sepeda itu untuk kendaraan pergi ke warung Ibu Suti di pasar. Daripada aku jalan kaki akhirnya aku terima sepeda roda dua itu. Namun aku tak pernah memberi jawaban yang jelas atas pernyataan cintanya ke aku. Aku tak pernah pacaran. Lagipula setahuku saat mengaji dulu, pacaran termasuk dalam perbuatan zina dan zina adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah.
Suatu hari ada seorang pembeli yang cukup membuatku jengkel. Yang pertama dia cuma mau dilayani olehku meskipun masih ada pembantu Ibu Suti yang lain. Yang kedua dia itu cerewet banget, minta inilah itulah. Yang ketiga dia tidak pernah melepas kacamata hitamnya. Memang waktu aku menjadi anak angkat Ibu Suti berat tubuhku mendekati ideal. Aku juga sudah bisa membeli perhiasan sendiri. Jadi selain bisa makan enak, Ibu Suti juga memberi upah atas hasil kerjaku. Hal yang sangat berbeda dengan nasibku di Kalimantan dulu.
Aku heran menjumpai laki-laki menyebalkan itu di rumahku. Aku lebih terkejut lagi ketika tahu ia datang untuk melamarku. Ternyata aku sudah mengenal Ibu laki-laki itu yang merupakan pedagang sayur serta lauk di pasar. Kami pun menikah beberapa minggu kemudian, tepatnya 12 Desember 1984. Laki-laki itu berbeda usia sekitar sepuluh tahun di atasku, perbedaan yang cukup mencolok. Setelah kami menikah, ia membawaku pergi ke Surabaya. Ternyata ia bekerja dan telah memiliki rumah di Surabaya. Satu peristiwa penting yang aku ingat sebelum menikah adalah aku pergi ke rumah teman SD yang katanya telah lama menaruh perhatian padaku, aku mengembalikan sepeda yang telah ia berikan padaku. Aku tak pernah menjelaskan padanya bahwa aku akan menikah dengan laki-laki lain. Aku cuma mengembalikan sepeda itu dan mengucapakan terimakasih. Lambat laun berita pernikahanku pasti akan terdengar juga olehnya.
” Jadi kamu akan kuliah di jurusan Teknik Mesin? ” tanya salah seorang teman akrabku saat SMA. Aku mengangguk pelan.
” Kenapa nggak ikut SPMB saja? ” tanyanya lagi. Aku melihat ada rasa tidak ikhlas dari teman-teman SMA tentang keputusanku mengambil jurusan tersebut. Mungkin saat ini aku belum bisa memberi penjelasan apapun. Aku sudah cukup bersyukur Tuhan memberiku jalan untuk dapat melanjutkan pendidikan.
” Aku sudah capek buat ikut tes lagi. Lagipula aku sudah merasa sreg akan melanjutkan pendidikanku di jurusan itu. ” jawabku
” Tapi wanita sebaik kamu nggak pantas kuliah di jurusan itu. ” protesnya. Aku tahu perhatian dari teman-temanku ini terlalu berlebih. Mungkin karena kami sekelas sudah bersikap layaknya saudara. Kami menjalani dua tahun dalam suka maupun duka. Aku tak bisa membayangkan betapa kecewanya mereka ketika aku hanya bersikap pasrah terhadap kenyataan. Tapi aku yakin selama kejujuran masih tergenggam erat di hatiku, Tuhan akan memberikan jalan untukku. Aku dengar kamu sudah jadian? Tapi kuurungkan diriku untuk bertanya hal tersebut. Itu adalah privasi. Aku tak akan bertanya sebelum lelaki tinggi berambut ikal itu menceritakan sendiri padaku. Toh dia hanya sahabatku yang sudah kuanggap sebagai kakak sendiri karena sikapnya yang dewasa.
Teman akrabku itu masuk jurusan Kedokteran. Jurusan yang dulu sempat aku impikan. Aku selalu memanggil sahabatku itu Pak Dokter. Hubunganku dengannya selama ini hanya sebatas sms (short message service). Pribadinya yang sederhana membuatku merasa nyaman berada di dekatnya, meskipun ia anak orang berada.
Surabaya, aku datang Di Surabaya suamiku mengajak aku pergi ke pasar dan memborong semua peralatan rumah tangga. Sungguh tak pernah kukira jika suamiku ini telah hidup mandiri selama beberapa tahun. Pekerjaannya memang bukan kantoran karena pada saat itu pegawai negeri hanya bergaji kecil. Suamiku seorang wiraswasta yang berhasil, ia seorang penjual jamu keliling. Tiap hari ia memperoleh penghasilan yang lebih dari cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Rumah yang ia punya pun begitu megah, rumah dua tingkat dengan fondasi yang kuat dan dinding yang kokoh. Jika dibandingkan dengan rumah milik tetangga rumah suamikulah yang terbaik.
Aku begitu dimanja oleh suamiku. Hingga aku tidak pernah merasa menyesal menjual semua perhiasanku demi biaya pernikahan. Tentu saja orang tuaku tidak mampu membiayai biaya pernikahan kami. Pada tahun 1985 aku hamil namun janin di tubuhku ini tak bertahan lama. Aku keguguran. Tapi Allah pun menggantinya, Ibu mengandung dirimu anakku. Cobaan pertama datang sebelum dirimu terlahir di dunia. Kakak laki-laki Bapakmu meminjam sejumlah uang untuk membeli bangunan disamping rumahnya. Rencananya bangunan itu akan dijadikannya kos-kosan. Dia berjanji akan mengembalikan pinjaman itu ketika kamu lahir. Pada awal tahun 1987 dirimu lahir dengan sehat dan selamat. Di akte kelahiran namamu Eka Sulistiyowati. Dulu kamu pernah bertanya apa arti namamu. Eka adalah satu tapi untuk nama belakang Ibu tak tahu sama sekali apa artinya. Nama itu diberikan oleh tetangga karena saat itu kondisi Ibu kritis pasca operasi. Pada tahun itu pula Pakdhe, bapaknya Bapakmu meninggal dunia.
Kamu tumbuh menjadi bayi yang sangat sehat. Aku selalu memberimu ASI dan setelah agak besar Ibu membuatkanmu bubur tim yang sehat. Bubur yang kamu makan bukanlah produk dari makanan bayi yang saat itu sudah tersedia di toko-toko. Ibu khusus membuatkannya untukmu. Bubur itu tediri atas nasi tim dengan wortel, kaldu daging serta hati yang sudah lumat. Hidup Ibu sehari-hari hanya untuk menjaga dan memberimu makan. Bapakmulah yang mencuci pakaian, mencuci piring bahkan melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya. Waktu tidur Bapakmu berkurang drastis sejak kelahiranmu. Kakek dan nenekmu hanya berkunjung sebentar, bahkan mereka terlihat tidak begitu peduli akan kelahiranmu. Oh ya mengenai kakak laki-laki Bapakmu itu tak menepati janjinya, ia tidak membayar pinjaman yang tempo hari digunakan untuk membeli bangunan di samping rumahnya.
Perlu Ibu jelaskan sedikit tentang keluarga Bapakmu. Ia adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Anak pertama, kedua, ketiga, keempat adalah laki-laki. Sedangkan anak paling bungsu adalah perempuan. Anak kedua meninggal saat ia masih bujangan. Ketiga anak laki-laki yang tersisa mencari kehidupan di Surabaya. Sedangkan anak perempuan masih ikut dengan Mbok dan Pakdhe di desa Balung Panggang, kabupaten Gresik Jawa Timur. Bapakmu adalah anak yang terakhir menikah di keluarganya, ini berarti masa bujangnya lebih lama dibanding yang lain.
Selama Ibu mengurus dirimu untuk urusan masak memasak dikerjakan oleh bulekmu, istri adik laki-laki Bapakmu. Waktu itu ia memang sudah punya dua orang anak perempuan. Anak pertamanya berusia sekitar tujuh tahun dan anak keduanya berusia sekitar tiga tahun. Kami memang tinggal satu kampung jadi ia dengan uang pemberian Bapakmu membeli segala bahan baku untuk masak-memasak.
Cobaan dalam kehidupan berumah tangga sudah pasti ada. Sekalipun Ibu merasa apa yang Allah berikan ini terlalu baik untuk gadis miskin seperti Ibu. Semua saudara Bapakmu suka meminta uang. Paklikmu sering minta uang untuk berjudi. Pekerjaannya cukup banyak menghasilkan uang yaitu menjadi penjual roti keliling, tapi uangnya selalu habis di meja judi dan mabuk-mabukkan. Pakdhemu sering minta uang untuk mengurusi keempat anaknya. Dia memiliki empat anak. Anak pertama dan keempatnya adalah laki-laki. Sedangkan anak kedua dan ketiganya adalah perempuan. Anaknya yang bungsu berbeda usia sekitar satu tahun di atasmu. Sebagai penjual soto, pakdhemu selalu merasa kekurangan dalam hidupnya. Ia selalu mengeluhkan biaya hidup keempat anaknya. Karena Bapakmu masih punya satu anak maka Bapakmulah tumpuan kekurangan hidupnya. Bulekmu yang berada di desa punya seorang anak perempuan yang usianya empat tahun di atasmu. Ia tak begitu banyak meminta kala itu. Tapi si Mbok, Ibu kandung Bapakmu seringkali minta uang pada Bapakmu. Terkadang uang itu digunakannya untuk membantu keuangan Pakdhe dan Paklikmu. Orangtua itu berpikir bahwa perhatian ke saudara itu lebih penting dibandingkan istri yang notabene adalah anak orang lain.
Dirimu tumbuh menjadi balita yang cerdas namun tak semua orang mau mengakuinya. Seringkali dirimu dicemooh. Memang rambut di kepalamu tak juga tumbuh sampai berusia dua tahun tapi Ibu tak henti-hentinya mengoleskan kepalamu dengan lidah buaya. Apalagi ukuran dahimu yang lebar, istilahnya nonong. Ibu selalu mengajarimu doa-doa sholat, makan, wudhu, baca turutan, membaca dan menyanyi. Kemampuan menerima ilmumu luar biasa. Dalam usia lima tahun kamu sudah bisa membaca koran, membaca juz A’mma, bernyanyi berbagai lagu anak-anak maupun dangdut, hafal doa-doa yang Ibu ajarkan, serta bisa menulis dengan lancar bahkan sudah bisa menulis latin. Kamu juga sudah pandai berhitung baik penjumlahan, pengurangan maupun perkalian.
Kamu tumbuh sebagai anak yang lincah. Ibu tidak pernah sedetikpun jauh darimu sebelum akhirnya pada 7 Mei 1992 Ibu melahirkan bayi laki-laki yaitu adikmu. Kelahiran adikmu ini bertepatan dengan satu tahun meninggalnya bapaknya Ibu. Masih juga Ibu menjalani operasi ketika melahirkan adikmu karena pinggul Ibu terlalu sempit untuk melahirkan secara normal. Ibu menitipkanmu pada tetangga dan bulekmu. Kamu juga mulai berangkat sekolah TK bersama teman-temanmu. Sungguh sebenarnya Ibu sangat rindu denganmu, Ibu ingin mendengar cerita-cerita yang sering kau sampaikan saat pulang sekolah. Tapi rupanya adikmu terserang penyakit muntaber sehingga harus mendapat perawatan cukup lama di rumah sakit. Ibu sangat khawatir akan kondisi adikmu. Sampai-sampai Ibu tak begitu bereaksi ketika kamu menceritakan hari-harimu pada Ibu. Kelahiran adikmu adalah awal dirimu mengenal nasi. Sebelumnya kamu tidak pernah bisa makan nasi. Ibu selalu membuatkanmu kacang hijau, agar-agar, hati ayam dan telur ayam kampung setengah matang untuk makananmu. Tentu saja cuma itu yang bisa masuk di dalam lambungmu. Jika ada makanan selain itu kamu akan muntah. Entah itu merupakan suatu penyakit atau karena kebiasaanku memanjakanmu. Dengan penghasilan Bapakmu yang cukup lumayan kamu selalu mendapatkan perawatan yang terbaik. Jika sakit kamu tidak akan sembuh sebelum dibawa ke dokter spesialis anak.
Banyak hal yang sering kau keluhkan tentang sikap kakek nenek kepadamu. Sikap mereka yang memanjakan saudara sepupumu membuat dirimu iri tapi Ibu selalu meyakinkanmu bahwa sebenarnya mereka juga sayang padamu. Seolah kamu mengerti apa yang tengah terjadi pada keluarga kita, kamu tak pernah menaruh rasa suka pada saudara Bapakmu. Ibu pikir kamu masih terlalu muda untuk mengetahui segalanya namun seiring berjalannya waktu Ibu tahu bahwa kamu memang benar-benar tahu apa yang terjadi. Bapakmu memang kasar, dia sering memukul Ibu. Sebenarnya bukan salah Ibu sepenuhnya. Ibu hanya mengingatkan Bapakmu supaya tidak menghambur-hamburkan uang pada saudara-saudaranya. Memang saat itu kebutuhan keluarga masih kecil tapi bukankah seiring bertambahnya usiamu kebutuhan itu akan semakin membesar.
Sebelum adikmu lahir Ibu juga mengalami cobaan dan hampir saja nyawa Bapakmu melayang. Waktu itu kami sedang butuh uang. Bapakmu bersedia menjadi kuli bangunan namun ketika ia memasang batu bata ada satu yang terjatuh dan mengenai kepala seorang perempuan. Kepala perempuan itu berdarah-darah. Suaminya yang merupakan orang Madura pun mengejar Bapakmu sambil membawa berang. Tentu saja Bapakmu lari sekuat tenaga menuju kantor polisi yang letaknya sekitar 300 meter dari tempat kejadian. Beruntung amarah laki-laki itu bisa diredam oleh polisi. Tentu saja dengan perundingan yang cukup lama dari kedua belah pihak. Dan setelah mendapat upah dari kuli bangunan, uang itu dipinjam oleh Pakdhemu. Sungguh Ibu tak bermaksud membuatmu membenci Pakdhemu, Ibu hanya ingin menunjukkan bahwa hidup di dunia penuh dengan cobaan.
” Ibu, aku pingin beli cincin. ” kataku merengek pada Ibu. Saat itu usiaku sekitar delapan tahun. Aku sudah memiliki uang tabungan sendiri. Maklum aku tak pernah jajan seperti kebanyakan teman-temanku. Sebenarnya banyak hal yang berbeda antara aku dan teman-temanku. Dulu waktu TK aku anti dengan karnaval, menurutku karnaval adalah tindakan yang bodoh. Kita sudah dandan cantik-cantik tapi harus berjalan dari stasiun radio RRI ke Taman Remaja Surabaya. Apalagi dilihat oleh banyak orang di jalanan. Oleh karena itu,aku lebih sering tampil di panggung. Penampilan yang sebentar tapi mampu menarik perhatian dan kekaguman orang-orang. Untuk urusan kemampuan belajarku tak diragukan lagi. Bahkan dulu guru TK menyarankan agar aku langsung melanjutkan pendidikan ke SD tidak perlu naik kelas nol besar. Rupanya orngtuaku yang sibuk dengan kelahiran adikku tak begitu memperhatikan saran guru TK. Lagipula mereka berpikir bahwa aku masih cengeng untuk menjadi anak SD.
” Ya entar beli sama Embok. ” kata Ibu. Aku memanggil Ibu dari Bapakku dengan sebutan Embok.
Di sinilah awal mulanya aku mendapat bukti bahwa si Mbok tidak pernah sayang padaku. Aku dan kedua anak paklikku diajak ke sebuah toko perhiasan di pasar Tambak Rejo. Di sini aku memilih cincin yang aku sukai, cincin bergambar mickey mouse namun Mbok memberiku cincin bayi. Ia berusaha menjelaskan padaku bahwa aku belum pantas menggunakan cincin yang kupilih. Sementara itu, kedua sepupuku dibelikan anting yang mereka inginkan. Satu kenyataan yang pahit adalah aku membeli cincin itu dengan uang tabunganku dan sebenarnya itu masih bersisa hanya saja uang sisa itu masuk ke kantong si Mbok. Dan sepupuku itu murni dibelikan memakai uang Mbok sendiri.
Perjuangan Ibu demi dirimu Bapakmu memang perangainya kasar. Setelah memberikan sejumlah uang pada saudara-saudaranya, emosinya meluap. Tak jarang Ibu terkena sasaran amarahnya. Pernah suatu ketika ia menutup rumah dari dalam. Sementara Ibu menggendong adikmu dan memegang tanganmu di luar rumah. Kamu mungkin bertanya-tanya ada apa sebenarnya. Tapi kamu hanya diam dan menyimpan pertanyaanmu itu di dalam hati. Hal-hal itulah yang Bapakmu lakukan ketika emosi.
Saat kamu menginjak kelas enam SD kamu ingin mengikuti bimbel di luar sekolah. Waktu itu biayanya 300 ribu, jumlah yang tidak sedikit. Bapakmu menolak mentah-mentah. Ketika Ibu mengingatkan berapa banyak uang yang dikeluarkan olehnya demi saudara-saudaranya itu, dia begitu marah. Akhirnya dengan uang hasil jerih payah Ibu kamu bisa ikut lembaga bimbingan Primagama. Saat itu Ibu memang sudah lebih dari setahun mengkreditkan pakaian pada teman-teman Ibu. Usaha yang dimodali pas-pasan oleh Bapakmu ini kerap kali menimbulkan konflik namun Ibu dengan gigih mempertahankan pekerjaan ini. Sebenarnya waktu masih kecil kamu juga minta les ini itu. Pernah kamu minta les menari, les bahasa asing, atau les sempoa. Tapi maaf Ibu tak bisa memenuhi keinginanmu.
Harapan yang kamu miliki terlalu tinggi Anakku. Kamu ingin masuk di SMP paling favorit di Surabaya. Ibu dengar biaya untuk masuk ke sana jutaan. Bahkan guru SD-mu menyarankan untuk masuk SMP yang lain. Keinginanmu seolah tak terbantahkan, nilaimu sangat cukup untuk masuk SMP terfavorit tersebut. Kamu tak ingin mundur atau berapaling. Akhirnya kamu bisa masuk SMP itu. Ada perubahan mimik setiap kali kamu pulang dari sekolah. Kamu selalu bertanya mengapa kamu merasa tidak nyaman berada di sekolah tempat anak orang kaya. Teman-temanmu selalu dijemput dengan mobil atau sepeda motor tapi kamu dijemput Bapakmu menggunakan sepeda ontel. Mungkin kamu sempat merasa kecewa saat itu. Tapi entah mengapa pada tahun kedua berada di sana kamu bisa berterus terang pada teman-temanmu mengenai kondisi ekonomi keluargamu. Jelas Ibu bangga padamu apalagi nilai-nilai kamu yang terus menanjak naik. Ibu yakin namamu mampu menjadi legenda di sana. Seorang anak penjual jamu yang berjuang demi masa depan.
Kondisi ekonomi keluarga makin membaik. Memang penjualan jamu yang telah menetap di sebelah rumah paklikmu sejak dirimu lahir itu mengalami penurunan. Tapi usaha pengkreditan pakaian, dan penjualan es lilin meningkat drastis. Ibu semakin bisa mengembangkan sayap. Bahkan khusus menjelang hari lebaran Ibu panen uang dari hasil penjualan makanan kering. Ibu juga ikut sebuah MLM (multi level marketing) yang cukup ternama, CNI. Ibu mendapat angka penjualan produk-produk CNI cukup tinggi untuk ukuran distributor baru. Oh ya pada saat kamu menginjak SMP, si Mbok meninggal. Segalanya berubah setelah meninggalnya orang yang paling dicintai Bapakmu itu. Saudara-saudara Bapakmu tak sesering dulu mengganggu kami. Akibatnya kehidupan keluarga kita berangsur-angsur menjadi tenang.
Menjelang lulus SMP kamu sempat minta persetujuan Ibu untuk melanjutkannya ke luar negeri tapi Ibu tidak setuju. Lalu kamu menginginkan sekolah di Taruna Nusantara Magelang, sekolah itu memiliki asrama dan keseluruhannya dibiayai oleh sebuah yayasan. Itu juga Ibu tidak setuju. Menurut Ibu selama masih ada sekolah yang baik di Surabaya kamu tak perlu repot-repot pergi ke luar kota. Ibu memilihkanmu SMA lima, salah satu SMA favorit di Surabaya. Dengan prestasimu yang luar biasa saat SMA tentunya kamu bisa dengan mudah menjadi salah satu siswa SMA lima Surabaya. Kamu mendapat NEM (nilai ebtanas murni) 48,37 yang merupakan peringkat 9 di SMPN 1 dan peringkat 18 penerimaan siswa SMA 5. Satu lagi permintaanmu atas penolakan permintaanmu untuk sekolah di luar Surabaya yaitu kelas Akselerasi. Kelas itu dikhususkan untuk anak-anak yang memiliki prestasi dan ingin menyelesaikan SMA dalam waktu 2 tahun. Setelah melewati Psikotest (IQ dan EQ), dan tes akademik akhirnya kamu menjadi salah satu dari 23 siswa akselerasi.
Hal yang menyulitkan adalah semangat kerja Bapakmu menurun. Apalagi biaya sekolahmu sangat tinggi yaitu 175 ribu per bulan hanya untuk biaya SPP, belum adikmu yang menginjak kelas lima SD. Pada tahun kedua kamu SMA beban Ibu bertambah lagi, kamu dan adikmu akan lulus bersamaan. Adikmu akan melanjutkan ke SMP dan kamu pastinya tak akan berhenti sampai SMA. Bapakmu sudah tak bekerja. Waktu itu Ibu memperluas pekerjaan Ibu yaitu dengan berdagang nasi lele, nasi tempe, bihun, dan nasi goreng yang dititipkan di kantin sekolah adikmu. Tak jarang Ibu membuat lontong lodeh, sate Cecek untuk dijual sendiri. Bisnis CNI sudah tidak Ibu lanjutkan karena Bapakmu tidak ingin melihat Ibu pulang malam dari acara training. Layaknya orang yang membuka warung Ibu jarang tidur waktu malam. Ibu harus membeli sayur, ikan lele, tempe dan segala yang dibutuhkan sebelum adzan Subuh berkumandang. Kamu mungkin sudah melihat sendiri perjuangan Ibu demi dirimu dan adikmu.
Tahun 2004, adikmu masuk SMP negeri yang terletak dekat rumah. Karena sikapnya yang pemalas ia tidak bisa masuk SMP terfavorit seperti dirimu. Tapi Ibu tahu pasti kemampuan berpikirmu dan adikmu tidak jauh berbeda. Kalian mendapat asupan gizi yang cukup saat balita. Dirimu lulus PMdK Reguler jurusan Teknik Mesin ITS. Jujur sebenarnya Ibu tidak terlalu mengerti tentang perkuliahan. Ibu hanya lulusan kelas 3 SD dan Bapakmu lulusan kelas 6 SD. Ibu juga tidak mengerti mengapa kamu memilih jurusan itu. Kamu bilang itu jurusan paling bagus yang ditawarkan program PMdK (penelusuran minat dan ketrampilan) ITS. Tentu saja Ibu selalu percaya pada setiap perkataanmu karena kejujuran selalu Ibu tanamkan pada anak-anak Ibu. Tapi Ibu berpikir ada tujuan lain mengapa kamu memilih jurusan yang hanya memiliki sedikit mahasiswi tersebut.
Aku sering melihat kepura-puraan di mata Ibu. Aku tahu Ibu tidak ingin melihatku menangis untuknya. Bahkan di kala aku sakit Ibu selalu mengatakan Andai saja sakit itu bisa dipindahkan pasti Ibu rela mengganti rasa sakitmu itu. Itulah pengorbanan seorang Ibu yang tiada pernah berakhir. Apalagi semenjak Bapak tidak bekerja kehidupan keluarga bergantung sepenuhnya pada Ibu. Ibu tak pernah mengeluh dan menampakkan sedihnya padaku. Tapi aku tahu hatinya berduka. Kini ia harus bekerja keras supaya aku dan adikku bisa terus melanjutkan sekolah. Itu semua demi masa depan kami sendiri. Ibu tak ingin kelak ada penyesalan susahnya menanggung kebutuhan hidup hanya karena tidak berpendidikan.
Aku terkadang berpikir mampukah diriku berjuang seperti Ibu yang dari kecil berusaha mencari makan dan kehidupan sendiri. Memang di mata orang kehidupan keluarga kami sangat harmonis. Apalagi melihat sekolahku dan adikku berhasil. Orang akan iri hati melihat ketentraman dan ketenangan keluarga kami. Mungkin sikap sederhana yang ditanamkan Ibu sejak masih kecil ini membuatku berbeda dengan anak-anak seusiaku. Mereka suka shopping, perawatan ke salon bahkan jalan-jalan dengan lawan jenis yang tak tahu entah kemana. Keluargaku sangat memegang teguh Islam. Meskipun sebelum kematian si Mbok Bapak tak pernah berpuasa dan sholat, namun kini ia sudah mulai meng-Islamkan diri.
Saat ini merupakan saat yang istimewa bagi keluarga kami. Aku akan diwisuda. Perjuangan Ibu tidaklah sia-sia. Sekarang aku sudah memasuki tahapan terpenting dalam hidupku yaitu kedewasaan secara lahir dan batin. Selalu aku berdoa semoga Tuhan memberi jalan yang terbaik untukku.
Ibundaku tercinta tak banyak kata yang mampu aku ucapkan. Terlalu banyak kasihmu mengiringi perjalanan hidupku. Kau bagaikan sinar mentari yang takkan mengharap apapun atas cahayamu. Aku sangat kagum atas ketegaranmu. Airmatamu tak akan terbuang sia-sia. Aku akan menjadi cahaya dalam kehidupan ini. Aku akan berusaha menjadi seperti namaku Eka Sulistiyowati, seorang wanita yang cantik dan baik hati. Terimakasih atas segalanya Ibu, semoga doamu terus mengiringi langkahku. Amin.
Ditulis oleh Ananda tercinta
Eka Sulistiyowati.