Ini terjadi pada hari Senin, 10 September 2012. Karena menghindari rapat di luar jam kerja, kutinggalkan tasku di kolong meja. Aku pulang hanya dengan memakai jaket ungu pemberian suamiku. Sempat suamiku bertanya dimana tasku. Kujawab dengan entengnya ada di kantor, dan aku malas membawanya. Kuceritakan juga perihal atasanku yang menyuuruhku untuk meeting di atas jam empat. Sudah banyak telpon dan sms darinya, tak satupun kujawab.
Sampai di Tangerang gerimis membasahi kami. Suamiku minta
dibelikan sate. Aku juga sempat belanja sayur bayam dan telur. Namun ketika
hampir sampai di rumah, ada yang kuingat. Kunci rumah masih ada di tas. Tas yang
kutinggal di kolong meja. Subhanallah, padahal kondisi suamiku sakit. Hujan makin
deras. Suamiku pun mengajak kembali ke kantor untuk mengambil kunci tersebut.
Aku sempat menangis. Tapi dengan sabar suamiku mengatakan
namanya juga lupa, tidak usah ditangisi. Kami kembali ke kantor dengan memakai
jas hujan. Sungguh, aku merasa sangat bersalah pada suamiku. Ingin rasanya aku
berteriak, namun berkali-kali suamiku menenangkanku.
Yaa Allah, terimakasih Engkau telah anugerahkan lelaki
terbaik untuk menjadi imamku. Lindungilah dirinya yaa Rabb, berikanlah
kesehatan keselamatan dan rezeki yang halal baginya. Naungilah dirinya dengan
cinta kasih-Mu. Yaa Allah, anugerahkan kepada kami momongan yang sholeh
sholehah, yang mampu memberikan ketenangan dalam kehidupan rumah tangga kami. Yaa
Allah, kabulkanlah doa hamba…. Aamiin yaa Rabbal Alamin
Keesokan harinya, tanggal 11 September 2012. Sengaja aku
tidak masuk kantor dengan alasan sakit. Memang demam, tapi sebenarnya kalaupun
dipaksa masuk kerja sebenarnya bisa. Namun apa yang dilakukan suamiku pagi itu,
dia menungguku untuk ganti baju kerja. Dan dengan keras kepala kukatakan tidak
mau masuk kerja. Akhirnya diapun pergi kerja tanpa aku temani. Sungguh, begitu
kekanakan sikapku ini, hehe.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar