Pada suatu malam, ketika
bintang-bintang seakan-akan enggan menampakkan dirinya dan gelap gulita
menyelimuti dunia, Khadijah duduk di dalam rumahnya setelah thawaf beberapa
putaran di sekeliling Ka’bah. Lalu dia beranjak menuju peraduannya dengan rasa
puas dan seuntai senyum yang menghiasi bibirnya. Ia tidak pernah tahu, apa yang
sebenarnya sedang tersembunyi di balik perasaannya saat itu. Tidak lama
kemudian, dirinya telah terbuai dalam tidur yang tenang.
Di dalam tidurnya, Khadijah
bermimpi ada matahari besar yang turun perlahan dari langit kota Makkah dan
berhenti tepat di atas rumahnya. Seluruh sudut ruangan yang ada di rumahnya
diterangi dengan sinar yang indah. Sinar itu memancar dan menerangi segala
sesuatu yang ada di sekitarnya, sehingga menyenangkan hati sebelum menyenangkan
mata setiap orang yang memandangnya.
Masih kubaca buku Sirah Shahabiyah karangan Mahmud Al Mishri.
Sungguh terharu aku membaca cerita pertalian jodoh antara Khadijah dan Nabi
Muhammad. Khadijah yang sudah menikah dua kali dan kedua suaminya meninggal
dunia. Khadijah yang kaya raya dan banyak yang berminat mempersuntingnya. Namun
hanya karena mimpi itu dia lebih memilih untuk menunggu. Mimpi yang sangat
menenangkan hatinya.
Dalam ikhtiarku, tentu aku kerap
menangis. Masih terasa luka yang menyayatku tiga bulan lalu. Rasa kasihku yang
dibalas dengan penyiaan. Aku masih berharap ini sebuah mimpi, di mana saat aku
bangun rasa sakit itu tidak terasa lagi. Mungkinkah ini adalah ujian bagiku.
Setiap manusia mendapat ujian
karena melalui ujian inilah akan tampak manusia baik dan buruk. Jelaslah siapa
yang pantas mendapat pertolongan dan dimuliakan oleh-Nya dan siapa yang tidak
pantas mendapatkannya, serta untuk memilih jiwa yang shalih. Semua dimurnikannya
dengan ujian.
Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan
bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang
dicukupkan pahala mereka tanpa batas (QS Az Zumar :10)
Entah mengapa ujian ini terasa
berat bagiku. Mungkin karena aku telah berharap pada sesuatu yang salah,
sesuatu yang fana. Ya Rabb betapa rapuhnya hatiku. Bahkan untuk bangkit kembali
pun terasa berat. Serasa putus asa dan lemah setiap dayaku. Aku tahu, Allah
sangat tidak menyukai hamba-hamba yang berputus asa. Namun rasanya semua ini
begitu menyesakkanku. Akalku tak mampu
menerima apa yang terjadi begitu cepatnya. Merusak segala mimpi dan harapan
yang telah kubangun. Bahkan aku tak tahu apa yang harus aku lakukan.
Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia, niscaya dia
berpaling dan menjauhkan diri dengan sombong dan apabila dia ditimpa kesusahan,
niscaya dia berputus asa (QS Al Isra’ : 83)
Sungguh, tak ingin aku mengingkari semua nikmat
yang Allah berikan. Namun entah
mengapa kali ini perih ini begitu terasa. Heran, dengan diriku yang kini tak
lagi tersenyum. Hati ini terlalu lemah. Hati ini terlalu rapuh.
Ini sudah hari yang kesekian,
sedihku belum juga reda. Berulang kali ibundaku menghiburku, namun semakin
terasa keperihan yang ada. Mimpi yang aku alami saat itu masih membayang. Namun
aku masih tak mengerti apa yang harus aku lakukan.
Aku harus bisa menghadapi semua
ini. Aku tak perlu khawatir karena Allah selalu ada untukku. Allahumma ana, na’am? Allah tahu apa yang
terbaik untuk hamba-Nya , semestinya tak ada ragu tentang semua itu.
Jakarta, Desember 2011

Tidak ada komentar:
Posting Komentar