Rabu, 05 September 2012

Tegarku, Harap-Mu




Pada suatu malam, ketika bintang-bintang seakan-akan enggan menampakkan dirinya dan gelap gulita menyelimuti dunia, Khadijah duduk di dalam rumahnya setelah thawaf beberapa putaran di sekeliling Ka’bah. Lalu dia beranjak menuju peraduannya dengan rasa puas dan seuntai senyum yang menghiasi bibirnya. Ia tidak pernah tahu, apa yang sebenarnya sedang tersembunyi di balik perasaannya saat itu. Tidak lama kemudian, dirinya telah terbuai dalam tidur yang tenang.

Di dalam tidurnya, Khadijah bermimpi ada matahari besar yang turun perlahan dari langit kota Makkah dan berhenti tepat di atas rumahnya. Seluruh sudut ruangan yang ada di rumahnya diterangi dengan sinar yang indah. Sinar itu memancar dan menerangi segala sesuatu yang ada di sekitarnya, sehingga menyenangkan hati sebelum menyenangkan mata setiap orang yang memandangnya.

Masih kubaca buku  Sirah Shahabiyah karangan Mahmud Al Mishri. Sungguh terharu aku membaca cerita pertalian jodoh antara Khadijah dan Nabi Muhammad. Khadijah yang sudah menikah dua kali dan kedua suaminya meninggal dunia. Khadijah yang kaya raya dan banyak yang berminat mempersuntingnya. Namun hanya karena mimpi itu dia lebih memilih untuk menunggu. Mimpi yang sangat menenangkan hatinya.

Dalam ikhtiarku, tentu aku kerap menangis. Masih terasa luka yang menyayatku tiga bulan lalu. Rasa kasihku yang dibalas dengan penyiaan. Aku masih berharap ini sebuah mimpi, di mana saat aku bangun rasa sakit itu tidak terasa lagi. Mungkinkah ini adalah ujian bagiku.

Setiap manusia mendapat ujian karena melalui ujian inilah akan tampak manusia baik dan buruk. Jelaslah siapa yang pantas mendapat pertolongan dan dimuliakan oleh-Nya dan siapa yang tidak pantas mendapatkannya, serta untuk memilih jiwa yang shalih. Semua dimurnikannya dengan ujian.

Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas (QS Az Zumar :10)

Entah mengapa ujian ini terasa berat bagiku. Mungkin karena aku telah berharap pada sesuatu yang salah, sesuatu yang fana. Ya Rabb betapa rapuhnya hatiku. Bahkan untuk bangkit kembali pun terasa berat. Serasa putus asa dan lemah setiap dayaku. Aku tahu, Allah sangat tidak menyukai hamba-hamba yang berputus asa. Namun rasanya semua ini begitu menyesakkanku.  Akalku tak mampu menerima apa yang terjadi begitu cepatnya. Merusak segala mimpi dan harapan yang telah kubangun. Bahkan aku tak tahu apa yang harus aku lakukan.

Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia, niscaya dia berpaling dan menjauhkan diri dengan sombong dan apabila dia ditimpa kesusahan, niscaya dia berputus asa (QS Al Isra’ : 83)

Sungguh, tak ingin aku mengingkari  semua nikmat  yang Allah berikan.  Namun entah mengapa kali ini perih ini begitu terasa. Heran, dengan diriku yang kini tak lagi tersenyum. Hati ini terlalu lemah. Hati ini terlalu rapuh.

Ini sudah hari yang kesekian, sedihku belum juga reda. Berulang kali ibundaku menghiburku, namun semakin terasa keperihan yang ada. Mimpi yang aku alami saat itu masih membayang. Namun aku masih tak mengerti apa yang harus aku lakukan.

Aku harus bisa menghadapi semua ini. Aku tak perlu khawatir karena Allah selalu ada untukku.  Allahumma ana, na’am? Allah tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya , semestinya tak ada ragu tentang semua itu.

Jakarta, Desember 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar