Rabu, 05 September 2012

Lelaki Sempurna




 Tuhanku Yang Maha Lembut,
Aku letih dengan tidak baiknya
sikap orang yang seharusnya mengerti
niat baikku.

Mengapakah Engkau mengijinkan
orang yang kubaiki
tidak berlaku baik kepadaku?

Aku tahu, ini pasti untuk kebaikanku.
Maka aku mohon,
kuatkanlah keikhlasanku
untuk memperbaiki sikapku
terhadap orang dan keadaan
yang tak bisa kuperbaiki.

Tuhan, kosongkanlah dadaku dari beban.
Amin
(Oleh Mario Teguh)

Kirana masih berdiri, menunggu hujan berhenti. Padahal jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Kesalahan kecil yang diperbuatnya membuatnya lebih memilih menunggu, yaitu lupa membawa jas hujan.
“Mungkin hujan ini sangat mewakili perasaanku yang tiap hari menangis. Aku memang sudah melupakannya, orang yang selama ini menyakitiku. Namun aku masih belum menemukan jalan untukku. Biasanya aku selalu memiliki sesuatu yang kutuju, itu biasa kusebut mimpi dan harapan. Namun untuk kali ini benar-benar kosong.” Pikir Kirana.
“Rana” tegur Irma, teman kantornya yang kebetulan seharian ini sibuk, sehingga sekarang wanita manis itu masih lembur.
“Ya?”
“HP-mu tuh bunyinya kurang keras”
Kirana tersenyum simpul, dia baru menyadari HP-nya berdering. Selama ini dia asyik melamun sambil menatap hujan. Called : Hendra tertulis pada layar Hp-nya namun Kirana tidak berminta mengangkat telpon dari lelaki itu.
“Hehe…Makasih ya Ma. Aku gak sadar nih HP bunyi” sahut Kirana.
“Kok enggak diangkat telponnya?” tanya Irma.
“Dari Hendra” jawab Kirana singkat.
“If you have any problem, please tell me … may be I can help you” tawar Irma.
“Thanks for your attention. I’m fine now” jawab Kirana.
“Are you sure, I think everyday I see tears in your eyes”
“Just miss my family…hehe”
“Still remember him?”
Irma tahu persis keadaan sahabatnya sejak hubungannya dengan Irfan berakhir. Irfan tiba-tiba pergi tanpa memberi kabar dan menghadirkan wanita lain dalam hidupnya.
“Dia mau lamaran, Ma” akhirnya airmata itu tumpah juga. Kirana masih belum sanggup melepaskan hatinya.
“Lah kamu juga sudah dilamar kan?”
“Aku belum memberi jawaban pada Mas Hendra”
“Hmm…let me guess, it’s because he will leave you to Banjarmasin?”
“Entahlah Ma, hatiku belum sreg”
“Karena hatimu masih diisi sama Irfan. Apa pentingnya lelaki yang sudah menyakiti hatimu sedemikian rupa”
“Aku bukan berharap lelaki itu kembali, hanya saja aku masih menunggu lelaki terbaik penggantinya”
“Dan bukan Hendra? Meskipun lelaki itu sudah menunggumu lebih dari dua tahun. Dia melamarmu untuk yang kedua kalinya kan?”
“Iya sih…”
“Lhah… perjuangan yang gigih hanya untuk mendapatkan cinta seorang Kirana”
“Hehe…”
“Atau jangan-jangan ada yang lain nih?”
Kirana mengangkat bahu.
“I hope you will get the best”
“Amin, makasih Ma”
Irma menepuk bahu sahabatnya pelan.
===
Aku senang menatap tawamu
Aku senang melihat ulah bocahmu
Meskipun hatiku terkadang membenci kekanakanmu
Serta sikapmu yang seenaknya sendiri
Kali ini aku berjalan di sampingmu
Ingin rasanya kugenggam tanganmu
Dan  kita berjalan menyusuri jalan setapak kehidupan

Setyo tertawa mendengar canda Kirana. Kirana menatap tawa lelaki itu dengan seksama. Sungguh, telah lama Kirana menantikan untuk bertemu dengannya. Lelaki ini yang sangat dia kagumi. Lelaki ganteng, cerdas dan pandai memasak.  Masih teringat saat-saat Setyo dan Kirana satu kontrakan, Setyo paling jago membuat sambal. Senang rasanya jika punya suami sepertinya.

Tapi semua tentang Setyo adalah mimpi. Bagaimana tidak, sampai saat ini belum ada wanita yang mampu mendampinginya sejak dia putus dengan tunangannya. Sebenarnya Kirana sudah tidak peduli dengan kondisi kehidupannya, rasa kecewa belum juga hilang dari hatinya. Seharusnya hatinya mampu menerima kondisi yang ada, bukan malah berlari ke dunianya sendiri.

Dibalik kekaguman Kirana atas seorang Setyo, sebenarnya dia sangat membenci sikap kekanakan yang dimiliki lelaki itu. Lelaki itu sering bersikap seenaknya sendiri. Entah apa yang dia pikirkan, serasa hidupnya tanpa beban. Atau memang lelaki itu tipe orang yang cuek dengan keadaan. Buktinya lelaki itu adalah orang kepercayaan yang paling dikagumi di kantor tempat kerjanya. Otaknya yang brilian dan kemampuannya untuk memberikan keputusan membuatnya sangat terkenal.

“Gimana Mas kabarnya?” tegur Kirana.
“Alhamdulillah, tambah ganteng iki” jawab Setyo seenaknya sendiri.
“Dari dulu emang sudah ganteng kali Mas”
Setyo meringis, terlihat dua gigi depan bagian atas yang seperti kelinci.
“Kamu gimana kerjaan, lancar?”
“Aku lagi gak ada kerjaan, nunggu proyek aja nanti bulan Mei”
“Wuihhhh…enaknya. Aku tiap hari mesti lembur nih banyak kerjaan. Sabtu-minggu juga masuk karena PLTU ada commissioning”
“Sudah kelihatan kok Mas”
“Kelihatan apanya?”
“Kelihatan capeknya…hehe”
“Iya, capek abissss”
“Loh keluarganya Mas itu sekarang tinggal di Surabaya tha?”
“Enggak mesti sih, masih nomaden. Ngikut dinas kerja bokap. Kadang di Tuban, kadang di Surabaya”

Kirana mengawasi paras Setyo, hatinya kerap bertanya. Apakah lelaki sempurna seperti Setyo yang sebenarnya pantas berjalan di sampingnya. Selama ini dia selalu menghindar untuk berjalan di samping lelaki, bahkan seorang Irfan pun dia tak mau. Mengapa dia justru merasa senang jika bersama dengan Setyo.

Lelaki bernama Setyo ini terhitung terlalu sempurna untuknya. Tentu saja Kirana tahu benar kebiasaan Setyo. Sholatnya, tartilnya, shaumnya, semua memang hampir sama dengan yang selama ini dia jalani. Namun melihat kecerdasan dan kondisi fisik semua jauh dari Kirana, tentu saja Setyo jauh lebih unggul. Apakah lelaki sesempurna ini mampu menerima kehadiran seorang wanita biasa seperti Kirana?
===

“Mbak, aku tunggu di terminal Kalideres” kata Hendra ketika Kirana menelponnya.
“Oke, tunggu bentar ya Mas. Rana masih di busway”
“Siiip Mbak”
“Tapi ini busway-nya sudah mau sampai terminal kok”
“Oke, aku jemput”

Kirana melangkahkan kaki ke luar dari busway. Hendra menatap wanita itu dengan senyum yang merekah. Hati Kirana semakin bimbang. Awalnya dia akan menerima Hendra dengan hati terbuka dan melupakan Irfan. Bahkan sempat terpikir untuk menerima tawaran Hendra menikah. Namun, setelah pagi tadi dia lalui bersama dengan Setyo semua yang dia pikirkan berubah.

Hendra menatap wanita di hadapannya dengan takjub.
“Jangan melihatku seperti itu Mas, aku merasa nggak nyaman”
“Maaf Mbak”
“Sebenarnya aku yang minta maaf Mas. Berapa kali aku bertanya apa Mas serius mau nikah sama aku? Kok rasanya aku sering sekali bertanya seperti itu”
“Dua kali Mbak. Cuma aku ingat betul saat Mbak tanya usiaku, Mbak lama sekali baru bales sms-ku”
Paras Kirana memerah, “Mas inget itu?”
“Iyalah Mbak”
“Maaf loh Mas, enggak bermaksud membuat Mas menunggu jawaban sms-ku”
“Aku tahu Mbak Rana pasti sedang mempertimbangkannya”
“Dan sampai sekarang aku belum menemukan jawabannya Mas. Maaf…”
“Mbak Rana ingin dekat dengan suami Mbak. Banjarmasin itu dekat kok Mbak”
Kirana menghela napas panjang, “ Aku di Jakarta ini hidup sendiri Mas”
Hening
===

Entah siapa lelaki sempurna yang akan hadir
Yang menumpahkan seluruh kasihnya pada seorang Kirana
Yang memiliki kasih yang tulus
Kirana masih menantinya …

Jakarta, 27 Oktober 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar