Rabu, 05 September 2012

Seuntai Senyum untuk Sang Fajar





Januari 2012

Apa yang harus aku lakukan? Sementara sang waktu terus mengejar. Aku bukan lagi remaja belasan tahun yang asyik menikmati masa mudanya. Usiaku kini hampir seperempat abad. Sungguh tidak bisa lagi dibilang muda. Teman-teman sebayaku sudah menikah, ada yang sudah memiliki anak. At least sudah punya gandengan alias pacar. Namun aku malah sendiri di sini.

Jika bicara soal cinta. Aku tidak pernah merasa benar-benar mencintai. Sewaktu SMA aku pernah dekat dengan teman karibku, namun dia menikah sebelum lulus kuliah. Aku sempat marah padanya namun akhir-akhir ini aku jadi faham. Temanku itu masih juga belum dewasa, biaya kuliahnya dan biaya kuliah istrinya menjadi tanggung jawab orangtuanya. Apalagi dia kuliah di jurusan kedokteran yang biayanya seabreg. Bukankah aku terlalu mandiri untuk bisa bersanding bersama dia.

Kini aku menjadi pegawai negeri yang memiliki gaji cukup. Aku juga sudah memiliki rumah, walaupun masih kredit. Gajiku separuh lebih digunakan untuk cicil rumah. Terkadang ada rasa iri dengan teman-teman satu angkatan yang masih asyik menikmati gajinya tanpa potongan hutang. Sebagai wanita mungkin aku terlihat begitu mandiri, begitu tangguh. Tak heran banyak yang mundur untuk bersanding denganku.

Aku cukup cerdas, walaupun di perusahaan ini aku kurang memanfaatkan kecerdasanku. Di perusahaan tempatku bekerja, siapa yang cerdas dan terlalu jujur akan disingkirkan. Kali ini aku mesti berpura-pura tak peduli dan tidak kritis akan apa yang terjadi. Aku hanya ingin ketenangan. Walaupun begitu masih juga atasanku memberi suatu kepercayaan atas tugas yang aku emban. Mungkin karena aku lulusan teknik mesin jadi aku selalu ada di tiap even. Di perusahanku permasalahan yang paling banyak adalah bidang mesin, dibanding bidang listrik dan instrument.

Kini aku sendiri. Sesuatu yang tidak aku sukai. Ini terlalu sunyi. Aku merindukan kehangatan sebuah keluarga dengan anak-anak yang sholeh-sholehah. Aku ingin sekali menikah. Menjadi seorang isteri yang berbakti kepada suami. Merasakan hamil dan mengasuh putra-putriku dengan sebaik-baiknya. Namun darimana kesempatan itu berasal? Bahkan tiap kali hatiku teriris melihat kebahagiaan teman-temanku bersama suaminya. Siapakah lelaki tangguh yang merelakan kehidupannya untuk bersamaku. Seseorang yang memiliki sifat asih kepada semua orang. Seseorang yang cerdas dan menerapkan ilmu yang dia miliki. Meskipun di dunia ini tak ada yang sempurna, tak ada salahnya meminta jodoh yang terbaik dari-Nya.

Aku berasal dari keluarga yang khusyuk. Ibuku adalah orang yang sangat sabar. Bagiku, dia seperti cahaya dalam kegelapan. Dia menerangkan padaku dan membuatku percaya bahwa Tuhan itu dekat. Tuhan akan mengabulkan apa permintaan kita, asalkan kita tunduk pada perintah-Nya. Dan jika Tuhan sengaja tidak mengabulkan permohonan kita, ini berarti ada rencana Tuhan yang lebih baik. Akal kita tak akan mampu menjangkaunya, namun suatu ketika kita akan menemukan alasan mengapa Tuhan tidak mengabulkan doa kita.

Pernah mendengar teori sulaman? Jika kita melihat dari bawah, tentunya hanya keruwetan benang yang terlihat. Namun jika  kita lihat dari atas, akan didapati corak yang indah. Itulah rahasia Tuhan. Di mana tidak dapat terlihat kasat mata oleh makhluk-Nya. Segala sesuatu akan indah pada waktunya. Kita hanya perlu bersabar dan sholat.

Dan minta pertolonganlah pada Allah dengan sabar dan sholat. Sesungguhnya hal itu sulit kecuali bagi orang-orang yang khusyuk (Al Baqarah : 45)

Beberapa bulan yang lalu aku membawa orangtuaku ke Tangerang. Rumah yang aku beli di wilayah Tangerang, sementara tempatku bekerja di Jakarta Utara. Cukup jauh, kurang lebih satu jam untuk kendaraan pribadi dan satu setengah jam untuk kendaraan umum. Saat orang tuaku berada di Tangerang, aku merasakan bahagia tak terkira. Aku bersyukur pada Tuhan yang telah memberi kesempatan padaku untuk melihat senyuman mereka. Bagaimana mereka tidak bahagia, aku belum genap dua tahun bekerja tapi sekarang sudah memiliki rumah. Walaupun masih kredit tapi mereka sangat percaya aku mampu mengatur keuangan untuk melunasi kreditku.

Setahun pertama aku bekerja, gajiku hanya 1,8 juta. Dan baru 6 bulan menikmati gaji pegawai, sekitar 5 juta. Eh bulan depannya sudah dipotong cicilan kredit 2.7 juta. Menurut Ilmu ekonomi manajemen, komposisi keuangan seperti itu tidaklah sehat. Kredit itu maksimal 1/3 gaji yang kita terima. Sungguh benar-benar nekad. Padahal ide membeli rumah hanyalah karena aku sakit hati dengan apa yang tengah terjadi di tempat kerjaku.

Saat itu ada lomba K3 yang diadakan oleh kantor pusat di Surabaya, lomba ini diadakan bulan Maret. Beberapa bulan sebelumnya aku lah kandidat lomba cerdas cermat. Kupikir, cukup asyik bisa pulang kampung selama 3 hari. Namun tanpa pemberitahuan, namaku dicoret. Alasannya karena aku sedang menangani proyek. Padahal jadwal tanggal itu aku free. Sudah dua bulan, Januari dan Februari aku tidak dikirim untuk menghadiri rapat di wilayah timur. Padahal biasanya aku yang dikirim, benar-benar membuatku emosi. Itulah asal mengapa aku membeli rumah. Kupikir, jika aku rindu kedua orangtuaku aku hanya tinggal mengirim uang untuk transportasi mereka dan mereka bisa menginap agak lama di rumahku. Sedangkan kalau menunggu aku pulang ke wilayah timur itu belum pasti, apalagi hanya bisa beberapa hari saja.

Kini, masih terasa sunyi. Hampir saja aku berteriak untuk memecah kesunyian ini. Namun aku hanya mampu merasakan tangisan hatiku. Entah mengapa yang ada di benakku hanya sosok sepertinya. Kali ini aku benar-benar butuh dirinya. Padahal sudah berapa kali aku meninggalkan kehidupannya. Dan kini Tuhan memberi kesempatan kepada kami untuk berjumpa kembali. Aku benar-benar sangat membutuhkannya. Namun aku tak bisa mengungkapkan semua ini. Mungki hanya hati ini yang sangat merasa. Bahkan aku selalu berdoa pada Tuhan  untuk keselamatannya.

Bagiku, kehadirannya adalah hal yang luar biasa. Ketika hatiku begitu lelah dengan berbagai masalah di kehidupan ini, dia datang. Serasa membawa kado seuntai senyum, setiap pagi kurasakan harapan baru. Lalu, apa yang mesti aku lakukan? Bahkan bicara dengan hatiku pun aku tak mampu. Aku merindukan kehadirannya namun tak tahu bagaimana membuatnya hadir di depanku.

Namun kisah itu berakhir juga. Dia pergi meninggalkan kehidupanku begitu saja. Masih terasa perih akan kenangan yang telah ada antara kami. Sembilan bulan kucoba untuk menegarkan hatiku bersamanya. Namun dia memilih yang lain, wanita yang telah membuat hatiku luluh lantak. Semua harapanku menghilang. Semua impianku lenyap. Bagaimana aku mampu menghadapi ini semua. Sungguh, sangat menyiksaku. Setiap kali aku memasuki rumah, setiap kali aku melihat bayangannya  di sana.

Ya Rabb, sungguh hamba tak sanggup menghadapi ini semua. Hatiku ini terlalu rapuh untuk menghadapi goncangan seperti ini. Hatiku ini terlalu lemah untuk bertahan. Sungguh, hanya Engkau yang mampu menghapus kepedihan hati ini. Hanya Engkau yang mempu membuatku tersenyum menatap sang fajar.

Kucoba kembali menata diriku. Hatiku masih merasakan sakit itu. Diriku masih sering dihempaskan emosi. Terasa airmata ini tak berarti. Diriku kembali di pusara kesunyian. Merasa terabaikan. Ya Rabb, bagaimana aku bisa bertahan? Berikan petunjukMu. Sungguh aku lemah tanpaMu.

September 2012

Ini sudah memasuki bulan keempat pernikahanku. Padahal, tak pernah sedikitpun aku menyangka bisa menikah di tahun 2012. Sungguh, rezeki dan jodoh benar-benar di tangan Allah. Bersyukur karena Allah anugerahkan suami yang sabar bagiku. Terlalu sering dia menenangkan hatiku. Semoga Allah selalu melindunginya.

Kini, tak lagi aku menangis menantikan kehadiran lelaki sempurna. Karena bagiku, suamiku adalah lelaki tangguh yang merelakan dirinya untuk menikahiku. Suamiku adalah imam yang akan membawa kami menuju surga Allah. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan berkahnya bagi kita semua. Aamiin yaa Rabb…

Pagi ini kutatap sang fajar seraya tersenyum. Ya Allah, terima kasih atas kebahagiaan yang telah Kau beri padaku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar