
Aku sama sekali tidak tahu apa yang kini tengah Mas rasakan. Aku sungguh merindukan kehadiranmu. Apakah salah jika ternyata hatiku telah memilihmu. Apakah salah jika ternyata aku tak bisa melupakanmu. Biasanya tiap malam Mas menanyakan kabarku, menanyakan apa saja yang telah kulakukan seharian. Tapi saat ini Mas tiba-tiba menghilang. Aku tak tahu apa yang Mas pikirkan. Apakah telah ada wanita lain didekat Mas?
Mas, selama delapan tahun sejak pertemuan kita. Jujur aku masih sangat menyayangimu. Meski aku kerap meninggalkanmu, namun hatiku telah berjanji suatu saat nanti akan menemanimu. Mungkin janji ini hanya terucap dalam hati. Saat itu aku tak bisa mengatakan betapa aku sangat ingin mendampingimu. Mungkin mataku telah terpancar rasa sayangku, hingga mereka yang mampu meyakinkan, aku tak bisa tanpamu.
Mas Agung, jangan pernah meninggalkanku. Berulang kali kita telah berpisah Mas. Aku kerap menangis, aku sangat merindukanmu.
1 Desember 2003
Awal pertemuan denganmu. Mas menyapaku. Aku sudah menyembunyikan identitasku sebagai siswi SMA terfavorit di Surabaya, namun Mas masih mengenaliku sebagai salah satu siswi akselerasi. Saat itu aku sangat mengagumi cara Mas menatapku. Mungkin hatiku sebenarnya telah jatuh hati saat pertama bertemu denganmu. Namun logikaku menolak akan adanya rasa suka yang timbul saat pertama bertemu. Love at the first sight is impossible, right?
15 April 2004
Aku memegang kertas ulangan Fisika kelas IPA 1. Entah mengapa justru yang kupegang adalah kertas ulangan Mas Agung. Saat itu aku baru tahu nama lengkap Mas Agung. Sikap cuek Mas Agung terkadang membuatku kesal, namun Mas Agung belum juga menyadarinya.
8 Juni 2004
Sewaktu pulang bimbel, aku melihat Mas Agung berboncengan dengan cewek SMAN 2. Jujur saja, ada rasa cemburu di dalam hatiku. Wanita itu berjilbab dan sikapnya memang sangat ramah. Tapi tak tahukah Mas, aku benar-benar resah melihatmu bersamanya. Saat aku berbincang dengan wanita itu ternyata dia juga pernah jalan bareng sama kakak kelasku. Apa Mas Agung tidak tahu itu? Bukankah lebih baik jika Mas Agung percayakan putra-putrinya Mas lahir dari wanita yang cerdas, yang bisa mendidik putra-putrimu menjadi orang yang cerdas pula. Mengapa mesti wanita SMAN 2 jika ada wanita SMAN 5?
30 Juni 2004
Tak terasa kebersamaan kita harus berakhir juga. Setiap hari selasa dan jum’at kita bertemu di lembaga bimbingan belajar tak jauh dari sekolah. Aku dan Mas Agung sangat kompak. Meskipun tidak pernah duduk bersebelahan, namun kita selalu memiliki jawaban yang saling menguatkan, terutama saat tentor biologi menjawab soal dengan jawaban yang salah. Ingatkah Mas, bahwa kita sangat menyukai biologi. Sempat aku berpikir mungkin kita memang cocok untuk melanjutkan sekolah di bidang kedokteran.
Untuk fisika Mas memang lebih jago dalam bidang mekanika. Sementara aku sama sekali tidak bisa mekanika. Gerak para bola, keseimbangan, momentum atau apapun itu, Mas-lah tempatku bertanya. Pernah suatu ketika Mas menanyakan soal tentang listrik. Aku tak yakin bisa menjawabnya. Namun Mas malah marah dan menyuruhku untuk melihat soalnya dulu baru bilang bisa atau tidak bisa. Menyerah, kulihat soal itu. Aku masih ingat betul itu soal dari buku Bob Foster yang sebenarnya sudah ada jawabannya hanya saja tidak ditulis caranya. Ternyata aku bisa menjawabnya. Mas tersenyum dan hanya bilang “tuh kan bisa”, Mas menutup buku dan tanpa peduli jawaban yang sudah kutulis dalam secarik kertas. Rasanya itu pelajaran berharga dalam hidupku. Terkadang aku merasa tidak mampu namun sebenarnya aku bisa, dan orang lain bisa melihat itu semua. Terima kasih Mas Agung.
Hari pendaftaran SPMB, Mas sempat menawarkan aku untuk ikut SPMB. Padahal Mas tahu aku sudah diterima di jurusan Teknik Mesin ITS. Mas Agung ingin sekali aku satu jurusan dengan Mas. Biar bisa ngerjakan TA bareng, katamu. Saat itulah dengan tidak sengaja aku berjanji akan menemanimu tapi bukan saat ini. Kau kecewa, aku juga kecewa. Entah mengapa hatiku tak bisa melepasmu. Saat itu malah aku ingin menjadi pacarmu, suatu hal bodoh yang pernah aku pikirkan.
Harusnya dulu aku jujur padamu, Mas. Sebenarnya aku juga merasa enggan untuk meneruskan kuliah di jurusan teknik Mesin. Mas sendiri tahu bagaimana kemampuanku di bidang mekanika, NOL BESAR. Rasanya aku ingin menangis. Tapi itulah satu-satunya harapan agar aku bisa meneruskan sekolah. Aku bukan dari golongan orang kaya, Mas.
Januari 2005
Mas Agung … lama sudah aku tidak bertemu dan mataku seakan tak percaya melihatmu berada di depanku. Saat itu, kita bertemu di Bursa Mesin. Mas Agung mau fotokopi beberapa lembar kertas. Mas Agung menanyakan kabarku. Mas Agung juga tanya mungkin aku mau pindah jurusan. Aku benar-benar tak tahu apa yang mas pikirkan saat itu. Apa Mas masih berharap aku berada selalu di samping Mas?
Saat itu aku menjawab, aku sudah kerasan berada di jurusan teknik Mesin. Lagipula IPK-ku masih di atas tiga. Mas tersenyum dan beranjak pergi dariku. Ingin rasanya aku mengejarmu, ingin rasanya aku jujur mengapa aku mesti mengorbankan diri untuk bersekolah di juurusan yang aku sama sekali tidak ada minat. Ini terpaksa, Mas. Ini sama sekali bukanlah mimpiku.
Sejak saat itu aku hanya mengetahui kabar tentang Mas lewat cerita beberapa teman Elektro. Aku merindukan Mas Agung, aku merindukan kebersamaan kita. Sebenarnya bahkan aku memiliki nomer ponselmu, yang saat itu sama denganku memakai operator starone. Namun jangankan telpon, sms saja aku tidak berani. Mas sempat mencalonkan diri menjadi kahima. Saat itu aku hanya berdoa semoga Mas Agung mendapat yang terbaik. Andai saja bisa kukatakan pada semua orang, betapa hebatnya lelaki yang kukagumi ini. Ternyata aku memang benar-benar tidak bisa melupakanmu.
5 Agustus 2005
Kupikir jika kampus kita berdekatan kita masih sering bertemu, ternyata aku salah. aku dan Mas Agung makin jauh. Aku benar-benar sedih Mas.
2 Juni 2007
Bulan Mei kemarin Mas Agung mengikuti pemilihan calon Kahima Elektro. Aku mendoakan semoga Mas Agung mendapatkan yang terbaik dari-Nya. Aku tahu Mas Agung cerdas dan bisa membagi waktu antara kuliah dan organisasi. Namun Mas Agung belum terpilih menjadi Kahima. Pastinya Allah punya rencana yang lebih baik untuk Mas Agung. Walaupun begitu aku tetap bangga akan Mas Agung. Can you see how great this man?
Februari 2009
Sudah saatnya aku beranjak pergi dari kampus. Aku telah membuang waktu satu semester untuk menyelesaikan TA-ku. Aku tahu saat itu Mas sedang sibuk persiapan membuat TA. Aku mendengar cerita teman Elektro bahwa TA Mas Agung lumayan berat.
Tak disangka aku bertemu dengan Mas Agung. Kali ini kita bertemu di Bursa Elektro. Mas menatapku membawa berkas kelengkapan wisuda, memberikan selamat padaku. “Adek sih enggak mau nemani aku kuliah di Elektro, TA-ku belum kelar ini” kata Mas Agung. Seandainya Mas tahu betapa lukanya hatiku saat itu. Aku benar-benar masih berharap bisa mendampingimu, namun aku tak tahu harus berkata dan berbuat apa.
Februari 2011
Aku mengetik nama Mas Agung di kolom pencarian facebook. I’ve found you, and I still can’t believe. Mas Agung tinggal di Tangerang. Bukankah dulu kita sama-sama membenci Jakarta. Aku sangat senang, perasaanku sangat tenang. Walaupun sebenarnya pada bulan Januari kemarin aku sempat terpukul atas batalnya acara ta’arufku.
6 Februari 2011
Aku sengaja minta nomer ponsel Mas Agung. Karena kupikir tak mungkin Mas Agung masih menggunakan nomer starone. Padahal aku juga masih menyimpan nomer Mas Agung yang starone. Lewat message facebook Mas memberikan nomer ponsel yang baru dan Alhamdulillah ternyata kita satu operator yaitu IM3
Aku masih sibuk mengurus pembelian rumah. Ketika Mas Agung hadir di tiap malamku lewat sapaan sms. Tahukah, Mas-lah yang menguatkan aku ketika aku rapuh. Mas yang membuatku tersenyum ketika aku menangis. Alasan mengapa aku membeli rumah, karena jika aku pulang ke Surabaya paling lama hanya beberapa hari. Jika aku memiliki rumah di daerah sekitar Jakarta maka aku bisa membawa orangtuaku berlibur dan bisa bertemu mereka lebih lama. Jadi sama sekali tidak ada kepentingan untuk bersikap sok jagoan di hadapan kaum Adam.
April 2011
Aku begitu terkejut melihat perhatianmu padaku Mas. Awalnya kupikir tidaklah mungkin Mas Agung bisa ada hati untuk wanita sepertiku. Mungkin perkiraanku salah. Kenyataannya hatiku makin tenang saat Mas ada. Mas mengatakan akan libur ke Surabaya tanggal 22, 23 dan 24 april dan bertanya padaku apa aku akan pulang juga. Kukatakan aku belum bisa pulang, masih ada urusan di Jakarta yang perlu dibereskan. Aku masih merahasiakan tentang pembelian rumah di daerah cipondoh makmur.
Ternyata tanggal 15 April aku ada acara di kantor pusat. Ada rapat pra alokasi energy yang mesti kuhadiri. Biasanya ada dua orang yang dikirim ke rapat seperti ini, namun kali ini aku mesti jalan sendiri. Perusahaan tempatku berkerja sedang melakukan penghematan sppd. Apapun itu, aku tetap senang bisa sambang ke rumah Surabaya. Bukankah sudah lama aku nantikan. Setelah lebih dari tiga bulan kesempatanku untuk dinas ke Surabaya gagal. Akupun mengatakan kepadamu perihal dinas luarku yang mendadak ini.
Sesampai di bandara Juanda kunyalakan HP dan sms yang pertama muncul adalah darimu. Seandainya Mas Agung bisa melihat betapa sumringah parasku. Aku sangat bahagia, Mas. Semua perhatianmu, semua rasa pedulimu membuat aku merasa sangat berharga. Aku tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Tahukah Mas, aku tak pernah memiliki kisah cinta sebelumnya. Mungkin aku terlalu takut untuk terluka. Tapi kenyataannya aku malah ingin selalu Mas Agung ada dalam hidupku.
22 April 2011
Mas Agung pulang ke Surabaya sementara aku dan temanku dari Gresik asyik berjalan-jalan di Ragunan. Itu pertama kalinya aku ke Ragunan, ternyata kebun binatang itu jauh lebih baik daripada kebun binatang di Surabaya. Aku sempat menanyakan apa Mas Agung sudah sampai di Surabaya. Namun Mas menjawab pesawatnya delay selama 3 jam dari jadwal awal yaitu jam 08.00 WIB. Well, I can’t far from you, right?
Mei 2011
Setiap malam aku kerap menunggu sms dari Mas Agung. Sambil membaca Al Qur’an di pojok kamar kosku, sesekali aku melirik layar monitorku. Biasanya sekitar pukul 20.00-21.00 WIB sms darimu datang. Walaupun hanya sekedar bertanya “pa kabar?” atau “halo” namun itu cukup membuatku bersemangat. Mas, apa aku telah jatuh hati padamu. Seraya seluruh alam memandangku dengan tatapan aneh, ya…aku telah menaruh hati atas setiap perhatianmu.
16 Mei 2011
Aku masih menonton TV di ruang keluarga. Ketika sms dari Mas menghampiri Hp-ku. Kulihat jam terima sms tersebut 17:01 WIB. Tidak biasanya Mas Agung mengirim sms jam segitu. Dan yang paling membuat aku terkejut adalah isi sms tersebut
Kalau ak maen k kosmu jg g bisa
Serius? Tanyaku dalam hati. Bagaimana aku tidak bahagia Mas. Selama ini kita hanya salaing bertukar sms dan saat ini Mas ingin bertemu denganku. Aku mungkin sudah tidak seperti dulu lagi Mas. Berat badanku terus bertambah. Jantungku berdegup kencang. Namun kucoba netralkan suasana hatiku.
Emg berani maen ke Jkt? Ntar nyasar loh…
Lama tak ada jawaban darimu. wah, bisa jadi Mas Agung marah. Mas Agung kurang begitu bisa dicandain.
Kalo g mau ngasi tau ya gpp. Thx
Bener deh, Mas Agung marah padaku. Entah mengapa aku bisa membayangkan parasmu saat agak marah dan ada rasa takut dalam hatiku. Akhirnya kubalas dengan memberikan alamat dan jalan menuju tempat kosku di Jakarta Utara.
Ntar kl aku nyasar jemput ya
Aku tertawa kecil melihat sms balasan darimu. Dan besok mungkin adalah hari pertama aku bertemu dengan Mas Agung setelah lebih dari dua tahun tidak berjumpa. Bukankah terakhir kita bertemu pada saat aku akan diwisuda, sekita Maret 2009.
17 Mei 2011
Waktu terasa begitu lambat bagiku. Menunggu sms kepastian kedatangan dari Mas Agung. Pagi ini sengaja aku menuju ke pasar tradisional di Muara Angke untuk membeli kue. Mas tentunya masih ingat aku pernah janji akan memberi kue saat Mas menderita sakit typhus akhir bulan April lalu. Nah ini saatnya aku menepati janjiku. Aku membeli 3 kue ukuran besar. Kue pertama aku berikan pada teman kerjaku yang tinggal di pasar Muara Angke. Rumahnya kecil, namun isteri dan anaknya terlihat sangat tenang tinggal di dalamnya. Aku jadi trenyuh melihatnya. Teman kerjaku tadi hanya karyawan koperasi, dengan gaji yang menurutku belum layak. Namun temanku tadi punya semangat hidup yang tinggi. Dia bangga dengan rumahnya yang walaupun kecil tapi tidak ngontrak. Subhanallah.
Kue yang kedua untuk keluarga ibu kost. Tahukah Mas, mereka mengira itu hari ulangtahunku. Padahal kan aku ultah bulan Januari. Mas Agung tentunya ingat karena Mas sempat menulis met ultah di wall facebook-ku. Sebenarnya aku ingin membalas ucapan selamat itu, namun aku sudah lama tidak menulis status atau komentar pada facebookku, jadi kubiarkan begitu saja. Tapi satu kalimat itu saja cukup membuatku merasa senang.
Hingga pukul 08.00 WIB tidak ada kabar tentangmu. Entah mengapa aku takut Mas Agung tidak bisa datang. Bukankah Mas Agung sangat banyak pekerjaan di kantor. Kucoba beranikan diri menanyakan apa Mas Agung jadi ke Jakarta. Mas menjawab sekitar pukul 10.00 WIB Mas Agung berangkat dari rumah. Sempat hatiku bertanya apakah kiranya yang membuat Mas Agung mengundurkan waktu pertemuan kita. Atau mungkin malah aku yang sebenarnya tidak sabar menunggu bertemu denganmu, Mas.
Sekitar pukul 12.00 WIB aku menuju halte busway pluit. Aku tahu Mas Agung sedang berada di mal Pluit. Bergegas aku menuju ke dalam mal. Suasana mal yang dingin ternyata tidak mampu menenangkanku. Hatiku bertanya-tanya seperti apakah pertemuan ini nantinya. Aku benar-benar tak bisa mengendalikan diriku. Buncahan bahagia jelas akan terlihat dari parasku, apalagi mataku yang tak pernah bisa berdusta.
Aku melihat Mas turun dari tangga lift. Sejenak kualihkan pandanganku ke tempat yang lain. Aku tak mau terlihat sangat amat bahagia di depanmu. Aku malu, Mas. Dan bahkan sampai detik itu aku tak tahu apa yang akan kulakukan atau yang akan kutanyakan padamu. Ini pertama kalinya aku janji bertemu laki-laki yang bukan muhrimku. Hanya saja aku percaya kau orang yang amanah, jadi tidak ada satu kekhawatiranku padamu.
Kita berjalan. Ya berjalan, bukannya naik bajaj. Padahal aku tahu jarak antara mal pluit dan kos cukup jauh. Tapi aku masih tak mau duduk berdua denganmu. Aku mengajakmu berjalan menyusuri perumahan menuju tempat kerjaku. Sampai di tempat penjual siomay aku berhenti sejenak. Kutawari Mas makan siomay, Mas mengangguk dan saat itu Mas mentraktirku. Saat itu memang aku belum makan dari pagi. Rasanya tidak lapar, keterlaluan ya Mas… mungkin suasana hati yang senang membuat enzim di lambungku bekerja tak seperti biasanya.
Mas mengeluh tentang teriknya matahari siang di Jakarta. Kubilang manja banget. Mas hanya tersenyum menatapku. Kuperlihatkan kantorku yang berjejer cerobong. Kita berjalan menuju kosku. Dalam perjalanan kita mampir di Masjid raudhatul Jannah. Biasanya masjid itu sepi tapi entah ada kunjungan darimana sehingga masjid itu ramai sekali. Kita menunaikan solat dhuhur munfarid, karena sudah lewat dari jamaah.
Sesampainya di tempat kos. Aku sama sekali tidak berani menyuruh Mas Agung masuk rumah. Kondisi saat itu di rumah hanya ada ibu kos dan anak putrinya. Sementara anaknya yang laki-laki sedang ke luar rumah. Mohon maaf, menyuruh Mas duduk di beranda. Malahan Mas Agung memilih duduk di lantai. Aku jadi tidak enak hati. Saat itu Mas ceritakan pekerjaan Mas sambil makan siomay.
Tak berapa lama ibu kos menegurku dan menyuruh Mas masuk ke rumah. Akhirnya kita berbincang di ruang tamu. Leluasa aku melihat Mas bercerita. Serasa mengingatkanku akan beberapa tahun lalu. Di mana aku dan Mas saling berdiskusi pelajaran di lembaga bimbingan belajar.
Dua jam, namun semua terasa singkat … Mas Agung akhirnya mohon diri untuk pulang. Setelah mohon diri dari ibu kos, aku mengantar Mas sampai jalan raya dan memberhentikan sebuah bajaj. Satu hal yang tidak aku lupa saat kita berjalan meninggalkan rumah kos. Satu hal yang sering membuatku tersenyum sendiri saat mengingatnya.
“Coba tebak kemaren aku pulang kerja jam berapa?” kata Mas Agung
“Jam sebelas malam” jawabku asal saja
Mas Agung tersenyum dan mengatakan bahwa Mas baru pulang kerja tadi pagi jam delapan.
21 Mei 2011
Supervisor rendalku berbaik hati memberiku tiket pulang ke Surabaya untuk menghadiri pernikahan rekan kerjaku. Sebenarnya akhir bulan ini aku sudah ada rencana untuk menempati rumah di cipondoh. Setelah sekian lama pengurusan surat di notaris, akhirnya surat-surat tersebut sudah resmi balik nama.
No day without you … mungkin itu kalimat untukku yang benar-benar sudah kecanduan untuk selalu ber-sms-an dengan Mas Agung. Mas sempat tanya aku naik apa ke Mojokerto. Kujawab aku akan dijemput general manajerku untuk sama-sama menuju tempat resepsi. Benar-benar rezeki, karena sehari sebelumnya aku merasakan naik mobil berplat UJA (cita-citaku untuk naik mobil punya GM) lalu GM-ku menawari untuk pergi ke nikahan rekan kerjaku bersama dia.
Sepanjang perjalanan dari Mojokerto ke Surabaya aku mengirim sms untuk Mas Agung. Kulihat jam di ponselku menunjukkan pukul 21.00 WIB
Siapa yang nikah? Belum tidur?
Kujelaskan pada Mas Agung bahwa yang menikah adalah kakak dari Rossi, teman kuliah Mas Agung. Mas juga sempat bertanya apakah aku makan banyak di resepsi. Mas Agung mengingatkan aku akan diet yang kujalani selama ini. Kutanya mengapa sampai malam Mas agung belum tidur.
Gara2 km sms-an
Tapi akhirnya Mas Agung ngaku juga kalau sedang main game. Entah mengapa Mas Agung tidak merasa capek padahal seharian ini Mas kerja.
22 Mei 2011
Hari ini balik ya? Tadi malem rame?
Uda nyobain apa saja di resepsinya?
Ada apa saja? critain dong
Kulihat message tersebut diterima pukul 11.08 WIB. Kukatakan pada Mas bahwa aku balik ke Jakarta naik kereta, dan kereta Anggrek baru berangkat dari stasiun pasar Turi pukul 20.00WIB.
25 Mei 2011
Aku memberitahukan pada Mas Agung bahwa aku akan pindah ke Cipondoh Tangerang. Mungkin Mas Agung lupa saat berkunjung ke kosku beberapa hari yang lalu aku mengatakan akan pindah dari kos.
Bukannya malah lbh jauh dari tempat kerja?
Sebenarnya aku dapat amanah dari ibu untuk mengundang Mas Agung datang ke syukuran rumah di Cipondoh, namun aku belum punya kata-kata yang tepat untuk mengundang Mas. Apalagi sampai bertemu dengan kedua orangtuaku. Justru yang tidak siap atas pertemuan ini adalah aku. Ibu sangat ingin tahu tentang Mas Agung. Bahkan sewaktu di Surabaya, aku sempat menunjukkan album foto SMA di mana ada Mas Agung di sana.
Sore ini Ibu dan Bapakku datang dari Surabaya. Karena aku masih menginap di kos maka aku serahkan tugas jemput ke saudaraku yang rumahnya tak jauh dari Bandara Soekarno-Hatta. Wah rasanya tak sabar bertemu kedua orangtuaku, padahal baru tiga hari lalu aku pulang dari Surabaya.
26 Mei 2011
Kucoba sms Mas Agung memberitahu secara perlahan acara syukuran rumah. Awalnya aku mau merahasiakannya. Namun aku berpikir, takkan ada bedanya jika diberitahukan saat ini atau nanti.
Nggak da lembur, woi ada acara apa? Lamaran ya?
Aku tertawa kecil melihat reaksi berlebihan dari seorang Mas Agung. Dulu sewaktu aku nanya angkot menuju Kisamaun Tangerang dibilang mau ta’aruf.
Syukuran apa nih? Rumah baru ya? Klo eka ga bilang aku ga dateng wes
Akhirnya kubuat perjanjian, jika aku memberi tahu Mas Agung even apa, dia janji harus datang.
Ak usahain ya, alamatnya?
Seandainya saja Mas Agung tahu apa yang paling membuatku gelisah. Aku sudah mendapat pelukan dari ibu, sesuatu yang sangat menenangkanku. Aku sudah melihat senyum bapakku. Nampak lelah karena setengah hari membersihkan rumah. Aku benar-benar keterlaluan, rumah masih dalam kondisi kotor tapi aku malah asyik bekerja.
Oh ya, aku gelisah karena aku tak tahu apa yang akan terjadi saat Mas Agung hadir diantara keluargaku. Acara syukuran berjalan lancar. Surat Yaasin dan Al Waqi’ah pun dibacakan oleh ibu-ibu pengajian. Alhamdulillah, kedua surat itu aku pun hafal. Aku merasakan pandangan dari ibu-ibu kepadaku. Aku jadi merasa malu.
Usai pengajian, aku malah merasa gelisah campur bahagia. Aku gelisah karena takut reaksi bapak yang tidak bersahabat. Aku senang karena akan bertemu Mas Agung. Pukul 19.56 WIB sebuah message tertera di layar HP-ku.
Ak brgkt k rmhmu ya
27 Mei 2011
Assalamualaikum. Gmn kabar? Terimakasih ya bungkusannya kmrn. Sesuai pesan uda kukasi ke teman2 kos paginya. Weekend ngajak bapak ibu ke mana?
Habis ngobrol ama ortumu, ak jd ingat bapak ibu di rumah. Hiks2x…jadi pingin pulang ktm mereka
Hampir setiap jam kudengar semangat bapak mengulang kembali pembicaraan dengan Mas Agung tadi malam. Baru kali ini dia terlihat sangat senang sekali. Entah mengapa dia tidak antagonis atas kehadiran Mas dalam kehidupanku. Ibu terlihat sangat menyukai Mas Agung. Satu kekhawatiran dalam hatiku, aku takut membuat mereka kecewa. Andai saja bisa kukatakan pada Mas Agung seberapa sayangnya mereka pada Mas. Seandainya saja mampu kukatakan pada Mas Agung seberapa besar harapan mereka atas diri Mas.
Satu hal yang Mas tidak sadari. Saat kita sama-sama membenci Jakarta, namun ternyata kita dipertemukan di Jakarta. Tentunya ini bukanlah suatu kebetulan. Semua rahasia ini sudah ditetapkan Allah dalam Lauhul Mahfudznya. Pasti ada hikmah di balik setiap kejadian ini.
29 Mei 2011
Emg uda beli TV ya?
Mas, ternyata aku memang tidak bisa meluangkan satu haripun tanpa kehadiranmu.
D rmh baru masaknya gmn? Trus ibu bapak makannya gmn?
Kujawab masih beli lauk di luar rumah. Belum ada kompor di rumah. Lalu aku minta belikan Mas Agung kompor.
Maunya? Mosok beli rumah bisa, bl mio bisa, bl sendok piring kompor blm bisa?
Aku tersenyum melihat apa yang Mas tulis di sms. Memang aku sudah punya kendaraan sendiri. Namun aku belum melengkapi isi rumah karena masih ada renovasi saluran air. Rumah masih sangat berantakan. Aku sendiri jika melihat sesuatu yang berantakan bisa pusing. Maka dari itu orangtuaku masih berada di Tangerang sekitar dua minggu sampai urusan rumah beres. Kuajukan pertanyaan standar apa Mas Agung sudah makan mala mini.
Belum, Makan yuk.
Mas benar-benar tidak tahu ya… setiap sms yang Mas kirim cukup membuat hatiku dag dig dug tidak karuan. Mungkin itu terlalu berlebihan ya….
Makan bersama, km makan d rmh, ak makan di kos-an.
4 Juni 2011
Hari ini ada undangan nikahan dari putri rekan kerjaku, di Kotabumi Tangerang. Sebenarnya aku sudah lupa undangan tersebut, jika bukan diingatkan oleh supervisor listrik yang tinggal di depan rumah. Undangan itu pukul 11.00 WIB dan sekarang pukul 09.00 WIB. Aku tersenyum manja kepada kedua orangtuaku yang masih sekitar lima hari di Tangerang.
“Kenapa Nak?” tanya ibu
“Boleh aku ajak Mas Agung?” tanyaku balik
Seraya menatap kearah Bapak. Sungguh, aku masih takut Bapak bersikap kontra terhadap kehadiran Mas Agung. Namun Bapak tidak berkomentar apapun. Dengan ragu kucoba menulis sms pada Mas Agung. Awalnya aku bertanya apakah Mas Agung hari sabtu ini libur. Biasanya Mas agung lembur, dan jarang sekali weekend dalam kondisi free from job. Lalu aku menceritakan tentang undangan pernikahan anak dari rekan kerjaku. Kukatakan bahwa pasti nanti yang datang ke acara itu Bapak-Bapak, tidak ada teman-teman seusiaku yang datang. Jadi aku sangat berharap Mas Agung menemaniku.
Jam brp?
Ok. Tak siap2. Jam 11.30 nyampe rumahmu
Unbelievable…Mas Agung akan datang dan menemaniku ke acara nikahan. Aku tak pernah berpikir bahwa Mas Agung mau menemaniku, apalagi di acara yang sacral. Bukankah nanti di sana akan ada teman-teman kerjaku.
Sungguh, aku salah tingkah di depan kedua orangtuaku. Tanganku dingin, jantungku berdetak dengan ritme tak tentu. Mungkin sangat terbaca oleh mereka, rasa bahagia sekaligus kekhawatiran. Bukannya undangannya pukul 11.00 WIB? Aku tidak enak hati juga dengan supervisorku.
“Gimana sudah siap?” tanya supervisorku
“Bapak, bisa nunggu sepuluh menit lagi. Teman saya mau ikut” ucapku ragu.
“Teman yang ngekos di Pengayoman?” tegur istri supervisorku yang tampak anggun dengan busana warna krem.
“Iya Bu” jawabku tersipu.
“Yang waktu syukuran rumah dia datang juga kan?” lanjut wanita yang sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri,“Teman istimewa ya?”
Aku tertunduk, “Insya Allah…”
Aku sudah menceritakan sebagian kecil tentang Mas Agung pada mereka. Mas Agung adalah senior sewaktu SMA. Bertemu di sebuah lembaga bimbingan belajar, kami akrab karena sering diskusi soal bersama.
Akhirnya Mas Agung datang juga. Tepat sesuai perkiraan. Kami menunggu hampir setengah jam. Mobil supervisor sudah dipanasi setengah jam lalu. Aku malu pada supervisor dan isterinya. Tapi mereka tampak senang juga melihatmu datang.
Andai saja kau tahu mengapa aku malah terdiam menatapmu. Seolah semua ini mimpi bagiku. Kehadiranmu dalam kehidupanku adalah hal yang tak pernah aku perkirakan sebelumnya. Kebahagiaan yang tiba-tiba menghampiri hidupku. Ketenangan yang kurasakan saat Mas Agung selalu ada.
“Nyasar Mas?” tanyaku seraya melihat Mas Agung melepas helm dan jaket.
“Enggak” jawab Mas seraya tersenyum.
Kedua orangtuaku menyambut Mas Agung dengan senyuman termanis yang mereka miliki.
Di mobil, Mas duduk di sampingku. Entah mengapa aku seakan kehabisan kata-kata. Bahkan bertanya bagaimana kabar saja aku tak bisa. Akhirnya Mas Agung yang punya inisiatif mengajak supervisorku untuk berbincang mengenai pelebaran jalan serta pemilu walikota Tangerang. Lalu bicara tentang motor. Aku bersyukur dalam hati. Jujur saja, hatiku terus bertasbih dan beristighfar untuk menenangkan diri. Aku benar-benar tak tahu apa yang aku rasakan. Aku merasa senang, tenang dan malu saat Mas Agung ada.
Sulit sekali menemukan tempat resepsi. Mas harus bolak-balik keluar masuk mobil untuk bertanya pada orang letak tempat resepsi berdasarkan peta di undangan. Pukul 13.00 WIB barulah tiba di tempat resepsi. Sesampai di tempat resepsi Bapak-Bapak tampak melihatku dengan pandangan yang tak biasa. Karena kini aku bersama dengan Mas Agung. Mas Agung bersalaman dengan mereka. Sungguh, saat itu aku benar-benar tak habis pikir. Mas terlihat begitu nyaman masuk dalam kehidupanku. Mas terlihat tenang bergabung dengan rekan kerjaku. Aku merasa sangat bangga bersama dengan Mas Agung.
“Mas…ini loh cicipin kambingnya…” kata supervisor K3
“Enggak Pak…” jawab Mas Agung
“Kenapa, ga kuat ya?”
“Saya pusing kalau makan daging kambing”
Aku baru tahu Mas Agung ternyata tidak bisa makan daging kambing, Mas juga tidak bisa makan durian. Bersyukur karena Mas Agung suka ice cream, karena aku juga sangat suka ice cream. Mereka pasti berpikir Mas adalah calon suamiku. Wallahu a’lam bis shawab.
Setelah solat dhuhur di masjid dekat tempat resepsi, kita berempat pergi ke festival cisadane. Ada lomba dayung perahu di sungai Cisadane. Aku berjalan dengan Ibu. Mas Agung berjalan dengan Bapak. Wah….ingin sekali jalan bersama Mas Agung. Namun rupanya Mas sudah sibuk berbincang dengan Bapak sembari menikmati es dawet.
Entah aku yang mendekati Mas Agung atau Mas yang mendekatiku sehingga sempat kita membahas tentang listrik prabayar. Mas bilang kalau pegawai PLN tidak pakai bayar listrik. Mana ada seperti itu Mas, listrik saja biayanya sudah disubsidi Negara. Apalagi jika ada yang menikmati secara gratisan, bisa dibayangkan berapa banyak pengeluaran Negara nantinya.
Bapak mengeluarkan kamera. Sekilas kulihat dia sibuk jeprat-jepret suasana di kali cisadane. Lalu tiba-tiba Bapak memberikan kamera ke Mas Agung. Sejenak Mas sibuk dengan kamera itu. Mas Agung menatapku seraya mengalihkan pandangan ke Bapak dan Ibu yang memandangi kali Cisadane. Aku mengangguk pelan.
Mas Agung mengambil foto Bapak dan Ibu. Segera Bapak mengambil kamera dari tangan Mas Agung lalu menyuruh Mas dekat denganku. Semula Mas tidak mau, tapi akhirnya ada juga foto kita berdua.
Sampai saat ini aku belum juga melihat hasil foto itu Mas, masih tersimpan di computer supervisor listrik.
===
17 Agustus 2011
Aku tidak tahu Mas, apa yang mesti aku lakukan. Jujur, terasa sangat sakit di hati ini. Apa Mas tidak pernah berpikir sedikitpun tentangku? Andai saja kau tahu bahwa aku menunggumu terlalu lama.
Lalu, perasaan yang aku alami selama ini apa? Rasa aman, nyaman dan bahagia … aku yakin ini bukan sekedar fatamorgana.
Ya Rabb, aku benar-benar tidak sanggup menghadapi semua ini.
Hati ini masih terasa sakitnya.
Tiap sujud, tiap malam aku hanya bisa menangis.
Aku berdiri di tengah himpitan penumpang busway koridor 8 jurusan Lebak Bulus-Harmoni. Baru saja aku ada acara buka bersama dengan teman-teman SMA, kelas akselerasi. Saat ini jam tanganku menunjukkan pukul 20.45 WIB. Aku merasa sangat sepi. Rasa sakit ini membawaku dalam ketiadaan.
Akselerasi, remember at senior high school, about the promise. that's the reason why we meet after several years lost
Aku pernah berjanji akan menemani Mas Agung, seandainya saja Mas Agung tahu perihal janji itu.
===
Jakarta, 17 Agustus 2011




