
Lelaki itu menatapku teduh. Persis seperti pertama kali aku berjumpa dengannya. Ini baru ketiga kalinya aku bertemu dengannya, tapi aku merasakan jauh lebih mengenalnya. Merasakan ketenangan saat bersamanya. Kini dirinya berada di hadapanku. Matanya menyorotkan kekaguman tak terhingga padaku. Kali ini dia melamarku.
Betapa aku menantikan ini terlalu lama. Akhirnya aku menemukannya. Ataukah dirinya yang menemukanku. Awalnya kupikir sangat berat untuk membuka hatiku kembali, setelah tersakiti. Awalnya kupikir tidaklah mungkin lelaki ini mau mendampingiku. Awalnya kupikir aku tak mampu hadapi semua ini.
Hatiku sangat bahagia. Sujud syukur atas kebesaran Allah. Diantara sekian tangisku, kini dia hadir.
===
Sebulan lalu
“Sendirian Mbak?” tanya Nanang
“Iya Dek”
Lelaki kurus itu menatapku heran, “Mau aku kenalkan senior di tempat kerjaku?”
Aku terdiam. Tak tahu bagaimana menyikapi semua ini. Aku masih merasakan sakit.
“Mbak kan sudah mapan, masa’ gak sepi hidup di rumah sendirian?”
Aku tersenyum pada juniorku saat kuliah di Surabaya.
“Oke…” sahutku
“Aku panggil dia untuk ke sini ya Mbak” Nanang segera sibuk dengan BB-nya
“Agung”
“Eka”
Dan hanya kebisuan setelah dia menyebut namanya.
“Mbak Eka ini wanita hebat loh” sahut Nanang memecahkan keheningan antara kami.
“Sudah lamakah tinggal di sini Dek?” tanya Agung
“Baru lima minggu” jawabku
“Sudah lama kerja di Tangerang?”
“Tempat kerjaku di Jakarta, Sembilan belas bulanlah Mas?”
“Bolehkah aku mengenal Adek lebih dekat?”
Aku mengernyitkan dahi
“Anggap saja ta’aruf”
Nanang menatapku, “Ayolah Mbak, jangan larutkan dirimu dalam kesendirian”
“Insya Allah, kapan Mas?” tanyaku
“Minggu depan” jawab Agung
===
Called : Ardi
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam Mas Ardi. Pa kabar, lama tidak ada kabar?”
“Baik…Ini baru sampai bandara Juanda. Bagaimana kabarmu, Bapak dan Ibu?”
“Alhamdulillah sehat Mas…”
“Kok ramai sekali, suara tetanggamu ya Dek?”
“Bukan Mas… Ini saudara-saudaraku”
“Lebaran bukannya lusa Dek?”
“Ini acara lamaran Mas”
“Lah kamu lagi di rumah saudaramu?”
“Lagi di rumah orangtuaku”
“Lamaran siapa?”
“Ya akulah Mas, siapa lagi. Saudaraku kan cuma satu, cowok pula”
“Kamu dilamar Dek?”
“Iya…alhamdulillah. Akhirnya ada yang percaya aku untuk jadi isterinya”
“Kamu bercanda kan Dek?”
“Yee…urusan seperti ini kok dibuat bercanda”
“Dek… ini nggak beneran kan?”
“Bener kok. Mas tahu nggak siapa yang lamar aku. Agung, teman kantornya Mas”
“Agung Prakoso?”
“Iya, betul Mas”
“Kok bisa?”
“Mas, ini mau mulai acara intinya. Udahan ya…assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”
“Telpon dari siapa Dek?” tanya Agung
“Dari Mas Ardi” jawabku
“Ardi?”
“Ya…teman kantornya Mas Agung. Ardi Anugrah, dia di bagian RSO”
“Adek kenal dia karena dulu satu kampus ya?”
“Senior SMA juga…aku kan sekolah SMA hanya dua tahun”
“Wah…subhanallah”
“Loh memangnya Mas Agung tidak membaca curriculum vitae-ku?”
“Sejak awal bertemu aku sudah merasa mengenalmu, maaf aku tidak membacanya Dek. Tapi aku percaya Adek wanita terbaik yang pernah aku jumpai”
“Tuh ngegombal”
“Serius. Oh ya Ardi juga katanya mau lamaran usai lebaran nanti”
Aku menatap paras calon suamiku. Tidak tersirat canda di sana. Pantas saja Ardi tidak pernah mau membalas sms dan mengangkat telpon dariku, ternyata dia sudah ada calon isteri. Syukur Alhamdulillah aku tidak menantinya dan memutuskan untuk membuka hati. Hingga akhirnya aku bertemu dengan lelaki sesholeh Agung.
Jujur, aku masih menyisakan rasa sayang pada Ardi. Bagaimanapun sebelum kedatangan Agung, Ardi sangat dekat denganku. Bahkan Ardi pernah bertemu dengan kedua orangtuaku dan rekan kerjaku. Aku sempat sangat syok saat Ardi menghilang tiada kabar. Aku menangis dan kepalaku sering merasakan pusing. Mungkin itu pertama kalinya aku jatuh hati dan sekaligus patah hati.
“Kok Ardi nggak ngomong ya ke aku”
“Memangnya Adek kenal dekat dengannya?” selidik Agung
“Lumayan…mungkin karena kami sama-sama berasal dari Surabaya ya Mas”
“Awalnya sih aku pergoki dia pulang malam. Saat itu sudah jam setengah dua belas malam dia baru pulang ke kos, membawa tiga kardus makanan. Dia sih nggak mau ngaku, tapi aku yakin dari situlah kisah cintanya berasal. Calon isterinya itu wanita mandiri, mungkin sama seperti Dek Eka kali ya. Calon isterinya sudah punya rumah di Tangerang. Ternyata ceritanya nanti mirip sama aku, punya isteri yang luar biasa”
Aku mengernyitkan dahi, “Apa dia sering cerita tentang calon isterinya?”
“Enggak juga. Bahkan saat kutanya darimana dia pergi sampai selarut malam, dia hanya menjawab dari rumah baru adekku”
“Adekku?”
“Iya…dia sangat sayang pada calon isterinya. Dia selalu menyebut wanita itu Adek, sekalipun usia mereka tidak jauh berbeda. Toh mereka kuliah di tempat yang sama”
“Kuliah di tempat yang sama?”
“Iya… ah bicara dengan Ardi penuh rahasia”
“Apa calon isterinya orang Surabaya?”
“Sepertinya iya”
“Rencananya dia ingin mengenalkan calon isterinya ke keluarganya lalu melamar wanita itu. Romantis ya…mereka juga tidak pernah pacaran loh Dek. Benar-benar pada nantinya ceritanya akan sama dengan ceritaku”
Otot kakiku terasa lemas. Banyak pertanyaan berkecamuk di benakku.
===
Aku masih penasaran dengan cerita calon suamiku. Kutelpon Ardi.
“Assalamu’alaikum Mas Ardi”
“Wa’alaikumsalam Dek, bagaimana acara lamarannya tadi? Lancar?”
“Alhamdulillah Mas”
“Selamat ya Dek”
“Makasih Mas”
“Beruntung sekali Agung mendapatkan wanita sepertimu”
Entah mengapa rasa sakit itu mendadak muncul kembali. Saat Ardi menghilang dari kehidupanku. Saat itu aku berharap dialah jodohku. Saat itu aku sangat menyayanginya. Bahkan kedua orang tuaku pun sayang padanya.
“Kata Mas Agung, Mas Ardi juga mau lamaran…bener Mas?”
“Terlambat Dek, wanita itu sudah dilamar orang”
“Lah kok bisa Mas?”
“Ya begitulah…mungkin juga salahku membiarkan wanita yang begitu luar biasa jatuh di tangan lelaki lain”
“Kalau memang Mas Ardi sayang sama dia, mengapa menghilang”
“Aku belum mengenalkannya pada orangtuaku, aku takut memberi harapan terlalu lebih pada wanita itu. Rencananya lebaran ini kubawa dia ke keluargaku.”
“Wanita butuh kepastian Mas”
Sejenak hening.
“Nantinya akan diberi oleh Allah seseorang, pengganti yang lebih baik dari wanita itu Mas” kataku
“Dek Eka, sebenarnya wanita itu adalah kamu”
Hampir saja tangisku pecah.
Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahui (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi, dan tidak ada sesuatu yang basah atau kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfudz) QS Al An’am:59Tangerang, 15 Juli 2011