Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba aku memutuskan untuk menikah dengannya
Pesan singkat dari Ranto sudah kubaca berulang kali. Namun
aku masih belum juga menemukan kalimat yang tepat untuk menjawabnya.
===
===
Ranto, adalah sahabatku saat SMA. Teman-teman sekelas menganggap
kami adalah Soulmate. Meskipun kami
tidak pernah menjalin ikatan cinta, tapi tak bisa aku pungkiri sorot mata kami
selalu menyaratkan ada kasih yang teduh.
Ranto, adalah salah satu dari sekian banyak sahabatku yang
menyalahkan pilihanku untuk melanjutkan studi di jurusan Mesin. Sempat dirinya
bertanya apakah aku akan mengikuti SPMB (Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru)
untuk mencari jurusan lain yang lebih pas untuk seorang wanita sepertiku. Namun
jawabanku tidak berubah, aku tidak akan mengikuti SPMB dan aku akan melanjutkan
kuliah di jurusan Mesin. Aku juga sempat melihat kilatan kecewa di matanya.
Namun entah mengapa hatiku masih mantap menjalani kuliah di jurusan yang aku dapat secara
cuma-cuma lewat PMDK (Penelusuran minat dan kemampuan).
Ranto memang sangat kecewa sama seperti sahabatku yang lain.
Dan yang tidak kalah kecewanya adalah aku. Aku selalu bermimpi untuk dapat
kuliah di jurusan Kedokteran. Nilai-nilai ulangan Biologi yang hampir seratus
pun terasa percuma. Toh pada akhirnya aku menyerah kepada takdir yang
menuliskan aku diterima di jurusan Teknik Mesin. Jurusan yang sarat dengan ilmu
fisika-mekanik. Dimana nilai-nilai fisikaku selalu tak lebih dari angka empat
puluh.
Bertahun lamanya aku tidak menghubungi Ranto yang kini
meneruskan kuliah di jurusan Kedokteran. Aku kecewa, lebih tepatnya aku iri
dengan teman-temanku yang notabene anak orang kaya. Mereka bebas memilih tempat
kuliah dimanapun yang mereka suka. Sedangkan aku memilih jurusan Mesin dengan
harapan aku bisa mendapatkan beasiswa. Bukankah di jurusan Mesin kaum wanita
amat sangat minoritas.
Sampai akhirnya aku di wisuda, aku pun lulus dengan nilai
baik di jurusan Mesin tersebut. Beberapa kali aku memang sempat bertukar sapa
lewat pesan singkat dengan Ranto. Tapi tak lebih dari sekedar menanyakan kabar
dan kesibukannya dia di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Ranto sempat mengajakku
untuk bergabung dengan HMI, namun aku menolaknya. Bukan hanya karena aku sibuk
kerja dan kuliah, tapi karena aku juga tidak siap bertemu dengan Ranto. Aku
tidak siap melihat kekecewaan di matanya saat menatapku. Aku tidak siap menatap
sorotan penuh kasih di matanya. Aku tak mau dikasihani. Ini pilihanku, dan
dengan segala konsekuensi aku harus menghadapinya.
Awal bulan Mei, dua
bulan setelah kelulusanku. Sambil menunggu proses melamar kerja kesana
kemari, aku mengajar di lembaga pendidikan yang cukup terpercaya di kotaku.
Suatu saat seperti biasanya aku menanyakan kabar Ranto. Namun hari itu seolah
ada panah menghujam lubuk hatiku yang paling dalam. Ranto mengabarkan bahwa dia
akan menikah. Sebagai sahabat aku mengucapkan selamat padanya dan bertanya
basa-basi perihal calon istrinya. Wanita yang telah merebut hati seorang Ranto.
Wanita yang akan mendampingi Ranto. Seperti apakah bidadari pilihannya itu.
Semua pertanyaan yang akhirnya hanya mampu kukubur lewat tangis. Aku sedang
mengajar sore itu, lalu aku menangis sesenggukan di kamar mandi. Hilang sudah
satu cintaku.
Yang paling parah saat itu adalah ajakan teman-teman sekelas
saat di SMA untuk menghadiri acara pernikahan Ranto di Pasuruan. Bagaimana bisa
aku menyaksikan lelaki yang aku idamkan bersanding dengan wanita selain aku.
Kabar pernikahannya saja sudah menyesakkan jiwaku, apalagi aku harus melihat
dengan mata kepala sendiri mereka berdua duduk di pelaminan. Penyiksaan batin
yang ragu untuk kuhadapi. Biasanya ibuku melarang aku pergi jauh keluar kota,
tapi entah mengapa seolah seluruh dunia tidak berpihak kearahku, ibuku
menyuruhku untuk ikut datang ke acara pernikahan itu.
“Kupikir kamu tidak akan datang” sindir Kia sewaktu kami
wanita berempat di dalam mobil.
“Dateng dong” ucapku menormalkan suara. Jujur aku merasa
tubuhku terhempas begitu dalam dalam lamunanku. Aku bahkan tidak bisa
membayangkan bagaimana nantinya saat bertemu Ranto dan istrinya. Aku harus
memendam airmataku jauh, aku harus menampakkan tak ada sesuatu terjadi padaku.
aku harus bisa menerima pernikahan Ranto.
“Aku pikir kalian itu soalmate
loh” kata Arti, “Sebab cuma kamu yang tahu nomer HP terbarunya Ranto”
Aku meringis. Hatiku tersayat selama beberapa hari menjelang
pernikahan Ranto. Dan kali ini teman-temanku mengingatkanku akan hubungan
antara aku dan Ranto.
Aku tidak berani menatap mata Ranto. Syukurnya postur Ranto
yang jauh lebih tinggi dariku membuatku tak begitu susah untuk menghindari
tatapannya. Ranto mengucapkan terima kasih atas kehadiranku dan ketiga temanku.
Dan saat mempelai wanita memelukku laksana sesama akhwat, hatiku terguncang
cukup dalam. Seolah semua itu hanya berada dalam mimpi. Dan aku tak menyadari
bahwa ini adalah kenyataan. Aku melakukan perjalanan jauh dari Surabaya ke
Pasuruan hanya untuk melihat lelaki itu menikah. Ya, lelaki bernama Ranto yang
sewaktu SMA selalu membuat hari-hariku lebih ceria. Ranto yang selalu mengagumi
ketangguhanku. Saat aku memasuki SMA paling favorit di Surabaya walaupun aku
anak si penjual jamu. Saat aku memasuki kelas akselerasi dimana tempat
berkumpulnya anak-anak cerdas. Saat aku menjadi salahsatu anggota paskibraka
padahal itu adalah eskul paling keren di SMA tersebut.
Dimana Ranto? Ya, Ranto telah menemukan pelabuhan
terakhirnya. Di usianya yang baru dua puluh dua tahun dia telah mampu untuk
mengikatkan diri pada sesuatu yang bernama pernikahan. Ranto yang kini
benar-benar harus hilang dari pikiranku. Ranto yang dulu pernah seperti soulmate-ku, kini telah menikah.
Seminggu setelah menghadiri pernikahan Ranto dan istrinya.
Saat aku masih mengajar, sebuah pesan singkat masuk di HP ku. Pesan dari Ranto.
Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba aku memutuskan untuk menikah dengannya
Tubuhku terhempas sekian kalinya saat membaca pesan singkat
dari Ranto. Kabar pernikahannya yang tiba-tiba, kemudian hadir di acara
pernikahannya dan sekarang sebuah pesan singkat darinya. Aku bahkan masih tak
tahu alasan mengapa dirinya mengirim pesan singkat seperti itu kepadaku.
Kini, lima tahun sudah segala peristiwa itu terjadi. Bayangan
tentang Ranto akan menjadi kisah tersendiri dalam kehidupanku. Kisah yang
pernah membuatku terluka, namun juga kisah patah hati yang sukses aku hadapi. Ranto hidup bahagia
bersama istri dan kedua anaknya. Dan aku pun telah menulis kisah cintaku
sendiri. Mungkin dulu Ranto juga merasakan sama sepertiku, dimana cinta yang awalnya
bagaikan sebuah biji. Perlahan tumbuh menjadi tunas dan semakin berkembang lalu muncullah
bunga.
“Cinta itu bertumbuh seiring berjalannya waktu, seperti biji yang
akhirnya menghadirkan bunga yang indah”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar