Senin, 13 Desember 2010

Sebuah Tanya


Apa yang harus aku lakukan? Serasa waktu berhenti dan aku semakin terdiam. Aku semakin terpojok dalam sudut kehidupan. Terbelenggu dalam keraguan dan ketakutan. Sungguh tak pernah aku merasakan setakut ini. Hatiku serasa diaduk oleh persoalan dunia. Tak sedikitpun aku berkutik. Kenyataanya aku terus terdiam, tak ada lagi keluh ataupun teriakan. Bahkan aku hanya menatap hampa di depanku. Segala fatamorgana yang kerap diagungkan para pencari dunia. Aku tak tahu harus berbuat apa. Seakan semua menusukku tanpa bisa kulawan. Serasa semua menancapkan belati pada hatiku yang telah terluka. Aku terluka, takut dan begitu tak berarti.

Sudah semestinya aku teriakkan kepedihanku ini. Berharap mimpi-mimpiku yang telah hancur itu kembali. Namun semua masih tetap sama. Seperti dunia yang kini menatapku dengan cemoohan. Aku tak bisa bergerak, menikmati rasa sakit yang kian perih. Aku tak tahu harus berbuat apa. Semestinya aku berpaling dari sedih ini, mencoba berjalan kembali menyusuri mimpiku. Namun mimpi yang mana, semua terlarut dalam kepedihan dan hancur oleh fatamorgana dunia.

Aku pernah bermimpi. Menyusun mimpi itu begitu indah. Seperti menyusun gugusan bintang di langit hingga yang menatapnya akan merasakan damai. Namun dalam sekejap mimpi itu hancur berkeping-keping. Dalam sekejap mimpi itu menusuk hatiku yang rapuh. Aku takut bermimpi kembali, terasa semua tersia begitu saja. Aku bahkan telah melewatkan segala ceria yang dulu selalu bersamaku. Aku melewatkan keteguhan yang dulu selalu meyelimutiku. Aku telah meninggalkan semuanya. Sekalipun ragaku masih mampu merasakan sakitnya, namun jiwaku telah terbebas dan pergi entah ke mana. Sungguh, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan.

Malam masih menyisakan hening. Ketika jiwaku kembali memasuki ragaku. Aku masih terdiam. Putaran sang waktu tak mampu menghapuskan keperihan ini. Entah apa yang akan terjadi. Semuanya begitu gelap di mataku dan hatiku tak mampu merasakan cinta itu. Aku telah kehilangan diriku, aku takut. Air dingin kurasakan mengalir di wajahku, ada kesejukan muncul di hati kecilku. Namun aku tahu airmataku juga turut mengalir bersama air yang membasuh wajahku. Aku bisa merasakan kepedihan itu kian mengiris hati. Aku bisa merasakan kehampaan itu kian nyata. Sungguh bahkan aku tak berkutik atas apa yang tengah terjadi. Ketika air itu membasuh kedua tanganku, aku merasakan ketakutanku semakin menjadi. Bergetarlah tubuhku mengikuti getaran hatiku yang tak menentu. Ketika air itu mengenai rambut dan telingaku seraya aku mendengar lagu alam kian mendayu. Aku masih bisa merasakan airmata yang terus mengalir. Mengapa demikian pedih terasa di hatiku, mengapa demikian luka menusuk sukmaku. Dan ketika air itu membasuh kakiku, ada sepercik cahaya menelusup jantungku. Berharap semoga tak ada yang menyakitkan diri. Getaran tubuhku mereda, hatiku kian luluh. Suara sang malam merangkulku, dalam kepenatan dan berat hati.

Airmata itu masih mengalir ketika kubersujud. Seakan seluruh alam hening, tunduk pada cahaya malam. Seakan seluruh jiwa berpadu menyelusuri kehidupan. Seakan tubuh dan jiwaku tak bersatu. Seakan semuanya menghilang ditelan malam. Aku bisa merasakan suara hati yang kian merintih. Aku bisa merasakan kesunyian dalam pikiranku. Aku bisa merasakan kehampaan yang begitu nyata.

Aku tak mengerti apa yang harus kulakukan. Segala tawaku lenyap, segala ceriaku terpendam jauh bersama mimpi-mimpiku. Berserakan sudah semua harapan. Lalu apa yang masih tersisa dari semua ini. Sang malam yang hening mungkin telah menertawaiku. Perih…. Semua ini kurasakan begitu perih. Terasa berat di kepalaku, ingin sekali aku terlelap. Ingin sekali aku menjumpai dunia mimpi tanpa kembali ke dunia nyata. Namun mata ini tak mampu terpejam. Dan airmata masih tak berhenti mengalir. Sebegitu parahkan luka di hatiku. Tak pernah aku merasakan hal seperti ini. Begitu terlukanya, hingga tak ada satu suarapun terdengar dari bibirku. Hanya istighfar yang kerap kali terucap dari hati. Begitu agungnya Sang Maha Cinta menciptakan dunia. Begitu sempurna Sang Maha Esa menciptakan diriku.

Sesungguhnya sesudah kesulitan pasti ada kemudahan. Itu janji Sang Maha Asih…. Semestinya hatiku mampu percaya. Duhai Sang Maha Cinta, hanya padaMu segala ini dikembalikan. Saat ini, di saat seluruh jiwa ragaku hening, kuserahkan semua keputusan padaMu. Dan aku percaya hanya Engkau yang mampu menghapus airmata dan kepedihan ini.

Apa yang harus aku lakukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar