Jumat, 17 Desember 2010

Cahaya Kegelapan


Jalan itu begitu gelap, aku tak mampu melihat. Namun aku masih terus berjalan dan berharap kembali menemukan cahaya. Keajaiban yang hamper mustahil terjadi. Jalan ini begitu gelap dan terjal. Bebatuan kecil melukai kakiku. Pedih darah mengalir membasahi jalan. Peluh dan airmata tak berhenti mengalir. Harus berapa lama aku bertahan dan mencoba berharap akan bertemu secercah cahaya. Aku selalu percaya segala sesuatunya bisa berubah. Aku selalu percaya segala sesuatu indah pada saatnya nanti. Aku percaya kehendak-Nya adalah yang terbaik untukku.


Ini terlalu perih, bahkan aku tak mampu lagi teriak. Aku hanya membisu di keheningan. Ini terlalu sepi dan sunyi. Di mana cahaya itu sembunyi, aku terus melangkah tiada berhenti. Hatiku demikian menangis berharap akan keajaiban itu tiba dengan segera. Aku tak ingin bersedih. Aku tak ingin terluka. Aku hanya ingin tersenyum bahagia. Aku hanya ingin membuang rasa sepi ini. Mungkinkah semua ini terlalu salah. Harapan yang ada di hatiku kian menghilang.


Di mana cahaya itu. Aku sungguh-sungguh berharap akan menjumpainya. aku hanyalah seorang yang lemah, seorang yang tak berdaya. Aku tak punya daya ataupun upaya. Aku terlalu letih. Aku terlalu sakit. Aku terlalu berharap. Aku memang sangat rapuh. Bahkan hatiku pun tak mampu tersenyum. Apakah yang mesti aku lakukan. Kini hanya berusaha berjalan di jalanan nan gelap ini. Masih menyisakan secercah harapan yang menipis. Sementara jiwaku semakin lemah bersama ragaku. Aku terlampau lemah.


Bukankah tiada satupun di dunia ini tercipta dengan sia-sia. Bahkan seekor semut atau hanya sebuah bakteri, semuanya pasti memiliki arti. Lalu mengapa aku merasa tak lagi berarti dan tersia. Apakah cobaan ini terlalu berat. Bukankah Sang Esa tidak akan menguji hamba-Nya melebihi kapasitas. Mestinya aku bisa menghadapi ini semua. Mestinya aku bisa bersikap tegar. Segala sesuatu di dunia ini tentunya telah tertulis dalam Lauhul Mahfudz. Dan tak ada satupun hal yang luput dari pandangan-Nya. Dia-lah yang menciptakan, Dia-lah yang mengatur, Dia-lah yang melindungi. Dan segala daya upaya hanya pada-Nya. Hanya kepada-Nya segalanya kembali.


Segala ujian dan cobaan adalah bukti cinta kasih-Nya. Dalam Arasy-Nya Dia selalu menatap setiap makhluk-Nya. Begitu agung Dia menciptakan, begitu sempurna Dia melindungi. Tak seharusnya aku mengelak dan berpaling. Tak semestinya aku menangisi selain Dirinya. Segala kerinduan dan segala cinta mestinya tercurah pada-Nya.



Dan gelapnya jalan ini harusnya tak menyurutkan imanku. Keajaiban itu pasti tiba, aku akan menemukan cahaya itu kembali. Cahaya yang kerap aku rindukan kehadirannya. Cahaya yang kerap menjadi mimpi dalam kehidupanku. Sebuah cahaya yang akan membuatku tersenyum dan membuat hatiku kembali menemukan jiwanya. Akan sampai suatu cinta tak terbatas. Aku yakin jalan gelap ini tidaklah terlalu lama kutempuh. Ini hanya sedikit ujian keimanan yang mesti aku hadapi. Aku akan terus melangkah, aku akan terus berjalan. Menghapus peluh dan airmata. Menghapus segala kepedihan hati.


Subhanallah, Maha Suci Allah yang terus memberikan rahmat dan cinta-Nya….


Sesungguhnya setelah kesulitan aka nada kemudahan. Dan sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan. Janji Allah tak akan diingkari. Setelah kegelapan tentunya akan datang cahaya. Cahaya yang penuh rahmat Allah. Cahaya yang kerap memberi keteguhan iman hati. Semoga segala cinta selalu tercurah bagi makhluk yang kerap bersyukur pada-Nya.


Jiwa ini ingin berjihad di jalan-Mu. Bibir ini ingin selalu bertasbih untuk-Mu. Diri ingin selalu tunduk pada perintah-Mu. Dan hilangkanlah fatamorgana yang bisa menghilangkan iman islam. Dan segala keindahan dunia yang sementara. Akan sampai pada saatnya berada dalam genggaman kasih-Mu.


Kuhapus pedih ini. Aku percaya keajaiban itu akan terjadi dan peluh ini berakhir. Ya Allah berilah kekuatan atas kerapuhan hamba-Mu ini.


Surabaya, 15 desember 2010
Oleh : Eka S

Tidak ada komentar:

Posting Komentar