Rabu, 08 Desember 2010

Jangan Menangis Untukku



Kali ini membuatku semakin menangis. Janganlah kau teteskan air mata karena aku, karena aku akan semakin berduka. Aku tahu aku merasa sangat sendiri. Aku tahu aku terluka, tapi kumohon jangan menangis.

Beralih sang waktu menembus ragaku yang masih terpaku. Fatamorgana apa lagi yang kini ada di hadapanku. Bukankah aku telah menyingkirkan segala impian yang tak mungkin terjadi. Aku berpikir tak lagi terluka oleh segala mimpi-mimpiku. Namun ternyata aku salah. Alam ini memang nyata tapi fatamorgana itu belum juga lenyap.

Kususuri keteguhan hati yang semakin terelakkan. Aku ingin sekali bersembunyi, namun tak ada tempat untuk sembunyi. Aku terus menangis. Bahkan terasa begitu mendalam segala kepedihan ini. Sungguh aku tak ingin sendiri. Aku benci kesendirian ini. Terlalu sepi. Mungkin sama seperti yang kau pikirkan. Hingga airmata jatuh di pipimu. Lalu kau hapus airmata itu saat aku menatapmu. Aku tahu hatimu terlalu rapuh untuk percaya, aku berusaha untuk tangguh.

Mungkin kau berpikir bagaimana cara mambuatku tertawa. Hingga aku tertawa bersamamu, tapi kau masih mampu merasakan kepura-puraan itu. Sama halnya ketika aku mampu merasakan kepura-puraanmu. Hati kita terlalu rapuh, percayakah dirimu?

Sekilas tatapanmu membuatku merasa bersyukur ada yang mengerti akan kisahku. Sekalipun hatiku terus menolak siapapun yang masuk dalam kehidupanku. Aku tak ingin mereka tahu, aku tak ingin mereka mengerti. Aku hanya ingin Allah yang tahu. Tapi ternyata hatimu bisa membaca hatiku. Dan kau tetap menangis untukku. Aku semakin lemah, dan mungkin telah terjatuh begitu dalam.

Jangan menangis untukku. Aku tahu kamu juga merasakan hal yang sama. Namun kini mungkin kau telah bahagia bersama bidadarimu. Dan kau berdoa semoga kelak aku tak sendiri lagi. Tahukah bahwa tawaku saat itu adalah tangisku. Tahukah dirimu bahwa ucapan 'iya' itu sendiri tak bisa meyakinkan hatiku. Aku terlalu sedih untuk tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi padaku. Apakah sekedar bukti cinta dari Allah agar aku menjadi pribadi yang tangguh. Namun sampai kapan?

Ya Rabb, sungguh aku tak ingin menyalahkan atas kisah yang tertulis untukku. Aku bersyukur menjadi pribadi yang penuh cinta iman dan islam. Aku bersyukur menjadi pribadi yang kerap bersujud di tengah hening malam. Aku bersyukur menjadi pribadi yang tak mampu berpaling dari ayat-ayat Al Qur’an. Aku bersyukur atas orang-orang yang ada di sekitarku.

Tapi kali ini aku tak mampu lagi berkutik, aku terdiam. Seolah menunggu waktu memutuskan apa yang akan terjadi. Aku merasakan kekosongan tak berhingga. Aku merasakan sepi tak terbatas. Aku hanya ingin tersenyum dalam tiap detikku. Aku hanya ingin membuat orang-orang di sekitarku tersenyum bahagia. Apakah itu terlalu berlebihan?

Ya Rabb, seandainya mampu aku berucap. Hilangkanlah fatamorgana ini dari kehidupanku. Aku tak ingin terluka kembali. Aku tak ingin merasakan sakit tak menentu seperti ini.

Ya Rabb, tegarkan aku dalam setiap langkahku….
Ya Rabb, sabarkan aku dalam setiap ikhtiarku….
Karena hanya Allah tempatku berteduh, semoga segala cinta ini kerap berlabuh pada Allah.

Dan jangan lagi menangis karenaku. Aku tak ada maksud untuk menyakitimu. Dan semoga Allah mendengar doa kita, hingga tiada lagi airmata. Semoga Allah menjadikan cinta ini cinta yang hakiki kepada-Nya. Amin ya Rabb….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar