
Baru kali ini aku menikmati penerbangan dari Jakarta menuju Surabaya. Sudah tiga bulan aku tidak menginjakkan kaki di kota kelahiranku. Aku merindukan keluargaku. Aku rindu senyum sang bunda yang selalu tegar. Aku merindukan kecerobohan bapak. Aku merindukan kenakalan adikku satu-satunya. Aku rindu Surabaya.
Aku bisa merasakan udara di luar yang kerap menggoyangkan badan pesawat. Kulihat dari kaca tampak pemandangan yang semakin tampak kecil. Gedung-gedung pencakar langit tampak begitu mungil. Rumah-rumah tampak berjajar layaknya mainan monopoli. Jalan tol yang begitu panjang tampak kecil. Lalu bagaimana diriku dilihat dari ketinggian seperti itu. Bahkan satu titikpun tak sampai. Tak terlihat…
Begitu kecil semua yang dilihat dari ketinggian. Padahal itu hanya berapa km dari daratan. Lalu apa jadinya diriku dipandang dari Arasy. Subhanallah, bahkan Allah tidak luput melihat semua yang dilakukan makhluk-Nya. Bukan hanya manusia, tapi semut dan binatang melata tidak luput dari pandangan-Nya. Maha Agung Allah dengan segala kesempurnaannya.
Kulihat biru dan putih, warna yang meneduhkan. Seteduh sang matahari pagi menyinari bumi. Tanpa batas birunya langit dan biru laut. Terkadang terlihat kapal-kapal yang tengah melaut. Dan gemericik air laut yang kusangka adalah ikan-ikan. Awan putih selayaknya batu es di kutub bumi, terkadang terlihat seperti kapas putih tak bernoda. Terlalu indah untuk menggambarkan kesempurnaan penciptaan Sang Maha Cinta.
Sudah lebih dari satu jam aku berada di udara. Adanya kendala pendaratan mengharuskan pesawat berputar-putar mengelilingi Surabaya. Kulihat laut Jawa yang begitu luasnya. Tak berhenti bibirku bertasbih memuji-Nya. Bisa kulihat pinggiran pulau Kalimantan. Sungguh indah semua tampak dari ketinggian ini. Birunya langit yang menyatu dengan birunya laut menyiratkan kedamaian hati. Meneduhkan setiap jiwa yang selalu berucap syukur pada-Nya.
Ya Rabb, begitu kecilnya aku di hadapan-Mu. Begitu tak berdayanya aku. Bisa kurasakan kehadiran-Mu dalam setiap episode kehidupanku. Terkadang memberi keajaiban dalam kisahku. Sungguh nikmat Tuhan yang manakah yang didustakan. Sebegitu indah Allah menciptakan dunia dan alam semesta. Sebegitu sempurnanya Allah memberikan kehidupan setiap makhluk-Nya. Bahkan tak ada satupun hal yang sia-sia di dunia ini.
Hatiku tersentuh menatap semua ciptaan-Nya. Padahal selama ini terkadang ada amarah di hati kecilku. Menganggap apa yang terjadi padaku ini tidak adil. Bukankah Allah telah berjanji bahwa akan dibalas kebaikan walaupun kebaikan itu hanya sebiji zahrah, begitu juga keburukan yang kita lakukan. Allah tidak akan lupa. Kalaupun Allah memberikan kesedihan dalam kehidupan, itu hanyalah ujian untuk mengetahui tingkat ketaqwaan hamba-Nya.
Semoga segala tangis ini hanya karena-Nya. Bukan hanya karena hal semu. Semoga segala syukur selalu terucap, hingga tiada rasa kecewa di dalam hati. Ya Rabb, hanya di pintu-Mu aku mengetuk. Hanya pada-Mu aku berlindung dan meminta pertolongan. Tiada daya dan upaya melainkan Allah SWT.
Surabaya, 15 Desember 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar