
Sebuah Cahaya
Matahari mulai tenggelam meninggalkan guratan-guratan senja. Meski hari menjelang malam aktivitas yang ditempuh oleh Hafidz belum berakhir. Lelaki berkemeja lengan panjang warna biru muda yang menenteng tas berisi notebook ini baru saja selesai mengisi acara pada pelatihan kepemimpinan di KAMMI. Rambutnya yang agak sedikit ikal tampak serasi dengan parasnya yang manis. Secara fisik lelaki bernama Hafidh ini cukup memikat hati para wanita yang melihatnya. Apalagi saat beliau mulai bicara, semua orang akan terbius mendengarnya. Pemilihan kata dan intonasinya membuat setiap orang terkesima. Pemikirannya yang cerdas membuatnya kerap menjadi ketua di banyak forum. Beberapa jam yang lalu ia mendapat short message service seorang akhwat yang meminta beliau datang ke suatu rumah sakit. Seorang teman satu dakwah yang bernama Tia sedang mengalami koma di rumah sakit tersebut.
Hafidh melangkahkahkan kakinya menyusuri lorong berdinding putih. Hatinya gelisah. Terus menerus dia beristighfar pada-Nya. Semoga Allah memudahkan jalan yang kutempuh, pikirnya.
“Assalamua’laikum”, ucapnya ketika memasuki suatu ruangan.
Sepasang suami istri memakai pakaian muslim dan muslimah memandangnya ramah, “Waa’laikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”
“Maaf Pak Bu, saya tadi ada urusan sebentar jadi agak telat,” kata Hafidh agak gugup. Bahkan ia mungkin bisa menghitung langkah kakinya ketika mendekati suatu ranjang putih, “Bagaimana keadaan Tia, Bu?”
Sekilas Hafidh melihat seorang wanita muda dengan paras yang pucat terbaring tak berdaya dengan banyak selang mengitarinya. Tetesan infus dan kardiograf menyiratkan waktu yang bergerak sedetik demi sedetik. Keadaan yang cukup membuat hati Hafidh tergetar hebat. Apalagi wanita muda yang bernama Tia tersebut mengigau. Dia melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’anul Kariim.
Subhanallah, pikir Hafidz.
Wanita berusia hampir setengah abad itu menggeleng pelan, “Ibu cuma bisa berdoa semoga Tia bangun dari ketidaksadarannya dan …”
“Tia terus-menerus membaca ayat-ayat itu” Ibu itu tampak lelah menatap putrinya terbaring koma.
“Surat apakah yang dibaca Tia, Ibu?” tanya Hafidh
Setengah tahun yang lalu.
Tia masih melantunkan ayat-ayat Allah meski waktu telah menunjukkan pukul dua dini hari. Hatinya terasa begitu tersiksa.
“Jika cinta itu indah, mengapa aku merasa sakit ya Allah. Aku tak ingin mencintai lelaki selain suamiku namun mengapa dirinya yang selalu berada dalam benakku. Astaghfirullahal adzim. Dia terlalu indah untuk bersanding denganku. Aku bukanlah seorang akhwat yang suci dari noda dosa. Aku cuma wanita yang selalu berlari dari aturan Islam. Sementara lelaki itu selalu mencintai-Mu dan mendakwahkan Islam dengan segenap hatinya. Aku terlalu hina untuknya.” keluh Tia usai melaksanakan sholat tahajud dan tartilnya.
Airmatanya jatuh perlahan. Dalam kesunyian malam hanya detak jantung dan teraturnya napas yang terdengar oleh telinganya.
“Ya Allah apa yang harus kulakukan untuk menebus makhluk yang begitu mencintai-Mu lahir dan batin. Ya Allah tunjukkanlah jalan-Mu bagiku. amin”
Tia bersujud dalam keremangan malam menumpahkan kebuncahan hatinya yang tak menentu. Tiap detik ia beristighfar di hatinya.
Diary Tia
Surabaya, 6 September 2008
Awalnya ini hanya sebuah permainan, antara aku dan sepupuku. Sepupuku penasaran mengapa sampai di usiaku yang hampir 23 tahun ini belum pernah jatuh hati pada lelaki. Boleh dibilang aku tomboy karena 75% teman dekatku adalah laki-laki. Tapi jika tak ada satupun yang mampu menarik perhatianku apa bukan berarti ada yang aneh denganku. Akhirnya aku menjanjikan akan memberitahu nama lelaki yang pernah menarik simpatikku. Seminggu, janjiku kala itu. Setelah seminggu berlalu aku menulis short message service pada sepupuku itu. Segera sepupuku menelpon ponselku. Dia tertawa dan bertanya padaku apa aku benar-benar cinta pada lelaki yang kutulis namanya dalam sms itu. Pertama aku menjawab ya aku nggak tahu apa itu namanya cinta, aku kan nggak pernah punya pacar. Dia mengulang lagi pertanyaannya itu. Aku menjawab bahwa lelaki itu sungguh mulia budinya aku rasa setiap wanita yang mengenalnya pasti akan suka padanya lagipula ia high quality banget, sudah pintar, baik hati, manis lagi. Rupanya jawabanku belum memuaskan dirinya. Dia bertanya lagi apakah aku benar-benar mencintai lelaki itu, dan jawabannya cuma Ya atau Tidak. Dengan lesu kujawab Ya. Masya Allah, keluhku dalam hati.
Ternyata Bunda menangkap isi pembicaraanku dengan sepupuku itu. “Siapa laki-laki itu?” tanya Bunda. Biasanya Bunda tidak memberikan komentar pada teman laki-laki yang aku ceritakan, tapi ini sungguh berbeda. Bunda mengatakan kalau ia mau punya menantu seperti itu. Aku pun membawa suasana canda saat itu. Aku menanggapi dengan kelakar kalau aku jelas mau menjadi istrinya.
Ya beginilah akhirnya. Airmata selalu membawaku dalam kesendirian. Berharap Allah akan memberikan suatu keajaiban hingga aku, yang memiliki banyak kekurangan ini mampu bersanding dengan makhluk sesempurna lelaki itu.
Mungkin jalan satu-satunya untuk bisa bertemu dengannya adalah di jalan Allah. Ya jalan yang selama ini aku tinggalkan yaitu dakwah. Tapi aku harus ikhlas dalam melakukannya, bukan karena lelaki itu. Aku akan kembali ikut liqo’ yang sudah aku tinggalkan lebih dari setahun lalu. Aku akan kembali menyusuri jalan-Nya.
Surabaya, 15 september 2008
‘Assalamua’laikum, Akhi. ana slhsatu mhswi ITS thn 2004. ana mo tny apkh Akhi Syafruddin satu liqo’ dgn akhi Hafidh? Afwan sblmny ana cuma mau btnya apkh beliau sdh pny calon istri? Afwan, ana thu ana salah tp ana slalu merasakn resah jk melihat beliau. Jazakumullahi khoiron katsiro.’
‘Wa’alaikumsalam. Afwan bru bls. Inbox ana full. Maha Suci Allah yg tlah mciptakan manusia dgn sgala rahasia-Nya. Utk Akhi Hafidh itu tdk 1 liqo’ dg ana. Sthu ana jg beliau blm pny cln istri. Nah, mgkn sbaikny klo ana blh ngasih srn, memang yg nmnya cinta itu fitrah, tp bkan utk diikuti, ktika sudah diikuti namny bkn cinta lg tp nafsu, apalg di bln romadhon nih. Saran saya: kalo mmg ada “rasa” dg Akhi Hafidh, CURHATKAN saja sm Allah yg “punya” Akhi hafidh, mohon dberi jalan tbaik. Dan jgan sampe “byangan2” itu muncul lg. ktika byangan itu muncul, ykinlh itu dri setan. Segera istighfar dan ikuti dgn doa smg anti diberi yg tbaik. Allah thu kok isi hati anti. Jadi, sebisa mgkn kita hindari yg nmanya zina, pasti suatu saat Allah BERI yang lebih INDAH bwt kita. Ok?’
Surabaya, 24 September 2008
Seharian aku berada di kampus tapi aku tak melihatnya sama sekali. Jujur saja aku begitu rindu melihatnya membaca kitab Allah di musholla kampus. Seperti dua tahun yang lalu, hampir tiap pagi aku melihatnya usai sholat dhuha melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’anul Kariim. Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah menciptakan makhluk seindah dirinya. Namun apakah masih ada kesempatan untukku menjadi bagian dalam hidupnya. Ya Allah mengapa hatiku terus-menerus merindukannya. Astaghfirullahal adzim. Ya Allah mengapa aku takut kehilangan dirinya, nafsukah ini. Ya Allah jujur saja aku menginginkannya untuk memberi dakwah pada keluargaku yang belum mengenal Islam secara kaffaah. Pertanyaanya mengapa mesti dia bukankah masih ada laki-laki lain yang dicintai dan mencintai Allah, bahkan mungkin lebih dari seorang Hafidh. Mengapa cuma dia yang aku inginkan untuk mendampingiku. Astaghfirullahal adzim.
Wanita setengah abad itu memberikan sebuah benda kecil yang tak asing bagi Hafidh. Sebuah flashdisk.
“Mungkin Nak Hafidh tahu cara menggunakan benda tersebut” kata wanita setengah abad, “Sebab menurut perasaan Ibu ada yang Tia sembunyikan disana.”
Hafidh masih belum mengerti apa maksud keluarga Tia memanggilnya. Memang kondisi Tia kritis, dokter sendiri masih belum mendapat kepastian jaringan saraf otak yang mana yang rusak akibat tergelincirnya Tia dari tangga kampus. Ia cukup prihatin dengan kondisi Tia, bahkan saat terdengar lantunan ayat-ayat suci yang rupanya Tia telah menghafalnya. Surat apa yang kini dibacanya dalam keadaan koma?
“Surat apakah yang dibaca Tia?” tanya Hafidh tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya. Memang dia juga suka menghafal ayat-ayat Allah, tapi yang baru dihafalnya adalah juz 30, surat Yaasin, surat Al Waqi’ah, dan surat Ar Rahman.
“An-Nur” jawab wanita setengah abad itu.
Hati Hafidh tiba-tiba bergetar tak tentu. Mengapa surat An-Nur. Apa mungkin …
Hafidh mengeluarkan notebook-nya, meletakkanya di meja ujung ruangan dan menancapkan flashdisk berwarna merah pada salah satu sisinya. Ia klik tombol kanan mouse-nya. Di click Explore. Di double click tulisan Tia (F:). Terlihat deretan isi dari flashdisk tersebut. Isinya tak begitu banyak hanya proposal TA, TA, dan my poets. Di double click tulisan my poets.
**************************
Untittled
Ana menunggu antum disini
Di rumah Allah
Saat lantunan ayat-ayat suci mampu meneduhkanku
Wahai lelaki yang dicintai Allah
Dimana antum saat ini
Ana menungu antum datang
di sana, di jalan Allah
Insya Allah
**************************
Ya Habibullah
Ya Habibullah
Iqro’ fil al qur’anul kariim
Ya lelaki yang dicintai oleh Allah
Lantunkanlah ayat-ayat suci-Nya
Keheningan hati kan terpancar saat mendengarnya
Laksana rintik air di tengah padang pasir
Ya Habibullah
Pancarkanlah sinar kesejukan dalam senyummu
Ucapkanlah kalimat thoyyibah dalam tuturmu
Afwan
Tak pantaslah aku memandangimu
Bahkan hanya menyebut namamu
Terlalu keruh hati ini
Ya Habibullah
Tak pantas diri merindumu
Wahai kekasih Allah
**************************
Sebuah cahaya
Tuhan, dalam gelapnya hidupku aku membutuhkan sebuah cahaya
Cahaya yang kelak menuntunku selalu di jalan-Mu
Cahaya yang kelak bisa menenangkan hatiku
Cahaya yang selalu mengiringi langkahku
Hanya sebuah cahaya
Yang mampu membuatku menangis
Yang mampu membuatku bersujud di hadap-Mu
Yang mampu membuatku tersadar seberapa hitamnya hatiku
Ya Tuhan pemilik segala hati berikanlah cahaya itu padaku
Sebuah cahaya yang kan tetap bersinar
Mengiringi setiap langkah dan nafasku
Sebuah cahaya yang menerangi setiap elemen kehidupanku
Ya Tuhan penguasa segala rasa
Izinkan aku merasakan cahaya itu
Hingga aku mampu meneguk cinta suci-Mu
Hingga mampu kurasakan kasih-Mu
Ya Tuhan ...
Dalam sujud dan dzikirku
Kupasrahkan semuanya pada-Mu
Pilihkanlah yang terbaik untukku
Cahaya terindah di sisiku
Illahi syafarat yadayya fatrubhuma
Didedikasikan untuk “cahaya Allah”
semoga Allah selalu melindungi langkah Akhi
**************************
“An-Nur” gumam Hafidh tak jelas, “Cahaya Allah, Habibullah, Subhanallah”
Semua terlalu berlebihan. Itu bukanlah cinta, pikir Hafidh. Lagipula belum tentu lelaki yang ditulis oleh Tia adalah dirinya.
“Bukankah Nur adalah nama dari nak Hafidh?” komentar wanita setengah abad
Hafidh Nur Firdaus. Itu memang nama panjang Hafidh tapi jarang sekali orang yang memanggilnya Nur. Lagipula ada berapa banyak lelaki bernama Nur yang dikenal Tia. Bukankah ada teman satu angkatan juga yang bernama Nuruz Zaman.
Igauan Tia berhenti tatkala sampai Shodaqallahul adziim.
Hati Hafidh menangis saat kata yang diucap oleh Tia adalah namanya. Ya namanya.
“Hafidh … Hafidh …Hafidh…” gumam Tia
“ Masya Allah” keluh Hafidh.
Wanita setengah abad mengelus punggung Hafidh, “Maafkan Tia, nak Hafidh”
“ Ibu, saya minta maaf. Saya akan khitbah seminggu yang akan datang.” kata Hafidh.
Wanita setengah abad itu menangis tanpa isak. Selama ini Tia benar-benar berubah menjadi totally muslimah. Bahkan wanita itu sempat berpikir betapa bahagianya lelaki yang menjadi suami anaknya. Tia yang pintar, sederhana, bahkan punya cinta yang tulus pada setiap orang.
Haruskah semua berakhir seperti ini? Ya Allah berilah cahaya-Mu dalam kehidupan anakku, doa wanita setengah abad itu.
Terdengar Tia kembali melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an, surat An-Nur.
Penulis : Eka. S
Surabaya, 26 September 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar