
Ya ini memang duniaku. Aku bisa menari dan bernyanyi bebas di sini. Berputar di tengah rntik hujan. Mengintip malu dari balik sang pelangi. Memberi goresan jingga di langit sore. Bersama para malaikat menatap kepergian sang mentari.
Aku terlepas. Aku bisa menghirup udara kebebasan di sini. Aku bisa menulis berlembar-lembar curahan hati. Aku bisa menggambarkan semua emosi jiwa. Ya, hanya di dunia ini. Di mana para bidadari menatapku seraya tersenyum. Di mana kesucian hati menggantikan mahalnya permata. Di mana ketulusan menggantikan indahnya mutiara. Di mana kejujuran menggantikan seluruh keagungan jagad raya.
Aku kembali menyusuri duniaku. Dunia yang tiada keberadaan mereka. Mereka yang mungkin mencemoohku. Mereka mungkin meniadakanku. Mereka yang mungkin membuat guliran airmata di hatiku. Mereka yang mungkin selalu memandangku lemah.
Ya ini memang duniaku, di mana aku menghirup udara cinta Illahi. Tiada akan Dia membuatku terluka atas cinta-Nya. Untaian syukur takkan pernah terlepas dari bibir. Aku menari dan bernyanyi lagu alam. Melukiskan keikhlasan dan kesucian jiwa. Bersama malaikat-malaikat menyusuri jalan-Nya.
Aku terhempas. Dalam setiap kepingan cerita yang telah tertulis di Lauhul Mahfudz. Menyusuri jiwa yang lugu akan kasih. Fatamorgana kasih terelakkan. Dan takkan ada kepedihan. Bukankah hati ini masih ada ruang kasih-Nya. Di setiap aliran darah dan detak jantungku.
Aku terus terkurung dalam duniaku. Tanpa ada kebencian. Hanya ada kasih cinta tertulus, tanpa mengharap balasan. Semua cinta hanya milik Sang Pemilik Hati. Semua kasih hanya tertumpu pada Sang Penggenggam Jiwa.
Ya ini memang duniaku, begitu maya. Takkan ada kekerasan, takkan ada kekasaran, takkan ada rasa iri. Hanya ada kesungguhan untuk menyucikan jiwa, bersama lantunan ayat-ayat Illahi. Aku terus menari dan menyanyi lagu alam. Senandung kerinduan akan berjumpa dengan Sang Pemilikku.
Malam membayang. Masih jiwaku berkelana dalam pusaran duniaku. Bukankah aku mesti terbangun lagi. Dengan enggan namun akhirnya kubuka mataku. Kulihat asap tebal dengan suara berisik. Para insan sibuk berlarian. Tampak kekusutan, tampak kesukaran, tampak kehidupan yang hiruk pikuk. Hatiku berteriak. Jiwaku berserak. Inikah dunia nyata?
Kembali mereka menatapku angkuh. Apakah aku kerap menyakiti mereka sehingga mereka membenciku? Apakah kerap aku membicarakan mereka hingga mereka tak berhenti membicarakanku? Apakah kerap aku memandang mereka sebelah mata hingga mereka mencemoohku? Ah sudahlah, bukankah telah kusadari duniaku lebih indah daripada dunia nyata.
Malam terus larut. Jiwaku terus memberontak. Namun aku percaya akhir kisah ini tentunya indah. Sang Pemilik Raga takkan membiarkan hamba-Nya terus terluka. Aku percaya semua akan baik-baik saja. Sekalipun masih kurasakan kepedihan. Semua ini tentu akan mengadirkan kebahagiaan.
Ya Rabb, Illahi syafarat yadayya fatrubhuma.
Bekasi, 19 Mei 2010
Ditulis : Eka S
Tidak ada komentar:
Posting Komentar