
Ya Rabb, mengapa hati ini merindukannya?
Pembawaannya begitu tenang, seperti air sungai yang mengalir jernih dari hulu ke hilir. Tuturnya begitu santun, melukiskan begitu besar kesabaran yang ia miliki. Senyumnya tulus, tanpa ada tatapan benci di matanya. Ataukah aku terlalu berlebihan tentangnya?
Kali ini aku tak berani menatapnya. Degup jantungku terasa begitu nyata. Tak biasanya aku merasakan hal seperti ini. Dalam beberapa hari saja aku mampu mengendalikan setiap perkataan dan perbuatanku. Biasanya aku bersikap seenaknya sendiri. Bergaul di lingkungan para engineer membuatku cukup keras dalam watak maupun sikap. Tapi beberapa hari ini aku tampak begitu santun meskipun masih belum bisa sesantun Alia, yang selalu sibuk di balik komputer atau sesantun Vira yang sibuk menghitung absensi pegawai. Tentunya mereka bisa bersikap santun karena lingkungan mereka sangat mendukung. Tapi aku?
Berawal dari sebuah forum yang sangat formal. Tentu saja aku mengenal hanya sebatas nama yang terpasang di dada kanan wearpacknya, Reza Pradana. Nama yang cukup jelas menggambarkan bahwa dia anak pertama. Dari sikapnya kulihat dia cukup cerdas. Namun aku hanya memandang sebatas lalu, sebelum akhirnya teman dekatku menceritakan sesuatu tentangnya.
Tentang seorang Reza, laki-laki yang berbeda usia denganku sekitar empat tahunan ini sedang dalam upaya pencarian pendamping hidup. Dia merindukan wanita shalihah yang memakai hijab. Dia baru saja patah hati karena ceweknya meninggalkannnya demi lelaki lain. Pikirku saat itu adalah wajar jika banyak para wanita bosan dengan pembawaannya yang sangat formal. Dia sangat menghargai dan menghormati orang lain. Tutur katanya terlalu santun dibandingkan rekan kerjanya yang lain. dan satu hal yang membuatku syok kala itu adalah teman dekatku mengusulkan padanya untuk meminangku sebagai isteri.
Entah bagaimana ekspresi mukanya ketika temanku itu menyebut satu nama, Nesha. Yang jelas saat itu dia belum mengenalku dan aku juga tidak mengenalnya, selain hanya nama Reza yang ada di wearpack itu. Terasa lucu diriku menjadi kandidat dari isterinya. Pasalnya dia itu ganteng. Tidak bisa dipungkiri secara fisik dia begitu sempurna.
Saat ini hanya parasnya yang tergambar di mataku. Sekalipun banyak gosip tentangku beredar di kantor. Aku sama sekali tak peduli. Yang aku takutkan adalah aku telah jatuh hati padanya, pada seorang Reza. Bagaimana tidak, baru namanya yang mendapat sambutan hangat dari kedua orangtuaku diantara Nawan dan Aries. Nawan adalah seniorku di kampus, sekarang dia sekantor denganku. Selama ini teman-teman sering menggosipkan aku dan dirinya. Sedangkan Aries adalah teman chatting yang juga masih satu perusahaan hanya berbeda kantor. Baik Nawan maupun Aries adalah lelaki yang cerdas, namun karena alasan tersendiri kedua orangtuaku malah menyuruhku melupakan mereka berdua. Reza Pradana, inilah yang menyorot seluruh perhatianku beberapa hari ini.
Pagi ini berlalu seperti hari-hari sebelumnya. Kumasukkan data progress overhaul semnetara teman dekatku, Ria asyik mengerjakan grafik progress pekerjaan listrik. Kulihat kelap-kelip di layar monitor di mana aku membuka tab facebook. New message from Reza. “Amazing, it will be a nice day…” pikirku seraya senyum-senyum sendiri. Ria menatapku, “Pasti lagi chat sama suami”
“Assalamulaikum Dek”
“Wa’alaikumsalam Mas. Kok tumben pagi-pagi dah online”
“Iya tadi abis jogging”
“Biasanya aja tidur, baru bangun jam sepuluh-an”
“Kok adek tahu?”
“Ya biasanya kan chat juga”
”Masuk keja?”
”Yup”
”Minggu tuh libur”
”Maunya begitu, tapi...”
”Eh gimana kemarin ujiannya?”
”He...^_^”
”Malah senyum lagi”
”Kan senyum itu ibadah Mas”
”Iya...iya...ini yakin lulus ujiannya?”
”Kok nanyanya gitu, berat jawabnya. Hehe”
”Ya percuma dunk aku jadi mentor dadakan seminggu kemaren klo gak ada hasilnya”
”Ya insya Allah, adek cm bisa berdoa aja Mas”
”Dek, bulan depan udah nggak di bekasi lagi kan?”
”Masih di Bekasi, kenapa Mas?”
”Ini aku mau ketemu ma adek, ada yang Mas mau bicarakan”
”Tentang apa Mas?”
”Penting seh. Gak bisa lewat chatting”
”Mas mau merit ya?”
”^_^ insya Allah”
Jemariku berhenti mengetikkan kata. Wah padahal selama ini pembicaraanku dengan Reza berjalan sangat baik. Aku berharap hubunganku dengannya lebih daripada kakak-adek. Tapi apa mungkin lelaki sesempurna Reza mau menikah denganku? Wah bisa ditertawakan sepuluh ribu malaikat yang mengikutinya.
”Padahal aku mau buat surprise berita ini”
Kulihat deretan kata yang dia tulis. Jemariku serasa sudah tak sanggup lagi untuk membalasnya. aku mencoba bertanya lagi pada hatiku, apakah terluka? Tapi aku harus tetap enegarkan diriku, bukankah Allah selalu memberi yang terbaik untuk hamba-Nya?
”Afwan...kok diem Dek?”
Mulai mencoba kuketik kelapangan hatiku membalas message darinya.
”Wah selamat ya Mas...adek turut bahagia”
”Wah padahal aku berharap adek bakal cemburu..hehehe”
”Ya udah adek cemburu wes..Xixixixi”
“Ya syukurlah kalo begitu nanti kita lanjutkan lagi chattingnya, aku mau mandi dan sarapan dulu”
”Oke, sarapan apa nih Mas?”
”Sarapan nasgor, tadi sempat bikin sebelum buka facebook”
”Wah... suami yang baik”
”Beruntung ya cewek yang dapat suami kayak aku”
”^_^ jelas beruntunglah Mas, udah ganteng baik pula”
”Hehe...makasih pujiannya Dek”
”Eh bentar jangan off dulu...kapan Mas rencana menikahnya?”
”Masih belum diskusi sama keluarga si perempuan.”
”Oh.... ya semoga lancar walimahnya”
”Aminn....aku off dulu ya”
”^_^”
”Wassalamualaikum”
”Waalaikumsalam..barakallahu fik”
”Amin jazakumullahi khairon katsiro”
Parasku berubah jadi pucat. Ria menatapku penuh tanda tanya. Biasanya aku selalu berseri-seri setelah chatting atau sekedar berkirim short message dengan Reza.
”Nes, kenapa sama Reza?”
Aku mentapnya, ”Dia mau merit”
”Subhanallah, pasti isterinya secantik mantan pacarnya dulu” ucap Ria pelan.
Aku menatap Ria penuh arti. Ria tertawa cekikikan. Kuhempaskan badanku memunggunginya. Ria malah tak peduli atas sikapku ini. Lho kok tak ada satupun yang menaruh iba padaku. Aku patah hati untuk yang kedua kalinya. Aku terluka karena ditinggal sendiri lagi. Dan Reza kini menjadi mimpi yang telah beralih dari hidupku.
”Mas Rez, kok jadi begini ya...akhir cerita yang mengharukan.” pikirku.
Kelip-kelip message masuk di tab facebook yang hampir ku log-out.
”Afwan Dek, mumpung kamu belum off...”
”Lho kok online lagi? Katanya mau mandi..”
”Hehe...baunya belum sampe Bekasi kan Dek? Kalo gitu masi aman ^_^”
”Emang ada apa Mas? Aku mau dijadikan pager ayu ya?”
”Ye...Ge eR amat dek, ya enggaklah...kan aku masih punya sepupu yang cantik2”
”Hehe...lupa kalo aku gak cantik ”
”Haha...santai aja yang penting hatinya cantik”
Semua lelaki sama aja, katanya kecantikan yang paling berharga adalah hati tapi…tetap saja yang dilihat fisik dulu. Renungku tanpa kusadari layer telah kedap-kedip. Memang computer kantorku satu ini sering bermasalah. Mungkin karena sudah jadul.
”Dateng ya ke acara kajian besok Kamis di ruang biasanya”
”??? Aku masih di Bekasi Mas”
”Pokoknya harus datang, karena temanya bagus”
”Apa temanya?”
”Menjadi haq dan kewajiban suami-isteri”
”Ye...aku kan belum merit...Mas tuh yang mau lamaran, bakal jadi suami dalam waktu dekat”
”Haha...segitunya Dek, ikut ajalah siapa tahu adek juga merit dalam waktu dekat”
”Amin makasih doanya, insya Allah.”
”Minta izin ke site coordinator”
“Diusahakan Mas”
“Oke deh, aku off dulu Dek. Wassalamualaikum”
“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh”
“Barakallhu fik…”
“^_^ buruan mandi baunya sudah nyampe Bekasi nih Mas”
”Hehe”
”Ri, aku salah apa ya?” tanyaku pada temanku yang sedang asyik bermain Google di komputernya.
”Banyaklah...makanya taubat dong” sahutnya asal.
”Kok Mas Reza secepat itu nikahnya?”
”Ya jodoh kan sudah jadi ketentuan Allah. Kamu pernah bilang kan sesayang apapun dia padamu kalau belum jodoh ya nggak bakal bisa merit, dan sebenci apapun dia padamu kalau Allah menghendaki kalian berjodoh ya nantinya benci itu jadi benar-benar cinta..Hihihi”
”Kok malah cekikikan sih?”
”Uh, temanku yang lagi patah hati...kenapa gak tanya cewek yang bakal dilamar reza seperti apa. Mungkin aja kamu lebih baik dari cewek itu sehingga kamu bisa lebih explore kepribadianmu ke Reza.”
”Waduh...kan aku sudah berkali-kali bilang ke Ria, kalau aku paling gak suka melihat oranglain terluka karena sikapku. Apalagi merebut suami orang”
”Reza masih berencana melamar dia. Statusnya belum suami”
”Sama saja kalau di hati Reza sudah terukir nama cewek itu”
”Terserah kamu deh Nes, aku kan Cuma bisa memberi saran. Selebihnya adalah keputusan darimu sendiri.”
Aku terdiam. Sepertinya sudah tidak ada kata yang patut aku ucapkan melainkan hamdalah. Aku harus selalu bersyukur dan ber-positive thinking pada Allah. Bukankah Allah telah melukiskan kisah-kisah indah pada umat-umat-Nya.
Watthayyibatu lit thayyibin
”Oh ya katanya tadi malem kamu mimpi ular lagi? Kamu masih lari Nes?”
”Ular itu melingkari kakiku lalu menatapku lama”
”Terus?”
”Aku berharap ular itu mematukku”
”Syukurlah kalau kamu sudah tidak lari lagi. Kan di mipi-mimpimu yang dulu kamu lari ketakutan toh?”
”Tapi ular itu cuma memandangku, ia tidak mematukku”
Ria tertawa kecil
”Aku terbangun dan menangis” ucapku kalem
”Kan hanya mimpi Nes, tak usahlah dipikir terlalu serius”
”Tapi itu ular yang sama dengan dua mimpi sebelumnya, hijau berkilau dan sangat panjang.”
”Haha...sudahlah Nes, ularnya disimpen dulu”
”Ularnya matuk cewek lain rupanya....”
”Yeee...masa’ cowok ganteng seperti Reza disamakan dengan ular seh”
Aku meringis.
Suasana di ruang pengajian tampak lengang. Hanya ada beberapa Bapak-bapak dan Ibu-ibu di sana. Kutelusuri pandanganku untuk mencari sosok Reza. Bahunya yang bidang nampak begitu kentara. Sekalipun dia memakai seragam, nampak dia bersinar. Atau hanya di mataku saja sinar itu muncul, sinar kekaguman sang penyanjung cinta.
”Afwan, Assalamualaikum” sapa seorang ustadz padaku.
Kontan aku terkejut. Pikiranku masih membayangi sosok Reza yang tak peduli akan kehadiranku. Reza masih asyik berbicara dengan rekan kerjanya.
”Wa’alaikumsalam Ustadz. Ada apa ya?”
”Ini saya dapat titipan dari seseorang. Tiket pesawat”
Aku tercengang. Cukuplah hal-hal aneh ini terjadi di hidupku.
Sebentar....apa ini mimpi???
”Pulanglah ke Jawa bulan depan, keluargamu menunggu kedatanganmu. Di sana akan ada seseorang yang berniat meminangmu”
”Siapa Ustadz? Apa aku mengenalnya?”
”Ya rekan kerjamu, pokoknya anti pulang dulu. Bukankah anti telah enam bulan tidak pulang ke Jawa?”
Inilah yang paling tidak kusukai dari kantorku. Istilah Jawa. Saat ini posisiku di Jakarta dan mereka mengatakan Jakarta itu bukan Jawa. Hanya Jawa tengah dan Jawa timur khusunya yang disebut sebagai Jawa.
”Siapakah dia, Ustadz?”
Ustadz itu tersenyum seraya menyerahkan tiket pesawat Garuda. Wah ada yang nggak benar nih. Tiket Garuda kan mahal. Ada juga orang yang mengikhlaskan uangnya demi seorang Nesha.
Usai pengajian Reza menghampiriku. Senyumnya sangat menawan hatiku, hingga berlang kuucap istighfar untuk menenangkan degupan jantungku.
”Apa itu?” tanya Reza melihat tiket pesawat hasil print, ”Kamu mau pulang kampung?”
”Rumahku Surabaya, itu kota Mas, bukan kampung” sahhutku
”Garuda airlines...mahal tuh”
”Ini pemberian orang yang akan mengkhitbahku”
”Wah selamat ya Dek...”
”Masalahnya adek nggak tahu siapa dia Mas”
”Pastilah dia sayang sama Adek, buktinya dia ngasih tiket pesawat Garuda bukan tiket kereta ekonomi...Hihihi”
”Ini mimpi ya Mas?”
”Kok gitu?”
”Ya kan aneh. Apalagi adek kan belum lulus dari tes penerimaan pegawai.”
”Ya, mungkin ikhwan itu percaya Adek bisa lulus”
”Kok dia nggak ngomong sendiri ma adek ya Mas?”
”Waduh aku nggak tahu Dek, kalau aku tahu siapa orangnya mungkin aku tanya mengapa harus lewat murobbi”
Aku mengangguk pelan.
”Dek, aku mau ada rapat di kantor. Aku balik dulu ya...”
”Oke...”
”Jangan lupa disiapin hatinya buat menerima lelaki itu”
Aku mengernyitkan dahi, ”Mana bisa? Aku malah nyiapin alasan buat nolak dia, hehe”
”Wah...mendingan istikharah, jangan nuruti nafsu”
”Hehe...insya Allah”
Wah kapan ya terakhir istikharah? Setahun yang lalu, saat hatiku tertambat pada seorang ikhwan bernama Putra. Sekarang harus istikharah lagi?
Allahumma inni as aluka an turzuqani rizqan halaalan waasi’an thayyiban min ghairi ta’bin walaa massaqatin walaa dlairin innaka alaa kulli syaiin qaadir. Ya allah aku minta pada-Mu atas pemberian rezeki yang halal, luas, baik tanpa repot dan juga tanpa kemelaratan dan tanpa keberatan. Sesungguhnya engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
”Ehem...” Ria mendekati bangkuku.
Segera ku klik share pada wall-ku.
”Kok nggak pernah chat lagi ma Reza?”
”Dia nggak pernah online lagi”
”Kapan sih meritnya?”
Aku menggelengkan kepala.
”Huh... mentang-mentang yang akan lamaran nih...gimana progress istikharahnya?”
”Kok hati aku tenang ya Ri, aku sampai bingung”
”Nah berarti jodoh”
”Sok tahu...”
”Wah siapa ya mister X ini...mungkin Nawan?”
”Waduh parah kalau mas Nawan...”
”Kalau Aries?”
”Jelas enggak” ucap kami berbarengan
Ria cekikikan. Mungkin ia sedang membayangkan sosok Aries yang tinggi, manis dan berwibawa itu. Lagipula aku sering banget bilang aku nggak suka Aries.
”Ya ditunggu aja kabarnya bulan depan”
”Ya semoga bukan Nawan atau Aries...walaupun sepertinya temanku satu ini masih demen dicomblangin ma Nawan...hehe”
”Waduh aku nggak bisa meng-amini”
”Tuh kan kelihatan banget masih berharap sama Nawan”
Aku meringis, ”Hehe...sok tahu”
”Memang tahulah...”
”Wallahu a’lam bis shawab”
Ria beranjak meninggalkanku dalam senyum. Aku masih bisa merasakan kehadiran seorang Reza di sisiku. Mungkin perasaan ini harus berakhir karena ada lelaki di sana yang berharap aku akan mendampingi hidupnya. Dan mungkin dia bukan seorang Rez...
Kulihat sebuah message chat di layar facebook-ku
”Assalamualaikum Ummi”
Kubaca nama pengirimnya, kupejamkan mata sejenak. Ada yang salah dengan layar komputer atau apa...karena orang yang menulis message itu adalah Reza Pradana.
”Alhamdulillah” bisik hatiku yang sedang menari bahagia.
Ya rabb, jangan biarkan hatiku terjatuh lagi.
Ditulis:
Jakarta, 9 Mei 2010 oleh Eka S
Tidak ada komentar:
Posting Komentar