Selasa, 19 Mei 2015

Terima Kasih Cinta


Setiap kali amarah membelengguku, kucoba kembali mengingat kenangan indah bersamanya. Kenangan saat pertama bertemu dengannya. Memang selama ini aku banyak melakukan kesalahan. Aku selalu marah ketika dirinya melakukan kesalahan sekecil apapun. Apalagi terkait masalah uang. Kami memang hidup berkecukupan, tapi suamiku orangnya terlalu menyepelekan masalah uang.

Pernah dia lembur setiap hari masuk kerja di liburan lebaran, pergi pagi pulang malam. Namun ternyata dia tidak menulis absen serta tanda tangan. Akibatnya uang yang diterima hanya satu juta rupiah. Padahal jika dilihat dari jam kerjanya harusnya dia mendapat uang dua juta rupiah.

Pernah juga kami melunasi KPR rumahnya dan dirinya membiarkan uang sejumlah dua juta lebih di rekeningnya. Awalnya kupikir pihak asuransi tidak lagi menarik dana dari rekening tersebut. Namun ternyata malah perbulan ditarik sebesar 187 ribu. Ketika uang di rekening tersebut sudah habis, barulah dirinya cerita ke aku bahwa mendapat telepon dari pihak asuransi karena uang di rekening sudah tidak cukup untuk tarikan bulanan. Masya Allah, jadi selama ini dirinya membiarkan uang dua juta lebih buat ditarik asuransi yang tidak jelas. Tentu saja ini membuatku marah besar.

Pernah juga temannya yang di Solo pinjam uang sebesar dua juta rupiah. Aku ingat sekali dulu pinjamnya sekitar bulan April 2013. Tapi hingga kini, Mei 2015 temannya itu tidak member kabar apakah sanggup atau tidak sanggup membayar hutang. Dan dirinya pun tidak berani menagih hutang ke temannya. Bagiku, tak masalah membantu oranglain, tapi orang yang dibantu juga harus jujur, ketika tidak sanggup membayar maka segera mengatakan pada kami. Dan insya Allah kami akan mengikhlaskan. Kami tidak ingin kelak hutang itu memberatkannya di akhirat nanti.

Dan kemarin, dia membayar tiket pesawat buat temannya. Masalahnya, dia membayar tanpa persetujuan temannya. Akibatnya tiket balik ke Jakarta harus direfund. Bayangkan, dia membayar 580 ribu dan hanya dapat refund 270 ribu. Sungguh benar-benar keterlaluan. Seharusnya dia tanya dulu ke temannya apakah mau ikut pulang balik ke Jakarta. Toh kenyataannya temannya mampir dulu ke Solo. Aku marah seraya mengatakan tidak semua orang sama ketika pergi buru-buru ingin balik bekerja. Toh kalaupun SPD dapat tambahan satu hari untuk libur.

Suamiku tidak mau ambil libur atau cuti. Bahkan banyak urusan kami yang belum selesai. Diantaranya surat rumah masih ada nama BNI, padahal sudah lunas, harusnya sudah diurus hak Roya nya. Tunggakan PBB dari tahun 2010, bahkan nomer pelanggan PBB pun kami belum tahu, memberikan berkas Haji ke Depag, itupun kalau aku tidak menangis buat pengurusan haji mungkin dirinya masih asyik bekerja tanpa memikirkan untuk daftar haji. Entahlah aku makin tidak mengerti tentang jalan pikirannya.

Hal-hal kecil lainnya yang membuatku marah biasanya terkait hari libur yang masih bekerja sampai malam, terlambat jemput aku, membatasiku untuk tidak ikut organisasi apapun di kantor, memaksaku untuk masuk kerja walaupun aku sudah mendapat surat cuti, dirinya tidak mau pulang ontime padahal ada saat-saat dimana aku ingin kami sekeluarga berkumpul sebelum anakku Hasna mengantuk.

Tentu saja sebenarnya dibalik kesalahan-kesalahan kecil tersebut sebenarnya suamiku adalah lelaki yang luar biasa. Ketika dia mau menerima keluargaku dengan tangan terbuka, padahal kami hanya keluarga yang jauh di bawah kondisi keluarganya. Ketika dia memutuskan untuk menikahiku tanpa pacaran terlebih dahulu. Dirinya bukan laki-laki perokok walaupun temannya 80 % merokok. Dirinya seorang yang selalu menjaga pandangan dan lisannya. Tak pernah sedikitpun aku mendengar dirinya berteriak marah ataupun berkata kasar. Dirinya rutin sholat berjamaan di masjid.

Yaa Rabb, sesungguhnya nikmat inilah yang sering aku lupakan. Aku malah sering meninggikan suraku di hadapannya, aku sering marah padanya, aku sering mencubitnya, aku sering berkata kasar padanya, aku sering memakinya. Yaa Rabb, sebegitu rendahnya akhlakku. Dan sebegitu indahnya dirinya.

Yaa Rabb, aku tahu setan akan sering membisikkan kepada suami dan istri untuk melecut pertengkaran-pertengkaran. Tapi malah aku yang sering menuruti keinginan setan, astagfirullahal adziim. Ampunilah kesalahanku ya Allah dan lindungilah aku dari godaan setan yang terkutuk. Indahkanlah akhlakku, jadikanlah aku satu-satunya wanita yang sholihah untuk suamiku di dunia dan di akhirat nanti.

Yaa Rabb, kabulkanlah doaku. Jagalah suamiku dari segala bahaya. Jagalah dirinya dari segala zina dan fitnah. Lindungilah dirinya dengan cinta dan kasih-Mu, berkahilah usianya, jadikanlah dirinya imam terbaik bagiku untuk menuju surga-Mu. Aamiin yaa Rabb.

Saat ini suamiku sedang berada di Surabaya untuk menjalani tes wawancara tekait kompetensi Boiler. Semoga dimudahkan Allah segala urusannya, aamiin.

Suamiku maafkan aku yang selalu marah dan terlalu cerewet. Maafkan aku yang selalu berkata kasar dan memakimu. Semoga rumah tangga kita selalu dalam sakinah mawadah warahmah, aamiin.

Salam sayang dan cinta dari istrimu. Terimakasih cinta….

Tersadar didalam sepiku
Setelah jauh melangkah
Cahaya kasihmu menuntunku
Kembali dalam dekap tanganmu
Terima kasih cinta untuk segalanya
Kau berikan lagi kesempatan itu
Tak akan terulang lagi
Semuaaa kesalahanku yang pernah menyakitimu
Tanpamu tiada berarti
Tak mampu lagi berdiri
Cahaya kasihmu menuntunku
Kembali dalam dekapan tanganmu
Terima kasih cinta untuk segalanya
Kau berikan lagi kesempatan itu
Tak akan terulang lagi
Semuaaa kesalahanku yang pernah menyakitimu

(“Terima Kasih Cinta, by Afgan) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar