Aku cinta pekerjaanku. Memang aku
tidak memangku jabatan apapun dalam perusahaan itu. Bukan seorang supervisor
dan bukan pula seorang manajer. Aku hanya seorang staf biasa. Namun aku selalu
yakin bekerja adalah ibadah. Jadi sudah selayaknya aku tidak menghitung banyaknya
waktu yang aku habiskan untuk perusahaanku. Apalagi perusahaan penerangan ini
adalah milik Negara. Bisa dipastikan segala keringatku ini akhirnya kembali
pada kemakmuran rakyat. Aku sungguh-sungguh mencintai pekerjaanku.
Di perusahaan, aku bekerja sebagai
teknisi yang selalu berurusan dengan alat-alat operasi. Hampir tiap hari aku
pulang terlambat. Aku tak bisa pulang “on
time” seperti layaknya pekerja kantoran. Bahkan hari sabtu dan minggu sering
sibuk di kantor untuk memperbaiki
peralatan yang rusak.
Istriku selalu saja marah ketika
aku lupa menulis lemburku, ketika aku lupa mengisi daftar hadir piket. Memang secara
materi itu harganya jutaan, tapi aku ingin sekali menekankan pada istriku bahwa
bekerja adalah ibadah. Tidak semua hal bisa diukur dengan uang.
Istriku sering mengingatkan akan
kesehatanku. Bagaimana tidak, pulang tengah malam pergi pagi hari itu cukup
menguras energi. Apalagi aku bekerja dengan mesin-mesin itu. Tak boleh
sedikitpun lengah, jika tidak ingin membahayakan diri.
“Mas, aku ga enak badan” ucap
istriku.
Memang tadi pagi tubuhnya demam,
tapi kurasa karena musim pancaroba sehingga dia sakit.
“Iya, bentar ya, masih ada kerjaan”
“Mau pulang jam berapa?”
“Ya kalau sudah selesai”
“Ya sudah entar kalau mau pulang
kabari ya. Badanku gak enak banget”
“Oke” aku pun mengakhiri panggilan
telepon istriku.
Satu jam kemudian dia menelpon
lagi, kujawab hal yang sama.
Dua jam kemudian dia masih menelpon
lagi, kujawab hal yang sama. Sebersit rasa jengkel di hatiku, kalau telpon
terus bagaimana pekerjaanku bisa selesai.
Pukul tiga dini hari aku baru
pulang. Kulihat istriku terlelap dalam tidurnya. Tidak ada bekas makan malam,
berarti seperti biasa dia malas makan. Kucoba membangunkannya.
“Subhanallah, badannya panas sekali”
gumamku seraya melakukan kompres di atas kepalanya, “Dek, bangun…”
Namun hingga adzan subuh istriku
tidak bangun. Terpaksa aku menggendongnya ke mobil dan membawanya ke rumah
sakit. Meski aku sangat mengantuk dan capek tapi aku harus membawanya berobat. Semoga
belum terlambat, pikirku.
===
“Istri Anda koma Pak. Saya pikir
panasnya sudah agak lama, tapi kenapa baru dibawa sekarang Pak” kata sang
dokter. Aku terhenyak mendengar ucapannya, toh selama ini istriku tidak pernah
mengeluh sakit apapun padaku,“Saya menduga istri Anda memiliki riwayat sakit
kepala yang cukup parah. Apalagi kondisinya yang lemah dengan lambung kosong. Ini
bisa memacu tingkat keparahan penyakitnya.”
“Tapi masih bias sembuh kan Dok. Istri
saya tidak kenapa-kenapa kan Dok?” tanyaku resah. Rasa kantuk sudah hilang dari
dalam tubuhku. Kudengar suaraku bergetar dan kekhawatiranku memuncak.
“Berdoa saja Pak. Lagipula saya
lihat Anda begitu lelah. Istirahat saja, insya Allah saya berusaha semaksimal
mungkin”
===
“Sayang sebenarnya bekerja buat
siapa?” aku masih bisa mengingat jelas pada rengekan istriku dua hari yang
lalu.
“Buat keluarga kita, buat anak-anak
kita” jawabku.
“Tapi sayang selalu berada di
kantor walaupun hari libur dan sering pulang terlalu malam.”
“Ya, namanya juga bekerja. Bekerja itu
harus ikhlas”
“Tapi tidak harus mengorbankan diri
dan keluarga. Toh pekerjaan yang tidak selesai hari ini bisa dilanjutkan esok
hari. Ya kan?”
Aku terdiam. Percuma berdebat
dengan istriku. Toh tetap saja dia tidak mau kalah.
“Ambil cuti aja sayang gak mau. Kapan
ada waktu bersenang-senang dengan keluarga?”
Aku terdiam.
===
Aku masih memangdangi bendera
kuning yang terpasang di depan rumah. Seminggu lamanya istriku dalam keadaan
koma di rumah sakit. Setiap hari aku menungguinya. Bahkan aku mengajukan cuti
besar untuk melihatnya tersenyum kembali. Namun rupanya Allah menghendaki yang
lain. Akhirnya istriku tenang menghadap-Nya tanpa memberi kesempatan padaku
untuk melihatnya tersenyum. Bahkan untuk mendengar omelannya sekalipun.
Kini tak ada lagi yang menungguku
pulang ke rumah. Aku bisa sebebas-bebasnya bekerja di kantor. Namun aku harus
menebus cukup banyak untuk pekerjaanku yang kucintai. Aku kehilangan istriku
dan kehilangan cahaya dalam rumahku.
Aku teringat dengan satu pertanyaan
darinya.
“Sayang sebenarnya bekerja buat
siapa?”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar