Kamis, 28 Mei 2015

MY JOB AND MY FAMILY


Aku cinta pekerjaanku. Memang aku tidak memangku jabatan apapun dalam perusahaan itu. Bukan seorang supervisor dan bukan pula seorang manajer. Aku hanya seorang staf biasa. Namun aku selalu yakin bekerja adalah ibadah. Jadi sudah selayaknya aku tidak menghitung banyaknya waktu yang aku habiskan untuk perusahaanku. Apalagi perusahaan penerangan ini adalah milik Negara. Bisa dipastikan segala keringatku ini akhirnya kembali pada kemakmuran rakyat. Aku sungguh-sungguh mencintai pekerjaanku.

Di perusahaan, aku bekerja sebagai teknisi yang selalu berurusan dengan alat-alat operasi. Hampir tiap hari aku pulang terlambat. Aku tak bisa pulang “on time” seperti layaknya pekerja kantoran. Bahkan hari sabtu dan minggu sering  sibuk di kantor untuk memperbaiki peralatan yang rusak.

Istriku selalu saja marah ketika aku lupa menulis lemburku, ketika aku lupa mengisi daftar hadir piket. Memang secara materi itu harganya jutaan, tapi aku ingin sekali menekankan pada istriku bahwa bekerja adalah ibadah. Tidak semua hal bisa diukur dengan uang.

Istriku sering mengingatkan akan kesehatanku. Bagaimana tidak, pulang tengah malam pergi pagi hari itu cukup menguras energi. Apalagi aku bekerja dengan mesin-mesin itu. Tak boleh sedikitpun lengah, jika tidak ingin membahayakan diri.

“Mas, aku ga enak badan” ucap istriku.
Memang tadi pagi tubuhnya demam, tapi kurasa karena musim pancaroba sehingga dia sakit.
“Iya, bentar ya, masih ada kerjaan”
“Mau pulang jam berapa?”
“Ya kalau sudah selesai”
“Ya sudah entar kalau mau pulang kabari ya. Badanku gak enak banget”
“Oke” aku pun mengakhiri panggilan telepon istriku.
Satu jam kemudian dia menelpon lagi, kujawab hal yang sama.
Dua jam kemudian dia masih menelpon lagi, kujawab hal yang sama. Sebersit rasa jengkel di hatiku, kalau telpon terus bagaimana pekerjaanku bisa selesai.

Pukul tiga dini hari aku baru pulang. Kulihat istriku terlelap dalam tidurnya. Tidak ada bekas makan malam, berarti seperti biasa dia malas makan. Kucoba membangunkannya.
“Subhanallah, badannya panas sekali” gumamku seraya melakukan kompres di atas kepalanya, “Dek, bangun…”
Namun hingga adzan subuh istriku tidak bangun. Terpaksa aku menggendongnya ke mobil dan membawanya ke rumah sakit. Meski aku sangat mengantuk dan capek tapi aku harus membawanya berobat. Semoga belum terlambat, pikirku.
===
“Istri Anda koma Pak. Saya pikir panasnya sudah agak lama, tapi kenapa baru dibawa sekarang Pak” kata sang dokter. Aku terhenyak mendengar ucapannya, toh selama ini istriku tidak pernah mengeluh sakit apapun padaku,“Saya menduga istri Anda memiliki riwayat sakit kepala yang cukup parah. Apalagi kondisinya yang lemah dengan lambung kosong. Ini bisa memacu tingkat keparahan penyakitnya.”
“Tapi masih bias sembuh kan Dok. Istri saya tidak kenapa-kenapa kan Dok?” tanyaku resah. Rasa kantuk sudah hilang dari dalam tubuhku. Kudengar suaraku bergetar dan kekhawatiranku memuncak.
“Berdoa saja Pak. Lagipula saya lihat Anda begitu lelah. Istirahat saja, insya Allah saya berusaha semaksimal mungkin”
===
“Sayang sebenarnya bekerja buat siapa?” aku masih bisa mengingat jelas pada rengekan istriku dua hari yang lalu.
“Buat keluarga kita, buat anak-anak kita” jawabku.
“Tapi sayang selalu berada di kantor walaupun hari libur dan sering pulang terlalu malam.”
“Ya, namanya juga bekerja. Bekerja itu harus ikhlas”
“Tapi tidak harus mengorbankan diri dan keluarga. Toh pekerjaan yang tidak selesai hari ini bisa dilanjutkan esok hari. Ya kan?”
Aku terdiam. Percuma berdebat dengan istriku. Toh tetap saja dia tidak mau kalah.
“Ambil cuti aja sayang gak mau. Kapan ada waktu bersenang-senang dengan keluarga?”
Aku terdiam.
===
Aku masih memangdangi bendera kuning yang terpasang di depan rumah. Seminggu lamanya istriku dalam keadaan koma di rumah sakit. Setiap hari aku menungguinya. Bahkan aku mengajukan cuti besar untuk melihatnya tersenyum kembali. Namun rupanya Allah menghendaki yang lain. Akhirnya istriku tenang menghadap-Nya tanpa memberi kesempatan padaku untuk melihatnya tersenyum. Bahkan untuk mendengar omelannya sekalipun.

Kini tak ada lagi yang menungguku pulang ke rumah. Aku bisa sebebas-bebasnya bekerja di kantor. Namun aku harus menebus cukup banyak untuk pekerjaanku yang kucintai. Aku kehilangan istriku dan kehilangan cahaya dalam rumahku.

Aku teringat dengan satu pertanyaan darinya.
“Sayang sebenarnya bekerja buat siapa?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar