Selasa, 08 Juli 2014

Sebercak Kenangan di Masa Lalu




Syarifah
Bagaikan halilintar tanpa hujan ataupun mendung. Tiba-tiba saja dirimu pergi dari kehidupanku. Bagaimana aku tidak marah, dirimu selalu kunantikan di tiap malamku. Bagaimana aku tak sedih, dirimu ternyata lebih memilihnya untuk mendampingimu. Lalu, dimana rasa cinta yang dulu pernah kau ungkapkan padaku. apakah karena aku terlalu angkuh untuk mengucapkan cinta padamu, hingga kau campakkan aku.

Otakku tak bisa berpikir jernih. Masih juga aku bertanya, apa salahku hingga membuatmu menjauhiku. Apa karena aku wanita yang hebat hingga tak pantas bersanding denganmu? Tapi hatiku masih merindukanmu. Bagaimana aku bisa sembunyi dari kepedihan hatiku ini. Hanya di tiap sujud aku merasa tenang.

Dirimu, mungkin adalah sebagian kisahku. Mungkin suatu nanti aku akan melupakanmu. Tapi tidak bisa sekarang, aku memerlukan waktu untuk memenangkan hatiku kembali. Tanpa ada cinta darimu, tanpa ada kisah tentangmu.

“Jadi siapa wanita itu?” tanyaku lewat ponsel.
“Bukan siapa-siapa” jawabmu enteng.
Aku merasa ada banyak hal yang berubah darimu. Sejak nama itu kerapkali muncul untuk membalas status facebookmu. Sudah sedalam apa hubungan kalian. Hingga aku, wanita yang pernah kau cintai tiba tiba saja kau lukai.
“Mas mencintainya?” tanyaku berusaha setegar mungkin untuk mendengar jawabanmu.
“Aku tak bisa jawab itu Dik” balasmu.
Namun jawabanmu itu semakin menguatkan aku bahwa kau tengah jatuh cinta padanya. Engkau tengah merajut kasih, atau mungkin juga telah memutuskan dialah pelabuhan terakhirmu.
“Apa yang salah denganku?” tanyaku memelas. Kali ini kubiarkan tangisku pecah. Paling tidak mungkin itu terakhir kalinya aku menelponmu. Mungkin itu adalah terakhir kalinya aku mendengar suaramu. Kubiarkan tangis sesenggukkan melandaku. Aku bahkan bingung harus berucap apa lagi. Semua terjadi secara tiba-tiba. Ketika rasa cinta hampir hinggap dihatiku, kau tiba-tiba ingin melupakanku.
“Tidak ada yang salah dengan Adik” jawabmu tenang.
“Tapi Mas harus janji satu hal”
“Apa itu?”
“Apapun yang terjadi nanti, aku mohon Mas jangan mengganti nomer ponsel. Supaya nanti aku masih bisa menghubungi Mas” pintaku. Namun dirimu hanya diam, hening, tanpa jawaban. Mungkin aku tak bisa mengharapkanmu kembali mencintaiku, mungkin inilah memang saat-saat terakhir kisahku denganmu.
=====
Dua puluh lima tahun kemudian

Salsabila
Aku terlalu kesal dengan apa yang tengah terjadi. Lelaki yang sangat aku kagumi ternyata lebih memilih untuk menikahi sahabatku. Sungguh rasanya hatiku sangat kecewa. Bertahun sudah aku mengenal lelaki santun itu, namun akhirnya cintanya berlabuh pada seorang Raisya. Memang diantara lelaki itu dan Raisya tak pernah pacaran, namun hal itu yang membuatku terkejut. Lelaki pujaanku tiba-tiba melamar Raisya. Anehnya, Raisya yang terkenal tomboy dan cuek terhadap kaum Adam langsung menerima lamaran lelaki itu.

Kali ini kuhabiskan waktuku dengan menangis di kamar. Biasanya, aku selalu cerita pada Raisya jika diriku dirundung masalah. Namun untuk kali ini saja, aku malah terdiam. Aku tak ingin membuat Raisya memikirkan perasaanku. Walaupun kenyataannya hatiku hancur berkeping-keping. Sungguh, aku masih merasa ini hanyalah mimpi. Namun, ini adalah kenyataan.

“Salsabila” tegur papiku dari depan kamar.
“Ya Pi….bentar lagi Salsa keluar kamar kok”
“Tapi kamu seharian belum makan. Kalau ada masalah Salsabila cerita pada Papi”
Aku keluar seraya memeluk tubuh kekar Papiku. Sejak Mami meninggal karena kanker setahun lalu, aku jadi amat dekat dengan Papi.
“Papi, cowok yang Salsa sukai mau nikah dengan Raisya”
“Raisya sahabat Salsabila, bukan?”
“Iya Pi”
Papi menenangkanku, “Sudahlah, mungkin lelaki itu bukan jodohnya Salsabila”
“Tapi Pi…rasanya Salsa masih sakit hati. Mengapa mereka tidak pacaran dulu, mengapa langsung menikah. Jadi kan rasa sakit di hati Salsa lebih berat saat tahu mereka langsung menikah”
“Kapan mereka menikahnya?”
“Minggu depan Pi”
“Nanti Papi temani Salsabila buat datang ke acara nikahan Raisya”
“Buat apa Pi? Nanti kalau Salsa menangis bagaimana?”
Papi menatapku seraya tersenyum. Aku tahu senyum itu dipaksakan, namun aku merasa lebih tenang jika Papi ada di dekatku.
“Papi tahu, Salsa wanita yang tegar kok”
“Mengapa mesti seorang Raisya. Wanita yang begitu sempurna di hadapan semua orang. Anak yang cantik, pintar dan sholihah”
“Memangnya anak Papi ndak begitu?”
“Aku selalu kalah dibandingkan Raisya Pi” keluhku
Papi memelukku erat, “Apapun kondisinya Papi bangga kepadamu Salsabila”

Bertahun yang lalu, aku sempat marahan dengan Papi. Betapa tidak, ternyata Papi menikahi Mami hanya karena Mami telah hamil di luar nikah. Namun kupikir tak ada salahnya aku menghargai Papi yang masih mau bertanggung jawab atas kehairanku di rahim Mama. Karena begitu banyak lelaki di luaran sana yang lepas tanggung jawab terhadap pacarnya yang hamil. Karena itu pula, aku tak pernah ingin pacaran. Aku takut kejadiannya akan sama sepeti Mami. Aku tak mau itu terjadi.
=====
Aku pernah mencintai wanita itu, Syarifah Annisa. Wanita yang kini ada di hadapanku. Rasanya bibirku kelu untuk mengucapkan selamat atas pernikahan putrinya. Ya, Raisya adalah anak pertama dari Syarifah. Jadi selama ini aku tak pernah tahu bahwa sahabat Salsabila itu adalah anak dari wanita yang dulu pernah aku kagumi. Sosok wanita sederhana dan sholihah. Wanita yang pernah aku tinggalkan dan pernah aku lukai hatinya.

“Syarifah, selamat atas pernikahan putrimu” ucapku.
Kamu memandangku heran. Apakah tampangku sudah melebihi usiaku yang sebenarnya. Ataukah kamu benar-benar telah menghapus keberadaanku dalam kehidupanmu.
“Trimakasih. Anda Papinya Salsa? Salsa sahabat Raisya”
“Aku Firmansyah” kataku.
Aku melihat tatapn terkejut dari kedua bola matamu. Aku sengaja tersenyum untuk menutupi kegetiranku. Kulirik anakku yang mulai menyembunyikan sedihnya. Seperti inikah perasaan Syarifah saat aku memutuskan untuk meninggalkannya.
“Maaf, Mas Firman senior SMA-ku?”
“Iya”
“Apa kabar?”
“Alhamdulillah baik”
“Ayah kenalkan ini Papinya Salsa” katamu pada lelaki yang berdiri gagah disampingmu.
Lelaki itu mengajakku bersalaman.
Aku menghela napas sejenak. Otakku masih belum bisa berpikir jernih. Semua ini Bagaikan halilintar tanpa hujan ataupun mendung. Bagaimana aku bisa sembunyi dari rasa sakit di  hatiku ini. Apakah hatiku masih mencintai seorang Syarifah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar