Jumat, 04 Juli 2014

Aku Hanya Seorang Wanita





Saat usiaku 4 tahun, aku sudah mampu membaca. Aku juga sudah bisa mengaji juz amma. Aku juga bisa menghitung penambahan, pengurangan bahkan perkalian. Aku juga memiliki kemampuan mengatur jadwal main, belajar, sekolah, mandi bahkan tidur siang maupun tidur malam. Well, untuk anak seusiaku itu adalah prestasi yang luar biasa.

Aku sekolah TK di TK Puspasari I tambaksari, Surabaya. Hal yang paling aku sukai adalah menari. Hal yang paling aku benci adalah karnaval. Oleh karenanya, aku tidak pernah mengikuti karnaval. Bagiku suatu hal bodoh jika kita sudah dandan cantik lalu disuruh jalan dari radio rajawali sampai taman remaja Surabaya, yang melihat juga para tukang becak dan tukan jual makanan.

Di TK, aku termasuk anak yang susah diatur. Aku selalu menyelesaikan tugasku dengan cepat. Entah itu belajar menulis, menghitung, menggambar atau bahkan mencocok. Setelah pekerjaanku selesai aku selalu membantu teman sekelompokku untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Tentu saja hal ini membuat ibu guruku geram, dan menyuruhku untuk bermain di luar kelas kalau tugasku sudah selesai. Tapi aku tak pernah mau dan tetap membantu temanku menyelesaikan tugasnya.

Ketika akan naik TK B, guruku mengusulkan agar aku langsung masuk SD. Namun karena aku masih cengeng, ibuku memutuskan agar aku tetap masuk TK B. saat TK B ini aku secara otodidak belajar menulis huruf latin. Amazing, aku juga bisa merangkai huruf-huruf tersebut menjadi kata, kemudian kalimat.

Lulus dari TK B, ibu memberikan pilihan kepadaku akan sekolah SD dimana. SDN tambaksari atau SDN pacarkeling. Aku pilih SDN tambaksari karena letaknya lebih dekat dari rumah. Walaupun aku sering dengar bahwa SDN Pacarkeling tempatnya anak-anak pinter, aku tetap ingin sekolah di SDN tambaksari. SDN tambaksari 5 menjadi pilihanku saat itu, karena si SD tersebut murid yang mendaftar paling banyak. Ada 64 siswa dalam satu angkatan, satu kelas pula.

Aku lulus SD, dan mendapat peringkat satu. Inilah pertama kalinya aku mendapat peringkat satu, karena sebelum-sebelumnya aku selalu mendapat peringkat empat. Baru aku tahu, ternyata bukan kemampuan yang membuat aku tidak bisa meraih ranking satu, melainkan aku tak pernah memberikan gratifikasi pada wali kelasku. Tapi tak apalah, toh diakhir kelulusan aku mampu membuktikan bahwa aku peraih danem tertinggi di kelas dan aku ranking pertama. Danemku saat itu 43.91.

Kulangkahkan kaki menuju SLTPN 1 surabaya. Konon, ini merupakan SLTP terbaik di Surabaya. Aku dan seorang temanku dari SDN tambaksari 5 bisa masuk ke SLTP ini karena nilai danem kami yang tinggi. Tak ada yang menarik di SLTP ini selain prestasiku yang makin gemilang. Aku meraih danem tertinggi di kelas 3 E, yaitu 48.37. aku juga meraih ranking 9 danem tertinggi di SLTPN 1 Surabaya.

Awalnya aku enggan untuk masuk sekolah di SMAN 5 Surabaya. Namun karena ibuku tak mengijinkan aku untuk sekolah di luar negeri, maka dengan berat hati aku masuk SMAN 5 Surabaya. Aku mau masuk SMAN5 Surabaya dengan syarat harus masuk kelas akselerasi. Perjuangan yang cukup panjang membuatku lulus dari kelas akselerasi dan diterima PMDK Teknik Mesin ITS.

Jurusan Mesin memanglah identik dengan laki-laki. Namun di tahun 2004, Jurusan ini mengadakan PMDK Keputrian. Dari seluruh wilayah Indonesia hanya ada 15 wanita terpilih untuk masuk jurusan ini tanpa melalui tes. Dan salah satunya adalah aku. Aku pun mendapat urutan pertama dalam penerimaan PMDK ini. Sempat banyak orang protes mengapa aku masuk jurusan ini. Namun di hati kecilku aku sangat yakin aka nada kesempatan besar untukku mendapatkan beasiswa di jurusan yang mayoritas disukai kaum Adam ini.

Bapakku sudah lama tidak bekerja, sejak penjualan jamu sepi. Pada saat aku SMA Bapak sudah resmi meninggalkan pekerjaannya sebagai tukang jamu. Namun barulah tahun 2005 ini kurasakan kesulitan membelenggu kehidupan keluarga kami. Sejak pindah rumah ke Bronggalan, penjualan kelontong ibuku sepi. Bisnis kredit pakaian pun terhenti karena uang modal ikut terbawa saat membeli rumah baru. Inilah awal kebangkitanku mengabdi sebagai seorang anak.

Tak sengaja aku mendapatkan tawaran untuk mengisi bursa Mesin dengan cemilan kacang goreng. Sampai akhirnya cemilan itu merambah ke cemilan-cemilan yang lain, kacang koro, bidaran, stik bawang, kerupuk amplang dan banyak macam yang lain. Jika dihitung macamnya bisa sampai 21 jenis cemilan. Modalnya sebagian berasal dari penghasilanku member les privat ke anak SD sampai SMA.

Beasiswa pun mengalir lancer, aku mendapat beasiswa TPSDP, dimana syarat mendapat beasiswa ini adalah IPK harus diatas 3. Pernah suatu ketika dosenku menawarkan untuk menagganti beasiswa tersebuk dengan beasiswa Ikatan Alumni (IKA). Namun karena jumlah beasiswa IKA hanya enam ratus ribu, dan TPSDP satu setengah juta per bulan, maka dengan sopan aku tolak tawaran penukaran beasiswa tersebut. Pernah juga aku mendapat beasiswa hingga triple, TPSDP, PPA dan BBM. Padahal menurut aturan tidak boleh menerima beasiswa double di ITS.

Aku lulus dari jurusan Mesin dengan IPK 3.16 dengan waktu kuliah 9 semester. Aku sempat mendaftar kerja di perusahaan minyak milik asing namun selalu tidak lulus. Pasalnya, ibu tidak mengijinkan aku kerja di luar pulau jawa. Akhirnya perjuanganku mendapat pekerjaan terhenti setelah empat bulan menanti tes-tes yang diselengggarakan oleh PJB. Selama itu aku masih menjalankan aktivitasku sebagai guru les privat plus tentor primagama.

Aku mendapat penempatan di Jakarta. Kota yang dulu sangat aku hindari. Namun aku tak bisa berpaling dari tugas ini, karena dendanya 45 juta rupiah jika aku mengundurkan diri. Kuberanikan diri menapakkan kaki di Jakarta, tanpa ada sanak saudara. Selama setahun menjadi OJT disana, tibalah pengangkatan pegawai pada bulan September 2010. Awalnya aku mengontrak rumah untuk didiami 11 orang di muara karang. Namun setelah pengangkatan pegawai mereka mencari tempat kos lain yang layak huni. Pasalnya daerah muara karang sering kebanjiran. Aku pun mencari tempat kos lain, namun aku tetap memilih tinggal di muara karang.

Aku mendapat tempat kos yang sangat nyaman. Pasalnya, ibu kos hanya memiliki satu kamar untuk dijadikan tempat kos. Dengan hanya membayar lima ratus ribu per bulan, aku bisa menikmati makanan pagi dan malam di kos tersebut. Ibu kos juga menganggap aku seperti anak sendiri. Kalau rumah kotor ya aku sapuin, kalau banyak cucian piring ya aku cuciin.

Tiga bulan setelah pengangkatan, aku memberanikan diri meminjam uang koperasi sebanyak seratus juta. Aku meminjam uang tersebut untuk membeli rumah. Baru ketika menginjak Pebruari 2011 akhir aku menemukan rumah yang pas dengan jumlah uang yang aku miliki. Rumah tipe 50/61 tersebut aku beli seharga 125 juta. Rumah tersebut berada di daerah cipondoh yang dekat juga dengan rumah atasanku, Pak Nuh. Akhirnya aku seperti anak dari Pak Nuh, pergi dan pulang kerja bareng Pak Nuh. Bahkan Pak Nuh yang memboncengi aku naik motor Mio yang aku beli bersamaan dengan pembelian rumah tersebut. Mei 2011, aku resmi tinggal di cipondoh setelah pengurusan sertifikat selesai.

Pada Maret 2012, aku bertemu dengan seseorang yang kini menjadi suamiku. Kami menikah pada Mei 2012. Aku pun resmi meninggalkan rumah cipondoh untuk pindah ke rumah suami di daerah simprug diporis.

Pada Mei 2013, aku resmi menyandang status sebagai ibu. Bayi mungil perempuan lahir dari rahimku. Kehadiran bayi mungil ini melengkapi kebahagiaan keluarga kecil kami.

Pada Mei 2014, kubangun tingkat rumahku yang di Cipondoh. Mungkin orang yang melihatku heran karena bagaimana bisa wanita berusia 27 tahun telah memiliki segalanya. Dua rumah di daerah tangerang, satu mobil grand livina, suami yang baik hati, putri kecil yang berusia setahun, berhasil membiayai sekolah adik hingga lulus D3 Teknik mesin ITS.

Subhanallah maha suci Allah yang telah melimpahkan rezeki yang melimpah ruah bagiku. Aku sangat sadar semua keberhasilan ini tak pernah luput dari doa ibuku. Seorang wanita yang telah melahirkanku.

Mungkin saat aku masih kecil aku selalu menyesali mengapa aku dilahirkan sebagai seorang wanita. Namun ternyata wanita sholihah adalah anugerah yang terindah di dunia. Mungkin banyak yang menatapku heran, pasalnya prestasiku jauh melebihi prestasi teman-temanku yang laki-laki. Dan aku jauh lebih tangguh dan mandiri dibandingkan dengan mereka. Aku tahu aku wanita yang hanya bisa menjadi makmum bagi suamiku. Namun perlu digaris bawahi bahwa prestasi apa yang aku raih juga hanya karena seorang wanita, Ibuku.

Love you too much my Mom….
Ingatlah "Surga di telapak kaki Ibu"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar