Saat usiaku 4 tahun, aku sudah mampu membaca. Aku juga sudah
bisa mengaji juz amma. Aku juga bisa menghitung penambahan, pengurangan bahkan
perkalian. Aku juga memiliki kemampuan mengatur jadwal main, belajar, sekolah,
mandi bahkan tidur siang maupun tidur malam. Well, untuk anak seusiaku itu
adalah prestasi yang luar biasa.
Aku sekolah TK di TK Puspasari I tambaksari, Surabaya. Hal
yang paling aku sukai adalah menari. Hal yang paling aku benci adalah karnaval.
Oleh karenanya, aku tidak pernah mengikuti karnaval. Bagiku suatu hal bodoh
jika kita sudah dandan cantik lalu disuruh jalan dari radio rajawali sampai
taman remaja Surabaya, yang melihat juga para tukang becak dan tukan jual
makanan.
Di TK, aku termasuk anak yang susah diatur. Aku selalu
menyelesaikan tugasku dengan cepat. Entah itu belajar menulis, menghitung,
menggambar atau bahkan mencocok. Setelah pekerjaanku selesai aku selalu
membantu teman sekelompokku untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Tentu saja
hal ini membuat ibu guruku geram, dan menyuruhku untuk bermain di luar kelas
kalau tugasku sudah selesai. Tapi aku tak pernah mau dan tetap membantu temanku
menyelesaikan tugasnya.
Ketika akan naik TK B, guruku mengusulkan agar aku langsung
masuk SD. Namun karena aku masih cengeng, ibuku memutuskan agar aku tetap masuk
TK B. saat TK B ini aku secara otodidak belajar menulis huruf latin. Amazing,
aku juga bisa merangkai huruf-huruf tersebut menjadi kata, kemudian kalimat.
Lulus dari TK B, ibu memberikan pilihan kepadaku akan
sekolah SD dimana. SDN tambaksari atau SDN pacarkeling. Aku pilih SDN
tambaksari karena letaknya lebih dekat dari rumah. Walaupun aku sering dengar
bahwa SDN Pacarkeling tempatnya anak-anak pinter, aku tetap ingin sekolah di
SDN tambaksari. SDN tambaksari 5 menjadi pilihanku saat itu, karena si SD
tersebut murid yang mendaftar paling banyak. Ada 64 siswa dalam satu angkatan,
satu kelas pula.
Aku lulus SD, dan mendapat peringkat satu. Inilah pertama
kalinya aku mendapat peringkat satu, karena sebelum-sebelumnya aku selalu
mendapat peringkat empat. Baru aku tahu, ternyata bukan kemampuan yang membuat
aku tidak bisa meraih ranking satu, melainkan aku tak pernah memberikan
gratifikasi pada wali kelasku. Tapi tak apalah, toh diakhir kelulusan aku mampu
membuktikan bahwa aku peraih danem tertinggi di kelas dan aku ranking pertama.
Danemku saat itu 43.91.
Kulangkahkan kaki menuju SLTPN 1 surabaya. Konon, ini
merupakan SLTP terbaik di Surabaya. Aku dan seorang temanku dari SDN tambaksari
5 bisa masuk ke SLTP ini karena nilai danem kami yang tinggi. Tak ada yang
menarik di SLTP ini selain prestasiku yang makin gemilang. Aku meraih danem
tertinggi di kelas 3 E, yaitu 48.37. aku juga meraih ranking 9 danem tertinggi
di SLTPN 1 Surabaya.
Awalnya aku enggan untuk masuk sekolah di SMAN 5 Surabaya.
Namun karena ibuku tak mengijinkan aku untuk sekolah di luar negeri, maka
dengan berat hati aku masuk SMAN 5 Surabaya. Aku mau masuk SMAN5 Surabaya
dengan syarat harus masuk kelas akselerasi. Perjuangan yang cukup panjang
membuatku lulus dari kelas akselerasi dan diterima PMDK Teknik Mesin ITS.
Jurusan Mesin memanglah identik dengan laki-laki. Namun di
tahun 2004, Jurusan ini mengadakan PMDK Keputrian. Dari seluruh wilayah
Indonesia hanya ada 15 wanita terpilih untuk masuk jurusan ini tanpa melalui
tes. Dan salah satunya adalah aku. Aku pun mendapat urutan pertama dalam
penerimaan PMDK ini. Sempat banyak orang protes mengapa aku masuk jurusan ini.
Namun di hati kecilku aku sangat yakin aka nada kesempatan besar untukku mendapatkan
beasiswa di jurusan yang mayoritas disukai kaum Adam ini.
Bapakku sudah lama tidak bekerja, sejak penjualan jamu sepi.
Pada saat aku SMA Bapak sudah resmi meninggalkan pekerjaannya sebagai tukang
jamu. Namun barulah tahun 2005 ini kurasakan kesulitan membelenggu kehidupan
keluarga kami. Sejak pindah rumah ke Bronggalan, penjualan kelontong ibuku
sepi. Bisnis kredit pakaian pun terhenti karena uang modal ikut terbawa saat
membeli rumah baru. Inilah awal kebangkitanku mengabdi sebagai seorang anak.
Tak sengaja aku mendapatkan tawaran untuk mengisi bursa
Mesin dengan cemilan kacang goreng. Sampai akhirnya cemilan itu merambah ke
cemilan-cemilan yang lain, kacang koro, bidaran, stik bawang, kerupuk amplang
dan banyak macam yang lain. Jika dihitung macamnya bisa sampai 21 jenis
cemilan. Modalnya sebagian berasal dari penghasilanku member les privat ke anak
SD sampai SMA.
Beasiswa pun mengalir lancer, aku mendapat beasiswa TPSDP,
dimana syarat mendapat beasiswa ini adalah IPK harus diatas 3. Pernah suatu
ketika dosenku menawarkan untuk menagganti beasiswa tersebuk dengan beasiswa
Ikatan Alumni (IKA). Namun karena jumlah beasiswa IKA hanya enam ratus ribu,
dan TPSDP satu setengah juta per bulan, maka dengan sopan aku tolak tawaran
penukaran beasiswa tersebut. Pernah juga aku mendapat beasiswa hingga triple,
TPSDP, PPA dan BBM. Padahal menurut aturan tidak boleh menerima beasiswa double
di ITS.
Aku lulus dari jurusan Mesin dengan IPK 3.16 dengan waktu
kuliah 9 semester. Aku sempat mendaftar kerja di perusahaan minyak milik asing
namun selalu tidak lulus. Pasalnya, ibu tidak mengijinkan aku kerja di luar
pulau jawa. Akhirnya perjuanganku mendapat pekerjaan terhenti setelah empat
bulan menanti tes-tes yang diselengggarakan oleh PJB. Selama itu aku masih menjalankan
aktivitasku sebagai guru les privat plus tentor primagama.
Aku mendapat penempatan di Jakarta. Kota yang dulu sangat
aku hindari. Namun aku tak bisa berpaling dari tugas ini, karena dendanya 45
juta rupiah jika aku mengundurkan diri. Kuberanikan diri menapakkan kaki di
Jakarta, tanpa ada sanak saudara. Selama setahun menjadi OJT disana, tibalah
pengangkatan pegawai pada bulan September 2010. Awalnya aku mengontrak rumah
untuk didiami 11 orang di muara karang. Namun setelah pengangkatan pegawai mereka
mencari tempat kos lain yang layak huni. Pasalnya daerah muara karang sering
kebanjiran. Aku pun mencari tempat kos lain, namun aku tetap memilih tinggal di
muara karang.
Aku mendapat tempat kos yang sangat nyaman. Pasalnya, ibu
kos hanya memiliki satu kamar untuk dijadikan tempat kos. Dengan hanya membayar
lima ratus ribu per bulan, aku bisa menikmati makanan pagi dan malam di kos
tersebut. Ibu kos juga menganggap aku seperti anak sendiri. Kalau rumah kotor
ya aku sapuin, kalau banyak cucian piring ya aku cuciin.
Tiga bulan setelah pengangkatan, aku memberanikan diri
meminjam uang koperasi sebanyak seratus juta. Aku meminjam uang tersebut untuk
membeli rumah. Baru ketika menginjak Pebruari 2011 akhir aku menemukan rumah
yang pas dengan jumlah uang yang aku miliki. Rumah tipe 50/61 tersebut aku beli
seharga 125 juta. Rumah tersebut berada di daerah cipondoh yang dekat juga
dengan rumah atasanku, Pak Nuh. Akhirnya aku seperti anak dari Pak Nuh, pergi
dan pulang kerja bareng Pak Nuh. Bahkan Pak Nuh yang memboncengi aku naik motor
Mio yang aku beli bersamaan dengan pembelian rumah tersebut. Mei 2011, aku
resmi tinggal di cipondoh setelah pengurusan sertifikat selesai.
Pada Maret 2012, aku bertemu dengan seseorang yang kini
menjadi suamiku. Kami menikah pada Mei 2012. Aku pun resmi meninggalkan rumah
cipondoh untuk pindah ke rumah suami di daerah simprug diporis.
Pada Mei 2013, aku resmi menyandang status sebagai ibu. Bayi
mungil perempuan lahir dari rahimku. Kehadiran bayi mungil ini melengkapi
kebahagiaan keluarga kecil kami.
Pada Mei 2014, kubangun tingkat rumahku yang di Cipondoh.
Mungkin orang yang melihatku heran karena bagaimana bisa wanita berusia 27
tahun telah memiliki segalanya. Dua rumah di daerah tangerang, satu mobil grand
livina, suami yang baik hati, putri kecil yang berusia setahun, berhasil
membiayai sekolah adik hingga lulus D3 Teknik mesin ITS.
Subhanallah maha suci Allah yang telah melimpahkan rezeki
yang melimpah ruah bagiku. Aku sangat sadar semua keberhasilan ini tak pernah
luput dari doa ibuku. Seorang wanita yang telah melahirkanku.
Mungkin saat aku masih kecil aku selalu menyesali mengapa
aku dilahirkan sebagai seorang wanita. Namun ternyata wanita sholihah adalah
anugerah yang terindah di dunia. Mungkin banyak yang menatapku heran, pasalnya
prestasiku jauh melebihi prestasi teman-temanku yang laki-laki. Dan aku jauh
lebih tangguh dan mandiri dibandingkan dengan mereka. Aku tahu aku wanita yang
hanya bisa menjadi makmum bagi suamiku. Namun perlu digaris bawahi bahwa
prestasi apa yang aku raih juga hanya karena seorang wanita, Ibuku.
Love you too much my Mom….
Ingatlah "Surga di telapak kaki Ibu"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar