Jakarta, 1 Juli 2014
Nurani Esaputri
Tiba-tiba teringat tentang Vina, apa kabarnya wanita itu ya?
Apakah dia bahagia juga sepertiku? Apakah dia benar-benar resign dari
pekerjaannya untuk menjadi ibu rumah tangga. Apakah dia satu atap dengan
suaminya? Terlalu banyak pertanyaanku tentang wanita itu yang hingga detik ini
aku tak tahu kabar tentangnya.
Vina Anggraeni, adalah sosok wanita yang hadir secara
tiba-tiba dalam kehidupanku. Membuyarkan keharmonisan ikatan antara aku dan
Ryan. Entah mengapa Ryan justru memilih wanita itu dibandingkan aku. Apa kurangnya
diriku, sekolahku dulu lebih baik daripada sekolah Vita. Aku S1, sementara Vita
hanya lulusan D3. Dan aku jauh lebih bisa hidup mandiri di kota metropolitan
dibandingkan Vita.
Apa kabarnya ibu dari seorang anak perempuan bernama Nabilah
Dewi Hardyan. Anak yang dilahirkannya ketika usia pernikahan mereka baru
delapan bulan. Apakah Vina telah hamil duluan sebelum menikah. Sungguh aku tak
tahu hal itu, dan tak ingin berburuk sangka. Tapi Nabilah lahir normal, bukan prematur.
Dan sekarang pun Nabilah tumbuh sehat sesuai usianya.
Vina Anggraeni, nama yang dulu selalu membuatku menangis.
Apakah dia tak pernah tahu antara aku dan Ryan telah tumbuh rasa kasih. Ah
mungkin aku terlalu hiperbolis, nyatanya Ryan memang bukan pria idamanku. Hanya
saja waktu itu cuma Ryan lelaki yang mau dan berani mendekatiku.
Mungkin Ryan takut akan kemandirianku. Atau mungkin Ryan merasa
malu melihat karirku lebih baik darinya. Atau mungkin Ryan mundur dariku karena
aku sudah bisa membeli rumah sendiri. Entahlah, apa yang Ryan pikirkan saat
itu. Yang jelas keputusannya untuk meninggalkanku adalah hal yang membuat luka
mendalam di benakku. Aku yang tak pernah dekat dengan lelaki, ternyata bisa
juga dipermainkan oleh Ryan.
Ryan memang bukan tipe lelaki yang kuinginkan menjadi
imamku. Bagaimana bisa, lelaki yang selalu salah menulis Assalamualaikum,
lelaki yang jarang mengucap salam itu akan menjadi bagian dari kehidupanku. Ya,
Ryan memang tak pantas untuk bersamaku.
Apa kabarnya Ryan? Bahagiakah dia dengan pernikahannya? Apakah
Vina memang wanita terbaik dalam kehidupannya. Aku tahu Ryan memang pernah
menaruh rasa suka padaku. Aku tahu Ryan pernah mengagumiku. Namun ternyata hati
Ryan haruslah bermuara pada Vina. Wanita yang baru dikenalnya saat mereka
berada di perusahaan yang sama.
Bandung, 1 Juli 2014
Vina Anggraeni
Sudah lama aku tidak membuka account facebookku. Banyak sekali update dari teman-temanku yang
kini sudah memiliki buah hati. Alhamdulillah, anakku pun kini telah berusia 13
bulan. Sebagai ibu rumah tangga tidak banyak aktivitas yang aku lakukan sambil
mengasuh anak pertamaku, Nabilah Dewi Hardyan.
Kulihat update
foto dari nama yang aku kenal, Nurani Esaputri. Wanita yang dulu sempat dekat dengan
suamiku. Nurani berfoto bersama suami dan anak perempuannya. Tampak senyum
bahagia di wajahnya. Foto yang berlatarkan mobil dan rumah itu menyita
perhatianku.
“Alhamdulillah rumah mungilku sudah selesai direnovasi” tulis
Nurani.
Rupanya wanita bernama Nurani itu memang wanita yang hebat. Pantas
saja suamiku dulu sempat mundur ketika akan mendekatinya. Kata suamiku, Nurani
itu anak yang pandai, buktinya dia sekolah SMA hanya dua tahun dan dia diterima
di perguruan tinggi negeri tanpa melalui tes. Kata suamiku, Nurani pandai
mengaji, buktinya dia-lah pendiri Keputrian di jurusan tempatnya kuliah dan dia
juga ketua Keputrian. Kata suamiku, Nurani adalah wanita mandiri, buktinya baru
enam bulan diangkat menjadi karyawan Nurani sudah membeli rumah sendiri.
Apa yang kurang dari seorang Nurani, hingga Ryan Prasetya
meninggalkan wanita anggun itu. Mungkinkah karena aku lebih cantik daripada
Nurani? Kalau hanya sekedar kecantikan, bisa jadi suatu saat Ryan
meninggalkanku untuk wanita cantik yang lain. Apalagi aku hanya ibu rumah
tangga. Sedangkan kini Ryan terlalu sibuk dengan pekerjaannya yang sering
keluar kota.
Mengapa aku jadi curiga dengan suamiku sendiri. Toh,
sikapnya terhadapku tidak berubah. Meski suamiku sering mengeluhkan tingginya
pengeluaran karena tingginya bunga bank untuk cicilan rumah kami. Toh, aku
tetap bisa memasakkan makanan sederhana di rumah kecil kami. Ryan takkan
meninggalkanku dan putri kecilnya yang lucu ini. Ya, aku harus yakin, cinta
suamiku hanya untukku seorang. Ryan Prasetya hanya mencintai Vina Anggraeni,
titik.
Jakarta, 1 Juli 2014
Ryan Prasetya
Rasa bosan dan jenuh selalu melingkupi kehidupanku. Hari ini
terakhir dinas luar kota di Jakarta. Nanti sore akan jalan kembali ke Bandung. Sungguh,
seandainya bukan karena Nabilah aku tak mau pulang. Istriku sering minta
dibelikan ini itu, sementara gajiku sudah habis banyak untuk uang cicil rumah. Andai
saja aku dulu menikah dengan Nurani, mungkinkah kehidupanku lebih mapan dari
sekarang.
Sungguh, sangat beruntung seorang Nurani, wanita polos yang
akhirnya mampu menemukan cintanya. Setelah kesetiannya aku koyakkan dengan
kehadiran Vina. Ah, andai saja Nurani tahu betapa hingga detik ini aku masih
mengaguminya.
Masih kusimpan memori tentang seorang Nurani di benakku. Semoga
dia selalu berbahagia dengan kehidupan rumah tangganya. Mungkin suatu saat kami
akan bertemu kembali. Tapi aku yakin, cinta kami takkan pernah bisa bersemi
seperti tiga tahun yang lalu.
Kubiarkan bunga
cantikku dihinggapi kumbang yang lain
Kubiarkan hatiku
hancur melihat senyum bahagianya
Padahal dulu, dengan
teganya aku mencampakkannya
Kuhadirkan cinta lain,
diantara kami berdua
Hingga akhirnya dia
melarutkan diri dalam ketidakberdayaannya
Lalu lelaki beruntung
itu datang
Dengan cepat pula
mereka menikah
Andai saja mampu
kuteriakkan
Aku sangat cemburu
Namun aku bukanlah
lelaki pengecut
Aku harus bisa
bertanggung jawab
Dan kini satu-satunya
semangatku hanyalah putri kecilku
Semoga dia mampu
menjadi bunga yang cantik
Bunga yang dikagumi
oleh banyak kumbang
semoga…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar