Rabu, 06 Februari 2013

Tentang Sedihku




Ya Allah, rasanya sakit sekali. Entah mengapa aku merasa semua orang sedang berusaha menyakitiku, membuatku menangis tersedu. Apa aku yang terlalu manja? Tapi aku hanya tidak ingin kesepian. Aku ingin jalan-jalan melepaskan penat. Apakah aku salah?

Kali ini aku melihat suamiku menangis. Tangis yang tertahan karena lelaki tak boleh cengeng. Sementara hampir tiap hari aku menangis, aku mengeluh, aku merasa sakit hati. Beberapa hari yang lalu, tubuhku demam. Aku menduga itu hanya efek dari stress yang menumpuk. Bercampur jadi satu menjadi satu rasa yang menyakitkan.

Aku tak mau terus seperti ini. Aku tak mau terus menangis. Aku tak mau terus bersedih. Aku tak mau terlalu manja. Aku tak mau begini.

Kali ini aku tak boleh kemana-mana oleh rekan kerjaku. Padahal aku ingin jalan-jalan ke Cirata dan Paiton. Tentu saja alasan kehamilanku yang berusia enam bulan ini yang sering membuat mereka memutuskan untuk mencoret namaku. Aku sedih, sangat terluka. Seolah semua orang tak peduli padaku, mengabaikanku, membuatku menangis.

Astaghfirullahal adziim, mungkin aku juga telah membuat suamiku bersedih. Namun, apa salahnya seorang istri yang sedang hamil ingin ditemani. Mungkin aku juga keterlaluan, setiap suami pulang kerja aku selalu menangis. Aku membuatnya tidur tak tenang.

Teruntuk suamiku :
“Mas, maafkan istrimu ini. Terkadang menyambutmu dengan marah. Lebih sering menyambutmu dengan menangis. Membuatmu terluka atas segala sikapku. Mas, ini begitu tak mudah bagiku. Menenangkan diri dan mencoba menerima keadaan yang ada. Aku hanya tak ingin sendirian.”

“Mas, bolehlah Mas marah kepadaku. Atas sikap kekanak-kanakanku. Atas segala ketidakdewasaanku. Tapi, aku tak bisa mengendalikan emosiku, amarahku, rasa sakitku. Semoga anak kita tidak ikut merasakan kecemasan dan kesakitan hati ibunya.”

“Mas, sungguh dari hati yang terdalam, aku ingin meminta maaf padamu. Ingin juga menjawab setiap permohonan maaf darimu dengan kata YA AKU MEMAFKANMU DAN AKU MENCINTAIMU. Namun bibirku tak mampu berucap dan tangisku pecah tak terbendung.”

“Mas, semoga Allah selalu melindungi kita dan bayi yang ada dalam kandunganku. Aamiin. Aku pun ingin tersenyum bahagia. Aku pun ingin tertawa bebas. Aku pun sudah lelah untuk menangis. kuatkanlah hatiku, Mas. Tegarkanlah dan dewasakanlah aku. Karena tidak selamanya apa yang kita inginkan akan terjadi.”

“Mas, aku mencintaimu ….”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar