Ya Allah, rasanya sakit sekali. Entah mengapa aku merasa
semua orang sedang berusaha menyakitiku, membuatku menangis tersedu. Apa aku
yang terlalu manja? Tapi aku hanya tidak ingin kesepian. Aku ingin jalan-jalan
melepaskan penat. Apakah aku salah?
Kali ini aku melihat suamiku menangis. Tangis yang tertahan
karena lelaki tak boleh cengeng. Sementara hampir tiap hari aku menangis, aku
mengeluh, aku merasa sakit hati. Beberapa hari yang lalu, tubuhku demam. Aku
menduga itu hanya efek dari stress yang menumpuk. Bercampur jadi satu menjadi
satu rasa yang menyakitkan.
Aku tak mau terus seperti ini. Aku tak mau terus menangis.
Aku tak mau terus bersedih. Aku tak mau terlalu manja. Aku tak mau begini.
Kali ini aku tak boleh kemana-mana oleh rekan kerjaku. Padahal
aku ingin jalan-jalan ke Cirata dan Paiton. Tentu saja alasan kehamilanku yang
berusia enam bulan ini yang sering membuat mereka memutuskan untuk mencoret
namaku. Aku sedih, sangat terluka. Seolah semua orang tak peduli padaku,
mengabaikanku, membuatku menangis.
Astaghfirullahal adziim, mungkin aku juga telah membuat
suamiku bersedih. Namun, apa salahnya seorang istri yang sedang hamil ingin
ditemani. Mungkin aku juga keterlaluan, setiap suami pulang kerja aku selalu
menangis. Aku membuatnya tidur tak tenang.
Teruntuk suamiku :
“Mas, maafkan istrimu ini. Terkadang menyambutmu dengan
marah. Lebih sering menyambutmu dengan menangis. Membuatmu terluka atas segala
sikapku. Mas, ini begitu tak mudah bagiku. Menenangkan diri dan mencoba
menerima keadaan yang ada. Aku hanya tak ingin sendirian.”
“Mas, bolehlah Mas marah kepadaku. Atas sikap
kekanak-kanakanku. Atas segala ketidakdewasaanku. Tapi, aku tak bisa
mengendalikan emosiku, amarahku, rasa sakitku. Semoga anak kita tidak ikut
merasakan kecemasan dan kesakitan hati ibunya.”
“Mas, sungguh dari hati yang terdalam, aku ingin meminta
maaf padamu. Ingin juga menjawab setiap permohonan maaf darimu dengan kata YA
AKU MEMAFKANMU DAN AKU MENCINTAIMU. Namun bibirku tak mampu berucap dan
tangisku pecah tak terbendung.”
“Mas, semoga Allah selalu melindungi kita dan bayi yang ada
dalam kandunganku. Aamiin. Aku pun ingin tersenyum bahagia. Aku pun ingin
tertawa bebas. Aku pun sudah lelah untuk menangis. kuatkanlah hatiku, Mas.
Tegarkanlah dan dewasakanlah aku. Karena tidak selamanya apa yang kita inginkan
akan terjadi.”
“Mas, aku mencintaimu ….”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar