Selasa, 26 Februari 2013

Bunda mencintaimu, anakku….




Menjadi wanita karir memang pernah terbayangkan olehku, namun aku tak pernah merasakan segalau ini. Menatap paras para anak yang dititipkan pembantu, rasanya hatiku miris. Aku tahu pertanyaan suamiku sangat wajar, setelah cuti melahirkanku habis, buah hati kami akan diasuh oleh siapa. Sementara kedua orangtuaku punya kehidupan sendiri di Surabaya. Sedangkan mertuaku tinggal di Surakarta. Lalu, anakku akan tinggal bersama siapa.

Ini sudah menginjak tujuh bulan kehamilanku. Rasa bahagia dan galau bercampur menjadi satu. Bahagia karena dalam tahun pertama pernikahanku, buah hati inilah kado terhebat dari Allah. Galau karena statusku yang masih wanita karir. Meskipun, suamiku pun ikhlas jika aku memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga saja.

Ada satu keinginan yang sangat ingin kuwujudkan. Mimpi mertuaku dan kedua orangtuaku untuk umroh ke tanah suci. Tentu saja itu membutuhkan uang yang tidak sedikit. Sengaja aku mendahulukan prioritas ini dibandingkan melunasi rumah kami. Karena usia mereka yang semakin bertambah. Aku sangat ingin melihat senyum mereka menghiasiku. Aku hanya ingin membuat mereka bahagia. Namun, aku juga tidak ingin mengorbankan kebahagiaan buah hatiku.

Sebenarnya, sudah lama aku ingin membuka usaha sendiri. Waktu dan kondisi lebih fleksibel untuk mendidik putra-putriku. Namun dalam waktu dekat aku merasa belum mampu. Aku masih belum punya kekuatan untuk membangun usaha sendiri dari nol.

Selama ini setengah dari gaji suamiku untuk mencicil hutang rumah. Sementara tabunganku dibiarkan utuh, untuk kelak membangun sebuah kamar tempat bermain sang buah hati. Pengeluaran perbulan pun bisa dikatakan cukup tinggi. Apalagi, selama bekerja, aku jarang sekali memasak. Paling sering suamiku mentraktirku, dengan sekali makan paling sedikit dua puluh lima ribu. Bahkan tak jarang suamiku mengajakku makan di restoran sea food dengan pengeluaran sebesar tujuh puluh ribu.

Aku galau, namun kucoba redam kegalauan ini. Memohon petunjuk pada Allah apa yang terbaik bagi kami. Tak luput syukur kepada Allah yang menganugerahkan lelaki yang sabar untuk mendampingiku. Semoga Allah selalu melindungi kami, buah hati kami, melancarkan proses persalinanku. Aamiin.

Buah hatiku, Bunda sangat mencintaimu. Bunda ingin selalu menatap senyum ceriamu. Mendengarkan celotehmu. Memelukmu saat engaku menangis. Memberikan ASI Ekslusif bagimu. Menjadi madrasah utama bagimu. Mengajarkanmu tentang keagungan Allah.

Buah hatiku, semoga Allah selalu merahmati kita semua. Aamiin yaa Rabb.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar