Menjadi wanita karir memang pernah terbayangkan olehku,
namun aku tak pernah merasakan segalau ini. Menatap paras para anak yang
dititipkan pembantu, rasanya hatiku miris. Aku tahu pertanyaan suamiku sangat
wajar, setelah cuti melahirkanku habis, buah hati kami akan diasuh oleh siapa. Sementara
kedua orangtuaku punya kehidupan sendiri di Surabaya. Sedangkan mertuaku
tinggal di Surakarta. Lalu, anakku akan tinggal bersama siapa.
Ini sudah menginjak tujuh bulan kehamilanku. Rasa bahagia
dan galau bercampur menjadi satu. Bahagia karena dalam tahun pertama
pernikahanku, buah hati inilah kado terhebat dari Allah. Galau karena statusku
yang masih wanita karir. Meskipun, suamiku pun ikhlas jika aku memutuskan untuk
menjadi ibu rumah tangga saja.
Ada satu keinginan yang sangat ingin kuwujudkan. Mimpi mertuaku
dan kedua orangtuaku untuk umroh ke tanah suci. Tentu saja itu membutuhkan uang
yang tidak sedikit. Sengaja aku mendahulukan prioritas ini dibandingkan
melunasi rumah kami. Karena usia mereka yang semakin bertambah. Aku sangat
ingin melihat senyum mereka menghiasiku. Aku hanya ingin membuat mereka
bahagia. Namun, aku juga tidak ingin mengorbankan kebahagiaan buah hatiku.
Sebenarnya, sudah lama aku ingin membuka usaha sendiri. Waktu
dan kondisi lebih fleksibel untuk mendidik putra-putriku. Namun dalam waktu
dekat aku merasa belum mampu. Aku masih belum punya kekuatan untuk membangun
usaha sendiri dari nol.
Selama ini setengah dari gaji suamiku untuk mencicil hutang
rumah. Sementara tabunganku dibiarkan utuh, untuk kelak membangun sebuah kamar
tempat bermain sang buah hati. Pengeluaran perbulan pun bisa dikatakan cukup
tinggi. Apalagi, selama bekerja, aku jarang sekali memasak. Paling sering
suamiku mentraktirku, dengan sekali makan paling sedikit dua puluh lima ribu. Bahkan
tak jarang suamiku mengajakku makan di restoran sea food dengan pengeluaran
sebesar tujuh puluh ribu.
Aku galau, namun kucoba redam kegalauan ini. Memohon petunjuk
pada Allah apa yang terbaik bagi kami. Tak luput syukur kepada Allah yang
menganugerahkan lelaki yang sabar untuk mendampingiku. Semoga Allah selalu
melindungi kami, buah hati kami, melancarkan proses persalinanku. Aamiin.
Buah hatiku, Bunda sangat mencintaimu. Bunda ingin selalu
menatap senyum ceriamu. Mendengarkan celotehmu. Memelukmu saat engaku menangis.
Memberikan ASI Ekslusif bagimu. Menjadi madrasah utama bagimu. Mengajarkanmu tentang
keagungan Allah.
Buah hatiku, semoga Allah selalu merahmati kita semua.
Aamiin yaa Rabb.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar