Seperti apa rasanya cemburu??? Suatu malam usai gerimis,
suamiku tersenyum memandangi handphone-nya. “Ada sms” katanya kepadaku. “O…
dari siapa?” tanyaku. Dia pun menunjukkan tulisan sms di HP-nya. Kubaca nama
Evi 03 di layar HP-nya. Suamiku menjelaskan secara singkat bahwa Evi adalah
wanita yang pernah dikenalkan kepadanya.
‘Assalamualaikum. Mas Arif apa kabar?’
Sempat suamiku bertanya, apa sms itu perlu dibalas. “Dijawab
aja” jawabku.
‘Waalaikumslm, Alhamdulillah baik. Dik evi pa kbr?’ jawab
suamiku.
‘Masih nyimpen nomerku toh mas?’
‘Iya, masih’ tulisku di HP suamiku. Suamiku sempat protes
karena khawatir sms-nya akan terus berlangsung.
‘Masih tinggal di Jakarta, Mas?’
‘Iya, aq tinggal di tangerang, masih di Jakarta. Dik Evi
sendiri?’
‘Aq dah pindah ke Pancoran, Mas. Oh ya, afwan, waktu itu aq
mau kenalin mas sama temenku, tapi mas arif waktu itu masih berduka. Gmn mas,
apa sekarang sudah ada calon?’
‘Oh itu, ndak apa2 dek. Alhamdulillah aq dah nikah Mei 2012
kmrn’ tulisku membalas sms dari Evi. Sempat suamiku takut aku akan berkata
kasar kepada wanita itu. Namun akhirnya dia menyetujui apa yang aku tulis di
HP-nya.
‘Alhamdulillah kalau begitu. Barakallah mas…Gmn, apa sudah
ada momongan?’
‘Makasih atas doanya dek. Jazakumullah khoiron katsiro…Alhamdulillah,
istriku baru hamil 5 bulan’ jawabku juga.
Bagaimana rasanya ada wanita lain yang perhatian pada
suamiku. Ternyata ada rasa sakit menelusup hatiku. Berharap aku mengerti apa
yang tengah mereka bicarakan. Alhamdulillah, aku dikaruniai suami yang begitu
pengertian. Dia menyerahkan urusan itu kepadaku. Dan Alhamdulillah sms dari Evi
berhenti sampai di situ.
“Evi nol tiga berarti kuliahnya angkatan dua ribu tiga dong
mas?” tanyaku pada suamiku.
“Iya. Kenapa dek?” tanya balik suamiku.
“Berarti masih muda aku dong. Aku kan angkatan dua ribu
empat” jawabku.
Suamiku mencubit tanganku seraya tersenyum.
Evi adalah wanita yang pernah diantar suamiku pergi ke Roxy
untuk membeli HP. Saat itu wanita ini menolak suamiku karena suamiku tidak mau
diajak mengaji. Who khows, sekarang malah suamiku aktif mengikuti mengaji hari
Rabu dan Jumat di kantor kami. Awalnya memang untuk menemaniku, tapi akhirnya
malah dia tidak mau absen kecuali jika ada keperluan urgent seputar
kelangsungan Unit Pembangkit.
Yaa Allah, lindungilah suamiku, mudahkanlah urusannya,
lapangkanlah rezekinya, berkahilah dia. Aamiin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar