Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Meskipun tempat
kerja kami berdekatan, namun aku jarang berjumpa dengannya. Kali ini aku
melihat wanita itu, rupanya dia sedang menunggu seseorang. Tak berapa lama
sebuah Toyota Avanza berhenti di depannya. Bergegas dia masuk ke mobil berwarna
silver tersebut. Entah mengapa ingatanku kembali ke beberapa tahun yang lalu. Seandainya
hati wanita itu benar-benar mencintaiku, mungkin aku sekarang adalah lelaki
yang berada di mobil itu. Wanita yang tampak anggun menurutku, dan penilaianku
kepadanya tak akan berubah.
Tiga tahun yang lalu, aku mengenal sosok bernama Hasna
tersebut. Wanita dengan tinggi badan tak lebih dari 150 cm, berkulit sawo
matang dan beberapa bekas jerawat di pipinya. Tampak tutur katanya sopan kepada
semua orang. Sikapnya yang tegas membuatku hampir tak bisa melupakannya. Padahal
saat itu aku sudah punya kekasih hati. Tampaknya jalinan persahabatan kami
mengisahkan kisah lain. Kami pun menjalin hubungan tanpa status. Satu hal yang
menjadi prinsipnya, tidak mau jalan berdua dan tidak mau disentuh anggota
badannya. Padahal tiap orang pacaran cenderung memegang tangan atau pundak. Dan
satu lagi dia menegaskan bahwa hubungan yang agak special itu bukanlah pacaran.
Sampai akhirnya kekasihku tahu perihal keberadaannya. Ketika
kekasihku nan jauh di sana menegur Hasna, wanita manis itu hanya berkata “Jodoh
itu milik Allah, dan hanya Dia yang berhak memutuskan lelaki ini akan menikah
dengan Mbak atau denganku atau dengan wanita lain”. Rupanya kekasih hatiku
sangat marah akan perkataannya sehingga aku pun ikut menegur Hasna.
“Kembali padanya dan lupakan aku, lupakan semua kisah
diantara kita” kata Hasna yang saat itu sangat marah. Aku berusaha
meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi nyatanya semua jadi
berantakan, dan hubunganku dengan Hasna karam oleh sang waktu. Sampai akhirnya
aku mengabarkan tentang pernikahanku. Aku tidak menikah dengan kekasihku yang
dulu, juga bukan dengan Hasna, melainkan dengan wanita lain. Wanita yang mau
dan mampu kuajak hidup apa adanya. Wanita yang mau menjadi ibu rumah tangga
saja.
Kini, aku telah memiliki seorang putra. Namun saat melihat
Hasna, terasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupku. Hasna memang telah
menikah, bahkan ia tengah mengandung anak pertamanya. Namun setiap kali aku
melihat suami Hasna, terasa cemburu memuncak di dalam hatiku. Wanita yang
pernah kupuja, wanita yang mandiri, wanita yang cerdas.
Kumenangis melepaskan
kepergianmu dari sisi hidupku, harus selalu kau tahu akulah hati yang pernah
kau sakiti …. (Hati yang Tersakiti oleh Rossa)
Hujan mulai mengguyur ketika aku mengendarai motorku menuju
kontrakan. Masih teringat aku tentang
Hasna, tentunya wanita itu sekarang sudah tinggal di rumah suaminya. Semoga dia
selalu bahagia. Wajah manisnya sungguh sangat indah dilihat ketika dia
tersenyum. Hasna, satu kenangan yang sulit untuk kulupakan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar