Kamis, 17 Januari 2013

Terkenang Tentangmu




Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Meskipun tempat kerja kami berdekatan, namun aku jarang berjumpa dengannya. Kali ini aku melihat wanita itu, rupanya dia sedang menunggu seseorang. Tak berapa lama sebuah Toyota Avanza berhenti di depannya. Bergegas dia masuk ke mobil berwarna silver tersebut. Entah mengapa ingatanku kembali ke beberapa tahun yang lalu. Seandainya hati wanita itu benar-benar mencintaiku, mungkin aku sekarang adalah lelaki yang berada di mobil itu. Wanita yang tampak anggun menurutku, dan penilaianku kepadanya tak akan berubah.

Tiga tahun yang lalu, aku mengenal sosok bernama Hasna tersebut. Wanita dengan tinggi badan tak lebih dari 150 cm, berkulit sawo matang dan beberapa bekas jerawat di pipinya. Tampak tutur katanya sopan kepada semua orang. Sikapnya yang tegas membuatku hampir tak bisa melupakannya. Padahal saat itu aku sudah punya kekasih hati. Tampaknya jalinan persahabatan kami mengisahkan kisah lain. Kami pun menjalin hubungan tanpa status. Satu hal yang menjadi prinsipnya, tidak mau jalan berdua dan tidak mau disentuh anggota badannya. Padahal tiap orang pacaran cenderung memegang tangan atau pundak. Dan satu lagi dia menegaskan bahwa hubungan yang agak special itu bukanlah pacaran.

Sampai akhirnya kekasihku tahu perihal keberadaannya. Ketika kekasihku nan jauh di sana menegur Hasna, wanita manis itu hanya berkata “Jodoh itu milik Allah, dan hanya Dia yang berhak memutuskan lelaki ini akan menikah dengan Mbak atau denganku atau dengan wanita lain”. Rupanya kekasih hatiku sangat marah akan perkataannya sehingga aku pun ikut menegur Hasna.

“Kembali padanya dan lupakan aku, lupakan semua kisah diantara kita” kata Hasna yang saat itu sangat marah. Aku berusaha meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi nyatanya semua jadi berantakan, dan hubunganku dengan Hasna karam oleh sang waktu. Sampai akhirnya aku mengabarkan tentang pernikahanku. Aku tidak menikah dengan kekasihku yang dulu, juga bukan dengan Hasna, melainkan dengan wanita lain. Wanita yang mau dan mampu kuajak hidup apa adanya. Wanita yang mau menjadi ibu rumah tangga saja.

Kini, aku telah memiliki seorang putra. Namun saat melihat Hasna, terasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupku. Hasna memang telah menikah, bahkan ia tengah mengandung anak pertamanya. Namun setiap kali aku melihat suami Hasna, terasa cemburu memuncak di dalam hatiku. Wanita yang pernah kupuja, wanita yang mandiri, wanita yang cerdas.

Kumenangis melepaskan kepergianmu dari sisi hidupku, harus selalu kau tahu akulah hati yang pernah kau sakiti …. (Hati yang Tersakiti oleh Rossa)

Hujan mulai mengguyur ketika aku mengendarai motorku menuju kontrakan. Masih  teringat aku tentang Hasna, tentunya wanita itu sekarang sudah tinggal di rumah suaminya. Semoga dia selalu bahagia. Wajah manisnya sungguh sangat indah dilihat ketika dia tersenyum. Hasna, satu kenangan yang sulit untuk kulupakan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar