Senin, 28 Maret 2011

Pelabuhan Cinta


Kupandangi paras suamiku yang tampak berseri, “Abi, terlihat bahagia sekali”
Suamiku mencolek pipiku seraya tersenyum, “Umi, coba bayangkan bagaimana hiruk pikuknya kiamat”
“Masya Allah, semoga kita bukanlah termasuk umat akhir yang merasakan kiamat dalam kondisi masih bernyawa”
“Amin…”
“Memangnya kenapa Bi, tiba-tiba bicara kiamat?”
“Tadi ada pengajian di kantor, temanya musibah yang melanda dunia”
“Termasuk yang melanda Negara-negara islam Bi? Sungguh miris mendengar kabar Irak, Libya dan Mesir dalam kondisi seperti ini. Kerusuhan dan peperangan terjadi di Negara-negara islam”
“Iya betul”
Sejenak suamiku merenung. Tatapannya tertuju pada buah hati kami yang sedang berada pada pangkuanku. Muhammad Ibrahim adalah putra pertama kami, usianya baru tiga bulan. Kini ia tengah tertidur di pangkuanku. Terasa damai melihat paras lucunya.
“Bagaimana jika nanti Indonesia kelak merasakan hal yang sama seperti Negara-negara itu?”
Kata-kata suamiku seperti pisau yang ditusukkan ke dada. Perih dan luka. Bukan hal yang mustahil semua itu terjadi. Dan apa yang kelak dialami Muhammad Ibrahim, mujahid kecilku ini.
Tidak ada suatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah dan barangsiapa beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS At Taghabun : 11)” ucap suamiku
“Subhanallah, keimanankah yang akan menyelamatkan kita Bi?”
“Betul Mi. apa Umi ingat cerita tentang tujuh orang pemuda yang disebutkan dalam surat Al Kahfi. Ashabul kahfi yang bersembunyi di gua demi menyelamatkan iman ternyata ditidurkan oleh Allah selama tiga ratus sembilan tahun”
Tiba-tiba aku teringat akan doaku ketika belum juga dipertemukan dengan lelaki di hadapanku ini. Ketika segala harapanku menipis. Ketika airmata menjadi teman di setiap hariku.

Ya Rabb, berilah aku imam yang memiliki iman dan islam, shidiq amanah fatonah, yang mencintai-Mu lebih dari segalanya, yang mencintai dan menyayangi hamba serta keluarga hamba serta yang selalu menemani hamba

“Coba Umi pikirkan berapa lama kita diberi kesempatan hidup di dunia ini?” tanya suamiku.
“Hanya sebentar saja Bi”
Allah bertanya, “ Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” mereka menjawab, “ Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari, maka tanyalah pada orang yang menghitung”. Allah berfirman, “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui” (QS Al Mu’minun :112-114)” sahut suamiku.
Subhanallah, jika hanya setengah hari mengapa manusia sering melalaikannya. Bahkan cenderung menuruti hawa nafsu”
Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah matinya. Dan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan banyak kepada Allah (HR Tirmidzi)
” sahut suamiku.
“Masya Allah, semoga kita termasuk orang-orang yang tidak lalai akan tugas dan kewajiban. Sebagai khalifah dan sebagai hamba Allah. Tugas kita adalah beribadah pada-Nya” kataku.
“Pembahasan saat pengajian tadi adalah tentang kiamat. Kiamat kubra…”

Apabila matahari digulung dan apabila bintang-bintang berjatuhan. Dan apabila gunung-gunung dihancurkan. Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan. Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan. Dan apabila lautan dipanaskan. Dan apabila roh-roh dipertemukan (dengan tubuh). Dan apabila bayi-bayi perempuan dikubur hidup-hidup ditanya karena dosa apa mereka dibunuh. Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka. Dan apabila langit dilenyapkan. Dan apabila neraka jahim dinyalakan. Dan apabila surga didekatkan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya (QS At Takwir : 1-14)

Apabila langit terbelah dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan. Dan apabila lautan dijadikan meluap. Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang dikerjakan dan yang dilalaikannya (QS Al Infithar : 1-5)


Hatiku bergetar saat suamiku membacakan ayat Allah tentang terjadinya kiamat. Sungguh Allah telah menerangkan dalam Al Qur’an betapa dahsyatnya kiamat. Dan tiada yang dapat menolong tiap-tiap jiwa melainkan dirinya sendiri. Seoarang ibu mungkin lupa pada suami dan anaknya, begitu pula sebaliknya. Semua disibukkan oleh urusan masing-masing. Semua berharap mendapat catatan amal dengan tangan kanan. Semua berharap mendapat rahmat dan ridha-Nya untuk bisa memasuki surga Allah.
Tidaklah bergeser telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga mereka ditanya tentang 5 perkara: tentang usianya untuk apa dia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya darimana dia peroleh dan dalam hal apa ia infakkan serta tentang ilmunya apa yang telah dia amalkan (HR Tirmidzi Ad Darami dari Ibnu Mas’ud)” lanjut suamiku.
“Umi, semoga kita dan keluarga kita termasuk orang-orang yang mendapat ridha dari-Nya” kata suamiku seraya menatapku.
“Amin”
“Karena terkadang ada hal yang diluar batas kemampuan kita. Masih ingatkah akan kekafiran yang ada pada isteri dan anak Nabi Nuh Alaihi salam. Masih ingatkan akan kekafiran ayah Nabi Ibrahim Alaihi salam. Masih ingatkah akan kekafiran paman Nabi Muhammad SAW yaitu Abu Thalib”
Kurasakan semangat juang dan jihad pada paras suamiku. Ada rasa syukur yang mendalam karena Allah benar-benar telah memberiku seorang imam yang amanah.
Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orang-oarang yang bertaqwa (QS Al Furqan : 74)” suamiku tampak serius dalam doanya yang kemudian ku-amini.
“Pelabuhan cinta yang sesungguhnya hanyalah pada-Nya, Allah SWT” ucapku.
“Ya, hanya pada-Nya cinta ini pantas dilabuhkan” sahut suamiku seraya mencium pipi putra pertama kami.
“Ana uhibka fillah Bi”
Suamiku tersenyum.

Jakarta. 27 Maret 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar