
Kau tegarkan aku saat diriku terjatuh.
Dirimu…
Satu-satunya orang yang percaya padaku saat orang lain tak percaya.
Satu-satunya orang yang mampu membuatku tenang ketika aku menangis.
Satu-satunya orang yang bersedia menanggung sakitku ketika aku jatuh sakit.
Satu-satunya orang yang tak pernah lelah mendengar ceritaku.
Satu-satunya orang yang mampu membuatku bertahan.
Satu-satunya orang yang sangat kucintai dan mencintaiku.
Satu-satunya orang yang memiliki kasih tak terbatas padaku.
Satu-satunya orang yang selalu ingin kulihat tersenyum.
Satu-satunya orang yang kurindu dan selalu merindukanku.
Namun apa yang aku lakukan saat kau menangis.
Bahkan aku tak mampu memelukmu, menegarkanmu, atau membuatmu tersenyum.
Namun apa yang aku lakukan saat kau sakit.
Bahkan aku tak berada di sampingmu, mengabaikanmu.
Namun apa yang aku lakukan saat kau terjatuh.
Bahkan aku jauh darimu.
Tapi ini bukan kemauanku.
Aku ingin selalu di sampingmu, menegarkanmu, melihatmu tersenyum bahagia.
Aku ingin meringankan bebanmu, membantumu dan selalu ada saat kau butuh.
Aku ingin selalu mencintaimu, memelukmu, mencium kedua pipimu.
Aku mendoakan agar dirimu sehat selalu.
Aku selalu meminta pada Tuhan agar menyayangimu.
Aku tak ingin melihatmu menangis, melihatmu berduka, melihatmu kecewa.
Aku tak ingin melukaimu, menyakitimu bahkan mengabaikanmu.
Seandainya saja mampu kuberikan seluruh perhatianku padamu.
Tapi kenyataan ini terlalu egois.
Aku masih terkurung atas penjara keegoisan.
Di mana kasih sayang mungkin tiada berharga.
Di mana rasa cinta adalah hanya ucapan semata.
Di mana tiap janji selalu diingkari.
Di mana tiap senyum adalah luka bagi jiwa yang lain.
Bukankah membuat orang lain bahagia adalah pahala.
Bukankah melihat senyum orang lain adalah anugerah.
Bukankah setiap janji harus ditepati.
Tapi itu hanya ada dalam dunia mayaku, dunia yang sempurna.
Dunia yang kau ajarkan sejak aku dalam kandungan.
Sementara ini dunia nyata yang terlalu egois.
Dunia yang penuh fatamorgana keindahan.
Dunia yang terlalu sering membuatku meneteskan airmata.
Dunia yang terlalu sering membuatku terluka dan kecewa.
Di mana kesempurnaan sebuah kasih.
Untaian ketulusan jiwa yang tiada berakhir.
Apakah itu hanyalah mimpi bagiku.
Mimpi bagi jiwa-jiwa yang polos.
Mimpi bagi jiwa-jiwa yang lugu.
Dan rasa sakit bagi jiwa-jiwa yang rapuh.
Ibu….
Aku teriakkan kesalku atas fatamorgana kasih ini.
Namun teriakan itu hanya mampu terdengar oleh batinku.
Mungkin semua jiwa telah mengabaikan ketulusan kasih.
Mungkin semua jiwa sibuk mencari kebahagiaan masing-masing.
Mungkin semua jiwa tak ingin melihat kebahagiaan orang lain.
Mungkin semua jiwa telah menggilai dunia nyata.
Ibu…
Bukankah selalu kau katakan dunia ini hanya sementara.
Tempat berteduh yang kelak diminta pertanggung jawaban.
Lalu mengapa banyak jiwa yang terlena.
Terlalu banyak janji yang diingkari.
Terlalu banyak jiwa yang saling menyakiti.
Hingga aku hidup di dalam dunia penuh keegoisan.
Ibu…
Maafkan anandamu ini yang tidak disampingmu saat kau berduka.
Bahkan aku tak bisa melihat airmatamu.
Jauh dalam hatiku selalu mencintaimu, Bu.
Jauh dalam jiwaku merindukanmu, Bu.
Jangan menangis Ibu.
Maafkan ananda yang belum bisa pulang.
Salam sayang selalu untukmu.
Jakarta, 13 Maret 2011
Ananda Eka Sulistiyowati
Teruntuk Ibu di Surabaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar