Rabu, 11 Agustus 2010

Pelangi di Langit Senja


Pertengahan Juni 2010

Hujan masih mengguyur wilayah Jakarta. Sementara Andhini tak acuh akan kondisi di luar kantornya. Pekerjaanya cukup banyak hari ini. Sekalipun ia masih berstatus magang namun sukses tidaknya rehabilitasi PLTU unit 4 tergantung padanya. Ia sebagai pihak perencana dan pengendali rehab PLTU unit 4. Dilihatnya jam dinding menunjukkan pukul setengah lima waktu Indonesia bagian barat.

“Aku pulang dulu ya Say…”ucap Ria, teman satu profesi Andhini.,”udah dijemput nih”
Andhini mengangguk pelan. Matanya masih belum juga beranjak dari deretan huruf dan angka di layar monitor computer. “Take care ya Say…”
“Okey…assalamualaikum” kata Ria seraya mengambil tas ransel yang diletakkan dibawah meja computer, “ Jangan lupa makan malam Say, tadi siang kan kamu sudah absen makan. Diet boleh tapi jangan keterlaluanlah entar maag lagi”
“Waalaikumsalam Makasih say, tapi beneran nih perut masih full” sahut Andhini pelan.

Ria beranjak pergi meninggalkan Andhini yang masih berkutit dengan hitung-menghitung biaya barang permintaan manager proyek.
Andhini tak bisa memungkiri hatinya yang kian bersedih. Siang tadi dia mendapat short message dari teman kuliahnya mengabarkan bahwa Cahyo, lelaki yang pernah menjadi pujaan hatinya akan menikah awal Juli nanti.
Mengapa bintang seterang itu tak lagi terlihat. Mengapa cahaya seterang itu tak mampu menghadirkan kedamaian. Mungkin karena satu kata yang tak pernah tersentuh, yaitu CINTA. Bagi Andhini Cahyo adalah bintang dalam kehidupannya. Sesosok sempura yang pernah memberi impian dalam kisah hidupnya, memberi warna yang indah, dan melukiskan simfoni terindah di palung hati. Benarkah cinta itu telah hadir menaungi hatinya sekalipun berulang ia memungkiri adanya cinta untuk seorang Cahyo.

“Rajin banget sih” suara bass membuyarkan lamunan Andhini.
Tentu saja Andhini mengenali suara itu, suara dari Awan, senior satu almamater dengannya.
“Ah gak rajin-rajin amat kok Mas, lha daripada ntar diomelin Bos karena belum kelar. Kan besok mau ada rapat dengan rekanan.” Jawab Andini seraya menatap Awan, “Kok Mas Awan belum pulang?”
“Piket”
“ Gak kangen ma Surabaya Mas?”
“Hehe…insya Allah Agustus mau ke Surabaya”
“Oh ikutan overhaul di Gresik ya…wah enaknya”
“Ikut aja Cil…”
“Yee…emangnya segampang itu. Lha terus aku kerja apa di sana. Kan orang-orang di unit pemeliharaan wilayah timur cerdas-cerdas. Wah bisa jadi pengangguran tertutup aku di sana”
“Hehe…”
“Aku ada undangan meritnya temanku awal Juli di Surabaya”
“Cewek apa cowok?”
“Ikhwan”
“Hmm…nggak datang juga biasanya wajar. Kan tempatnya jauh dari sini.”
“Masalahnya bukan itu Mas…”
“Wah…jangan-jangan kamu patah hati ya…”
“Sok tahu nih Mas Awan”
“Hehe…aku pikir Kecil masih naksir aku”

Andhini tersenyum simpul, pipinya merona merah. Beberapa bulan lalu orang-orang bengkel mencomblangkan dirinya dengan Awan. Kebetulan sekali mereka berdua berstatus single di facebook. Awan bekerja sebagai asisten engineer untuk control dan instrumentasi, sedangkan saat itu Andhini magang di bagian mekanik.
“Kenapa kamu dulu kuliah di Mesin?” Tanya Awan
“Ceritanya panjang, males cerita…hehehe”
“Ternyata kamu orangnya garing juga ya…”
“Hmmm…Kayaknya Mas Awan ini belum tahu ya, aku dulu di Jurusan Mesin termasuk akhwat lho…”
Awan tertawa kecil, “Ya, ada yang cerita ke aku kamu mantan ketua keputrian”
“Pasti Mas Andra yang membocorkan aib ini ya? Terus dia bilang apalagi?”
“Kamu pendirinya departemen keputrian kerohanian islam di jurusan teknik Mesin”
Andhini tersenyum, “Dulu…masih kecilnya aku…”
“Hmmm… Bukannya sekarang juga masih kecil, teman-teman semua memanggilmu kecil”
“Tahu deh mereka tahu darimana julukanku waktu kuliah,KECIL”
“Perlu bantuan gak nyusun IR ma PRnya?”
“Temani ngobrol aja Mas…hehe”
“Waduh takut ah, ntar kena fitnah lagi…dicomblangin lagi deh..”
“Hehe…emang kenapa sih mesti menghindar. Toh sekalipun mereka ribet nyomblangin tapi kalo Tuhan belum menuliskan kita berjodoh kan gak mungkin bisa merit.”
“Betul juga analisanya”
“Yee…”
“Emang Kecil dulu suka beneran ma aku?”
Andhini menatap seniornya yang tidak pernah bisa serius ini dengan tatapan yang cukup mengancam.
“Masih perlu jawabankah?” tegur Andhini
“Iya…aku penasaran banget. Heran, mengapa mereka kompak sekali membuat gossip aku dan Kecil.”
“Yee…?”
“Lha?”
“Kepriye toh Mas?”
Awan menatap gadis kecil di hadapannya. Terkadang pembawaan Andhini terlihat dewasa namun saat di lokal ia terlihat begitu kekanak-kanakan.
“Hayo melamun apa nih Mas Awan?”
“Hehe…” Awan nyengir.
Andhini mengemasi kertas di meja komputernya.
“Eh itu foto siapa?” Awan menyahut sebuah gambar diantara kertas-kertas Andhini.
“Aku ma mantan ketua himpunan Mesin”
“Mantan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa juga kan?”
“Itu yang bakal nikah awal Juli nanti.”
“Ceritanya patah hati nih?”
Andhini melirik Awan. Jantung Awan tergetar hebat.
“Tatapanmu bikin shock jantung.”
“Mas Awan, aku pulang duluan. Met piket ya…”
“Boleh aku pinjam komputernya? Aku mau kirim email ke temanku”
“Pakai facebook juga boleh kok. Pakai saja…”
“Okey thanks Kecil…”

Andhini beranjak pergi sementara hujan di luar kantor telah reda.
Langit mulai cerah ketika mendung beranjak pergi. Senja tampak bagitu indah melukiskan kerinduan hati. Namun semua kisah yang Andhini harapkan telah lenyap begitu saja. Sejak kepergian Cahyo dari hatinya. Sejak ia menuliskan kepedihan dalam lembaran kisah cintanya.
”Ya Rabb, hanya Engkau yang tahu apa yang seharusnya terjadi. Jadikanlah indah dalam kisah hidupku. Aku tak ingin jauh dari naungan cinta-Mu. Ya Rabb, jadikanlah Cahyo dan isterinya sebagai keluarga sakinah, mawadah warahmah. Amin” bisik hati kecil Andhini.
Airmata Andhini menetes begitu saja namun ditepisnya segala kegudahan hatinya. Ia harus percaya bahwa sang Illahi memiliki kisah yang indah tersendiri untuknya.

Ditulis : Eka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar