Rabu, 11 Agustus 2010

MALAM TERAKHIR


Malam menyisakan bulan separuh. Tak ada mendung malam ini. Malam-malam yang berbeda dari malam-malam sebelumnya, malam dengan hujan tiada henti.
Kriek…
Pintu kamar terbuka. Seorang tampak terlelap di kamar tidurnya. Malam ini dingin, meski tak ada hujan.seorang itu tampak sangat menikmati tidurnya. Mungkin karena tugas sehari-hari yang ia emban cukup berat.
Wanita itu berjalan ragu. Hatinya bergetar tak henti. Benarkah hal yang akan ia lakukan malam ini. Menemui seseorang yang tak pernah mempedulikannya. Meski bertahun lamanya ia mengagumi sosok itu. Angin berhembus melewati tengkuk wanita itu, dingin malam makin membuatnya ragu untuk melangkah. Begitu perlahan ia mendekati lelaki yang terlelap dalam tidurnya. Jam dinding berdetak sebelas kali. Ini hampir tengah malam.

“ Mas Hadi “ sapa wanita itu pelan, sangat pelan bahkan mungkin hanya telinganya sendiri yang mendengar. Wanita itu melangkah makin dekat. Rasa putus asanya selama ini tiba-tiba lenyap digantikan getaran-getaran bahagia di lubuk hatinya. Wanita itu menatap lekat wajah lelaki yang selama ini mendiami hatinya. Air matanya menetes begitu saja. Bibir mungilnya tampak menggumamkan sesuatu. Ia tampak begitu khusyuk melantunkan ayat-ayat yang tak pernah lepas dari hatinya.
Berulang kali tangannya akan menyentuh dahi lelaki itu, namun selalu diurungkannya. Ia hanya memberi selimut pada lelaki itu. Lelaki itu bergerak dari tidurnya, mungkin merasa tidak nyaman.
“ Waktunya sholat tahajud, Mas ” bisik wanita itu.
Perlahan ia menyentuh dahi lelaki itu lalu mencium pipi kanannya.
“ Maafkan aku “ wanita itu masih terisak. Tak pernah terpikirkan olehnya untuk bertindak senekat ini, “ Maafkan aku yang mencintaimu “
Lampu ruangan yang redup tiba-tiba padam. Seberkas sinar menyadarkan wanita itu akan sisa waktu yang ia miliki.
==========

Hadi terbangun dari tidurnya. Sejenak ia berdoa bangun dari tidur. Seberkas cahaya dari lorong menyilaukan matanya. Mengapa pintu sedikit terbuka ? Dia baru saja bermimpi. Apakah arti mimpinya. Seseorang yang sangat dikenalnya. Seorang wanita bernama Adinda mendatanginya, melantunkan beberapa ayat suci lalu pergi. Tak berapa lama ia mengambil air wudlu dan sholat tahajud.
Adakah kiranya ia tahu tentang jodoh, namun jodoh itu di tangan Tuhan. Mengapa Adinda tiba-tiba datang dalam mimpinya. Adakah satu hal yang harus ia ketahui. Ayat-ayat apakah yang dibaca Adinda, mengapa wanita itu menangis. Apakah pernah ada luka dihatinya, yang sampai saat ini belum tersembuhkan.
Hadi membaca surat Ar-Rahman untuk menenangkan hatinya. Dan nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan. Subhanallah begitu banyak khilaf telah ia lakukan. Hadi mengingat pertemuannya pagi tadi dengan Adinda, wanita berhijab itu menatapnya cukup lama. Hadi hanya menyapanya dengan senyuman dan anggukan kepala. Tapi ia merasakan ada hal yang ingin disampaikan oleh seorang Adinda, mengapa wanita itu tidak menegurnya dan terus berlalu menyisakan tanda tanya untuk Hadi. Apa sebenarnya yang ingin dikatakan oleh wanita itu. Apakah suatu hal yang selama ini ia pertanyakan pada Tuhannya yaitu jodoh. Ataukah itu hanya perasaannya saja. Bergegas Hadi berniat sholat istikharah, mungkin Tuhan segera memberi jawaban atas pertanyaan yang berkecamuk di hatinya.
==============

Pagi itu seperti biasa Hadi menunaikan ibadah sholat dhuha di musholla kampus kemudian dilanjutkan membaca surat Al Waqiah. Biasanya ia juga melihat Adinda memasuki musholla tersebut, tapi hingga hampir satu jam ia berada di musholla itu tidak ada Adinda. Mungkin wanita itu tidak ada kuliah hari ini, pikir Hadi.
“Assalamualaikum.” sapa Fajar, teman akrab Hadi
“Waalaikumsalam.” balas Hadi.
“Hadi sudah tahu kalau Adinda kecelakaan tadi malam dan sekarang kondisinya kritis. Rencananya teman-teman seangkatan akan menjenguknya siang ini.”
”Tadi malam?”
”Iya. Memangnya ada apa Had? Kamu terlihat pucat”
”Saya belum sarapan.” elak Hadi
”Nanti jadi ikut? Sepertinya aku tidak bisa ikut, ada janji asistensi tugas akhir dengan dosenku.”
”Insya Allah saya usahakan sebab saya juga punya banyak agenda hari ini.”
”Ya sudah aku mau kuliah dulu.”
Hadi tersenyum pada sahabatnya. Semoga tidak ada hal buruk yang akan terjadi.
==================

Malam menyisakan bulan separuh ketika perlahan Hadi mendekati Adinda yang sedang terbaring koma. Aneh, harusnya ini tak boleh terjadi, mereka bukan muhrim tapi mengapa Hadi tiba-tiba nekad datang ke rumah sakit di tengah malam.
”Adinda kamu harus bisa menghadapi ini semua. Kamu harus kuat, kamu harus sembuh. Kamu harus kembali kuliah, membahagiakan orangtuamu.” kata Hadi lebih seperti sapuan angin yang menyentuh gendang telinga Adinda.
”Ayat-ayat apakah yang kau bacakan untukku kemarin malam. Mengapa hatiku merasakan kesejukan saat kau membacanya dan kekosongan saat engkau mengakhirinya.” tanya Hadi. Namun Adinda hanya terdiam.
”Adakah yang ingin kau katakan padaku?”
”Dinda bangun!”
”Dinda ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu. Bangun Dinda!”
Sinar terang menyentuh bahu Hadi, membawanya dalam ketenangan. Hadi benar-benar tidak mengerti apa yang tengah terjadi. Bayangan darah dan suara klakson panjang mengacaukan pikirannya. Hadi merasakan ngilu di semua sendi tulangnya. Apa yang tengah terjadi. Sinar terang kembali membawa Hadi dalam keheningan, tanpa bayangan darah serta bunyi klakson. Benarkah semua ini telah berakhir.
Malam itu banyak menyisakan tanya untuk Hadi sebelum akhirnya ia menyadari dirinya pun kini terbaring lemah karena kecelakaan yang menimpanya siang tadi. Saat ia dan teman-temannya akan berangkat menjenguk Adinda. Samar-samar ia mendengar bacaan ayat suci Al Qur’an.
”Dinda”
Wanita berhijab itu hanya tersenyum simpul tanpa menghentikan bacaan ayat-ayat suci yang tengah ia lantunkan.

Surabaya, 8 mei 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar