Senin, 18 Mei 2015

Setia Hingga ke Surga Allah


dakwatuna.com – Hal yang tak dapat dipisahkan dari pernikahan adalah kesetiaan. Ini menjadi harga mati untuk melanggengkan keharmonisan negara cinta yang dibangun bersama. Terkadang banyak orang tidak bijak menyikapi deraan ujian dalam berumah tangga.  Bukan hidup namanya kalau tak pernah diuji dengan beraneka ragam cobaan. Termasuk juga ujian dalam  pernikahan. Berbilang tahun mendapati pasangan hidup tak sesuai harapan terkadang menimbulkan irisan luka menganga yang tak mampu ditahan. Betapa banyak terjadi perceraian karena prahara rumah tangga yang tak tertahankan lagi.

Kesetiaanlah yang membuat masalah kehidupan sepelik apapun menjadi indah. Cobaan menjadi bumbu-numbu yang meningkatkan rasa cinta. Ujian menjadi tantangan. Dan problem-problem yang dinikmati bersama akan berbuah manis dengan limpahan pahala tiada berkesudahan. Kesetiaanlah yang membuat keutuhan rumah tangga yang telah terbangun bertahan lama. Walau manusiawi kita  menggerutu atau protes dengan kondisi rumah tangga yang tak sesuai dengan apa yang ada di bayangan. Ketahuilah hidup tak selamanya sesuai dengan apa yang didambakan. Namun takdir hidup selalu menyediakan apa yang sebenarnya kita butuhkan.

Setia adalah perajut benang-benang perbedaan. Kesetiaan adalah cahaya yang menerangi gulitanya masalah kehidupan. Setia membuat pernikahan menjadi langgeng nan abadi. Jika tak ada setia maka takkan ada pernikahan yang bertahan lama. Setia menuntut adanya pengorbanan harta, biaya, waktu bahkan perasaan. Ibnu Jauzi menceritakan dalam bukunya shaed Al Khatir,” Abu Ustman  Al-Naisaburi ditanya,” Amal apakah yang pernah anda lakukan dan paling anda harapkan pahalanya? Beliau menjawab,” Sejak usia muda keluargaku selalu berusaha mengawinkanku, tapi aku menolak. Lalu suatu ketika datanglah seorang wanita padaku dan berkata, “ Wahai Abu Ustman sungguh aku mencintaimu. Aku memohon atas nama Allah agar sudilah kiranya engkau mengawiniku. Akupun menemui orang tuanya yang ternyata miskin dan melamarnya. Betapa gembiranya ia ketika aku mengawini putrinya. Tapi ketika wanita itu datang menemuiku setelah akad barulah aku tahu kalau ternyata matanya juling, wajahnya sangat jelek dan buruk. Tapi ketulusan cintanya kepadaku telah mencegahku keluar dari kamar. Akupun terus duduk dan menyambutnya tanpa sedikitpun mengekspresikan rasa benci dan marah. Semua demi menjaga perasaannya. Walaupun aku bagai berada di atas panggang api kemarahan dan kebencian. Begitulah kulalui 15 tahun  dari hidupku bersamanya, hingga akhirnya ia wafat. Tiada amal yang paling kuharapkan di akhirat , selain dari masa-masa 15 tahun dari kesabaran dan kesetiaanku menjaga perasaannya dan ketulusan cintanya.

Setia bagaikan menyelam di dasar lautan terdalam untuk mendapatkan mutiara indah berkilauan. Selalu ada perjuangan. Selalu ada pengorbanan yang terkadang menghabiskan waktu bertahun-tahun lamanya. Bahkan terkadang kita harus memberikan apapun yang kita punya dengan konsekuensi nyawa sebagai taruhannya.

Kisah berikut menyadarkan kita dalam islam selalu ada kisah inspirasi yang mungkin belum terselami mutiara inspirasinya.

Pernikahan itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami istri itu belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik: “kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berisik.

Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaan. Hasil lab mengatakan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak ada peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.

Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.

Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.

Sang suami berkata kepada sang dokter: “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.
Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran. Akan tetapi sang suami terus memaksa sang dokter, akhirnya sang dokter setuju untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang suami dan bukan ada pada sang istri.

Sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri ia memasuki ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu –wahai fulan- yang mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.
Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.

Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.

Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami istri bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang istri berkata kepada suaminya: “Wahai suamiku, saya telah bersabar selama Sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:” betapa baik dan shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama Sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan”. Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.

Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata: “istriku, ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan mesti …”. Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah berceramah di hadapannya.

Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”.

Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal.

Mendengar keterangan tersebut, jatuhlah psikologis sang istri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan … saya kan …”.

Sang istri pun bad rest di rumah sakit.
Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja”.
“Haah, pergi?”. Kata sang istri.
“Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal, semoga dapat”. Kata sang suami.
Sehari sebelum operasi, datanglah sang donatur ke tempat pembaringan sang istri. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur.

Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya: “Suami macam apa dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi”.
Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.

Ketahuilah bahwa sang donatur itu tiada lain adalah sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan siapa pun selain dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.

Dan subhanallah …
Setelah Sembilan (9) bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.
Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakultas syariah dan telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hafalan Al-Quran dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari ‘Ashim.
Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya dan membacanya.

Hampir saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelepon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telepon istrinya dengan menangis pula.

Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulanan, sang istri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.

Setia tidak akan dinikmati hasilnya oleh mereka yang main-main dalam membangun negara cintanya. Ketika telah memutuskan untuk menikah berarti juga harus tahu setia merupakan rukun yang tak bisa dihilangkan. Ketahuilah pernikahan adalah seni mengelola kesetiaan dalam menerima pasangan apa-adanya bukan karena ada apanya. Yakinlah pasangan hidup yang Allah berikan adalah anugerah terbaikNya yang akan membawa kepada kehidupan surga sebelum surga sebenarnya. Selalu setialah agar kau temukan kebahagiaan dalam perjalanannya.


Semoga Allah selalu menjaga keluarga kita dalam rahmat-Nya. Menjadikan keluarga kita sakinah mawadah warahmah, menghadirkan kasih dan setia dalam hati kita berdua. Allah loves us... Aamiin ya Rabb

                                                                    18 Mei 2015
                                                Happy 3rd Wedding Anniversary 
                                                                      Eka-Arif
                                                            

Rabu, 13 Mei 2015

Sepanjang Hidupku Bersamamu


Dengan dirimu kini ku bahagia
Tak henti kau berbagi canda tawa
Hilangkan gairah lelah hatiku
Hadirmu mengubah arti hidupku
Jadilah aku tawanan cintamu
Kuserahkan seluruhnya untukmu
Kupenuhi semua yang kau inginkan
Tiada yang penting selain dirimu..

Sepanjang hidupku hanya ingin bersamamu
Di setiap waktu, di setiap waktu
Sepanjang hidupku tak kurelakan dirimu
Tuk tinggalkan aku, tuk tinggalkan aku
Sejuk kasihmu sampai ke tulangku
Hingga detak jantungku kan berhenti
Senyum manismu sinari hatiku
Tulus setia cintaku hanya untukmu

Lagu “Sepanjang Hidupku” yang dinyayikan oleh Pilot Band mengalum dari Laptopku.

Cinta, seperti  itulah yang aku rasakan saat bersamamu.
Aku sungguh lupa cara untuk menangis.
Yang ada hanyalah bahagia.

Sayang, seperti itulah yang aku rasakan saat bersamamu.
Mengarungi kehidupan dengan naungan cinta Allah.
Dirimulah, cinta pertama dan terakhirku.

Kasih, hanya padamu kusandarkan hatiku.
Untuk selalu kau jaga jiwa dan ragaku.
Untuk selalu kau cintai apa adanya.

Demi Allah yang telah menyatukan kita dalam ikatan suci pernikahan.
Semoga Allah senantiasa menjadikan kita sakinah mawadah warahmah.
Dan menganugerahi putra putri yang soleh solehah
Menjadikanku bidadari dunia dan akhirat bagimu

I do love you, my husband …

I really miss you …

Tetaplah Di Hatiku


Kekasihku sayangku kuinginkau tahu
Hati ini kan selalu menantikan cintamu
Kaulah yang pertama yang memberi arti cinta
'tuk selamanya tetap di hatiku
Ingin memelukmu
Mendekap hangat cintamu
'tuk selamanya tetaplah di hatiku


Kuberi semua untukmu
Tak akan ku berbagi meskipun engkau jauh
Ku kan s'lalu merindukanmu
Ku kan tetap selalu menjagamu
Jangan ada kata berpisah


Pegang erat janjiku yakinkan di hatimu
Tak akan ku berpaling
Hanya kau satu di hatiku
Ku akan selalu disampingmu
Tak ku biarkan kau jauh
'tuk selamanya ku tetap di hatimu


Kaulah yang pertama yang memberi arti cinta
'tuk selamanya tetap di hatiku
Ingin memelukmu
Mendekap hangat cintamu
'tuk selamanya tetaplah di hatiku

Lagu “Tetaplah di hatiku” yang dibawakan Chistian Bautista dan Bunga Citra Lestari terdengar syahdu dari Laptopku. Lagu yang sangat romantic, seromantis cintaku dan cintamu.

Rasanya baru kemarin aku berjumpa denganmu, namun tak terasa sudah hampir tiga tahun aku mendampingimu. Bahkan putri kecil kita juga hampir dua tahun. Putri kecil kita yang cantik akan berulang tahun tanggal 17 Mei, sedangkan tanggal 18 Mei adalah hari ulang tahun pernikahan kita. Sungguh luar biasa hidup bersama lelaki sholeh sepertimu. Damai hati dan jiwa selalu dalam naungan cinta Allah SWT.

Beberapa minggu lalu aku mengalami keguguran anak kedua kita. Janinnya tidak berkembang dan berdenyut saat usia kandungan enam minggu. Akhirnya aku menjalani kuret setelah pendarahan selama tiga hari belum juga berhenti. Semoga Allah menggantinya dengan anak yang lebih sholeh. Aamiin ya Rabb.

Jalan yang kita tempuh adalah jalan yang Allah ridhoi. Ibaratnya pernikahan kita adalah mengarungi samudera yang luas. Dirimu adalah nakhoda yang menggunakan kompas iman dan islam dalam mengarungi samudera. Tentu badai dan ombak takkan bisa memisahkan kita karena hati kita tetap berpegang teguh di jalan Allah. Semoga rahmat Allah selalu bersamamu. Semoga berkah Allah selalu bersama keluarga kecil kita.

Suamiku, izinkan aku menjadi bidadari dunia dan akhiratmu. Tuntunlah aku agar bisa mendampingimu hingga ke surga Allah.

Suamiku, dengan segenap cinta aku akan selalu mendampingimu dalam duka maupun dalam suka. Semoga Allah selalu mengikat kuat hati kita berdua. Aamiin ya Rabb. 

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (QS Ar Ruum : 21)

Arjunaku Arjunanya



Akhirnya lelaki itu menemukan pelabuhan hatinya. Lelaki yang pernah kukagumi. Lelaki yang memiliki selera humor yang tinggi. Lelaki tampan sekaligus cerdas. ARJUNAKU.


Kini lelaki itu telah bahagia bersama bidadari pilihannya. Sempat kutatap foto pernikahannya, wanita cantik itu kini telah memiliki arjunaku. Bukan hanya tubuh atletisnya, tapi juga telah meraih hati arjunaku.


Kali ini aku melepaskan arjunaku. Membiarkannya menjadi arjunanya. Semoga mereka berbahagia, menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah.


Doaku untuknya
"Barakallahu lakaawa baraka Wa jamaa baina kuma fii khair

 “Semoga Allah memberkahimu dan memberkahi atasmu serta mengumpulkan kamu berdua dalam kebaikan”

Kamis, 26 Februari 2015

Bidadariku Dulu dan Kini




Menari kembali dikala sang hujan menyirami. Mencoba meneduhkan hati yang kian pedih. Mengapa harus ada kisah ini jika memang membuat luka hati. Mengapa harus ada dirimu dan dirinya dalam kehidupanku. Tak adakah sedikit waktu untuk berbenah diri. Mencoba meraih kembali mimpi yang terpendam. Mencoba kembali meraih cinta yang telah hilang entah kemana.

Ketika sang pelangi muncul dengan indahnya. Itukah yang bisa kuharapkan dari semua kepedihan ini. Ya, secerah cahaya pelangi, sejuk dan menenangkan setiap jiwa yang memandang. Mungkinkah sesuatu yang indah akan hadir tepat pada waktunya. Menghapus setiap tetesan airmata kepedihan.

Masih juga rintik itu hadir. Menyisakan berjuta Tanya tentang kehadiran cinta. Bagaimana jika aku tak sanggup menghapus bayangannya. Sedangkan dirinya kini telah menjadi kekasih pria lain. Bidadariku, tak bisakah kau melihatku sejenak. Menghadirkan senyum yang selalu lekat di parasmu. Bidadariku, bagaimana aku harus merelakanmu bersamanya.

Bertahun sudah berlalu

Kini, hujan itu hadir kembali. Namun aku tak lagi merindukan bidadariku yang dulu. Mungkin dirinya telah bahagia bersama pria yang kini selalu disampingnya. Jantungku berdegup kencang menunggu saat-saat yang berbahagia. Dengan bidadari yang lain. Mungkin bidadariku sekarang tak sesempurna bidadariku yang dulu. Namun bidadariku inilah yang mau menerima kehadiranku apa adanya. Aku menjadi sempurna karenanya.

Aku tahu setelah hujan pasti ada pelangi. Dan kini tiba saatnya pelangi kebahagiaanku datang. Terima kasih Tuhan atas anugerahMu padaku. Kan kujaga bidadariku yang kini resmi menjadi istriku.

Selamat tinggal bidadariku yang dulu. Dirimu akan selalu ada dalam kisah masa laluku. Semoga dirimu bahagia bersamanya.

Selamat datang bidadariku yang kini ada disampingku. Aku kan selalu bersamamu, dalam suka maupun dalam duka.

Rabu, 25 Februari 2015

Terlalu Cinta dia….




Jangan dekat atau jangan datang kepadaku lagi
Aku semakin tersiksa karena tak memilikimu
Kucoba jalani hari dengan pengganti dirimu
Tapi hatiku selalu berpihak lagi padamu

Mengapa semua ini terjadi kepadaku
Tuhan maafkan diri ini
Yang tak pernah bisa menjauh dari angan tentangnya
Namun apalah daya ini
Bila ternyata sesungguhnya aku terlalu cinta dia…

(Terlalu Cinta, Rossa)

Wanita itu adalah sahabatku, sekaligus wanita idamanku. Aku mengenalnya bukan satu dua hari melainkan hampir lima tahun. Selama dirinya menginjakkan kaki di Kampus hingga dirinya diwisuda. Pernah aku mengajaknya untuk bertemu orangtuaku, namun dengan rendah hati wanita itu menolaknya. Wanita itu ingin konsentrasi ke kuliahnya, sembari mencari tambahan penghasilan untuk kehidupannya dan keluarganya. Sebagai anak pertama wanita itu merupakan tulang punggung keluarganya.

Aku sangat mengistimewakan kehadirannya. Senyumannya adalah hal terindah yang selalu kunantikan. Aku merasa nyaman saat berbicara dengannya. Pemikirannya yang dewasa walaupun usianya terpaut setahun di bawah usiaku.

Bagaimana rasanya saat dirinya pergi begitu saja, meninggalkan kota Surabaya tempat kelahirannya. Saat wanita itu telah di wisuda, statusku masih mahasiswa. Meskipun kami satu angkatan, namun aku tertinggal jauh darinya. Wanita cerdas itu mampu menyelesaikan kuliahnya tepat waktu. Aku hanya menatapnya bahagia dengan tawa senyumnya saat acara wisuda. Sungguh satu bebannya telah terlepas. Namun pekerjaan telah menantinya disana, di Jakarta.

Tiga tahun sudah dirinya berada di kota Jakarta, hingga tiba saatnya undangan itu datang kepadaku. Undangan pernikahannya. Wanita itu akan menikah dengan lelaki yang tidak kukenal sama sekali. Bahkan lelaki itu baru sebulan mengenal wanita itu. Sungguh, rasanya hatiku remuk. Namun wanita itu hanya menganggap hubungan kami hanya persahabatan.

Aku datang di acara akad nikahnya. Aku menyaksikan wanita cantik yang kupuja kini menjadi milik lelaki lain. Wanita itu masih santun, masih sama seperti delapan tahun lalu, ketika pertama kali aku mengenalnya.

“Kamu cantik” pujiku. Mungkin itulah pertama dan terakhir kalinya aku memujinya.
“Beruntung sekali lelaki itu, sangat disayangkan aku belum bisa semapan dirinya” ucapku. Wanita itu tertunduk cantik di hadapanku.
 “Tenang saja, tak usah cemas. Semua akan baik-baik saja” aku mencoba menenangkan hatinya. Wanita itu kemudian mengangguk pelan.
“Terimakasih atas semuanya” ucap wanita itu, “Terimakasih juga atas kedatangan Mas Khalid”

Wanita itu….
Aku benar-benar terlalu cinta dia
Aku bahagia saat dia bahagia
Semoga Allah selalu melindunginya dan keluarganya
Dan semoga Allah memberikan wanita sholihah untuk mendampingiku.

Jumat, 20 Februari 2015

Pertemuan Tak Terduga




Ya, aku mengenali perempuan itu. Perempuan yang saat ini duduk di depanku. Aku pernah bertemu dengannya sepuluh tahun yang lalu, saat aku masih mengenyam pendidikan di bangku kuliah. Ternyata perempuan itu bekerja di perusahaan yang sama denganku. Dunia ternyata memang selebar daun kelor.

Saat ini aku sedang ada training Ellipse di Unit Pembangkitan Brantas. Awalnya aku merasa enggan untuk mengikuti acara ini. Bagaimana tidak, ketika aku mengikuti acara training ini, akan secara otomatis aku akan menjadi Key User. Sebagai key user aku berkewajiban untuk menjelaskan materi training di Unit tempatku bekerja.

Perempuan itu melihatku. Aku pun melihatnya. Mungkin dia berusaha mengenaliku. Mungkin juga dia lupa padaku. Apalagi perkenalan kami lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Saat itu perempuan itu masih menginjak semester 2. Dan aku menjadi assisten dosen mata kuliah Mekanika Teknik Material I di kelasnya. Saat itu aku sedang menyelesaikan Tugas Akhirku.

“Tya?” sapaku. Perempuan itu tersenyum, “Mas Egi?”
“Ya” aku menjawab sapaannya, ternyata dia masih mengenali namaku, “Apa kabarnya?”
“Alhamdulillah baik Mas. Aku ndak tahu kalau ternyata Mas bekerja di sini juga”
Aku tersenyum padanya, “Tya di unit mana?”
“Di Jakarta” jawabnya.
“Tinggal di daerah mana?”
“Tangerang”
“Mas Egi sudah lama di Gresik? Keluarga di Gresik juga?”
“Iya, Tya sudah berkeluarga?”
“Alhamdulillah sudah Mas”
“Sudah punya putra?”
“Sudah. Mas Egi?”
“Sudah. Anakku sudah dua, suamimu tinggal di Jakarta juga?”
“Iya, suamiku juga bekerja di perusahaan yang sama, hanya beda kantor saja”
“Wah mantap dong”
“Anaknya Mas Egi umur berapa?”
“Anak pertama cewek usia 4 tahun, yang kedua cowok usia 5 bulan. Anaknya Tya?”
“Cewek umur dua tahun”
“Baru satu?”
“Ya, baru satu”
“Tya aslinya orang mana?”
“Surabaya”
“Lho kok penempatan Jakarta? Kalau angkatanku dulu anak Jawa Timur ditempatkan di Jawa Timur. Barulah anak Jawa Tengah dan sekitarnya ditepatkan di Jakarta”
“Mungkin karena doaku yang ingin didekatkan dengan jodoh”
“Oh iya ya”
“Mas Egi, dibagian apa, Rendal?”
“Ya, RendalHar”
“Aku bener-bener ndak nyangka bakal ketemu Mas Egi. Mas Egi jarang sppd ke Jakarta ya?”
“Iya. Lah Tya jarang pulang ke Surabaya?”
“Sering Mas. Paling enggak sebulan sekali. Di kantor Pusat”
“Wuih mantap. Andalan ya?”
“Iya…Andalan banget. Ini aja aku inventory control bisa disuruh ikut training ini”
“ Lha kok bisa?”

Perempuan itu tersenyum. Senyumnya masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Aku mengenalnya dengan baik karena hanya dia yang saat itu mandapat nilai A untuk mata kuliah Mekanika Teknik Material I. Aku juga mengenalnya dengan baik di Lembaga Kajian Kampus. Perempuan itu yang menjadi Pendiri Keputrian dan yang menjadi Ketua Keputrian.

Tutur sapanya, bahasanya juga masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Aku mengenalnya sebagai pribadi yang tangguh, pribadi yang teguh memegang prinsip agama, dan pribadi yang mandiri. Jika saja boleh aku katakan, aku sempat mengagumi perjuangannya untuk kuliah. Lahir dari keluarga yang sangat sederhana, perempuan itu gigih untuk tetap melanjutkan kuliahnya.

Sungguh sangat beruntung lelaki yang kini menjadi suaminya. Meskipun aku tidak mengenali siapa suami perempuan itu, aku yakin lelaki itu adalah lelaki yang baik, lelaki hebat yang mampu menaklukan hati seorang Tya.

“Mas Egi, aku mau solat dhuhur dulu ya…” suaranya membuyarkan lamunanku. Membuyarkan segala kenangan sepuluh tahun yang lalu.
“Oh ya silakan” jawabku.

Kita tak tahu dengan siapa kita bertemu. Kita tak tahu dengan siapa kita berjodoh. Kita juga punya masalalu dimana kita mengagumi seseorang dalam kehidupan kita. Namun yang pasti jika Tuhan telah menetapkan jodoh kita, yakinkan segala cintamu berlabuh padanya. Seseorang yang dengan yakin mau mendampingi kita dalam suka maupun dalam duka pada suatu ikatan pernikahan.

Aku bersyukur bertemu dengan Tya. Ternyata perempuan itu tidak berubah. Masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Semoga Tya tetap menjadi bintang bagi orang-orang di sekitarnya, yang mampu memberikan kedamaian dan kebahagiaan lewat senyum dan sapanya. Semoga Tuhan senantiasa melindunginya serta keluarganya.

Ting… suara whatapp androidku berbunyi. Rupanya wa dari istriku.
‘Assalamualaikum, Abi sdh mkn siang?’