Rabu, 25 Februari 2015

Terlalu Cinta dia….




Jangan dekat atau jangan datang kepadaku lagi
Aku semakin tersiksa karena tak memilikimu
Kucoba jalani hari dengan pengganti dirimu
Tapi hatiku selalu berpihak lagi padamu

Mengapa semua ini terjadi kepadaku
Tuhan maafkan diri ini
Yang tak pernah bisa menjauh dari angan tentangnya
Namun apalah daya ini
Bila ternyata sesungguhnya aku terlalu cinta dia…

(Terlalu Cinta, Rossa)

Wanita itu adalah sahabatku, sekaligus wanita idamanku. Aku mengenalnya bukan satu dua hari melainkan hampir lima tahun. Selama dirinya menginjakkan kaki di Kampus hingga dirinya diwisuda. Pernah aku mengajaknya untuk bertemu orangtuaku, namun dengan rendah hati wanita itu menolaknya. Wanita itu ingin konsentrasi ke kuliahnya, sembari mencari tambahan penghasilan untuk kehidupannya dan keluarganya. Sebagai anak pertama wanita itu merupakan tulang punggung keluarganya.

Aku sangat mengistimewakan kehadirannya. Senyumannya adalah hal terindah yang selalu kunantikan. Aku merasa nyaman saat berbicara dengannya. Pemikirannya yang dewasa walaupun usianya terpaut setahun di bawah usiaku.

Bagaimana rasanya saat dirinya pergi begitu saja, meninggalkan kota Surabaya tempat kelahirannya. Saat wanita itu telah di wisuda, statusku masih mahasiswa. Meskipun kami satu angkatan, namun aku tertinggal jauh darinya. Wanita cerdas itu mampu menyelesaikan kuliahnya tepat waktu. Aku hanya menatapnya bahagia dengan tawa senyumnya saat acara wisuda. Sungguh satu bebannya telah terlepas. Namun pekerjaan telah menantinya disana, di Jakarta.

Tiga tahun sudah dirinya berada di kota Jakarta, hingga tiba saatnya undangan itu datang kepadaku. Undangan pernikahannya. Wanita itu akan menikah dengan lelaki yang tidak kukenal sama sekali. Bahkan lelaki itu baru sebulan mengenal wanita itu. Sungguh, rasanya hatiku remuk. Namun wanita itu hanya menganggap hubungan kami hanya persahabatan.

Aku datang di acara akad nikahnya. Aku menyaksikan wanita cantik yang kupuja kini menjadi milik lelaki lain. Wanita itu masih santun, masih sama seperti delapan tahun lalu, ketika pertama kali aku mengenalnya.

“Kamu cantik” pujiku. Mungkin itulah pertama dan terakhir kalinya aku memujinya.
“Beruntung sekali lelaki itu, sangat disayangkan aku belum bisa semapan dirinya” ucapku. Wanita itu tertunduk cantik di hadapanku.
 “Tenang saja, tak usah cemas. Semua akan baik-baik saja” aku mencoba menenangkan hatinya. Wanita itu kemudian mengangguk pelan.
“Terimakasih atas semuanya” ucap wanita itu, “Terimakasih juga atas kedatangan Mas Khalid”

Wanita itu….
Aku benar-benar terlalu cinta dia
Aku bahagia saat dia bahagia
Semoga Allah selalu melindunginya dan keluarganya
Dan semoga Allah memberikan wanita sholihah untuk mendampingiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar