Aku semakin tersiksa karena tak memilikimu
Kucoba jalani hari dengan pengganti dirimu
Tapi hatiku selalu berpihak lagi padamu
Mengapa semua ini terjadi kepadaku
Tuhan maafkan diri ini
Yang tak pernah bisa menjauh dari angan tentangnya
Namun apalah daya ini
Bila ternyata sesungguhnya aku terlalu cinta dia…
(Terlalu Cinta, Rossa)
Wanita itu adalah sahabatku, sekaligus wanita idamanku. Aku mengenalnya
bukan satu dua hari melainkan hampir lima tahun. Selama dirinya menginjakkan
kaki di Kampus hingga dirinya diwisuda. Pernah aku mengajaknya untuk bertemu
orangtuaku, namun dengan rendah hati wanita itu menolaknya. Wanita itu ingin
konsentrasi ke kuliahnya, sembari mencari tambahan penghasilan untuk
kehidupannya dan keluarganya. Sebagai anak pertama wanita itu merupakan tulang
punggung keluarganya.
Aku sangat mengistimewakan kehadirannya. Senyumannya adalah hal
terindah yang selalu kunantikan. Aku merasa nyaman saat berbicara dengannya. Pemikirannya
yang dewasa walaupun usianya terpaut setahun di bawah usiaku.
Bagaimana rasanya saat dirinya pergi begitu saja, meninggalkan
kota Surabaya tempat kelahirannya. Saat wanita itu telah di wisuda, statusku
masih mahasiswa. Meskipun kami satu angkatan, namun aku tertinggal jauh
darinya. Wanita cerdas itu mampu menyelesaikan kuliahnya tepat waktu. Aku hanya
menatapnya bahagia dengan tawa senyumnya saat acara wisuda. Sungguh satu
bebannya telah terlepas. Namun pekerjaan telah menantinya disana, di Jakarta.
Tiga tahun sudah dirinya berada di kota Jakarta, hingga tiba
saatnya undangan itu datang kepadaku. Undangan pernikahannya. Wanita itu akan
menikah dengan lelaki yang tidak kukenal sama sekali. Bahkan lelaki itu baru
sebulan mengenal wanita itu. Sungguh, rasanya hatiku remuk. Namun wanita itu
hanya menganggap hubungan kami hanya persahabatan.
Aku datang di acara akad nikahnya. Aku menyaksikan wanita cantik
yang kupuja kini menjadi milik lelaki lain. Wanita itu masih santun, masih sama
seperti delapan tahun lalu, ketika pertama kali aku mengenalnya.
“Kamu cantik” pujiku. Mungkin itulah pertama dan terakhir kalinya
aku memujinya.
“Beruntung sekali lelaki itu, sangat disayangkan aku belum bisa
semapan dirinya” ucapku. Wanita itu tertunduk cantik di hadapanku.
“Tenang saja, tak usah
cemas. Semua akan baik-baik saja” aku mencoba menenangkan hatinya. Wanita itu
kemudian mengangguk pelan.
“Terimakasih atas semuanya” ucap wanita itu, “Terimakasih juga
atas kedatangan Mas Khalid”
Wanita itu….
Aku benar-benar terlalu cinta dia
Aku bahagia saat dia bahagia
Semoga Allah selalu melindunginya dan keluarganya
Dan semoga Allah memberikan wanita sholihah untuk mendampingiku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar