Jumat, 15 Juli 2011

Hanya Seorang Wanita



Ibu, ajari aku agar setangguh dirimu
Ibu, ajari diriku agar lembut sepertimu
Ibu, ajari aku memendam airmata dan kepedihan

Kali ini detik jam dinding kian menyiksaku
Dan yang tersisa adalah airmata
Aku terluka, terlampau lelah untuk bangkit kembali
Serasa seluruh isi dunia menertawakanku
Apa yang harus kulakukan?
Aku tak setangguh yang terlihat
Aku tak sehebat yang terdengar
Bagaimanapun, aku hanya seorang wanita

Kali ini ada peluh dan tetesan airmata, kurasakan pedih
Dan hanya terdiam
Seluruh peristiwa hadir kembali di benakku
Bagaimana aku bisa bertahan?
Tiap denyut jantungku terasa berat
Aku juga ingin bahagia
Aku juga ingin dicintai
Bagaimanapun, aku hanya seorang wanita

Senyum ini, tawa ini
Semua terasa hambar
Benar-benar terasa sunyi
Andai saja aku benar-benar tangguh
Andai saja aku benar-benar istimewa
Aku tak bisa sendiri
Bagaimanapun, aku hanya seorang wanita

Ibu, mungkinkah ada cinta untukku
Ibu, aku juga ingin sepertimu
Ibu, aku juga ingin menjadi ibu

Bagaimanapun, aku hanya seorang wanita

Tangerang, Juli 2011

Rabu, 06 Juli 2011

Dalam Penantianku Atas Dirimu


Mungkin saat ini kau tak pernah tahu apa yang aku rasakan. Tumpuan harapan atas dirimu hadir dalam kehidupanku. Sungguh aku takut kehilanganmu. Tapi kau malah seenaknya membuat hatiku bergantung padamu. Padahal siapa dirimu, aku lelah terus menantimu. Aku bisa saja pergi seperti dulu aku meninggalkanmu. Tapi saat ini aku tak ingin meninggalkanmu. Aku bisa saja melupakan apa yang telah kau berikan untukku. Tapi saat ini aku ingin kau di sini.

Mungkinkah pernikahan akan menyatukan kita. Seperti apa yang mereka inginkan. Aku sungguh tak mengerti apa yang mereka lihat. Tatapan kita berdua, rasa kasih yang terpancar dari mataku. Ataukah perhatian lembut dari matamu. Apakah ini pantas disebut cinta. Aku sungguh tak pernah meragukanmu, namun aku tak ingin membuat janji di hatiku. Aku tak ingin hatiku terlalu mengharapkanmu.

Mungkinkah ini yang Tuhan inginkan atas kita berdua. Lalu mengapa aku mesti menunggu jika memang kau adalah jodoh yang Tuhan tentukan atas diriku. Aku hanya tak ingin menyakiti hati siapapun. Dan aku tak ingin meninggalkanmu sendiri seperti bertahun lalu. Bukankah sekarang kita sudah dewasa. Namun apalagi yang kau cari, apalagi yang kau tunggu. Aku ingin kau menikahiku.

Mungkinkah kau bisa menjagaku. Selama ini aku selalu berpaling darimu. Selama ini aku berlari meninggalkamu. Apakah ada rasa sayang di hatimu untukku. Mengapa tak ada satu kata pun yang terucap. Aku ingin kepastian untuk bisa bersamamu. Aku ingin pula menguatkan hatiku bahwa kau memang tercipta untukku. Aku hanya ingin kau segera melamarku.

Mungkinkah pertemuan kita ini telah menjadi pertanda. Ataukah diriku yang terlalu berharap akan bisa menjadi pendampingmu. Sejujurnya aku tak pernah ada niatan untuk meninggalkanmu. Bahkan saat pertemuan kembali, aku merasakan bahagia yang luar biasa. Hampir-hampir aku menangis. Wanita selalu menangis, baik saat bahagia maupun saat berduka. Aku masih belum bisa percaya, aku menemukanmu.

Mungkinkah aku bisa menikah di tahun ini. Melihat teman-temanku yang telah menikah terbesit rasa iri dalam hati, kapan aku akan dipertemukan dengan jodoh. Aku juga ingin menjadi isteri dan ibu yang terbaik. Aku ingin merasakan itu semua. Dan mengapa yang ada di hadapanku kini hanya dirimu. Kapan kau akan melamar dan menikahiku. Apakah benar kaulah lelaki yang tepat untuk mendampingiku.

Masih bisa kurasakan sakit ini. Namun saat bersamamu seolah semua rasa sakitku hilang. Apakah aku terlalu berharap. Mengapa kau hanya terdiam, aku ingin bersamamu. Seperti janjiku bertahun lalu, aku akan menemanimu. Janji yang terukir di hatiku, tak ada satupun yang tahu melainkan Tuhan. Namun, sampai kapan aku menunggu.

Ya Rabb, penguasa segala hati. Kupasrahkan semua kisah ini pada-Mu. Jika dia adalah jodoh yang telah engkau tentukan atasku, mudahkanlah kami menikah atas rahmat dan ridha-Mu. Jika dia adalah jodohku, mudahkanlah kami membina keluarga sakinah, mawadah warahmah atasa cinta dan kasih-Mu. Hanya pada-Mu hamba memohon. Ya Rabb, kabulkanlah doaku. Amin yarobbal ‘alamin.


Tangerang, Juli 2011

Satu Cinta Di Hati



Membayangkan kehadiranmu adalah mimpi bagiku. Apalagi mengharapkan kedatanganmu, itu terasa sangat mustahil. Namun segala ini sudah ada yang mengatur. Sebagai insan kita hanya mampu menghadapi setiap kisah di hadapan kita

Pertemuan ini tak pernah ada di benakku. Meskipun alam bawah pikiranku masih menyimpan kekaguman pada dirimu. Bagaimana namamu masih tetap melekat dalam ingatanku. Bagaimana sosokmu masih terasa begitu dekat di sisiku.

Ini hanya sekedar perasaan. Akal logikaku mungkin berhenti sejenak saat menatap matamu. Mata yang begitu jernih, seperti tatapan bartahun lalu. Senyum yang sama saat pertema kita bertemu. Bagaimana aku mampu menetapkan hatiku untuk tidak merasakan rasa ini kembali. Rasa yang sering mereka sebut sebagai rindu, rasa yang mestinya ada ketika cinta telah tumbuh

Kini dirimu tumbuh begitu dewasa. Kecantikan atas kesederhanaanmu terpancar begitu saja. Aku merasa cemburu karena tak di sampingmu. Aku merasa sedih ketika kau jauh. Entah perasaan apa ini, inikah cinta. Jujur, aku tak pernah merasakan hal seperti ini. Detak jantungku terus berpacu saat menatapmu. Serasa semua pandangan ini tak bisa berpaling darimu.

Rindu padamu terus tumbuh. Ingin hati menggenggam hatimu. Namun apakah kau juga rasakan hal yang sama. Parasmu memerah saat berjumpa denganmu. Serasa aku turut merasakan detak jantungmu. Apakah dirimu telah mencintaiku?

Bertahun lalu, pertemuan terakhir kita. Aku masih bisa merasakan tatapanmu. Saat itu aku berpikir mungkin semua itu bisa diakhiri. Namun pertemuan kita kali ini menampik semua pemikiranku. Kita bertemu, saat belum ada cinta di hati. Mungkinkah ini pertanda jodoh?

Aku merasa tenang saat bersamamu. Aku merasa bahagia saat menemukanmu. Aku tak bisa menggambarkan bagaimana hatiku saat ini. Aku merasa bahagia menatapmu. Mungkin aku harusnya mengaku, bahwa aku telah jatuh hati pada dirimu. Wanita nan begitu sederhana, wanita tangguh yang mampu meluluhkanku. Aku mencintaimu

Semoga Allah meridhoi cinta antara kita. Dan pernikahan akan menyatukan jiwa kita.

Ya Rabb, jika memang dia jodohku. Mudahkanlah kami menikah atas rahmat dan ridho-Mu
Ya Rabb, jika memang dia jodohku. Mudahkanlah kami membina keluarga sakinah mawadah warahmah atas kasih dan cinta-Mu
Ya Rabb, berikanlah yang terbaik untukku, wanita shalihah yang kerap menjaga kehormatannya.
Ya Rabb, berikanlah pendamping yang terbaik untukku, yang kelak melahirkan putra-putri sholeh sholehah.
Ya Rabb, hambamu ini begitu lemah, hanya pada-Mu hamba memohon pertolongan dan hanya pada-Mu hamba dikembalikan. Kabulkanlah doa hamba ini.
Amin Ya robbal ‘alamin

Tangerang, 11 Juni 2011

Senin, 02 Mei 2011

J.A.K.A.R.T.A


Aceh,10 Juni 2011

Teruntuk Bidadari Cintaku
Saat ini mungkin kau berpikir bagaimana bisa kau berada di tempat yang dulu kau benci. Saat ini mungkin kau telah mencintai dan mulai bisa menerima keadaan. Saat ini mungkin kau tengah tersenyum mangingat impian masalalu. Saat ini mungkin kau tengah menatap cahaya matahari pagi seraya berbisik, kau akan menemukan cintamu.

Jika kau tanya mengapa aku kembali ke Jakarta, kuingin sekali katakan karena aku mencintaimu. Jika kau tanya mengapa aku bersemangat saat menginjakkan kaki di tanah yang kubenci, itu karena ada dirimu. Ingin hati melihatmu tersenyum. Ingin hati melihatmu bahagia. Aku tahu kau tengah menyimpan rahasia atas cintamu. Aku berharap kau bisa menengokku, menyelami tulusnya cintaku.

Mungkin kau memiliki banyak impian, seperti yang kau ceritakan bertahun lalu. Mungkin kau tengah merajut harapan atas masa depanmu. Mungkin juga tidak ada namaku di sana. Tapi aku sangat tahu kau belum menemukan cintamu. Meski kau katakan semua akan indah pada waktunya, tapi mampu kurasakan kecemasan di hatimu. Karena aku mencintaimu.

Bagiku, kaulah wanita impianku. Kesederhanaan yang kau miliki adalah keindahanmu. Kecantikan hatimu membuatku tak bisa melupakanmu. Aku tak bisa melupakan senyumanmu. Aku tak bisa melupakan keceriaanmu. Aku tak bisa melupakan tentangmu.

Mungkin telah ada pangeran yang kau puja. Yang terus kau doakan supaya selalu dalam lindungan-Nya. Namun apakah pangeran itu masih juga belum mencintaimu? Sungguh, aku bisa merasakan kegundahan hatimu. Betapa bodohnya pangeran yang kau puja, tiada menyadari ketulusan hatimu.

Aku tahu, cintamu begitu tulus, seperti pelangi yang memberi keindahan setelah hujan mereda. Aku tahu sayangmu begitu putih, seperti awan yang menghiasi birunya langit. Aku tahu begitu sempurnanya dirimu, dengan segala kesabaranmu. Aku tahu semua tentangmu. Aku bisa merasakan damainya tatapan matamu.

Aku tak bisa membayangkan jika ternyata kau tersenyum seraya berucap maaf. Aku hanya ingin membahagiakanmu. Mungkin aku tidaklah sempurna seperti pangeran yang kau nantikan. Namun aku hanya ingin mendampingimu. Memberikan bahuku untuk tangismu. Menghapuskan airmata yang mengalir di pipimu. Apakah pintaku terlalu berlebih?

Karena aku mencintamu. Karena aku ingin bersamamu. Karena aku merindukanmu. Karena engkau wanita terbaikku. Karena engkau aku kembali ke Jakarta, kota yang kubenci. Karena engkau, aku ada.

Kulihat kembali tiket perjalananku ke Jakarta tertanggal 17 Juli 2011. Seraut wajah manis terbayang di pelupuk mataku. Sungguh, aku benar-benar telah mencintaimu.

======
Jakarta, 10 Juni 2011

Kucoba menatap mentari pagi yang menyambutku. Kuhapus tetesan airmata di pipi. Aku tahu hatiku masih terluka. Tapi aku mestinya tegar. Aku tahu aku terluka, tapi aku mestinya bersabar. Aku terlalu takut untuk menghadapi semua ini. Aku terlalu takut sendiri. Aku terlalu takut.

Namun ada satu ketenangan di hatiku, saat mengingatnya. Entah mengapa dia bekerja di Jakarta, kota yang dulu ia benci. Kota yang dulu aku benci. Dan hatiku terasa nyaman ketika mengingatnya. Mungkinkah aku jatuh cinta. Tapi aku tak bisa seperti ini. Mestinya aku bisa mengendalikan diriku. Mestinya aku serahkan kisah cintaku pada-Nya. Namun satu hal yang tak kumengerti. Mengapa hatiku merasa tenang.

Dia bukanlah lelaki tampan yang berlinang kekayaan. Tapi bagiku dia meninggalkan kesan yang mendalam. Apakah dia merasakan cinta ini. Apakah lelaki itu masih mengingat kisah kami.

Aku berharap Tuhan menunjukkan kuasa-Nya. Bukankah aku orang yang sangat percaya dengan keajaiban. Aku berharap Tuhan selalu melindungi kami. Aku berharap kalau dia adalah jodohku. Dari sekian waktu yang kuhabiskan, aku masih sangat mengingatnya. Aku masih berharap bisa bersamanya. Tersenyum, tertawa, bahagia dan selalu berada di jalan-Nya.

Aku sudah tak peduli berapa luka dalam hatiku saat melihatnya. Entah mengapa aku bisa merasakan bahagia. Entah mengapa aku merasakan ketenangan. Entah mengapa hanya dia. Aku tahu dia bahagia di tempat barunya. Aku tahu dia bisa menerima kenyataan bahwa rezekinya telah ditulis di kota Jakarta.

Ya Rabb, apakah aku tengah jatuh cinta?

Namun ada satu ketakutan di hatiku. Seseorang dari Aceh yang akan kembali ke Jakarta tengah bulan Juli nanti. Jika saja aku tak bisa mencintainya. Aku takut dia terluka.

Ya Rabb, berilah petunjuk-Mu.

======

Sebuah Kisah Diantara Cinta


Mengarungi samudera mahligai nan suci
Penuh gelombang silih berganti
Semua adalah ujian penguat cinta
Bila hati bicara
Terkadang tak perlu terucap kata-kata
Ntuk selami dalamnya hatimu
Susah senangmu jadi bagian hidupku
Karena hati bicara
Tatap manja matamu kisahkan berjuta cerita
Hadirmu di hidupku memberikan berjuta makna
Karunia Illahi mempersatukan dua hati
Kurasa yang kau rasa
Karena hati bicara

Lagu dari Oky Septiana Dewi dan Andy Arsil berkumandang dari laptop di depanku. Entah mengapa lagu itu menjadi favoritku di awal tahun ini. Bulan Januari, bulan kelahiranku.

Masih kutunggu dering HP-ku. Biasanya sekitar pukul Sembilan malam kau menuliskan sms untukku. Namun sampai saat ini belum juga ada sms darimu. Bagaimana aku bisa terbiasa tanpa dirimu. Kau telah masuk dalam kehidupanku. Kau telah membiusku dalam ruangan cinta.

Aku masih menunggumu. Menunggu hadirmu untuk memberiku kebahagiaan. Menghapus airmata dan kesedihan yang ada.

Ya Rabb, rasanya hati ini sangat merindukannya
Benarkah dirinya pemilik tulang rusuk ini
Lalu mengapa aku takut kehilangannya

Ya Rabb, Engkau tahu betapa sepinya hidupku
Hamba membutuhkan pendamping
Harus berapa lama hamba menunggu
Hamba sungguh tak ingin sendirian

Ya Rabb, jika memang dirinya pemilik tulang rusuk ini
Mudahkanlah bagi kami menikah atas rahmat dan ridho-Mu
Ya Rabb…
Illahi syafarat yadayya fatrubhuma

Jakarta, Mei 2011

Karena dirimu terlalu indah


Kenyataannya adalah dirimu kenangan terindah yang tersimpan dalam memoriku.

Aku benci mengakui satu hal ini. Bahwa hatiku telah tertaut padamu. Jiwaku selalu merindukan kehadiranmu. Aku tak ingin banyak berharap, karena aku tak ingin terluka. Namun kenyataannya aku tak mampu melepasmu. Aku tak ingin kehilangan dirimu, meskipun aku belum memilikimu. Apa artinya ini, takut kehilangan sesuatu yang belum termiliki. Ini memang kebodohanku atau cinta yang membuatku terlihat bodoh.

Aku yakin ini bukan cinta. Karena hatiku masih terlalu ranum untuk merasakan pahitnya cinta. Ataukah pikiranku kini yang tengah mengembara dan membuatku yakin akan kehadiran sebuah cinta dalam hidupku. Dan harapku cinta itu adalah dirimu. Seseorang yang dulu pernah kutinggalkan. Berharap rasa itu masih sama seperti yang dulu. Berharap mimpiku kali ini tidak sia-sia.

Sungguh aku masih takut terluka. Tak bisakah kau lihat dari tatapan mata ini. Betapa linangan airmata masih juga mengiringi malamku. Jika memang dirimu hadir untuk membahagiakanku, mengapa aku mesti menunggu. Tahukah dirimu, bahwa hatiku mulai meragu. Benarkah kau akan hadir selamanya dalam kehidupanku. Aku takut kehilanganmu.

Kembali kutelusuri masalalu. Saat menatap dirimu yang membuatku tenang. Bahkan hanya dengan melihatmu tersenyum sudah membuat jiwaku bahagia. Apakah rasa itu masih sama. Apakah jika aku bertemu lagi denganmu rasa itu masih sama. Apakah jika kau melihatku saat ini rasa itu masih sama. Bukankah semua tak ada yang stagnan, semua berubah seiring berjalannya waktu.

Aku membutuhkanmu, bukan hanya sekedar menginginkanmu. Namun hatiku kian merapuh. Aku takut kecewa akan mimpiku. Aku takut terluka atas harapanku. Aku merasa kehadiranmu adalah anugerah saat aku berduka. Saat keputusasaan melanda diriku. Namun masih kurasakan takut yang terlalu berlebih. Aku benar-benar takut kehilanganmu.

Entah berapa lama aku menunggu. Sesuatu yang sangat benci untuk kulakukan, menunggu sesuatu yang tak jelas. Tapi kenyataannya aku tetap menunggumu. Menunggu hatimu untuk memilihku. Apakah ada rasa di dalam hatimu, rasa bahagia saat menemukanku. Atau rasa nyaman saat mendengar suaraku.

Aku mengerti ini takkan mudah. Dan mungkin aku akan lebih sering meneteskan airmata. Aku tahu hatimu juga gundah, karena semua telah berbeda. Jika dirimu ragu, tak akan berbeda denganku yang juga meragu. Semua jawaban ada pada Tuhan. Aku menunggu keputusanNya. Aku menunggu Dia mengubah hatimu untukku. Aku menunggu dan masih menunggu.

Andai kau tanya kembali apa yang terindah dalam kehidupanku bertahun lalu. Itu adalah dirimu, meskipun aku malah terdiam. Aku tak tahu harus berkata apa. Aku terlalu mengagumimu. Aku terlalu bahagia menemukanmu kembali, walaupun sebenarnya dulu aku yang meninggalkanmu. Aku sungguh bahagia kau ada.

Semoga segalanya ini awal kisah indah dalam hidupku yang selalu kunantikan. Sebuah kasih tulus yang tak terhalang waktu. Dirimu, satu memori yang takkan terlupakan. Dirimu, yang saat ini sangat kubutuhkan. Dirimu, yang saat ini mampu membuatku tersenyum bahagia. Dirimu, dan hanya dirimu.

Kenyataannya hatiku telah terpaut padamu dan aku tak ingin kehilanganmu.

Jakarta, Mei 2011

Doa Sang Ibu



Masih teringat saat kau masih dalam pangkuanku
Tubuh mungilmu tampak begitu lemah
Saat tangismu membuatku gundah
Kutatap dirimu dengan kecemasan tak menentu
Sakitkah dirimu, anakku sayang
Seandainya rasa sakit itu dapat dipindah
Biarlah aku yang merasakan sakit ini
Namun badanmu makin menggigil

Namun itu hampir seperempat abad lalu
Kini kau telah bertambah dewasa
Dan senyumanmu begitu indah di mataku
Kutahu cintamu begitu tulus, anakku
Kutahu sayangmu begitu indah, anakku
Kutahu waktu telah mendewasakanmu
Kecantikanmu terpancar dari hatimu
Kecantikanmu terlihat dari ketegaranmu
Kecantikanmu karena kebaikan akhlaqmu

Ingin sekali kupeluk dirimu, anakku
Tapi aku tak ingin terlihat lemah di hadapanmu
Aku tak ingin menunjukkan kecemasanku
Aku ingin kau tahu bahwa aku sangat bahagia
Aku ingin kau mengerti bahwa aku bersyukur memilikimu
Rasa rinduku ini sebenarnya sudah tak terbendung, anakku
Sejak kau merantau jauh dari kota kelahiranmu
Saat kau mencoba tegar bertahan
Aku selalu berdoa untukmu
Aku takut kau terluka

Bisa kurasakan harapan di matamu
Begitu besar impian yang kau bangun, anakku
Kau terlihat begitu tangguh

Ya Rabb yang Maha Pemurah, kirimkanlah pendamping yang terbaik untuk anakku
Aku tahu betapa tulus kasihnya
Aku tahu betapa tulus cintanya
Lindungilah selalu langkahnya
Ya Rabb Yang Maha pengasih, jangan biarkan anakku terluka
Aku tahu betapa sayangnya dia pada-Mu
Aku tahu betapa cintanya untuk-Mu

Ya Rabb, terimakasih kau telah anugerahkan anak yang sholihah
Terimakasih kau telah memberikan kebahagiaan padaku
Ya Rabb, kabulkanlah doaku
Amin ya rabbal alamin